"Enggak pulang? Memang, kemana?" tanya Andi, dengan nada terkejut. "Aku juga enggak tahu, Ndi. Di telepon juga enggak bisa. Pokoknya, terakhir itu Bapakmu ngomong—mau cari uang yang banyak." Andi menghela napas panjang. "Kedatanganku kemari, sebenarnya—karena aku mimpi bapak." "Mimpi apa?" "Bapak lagi semedi. Aku juga enggak tahu, tempatnya di mana. Di sekitar itu gelap banget. Tapi, aku bisa lihat Bapak. Aku panggil Bapak, tapi Bapak enggak dengar. Katanya, Bapak capek. Enggak kuat. Di belakang Bapak itu, ada sosok jin atau genderuwo—aku juga enggak tahu. Yang pasti, ada tumpukan uang banyak." "Astagfirullah. Masa iya, Bapakmu main pesugihan?" "Sepertinya begitu." "Terus, bagaimana, Ndi?" "Kita harus cari Bapak. Entah kemana. Bapak harus ketemu." "Assalamualaikum." terdengar suar

