Quella and the tramps

1227 Kata
pulang dari perkumpulan 7 kembaran itu tentu saja Quella tidak langsung pulang ke apartemen Rexana, dia berkelana mengelilingi kota tersebut, dimulai dari di tempat hiburan menaiki banyak wahana yang mengerikan tapi menyenangkan baginya seperti roller coaster dan rumah hantu. setelah itu dia pergi ke mall untuk berganti baju karena sudah malam dia tak berani memakai rok pendeknya tadi. pakaiannya cukup tertutup untuk suhu dingin malam hari yaitu celana jeans panjang dan sweater tebal juga dengan mantel musim dingin, dengan tambahan topi winter barret dikepalanya dan syal dilehernya, malam di kota ini memang sangat dingin apalagi Quella yang jarang keluar tak terbiasa dengan suhu dingin seperti ini. sepatu sneaker nya dengan kaos kaki membuat kaki jenjang gadis itu tetap hangat. saat ingin berjalan ke apartemen Rexana, gadis itu melihat ada gelandangan duduk dikursi taman yang tampak sepi. gelandangan itu sepertinya masih sekitar 13-15 tahun. gelandangan yang ditemuinya itu adalah remaja laki-laki dengan baju banyak sobek dan wajah kusam sedikit kotor. Quella pun menghampiri gelandangan itu lalu duduk disampingnya tanpa rasa jijik. "adik sudah makan?" tanya Quella dengan senyuman ramah miliknya. anak itu menggelengkan kepala lalu Quella memberikan makanan yang dibelinya tadi di streetfood. makanan itu cukup untuk anak yang sedang menatapnya dengan bingung. "kakak, ngasih makanan ini secara gratis?" tanya anak itu, Quella mengangguk antusias. "terimakasih ya kak, tapi aku akan memberikannya pada adikku terlebih dahulu karena dia belum makan juga" ujar anak itu dengan tatapan sedih kearah makanan itu. "oh begitu ya, bagaimana kita membeli makanannya lagi" ajak Quella dengan semangat. "tapi aku tidak punya uang" ujar anak itu lesu. "kakak ada uang kok, ayo hm nama kamu siapa?" tanya Quella. "namaku Kevin kak" jawabnya menatap Quella dengan senyuman tipis, ternyata gadis cantik didepannya ini orang yang sangat berhari mulia. "oh oke ayo Kevin" ajak Quella, Kevin pun mengikuti Quella untuk membeli banyak makanan, padahal anak itu sudah bilang cukup tapi gadis itu tetap membeli nya lagi dan lagi sampai kedua tangan mereka penuh dengan plastik yang berisi banyak jenis makanan. Kevin pun mengalah saat Quella memaksa ikut kerumahnya, bukan karena tidak mau Quella kerumahnya tapi karena rumahnya hanyalah gubuk kecil dikolong jembatan, ternyata bukan hanya Kevin beberapa anak kecil yang berkisar 5-15 tahun ada disana. Kevin pun memanggil teman-teman gelandangannya untuk makan bersama karena makanan ini begitu banyak. Quella tentu saja bergabung padahal anak-anak itu mengira gadis ini akan jijik mau bergabung dan makan bersama mereka tapi tak berlaku untuk Quella. "kalian kenapa tinggal disini?" tanya Quella iba melihat gubuk sedikit reyok itu. "kami anak yatim piatu dari panti asuhan yang tidak berjalan lagi karena sedikitnya donatur ke panti asuhan tersebut" jawab Kevin. Quella pun mengangguk mengerti. "ayo berkenalan nama kakak Quella" ujar gadis itu dengan wajah ceria agar mereka tidak sedih lagi. "namaku Serena" ujar seorang gadis 6 tahun dipangkuan Kevin, iya Serena adalah adiknya. "aku Jenifer dan ini adikku Luis" ujar gadis berusia 10 tahun dengan menunjuk adiknya yang duduk disebelahnya berumur 5 tahun. "aku Charlie" ujar anak laki-laki yang tampa sedikit lebih muda dari Kevin mungkin 12-14 tahunan. "aku Kimberly" ujar gadis seusia Serena. Quella mengangguk paham lalu dia bertanya suatu hal yang membuat anak-anak itu terkejut bukan main. "kakak boleh tidur sini tidak untuk malam ini saja" ujar Quella memelas seperti anak kecil. mereka tak punya pilihan lain selain mengangguk karena gadis didepan mereka sudah sangat baik membeli makanan bahkan bergabung seperti sekarang. Quella tidur bersama Serena dan Kimberly, sedangkan Jenifer bersama adiknya, Kevin dan Charlie tentu tidur digubuk yang lain. Quella menjadikan mantelnya untuk selimut mereka bertiga, melihat anak-anak itu tertidur dengan nyaman digubuk reyot ini membuatnya tak berhenti untuk bersyukur, dan dia senang karena dari dulu ingin merasakan tidur seperti ini. melihat ponselnya yang ternyata menunjukkan pukul 23.00 membuatnya menguap