“Sekarang, Bapak minta sama kalian, untuk menghubungi orangtua kalian! Suruh orangtua kalian menghadap Bapak sekarang!” perintah Pak Helmi.
“Biar Mamah gue aja yang dateng ke sini.” isak Clara, kemudian langsung menelepon Ibunya. “Halo Mah.”
“Halo Clara, ada apa? Kok kamu kayak yang nangis gitu?”
“Tolong ke sekolah sekarang ya Mah! Aku sama Devin lagi ada masalah.”
Setelah memberi tahu Ibunya untuk datang ke sekolah, Clara langsung mengakhiri telepon tersebut.
“Benar-benar keterlaluan kalian berdua!” ucap Ibu Melly. “Tega sekali kalian melakukan hal yang sangat jahat kepada teman kalian sendiri.”
“Kalian benar-benar sudah membuat nama sekolah dan para Guru di sini malu. Terlebih, kami semua sudah menuduh Gerald dan Liora sampai mereka viral satu Indonesia.” ucap Pak Rian.
“Keluarkan saja mereka dari sekolah ini, Pak Helmi! Sekolah ini tidak butuh murid sampah seperti mereka.” ucap Ibu Melly.
“Iya Pak, keluarkan saja murid yang tidak mempunyai akal pikiran waras seperti mereka!” ucap Pak Rian.
“Sabar Pak Rian, Bu Melly! Jangan sampai turun emosi! Mereka berdua sudah mengakui perbuatan mereka, dan sudah menebus kesalahan mereka dengan mengklarifikasi semuanya tadi. Jadi, mereka tidak akan saya keluarkan dari sekolah ini.”
“Tapi Pak Helmi, mereka sudah membuat nama sekolah kita tercemar.” ucap Pak Rian. “Seharusnya mereka langsung dikeluarkan dari sekolah ini!”
“Iya, tapi mereka sudah menebus kesalahan mereka dengan video klarifikasi mereka, dan saya sangat menghargai mereka yang sudah mau menebus kesalahan mereka. Sekarang kita tinggal tunggu kehadiran orangtua mereka, lalu nanti kita akan rundingkan masalah ini dengan orangtuanya Gerald dan Liora.”
“Assalamualaikum.” ucap Anton dan Silvia yang baru saja tiba kembali di sekolah bersama Gerald dan Liora.
“Oh! Jadi kalian berdua, orang yang udah bikin Adik gue viral satu Indonesia, sampe semua orang ngehujat dia hah?” ucap Anton dengan tatapan penuh amarah kepada Devin dan Clara.
“Bener-bener nggak punya hati ya kalian berdua! Apa salah Adik gue sama kalian hah? Kenapa kalian tega ngelakuin hal itu ke Adik gue?” ucap Silvia, yang juga menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.
“Anton, Silvia, kalian sabar dulu ya! Sini duduk! Kita bicarakan semua ini dengan baik-baik!” ucap Pak Helmi, mencoba membuat mereka tenang.
“Nggak Pak Helmi! Saya nggak sudi bicara baik-baik sama orang yang udah bikin Adik saya terjerumus ke dalam masalah yang bener-bener besar.” ucap Anton.
“Saya juga nggak sudi, buat bicarain secara baik-baik, sama orang yang udah ngejahatin Adik saya.” ucap Silvia.
“Lo berdua tega banget sih!” isak Gerald. “Salah gue sama Liora apa ke kalian hah? Perasaan gue nggak pernah bikin masalah deh sama kalian, kenapa kalian tega banget ngelakuin hal itu ke kita?”
“Devin, Clara, kalau kalian benci sama gue sama Gerald, kalian ngomong dong! Supaya kita bisa selesain masalah kita, bukan malah ngelakuin hal jahat yang bikin orang lain menderita!” isak Liora.
Devin dan Clara hanya bisa terdiam sembari menangis, melihat Gerald, Liora serta Anton dan Silvia menghakimi mereka seperti itu.
“Sekarang gue sama Liora udah viral satu Indonesia, viral karena ngelakuin kesalahan yang nggak kita lakuin! Gara-gara kalian, nama baik kita tercemar Devin, Clara!” isak Liora.
“Kalian pikir, dengan kalian bikin video klarifikasi, hal itu bisa nyelesain masalah ini gitu aja?” isak Gerald. “Jelas nggak! Video kita udah viral di seluruh Indonesia, tetep aja orang-orang bakalan ngehujat kita!”
“Gue bener-bener nggak terima sama perlakuan jahat kalian ke gue sama Gerad!” ucap Liora. “Apa yang udah kalian lakuin itu bener-bener nggak bisa dimaafin. Kalian harus dapetin hukuman yang setimpal atas perbuatan jahat kalian itu.”
“Iya, gue juga nggak terima sama perlakuan jahat kalian itu. Kak Anton, Kak Silvia, laporin aja mereka ke Polisi, penjarain mereka! Kalau perlu, seumur hidup!” ucap Gerald.
“Iya, emang seharusnya mereka dipenjara, kalau bisa emang seharusnya seumur hidup mereka mendekam di penjara!” ucap Silvia.
“Iya, gue bakalan laporin mereka ke Polisi sekarang juga. Pokoknya mereka harus masuk ke penjara. Nggak ada maaf buat kalian bocah-bocah biadab!” ucap Anton.
Mendengar Anton akan melaporkan mereka ke Polisi, membuat Devin dan Clara menjadi semakin panik dan ketakutan, serta air mata mereka mengalir semakin deras.
“Anton, Silvia, saya tahu perasaan kalian.” ucap Pak Helmi. “Kalian pasti merasa sangat sakit hati dengan perlakuan Devin dan Clara kepada Adik-Adik kalian. Tapi kalian harus tahu, Devin dan Clara telah menebus kesalahan mereka dengan membuat video klarifikasi yang memberitakan perihal kejadian yang sebenarnya, jika Gerald dan Liora itu tidak bersalah. Itu pasti akan mengembalikan nama baik Adik kalian menjadi normal kembali.”
“Tetep aja Pak! Mereka itu keterlaluan. Mereka itu bener-bener nggak punya pemikiran yang matang. Pemikiran mereka benar-benar labil, dan di luar batas. Beraninya mereka menjebak teman mereka sendiri, lalu membuat teman mereka viral seperti ini. Pokoknya, mereka harus diberi hukuman!” ucap Anton.
“Iya Pak! Mereka harus diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatan jahat mereka itu. Jika mereka dimaafkan begitu saja, bisa saja mereka nanti mengulangi yang sama. Maka dari itu, mereka harus diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka, guna memberikan efek jera kepada mereka.” ucap Silvia.
“Kalian denger?” tanya Liora. “Ini baru Kakak kita loh! Mereka ngerasa sakit hati banget karena kelakuan jahat kalian yang udah bikin gue sama Gerald menderita. Nggak tahu deh kalau sama orangtua kita? Mungkin mereka bakalan ngasih kalian hukuman yang lebih dari ini.”
“Sumpah demi apapun ya! Gue bener-bener ngerasa sakit hati banget sama kelakuan jahat kalian ke gue sama Liora!” isak Gerald. “Tega banget lo berdua ngejebak gue sama Liora buat pingsan di aula sekolah, terus kalian bikin gue sama dia seakan-akan ketahuan m***m. Habis itu kalian provokatorin semua murid-murid di sini buat ngehujat kita, terus kalian viralin kita! Sampe kapanpun, gue nggak akan pernah ngemaafin kalian. Najis!”
“Gue juga!” isak Liora. “Sampe kapanpun gue nggak akan sudi ngemaafin kalian. Luka yang udah kalian gores di hati gue, akan gue inget seumur hidup! Gue pengen, lo berdua masuk penjara seumur hidup!”
“Bahkan!” isak Gerald. “Hukuman penjara aja nggak pantes buat jadi hukuman kalian. Perbuatan kalian itu jahat banget! Harusnya kalian itu dihukum mati tahu nggak?”
“Iya, Gerald bener. Harusnya kalian itu dihukum mati!” isak Liora. “Karena kalian udah mitnah kita, dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!”
Gerald dan Liora merasa sangat sakit hati dengan perlakuan jahat Devin dan Clara yang sudah menjerumuskan mereka ke dalam masalah penderitaan.