"Nenek-Nenek?" ulang Eva. Begitu mendengarkan cerita Rindi. Keduanya duduk di sofa ruang tamu. "Iya, Bu. Matanya sipit. Mulutnya lebar banget. Rambut putih di gulung. Kebaya putih. Juga, jarik. Katanya, dia jangan takut. Aku cuma numpang lewat." Eva mendesah singkat. "Mungkin, memang cuma mampir saja, Rin. Makhluk-makhluk seperti itu, kan tahu—manusia mana saja yang bisa merasakan kehadiran mereka. Atau, melihat mereka." "Oh, begitu, Bu? Tapi, rasanya ngeri, Bu." "Ya, jelas, rin. Ibu saja dulu juga ketakutan." "Ibu, juga pernah melihat Nenek itu?" "Beda, Rin. Tapi, juga Nenek-nenek. Dulu, waktu Andi masih kecil." ** Masa Dulu Senja menyapa. Dulu jalan raya depan rumah Eva, tidak selebar masa datang. Sempit. Dan, tinggi. Rumah Eva ada di bawahnya. Agak menjorok ke belakang. Sampi