karena memang sudah larut, Quella pun tertidur dengan nyenyak dan berpikir keras cara membantu anak-anak ini. keesokan paginya Quella pamit pulang. saat diapartemen milik Rexana, dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. pikirannya berkelana mencari jalan keluar untuk anak-anak tersebut. dia pun membuka ponselnya mencaritahu tentang panti asuhan terdekat dan terjamin tidak akan pernah kekurangan donatur. setelah mencari beberapa jam dia mendapatkannya, lalu dengan cepat menelpon nomor yang tertera. "halo, selamat pagi" sapa seorang pria disebrang telepon sana. "pagi, saya ingin melaporkan ada 6 orang anak gelandangan, bisakah mereka tinggal di panti asuhan anda?" tanya Quella. "baiklah anda atas nama siapa, agar saya catat sebagai tamu saya, sebab tamu saya hari ini sangat banyak" ujar orang disebrang telpon sana yang terdengar frustasi. "Rexana, alamat lengkapnya nanti kirim ya pak" ujar Quella berbohong tampak dari wajahnya yang merasa bersalah karena belum pernah berbohong sebesar ini yaitu berpura pura menjadi orang lain. "baiklah, nanti saya kirim" ujar pria yang mungkin berkisar 27-30 an dari suaranya. saat alamat sudah dikirim, Quella buru-buru membersihkan dirinya. lalu dia kembali lagi ketempat para anak-anak itu berada. "hai kakak ada kabar bagus loh" ujar Quella menghampiri mereka semua. "kabar apa kak?" tanya Jenifer penasaran. "kalian akan ada rumah baru, tadi kakak menelpon pemilik panti asuhannya lalu dia setuju untuk kalian tinggal disana" ujar Quella dengan semangat. Quella memesan taxi dengan penumpang 6 orang dan dia memangku Serena disamping supir. saat mereka sampai di panti asuhan yang asri dan segar Dimata karena banyaknya tumbuhan dihalaman nya. banyak anak-anak yang sedang bermain dihalaman tersebut. tak lama keluar pria yang berkisar 27-30 an tahun itu dari rumah tempat anak-anak itu akan tinggal. "hai, apakah anda Rexana?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan gadis itu. "iya saya Rexana" menyambut tangan besar itu. "saya Adam, pendiri panti asuhan ini" ujarnya memperkenalkan diri. "apakah ini anak-anak yang kamu maksud?" tanya Adam memandang iba anak-anak yang ada disebelah Quella. gadis itu mengangguk mengiyakan pertanyaan pria didepannya. "Anda ingin masuk atau langsung pulang?" tanya Adam melihat gadis didepannya ini yang memandang anak-anak itu dengan iba. "pak, bolehkah saya bermain disini dulu sebentar" tanya ragu Quella. Adam tertawa lalu "boleh dong, terimakasih ya sudah mengantarkan anak-anak itu kerumah baru mereka, tapi anda bisa memanggil saya Adam saja karena saya masih 24 tahun pasti umur kita tak jauh kan" ucapan pria itu membuat Quella langsung memandangnya terkejut karena tebakannya salah, dan ternyata dia baru sadar Adam memang masih tampak muda dan ramah. "oh baiklah Adam, umurku 20 tahun" ujar Quella tersenyum ramah. Quella dan Adam bermain bersama anak-anak itu lumayan lama sampai makan siang tiba, mereka makan siang bersama- sama, Kevin dan lainnya mulai mengenal anak-anak yang ada di panti asuhan itu. setelah makan siang, para anak-anak tertidur sedangkan Quella dan Adam diruang tamu rumah tersebut. "Adam, aku akan berdonasi ke panti asuhanmu, mungkin perbulan jadi jaga anak-anak itu dengan baik ya" ujar Quella berharap. "tanpa donasi darimu aku juga tetap akan menjaga mereka dengan baik, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, untuk merawat anak-anak yang kurang beruntung dikota ini dengan hartaku yang takkan habis-habis jika aku selalu bekerja keras" ujar Adam dengan tertawa kecil. "ha memangnya apa pekerjaanmu?" tanya Quella penasaran. "aku pewaris tunggal perusahaan papaku, dan dari tamat sekolah aku sudah menjadi CEO tentu saja dengan masa percobaan saat masih sekolah" ujar Adam dengan ramah. sang gadis pun mengangguk mengerti. "aku ingin sekali bergabung sama mereka tinggal disini tapi aku tak bisa" ucapan polos dan naif Quella sukses membuat Adam tertawa lepas. "kamu boleh kok kapanpun kemari" ujar Adam dengan lembut. "oke deh" ujar Quella dengan lesu karena dia sekarang harus pergi, memikirkan senyuman anak-anak itu melihat rumah barunya membuat hatinya sangat bahagia. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN