“Apa sekalang Abel senang kalena punya Ayah sama Ibu?” “Senang!” Anak laki-laki sembilan tahun itu tersenyum lebar sambil menampakan giginya yang rapi. Abel baru saja hendak menceritakan bahwa dirinya bisa tidur bersama orang tuanya, jalan-jalan dengan keduanya lalu banyak hal lain yang dulu yang bisa ia mimpikan kini terwujud berkat mereka. Namun, Abel mengurungkan niatnya untuk menceritakan hal itu. Ia menghargai Kinta sekaligus tak mau membuat sahabatnya itu bersedih. Abel yang sedang duduk di rumput bersandar pada pohon besar di depan Panti Asuhan bangkit, ia sedikit menyuruh Kinta untuk bergeser karena juga ingin bermain ayunan. Anak perempuan itu mengangguk, jadilah sekarang mereka berdua duduk disatu ayunan yang cukup lebar bersama. Abel yang mendorong dengan kakinya sedangkan K

