“Babang mau main kereta itu enggak?” “Itu kan untuk anak kecil, Om!” sunggut Razkana. Ia kembali menjilati es krim vanillanya. Tangan satunya memegang erat leher sang ayah. Jangan lupakan dirinya yang masih berada digendongan Chandra. “Emang Babang udah besar?” tanya Chandra. Tangan pria itu berada dipunggungnya untuk menahan p****t Razkana agar memastikan anaknya itu tidak terjatuh. “Udah! Babang kan udah punya adik!” serunya bersemangat. Chandra terkekeh, ia sangat senang jika Razkana memiliki adik dan begitu menyayanginya. Ia tidak mau bocah itu merasakan kesepian sepertinya yang seorang anak tunggal. “Tuh, ada yang tingginya sama kayak Babang, boleh naik,” ujar Chandra ketika kereta mainan yang memiliki rel itu berhenti. Seorang bocah dengan seragam putih mereh dengan tinggi tubuh

