Clara menatap Gerald dan Liora dengan tatapan penuh air mata.
“Ger, Ra! Maafin gue sama Devin! Tolong maafin kita! Kita udah dikuasain sama rasa kebencian di hati kita, sampe ngebuat kita berani berbuat hal yang tega sama kalian!” isak Clara. “Tapi, gue udah nebus semua kesalahan gue, dan gue bakal pastiin, video klarifikasi gue sama Devin bakalan bikin semua orang tahu kalau kalian nggak bersalah. Biarin gue sama Devin yang dihujat banyak orang. Please maafin kita! Jangan laporin kita ke Polisi!”
“Apa? Ngemaafin kalian? Setelah kalian ngebuat gue sama Liora menderita? Lo bilang maaf?” ucap Gerald dengan tatapan penuh kebencian. “Sampai kapanpun, gue nggak akan pernah sudi buat ngemaafin kalian!”
“Gerald!” isak Clara, yang semakin ketakutan setelah mendengar ucapan Gerald barusan. “Tolong maafin kita! Tolong! Gue sama Devin siap buat ngelakuin apapun yang lo sama Liora mau, asal itu bisa bikin kalian ngemaafin kita.”
“Heh! Lo nggak usah drama deh! Gue tuh tahu kalau lo itu cuma pura-pura minta maaf di depan gue! Basi cara lo Clara!”
“Gerald, kalau emang iya gue cuma drama di hadapan lo, buat apa gue bikin video klarifikasi yang bakalan ngebuat gue sama Devin dibenci semua orang? Buat apa Gerald? Gue bikin video klarifikasi itu dengan niat supaya nama baik lo sama Liora dan juga sekolah ini kembali normal, gue tulus minta maaf sama kalian. Tolong maafin gue sama Devin.”
“NGGAK!” jerit Gerald. “GUE NGGAK AKAN PERNAH NGEMAAFIN KALIAN! KALIAN UDAH BIKIN GUE SAMA LIORA HAMPIR GILA KARENA SETRES MIKIRIN MASALAH YANG KALIAN LAKUIN KE KITA! POKOKNYA, KALIAN HARUS MASUK PENJARA! HARUS!”
“Gerald!” panggil Liora. “Kayaknya mereka serius minta maaf sama kita.”
“Serius? Serius kamu bilang? Serius dari mananya?” isak Gerald. “Orang jahat kayak mereka gini mana mungkin mau ngakuin kesalahan mereka.”
“Ya kamu denger sendiri kan tadi Clara bilang apa? Dia udah bikin video klarifikasi buat ngembaliin nama baik kita sama sekolah kita ini. Hal ini bakalan ngembaliin nama baik kita, tapi bikin nama mereka yang bakalan jadi dibenci sama semua orang. Kalau mereka nggak niat minta maaf sama kita, nggak mungkin mereka mau bikin video klarifikasi kayak gitu Gerald.”
“Jadi maksud kamu, kamu mau maafin mereka gitu?”
“Iya, nggak ada salahnya kita ngasih mereka kesempatan buat memperbaiki kesalahan mereka.”
“Nggak!” ucap Anton. “Kakak nggak setuju ya kalian ngemaafin mereka! Apapun yang udah mereka lakuin buat nebus kesalahan mereka, itu nggak akan pernah ngehilangin rasa sakit hati di dalem hati Kakak, karena udah sakit hati ngelihat kalian dijahatin sama mereka.”
“Iya Liora! Kakak juga nggak setuju kamu maafin mereka.” ucap Silvia. “Apapun alasannya, nggak ada pembelaan buat orang yang udah bikin menderita orang lain. Mereka teteplah salah, dan harus dapetin hukuman!”
“Iya, aku juga nggak sudi ngemaafin mereka.” ucap Gerald. “Aku bener-bener sakit hati sama perlakuan mereka. Mereka udah ngejebak aku sama Liora, terus ngeprovokatorin semua orang di sekolah ini buat ngehujat kita, kalian pikir semua itu bisa dimaafin gitu aja? Nggak!”
“Kak Anton, Kak Silvia, Gerald, mereka emang salah, tapi mereka udah nebus kesalahan mereka dengan cara mereka sendiri. Apa salahnya kita ngasih kesempatan ke mereka buat bisa berubah jadi lebih baik lagi?”
“Nggak Liora! Kakak bilang nggak ya nggak!” tegas Silvia.
“Heh Devin, Clara! Om gue itu pengacara yang kinerjanya bagus banget. Gue bakalan ngelaporin kalian ke Om gue, supaya kalian bisa langsung dijeblosin ke penjara, tanpa adanya banyak drama karena kalian masih di bawah umur.” ucap Gerald.
Devin dan Clara benar-benar sangat ketakutan, saat mendengar ucapan Gerald yang akan menjebloskan mereka ke dalam jeruji penjara, sebagai hukuman atas kesalahan yang telah mereka perbuat.
“Bagus Gerald.” ucap Silvia. “Langsung aja laporin mereka ke Om kamu sekarang juga!”
“Iya, bakalan aku laporin mereka langsung sekarang juga, Kak!”
“Pak Helmi, terima kasih banyak, karena Bapak udah nemuin pelaku sebenarnya dari inti masalah yang menimpa Adik saya.” ucap Anton. “Tapi maaf, kami tidak bisa memberikan maaf untuk dua Anak murid Bapak yang sudah benar-benar menggores luka di hati kami, jadi saya akan putuskan untuk melaporkan mereka ke pihak berwajib.”
“Iya Anton, saya paham dengan perasaan kamu. Tapi--”
“Saya pamit. Assalamualaikum.” Anton memotong pembicaraan Pak Helmi. “Ayo!” lalu merangkul Gerald pulang.
“Saya juga pamit, Pak Helmi.” ucap Silvia. “Assalamualaikum.” kemudian merangkul Liora, menyusul Anton dan Gerald.
“Kurang ajar lo Gerald!” ucap Devin dalam hati dengan penuh kebencian. “Lihat aja! Lo nggak akan pernah bisa menang ngelawan gue! Gue bakalan tunjukin ke lo, siapa gue yang sebenarnya. Gue udah benci sama lo, dan sekarang, elo bikin gue jadi tambah benci banget sama lo. Jadi siap-siap aja lo buat menderita.”
Devin merasa sangat benci dengan perlakuan Gerald yang sedari tadi terus membuatnya dan Clara ketakutan karena ancaman akan menjebloskan dia dan Clara ke penjara.
Hal itu membuat kebencian Devin kepada Gerald semakin bertambah. Sehingga membuatnya berniat untuk membuat hidup Gerald menjadi benar-benar sangat menderita.
Sementara itu, Anton, Silvia, Gerald dan Liora baru saja tiba di luar ruangan Guru. Tak lama kemudian, semua murid-murid langsung berdatangan untuk meminta maaf kepada Gerald dan Liora.
“Gerald maafin gue ya!”
“Liora maafin gue ya!”
Mereka semua berbondong-bondong meminta maaf kepada Gerald dan Liora. Mereka semua pun mengaku menyesal karena telah termasuk ke dalam tipuan yang dibuat oleh Devin dan Clara.
Melihat semua murid di sekolah meminta maaf kepada mereka, membuat Anton dan Silvia tersenyum. Hal itu juga membuat Gerald dan Liora tersenyum, serta membuat hati mereka sangat lega, sebab murid-murid di sekolah sudah mengetahui bahwa mereka tidaklah bersalah.
“Permisi!” sampai kemudian, terdengar suara seorang perempuan yang baru saja tiba di depan ruangan Guru yang dipenuhi oleh murid-murid. “Boleh saya izin lewat sebentar, saya ingin menemui Anak dan Keponakan saya di ruangan Guru.”
“Oh! Ibu pasti orangtuanya Devin sama Clara ya?” tanya Silvia.
“Iya, saya Viona. Saya Ibunya Clara, sekaligus Tantenya Devin. Kenapa ya?”
Rupanya, perempuan tersebut adalah Ibunya Clara yang bernama Viona, sekaligus Tantenya Devin.
“Ibu yang sabar ya, karena sebentar lagi, Anak sama Keponakan Ibu itu, bakalan masuk ke dalam sel penjara.”
“Astaghfirullahaladzim! Maksud kamu apa Dek ngomong seperti itu? Memangnya apa salah Anak dan Keponakan saya?” Viona langsung terkejut seketika, setelah mendengar ucapan Arika yang mengatakan jika Clara dan Devin akan segera masuk ke dalam sel penjara.