“MINGGIR LO!” Liora mendorong Clara dengan cepat dari sebelah Gerald.
“AWAS!” begitupun dengan Alexa yang mendorong Vitta dari sebelah Albert.
“Albert bangun!” Alexa kemudian mencoba membangunkan Albert.
“Gerald.” panggil Liora. “Gerald bangun!”
“Gerald.” Rival dan Tevi lalu menghampiri Gerald, dan mencoba membangunkannya. “Ger bangun Ger!”
“Albert.” Elina menghampiri Albert, lalu mencoba membangunkannya bersama Alexa.
“HEUH!” Liora menatap Clara dengan penuh amarah. “Ini semua gara-gara lo!” kemudian menunjuk Clara. “Gara-gara lo sama temen-temen lo yang waria itu, cowok gue sama sepupunya jadi pingsan gini!”
“Kok lo jadi nyalahin kita sih?” ucap Clara. “Gue sama temen-temen gue nggak ngapa-ngapain mereka kok.”
“Iya, kita nggak ngapa-ngapain mereka kok, mereka itu pingsan sendiri, dan kita nggak tahu kenapa mereka bisa pingsan tiba-tiba kayak gitu.”
“HALAH BACOD!” teriak Alexa dengan penuh amarah. “Kalau lo bertiga nggak ngajak ribut, ini semua nggak bakalan terjadi! Awas aja ya! Kalau sampe Gerald sama Albert kenapa-kenapa, kalian bakalan nerima konsekuensinya!”
“Udahlah! Nggak guna juga ngomong sama orang-orang gila kayak mereka.” ucap Elina. “Mending sekarang kita bawa Gerald sama Albert ke UKS.”
“INI LAGI ORANG-ORANG NGGAK JELAS!” bentak Alexa kepada murid-murid yang terdiam menonton keributan mereka. “BUKANNYA BANTUIN MALAH PLANGA-PLONGO!”
“TAHU! UDAH SMA TAPI TINGKAH LAKU KAYAK BOCAH! NAJIS!” teriak Liora kesal.
“Udah!” ucap Tevi. “Ayo bawa Gerald sama Albert ke UKS!”
“Jadi tuh cowok keren namanya Albert?” ucap Reva.
“Dan dia sepupunya Gerald, pantesan aja keren.” ucap Vitta.
“Itu tapi mereka kenapa bisa tiba-tiba pingsan gitu ya pas udah sentuhan sama kita tadi?” tanya Clara.
“Nggak tahu! Aneh banget asli.” balas Vitta.
Tevi, Liora, Rival, dan Alexa lalu membawa Gerald dan Albert ke UKS. Setibanya di sana, mereka langsung merebahkan Gerald dan Albert di ranjang UKS.
“Gerald sama Albert pasti pingsan karena jantungan, soalnya tadi mereka sentuhan sama si Clara Vitta waria itu.” ucap Liora kesal.
“Ternyata mereka beneran gynophobia ya? Ih ngeri banget! Sampe pingsan gitu cuma karena dipegang cewek.” ucap Alexa.
“Yaudah, kalau gitu gue ke ruang Guru ya, ngasih tahu Guru kalau Gerald sama Albert pingsan.”
“Nggak usahlah! Biar gue telepon Papah gue aja biar langsung panggilin Dokter.” ucap Rival.
“Udahlah nggak usah!” ucap Liora.
“Loh! Kenapa?” tanya Rival, Alexa, Tevi dan Elina secara bersamaan.
“Ya nggak usahlah! Tunggu aja mereka bangun sendiri. Nggak perlu manggil Dokter, karena mereka itu nggak sakit. Mereka itu gangguan gynophobia, gangguan mental, bukan sakit. Jadi nggak guna manggil Dokter. Udah, mereka itu cuma lagi kumat, nanti juga bangun sendiri.”
“Iya juga sih. Tapi setidaknya kita kasih tahu Gurulah.” ucap Tevi.
“Udahlah nggak usah!” ucap Liora. “Kita tunggu aja mereka bangun.”
“Yaudah.” balas Tevi.
Mereka lalu terdiam, menunggu Gerald dan Albert terbangun dari pingsan. Sampai beberapa menit kemudian, akhirnya Gerald dan Albert terbangun dari pingsan secara bersamaan. Mereka langsung tersenyum senang saat melihat Gerald dan Albert terbangun dari pingsan.
Gerald dan Albert menatap ruangan UKS, lalu terduduk di ranjang, kemudian saling menatap.
“Apa yang udah terjadi? Kenapa gue sama Albert bisa ada di UKS kayak gini?” tanya Gerald.
“Kamu sama Albert tadi pingsan, karena nggak sengaja ditabrak sama si Clara CS.” balas Liora.
“Oh iya,” ucap Albert. “tadi gue ditabrak dan dipegangin sama cewek, mana nggak dilepas-lepas lagi.”
“Iya gue juga inget.” ucap Gerald. “Tadi gue ngerasain jantung gue berdegup panik banget, bikin gue nggak kuat sampe akhirnya gue pingsan. Lo ngerasain gitu juga?”
“Iya, gue ngerasain gitu juga. Mana ditambah mules sama sakit kepala. Najis rasanya nyiksa banget!”
“Satu lagi! Badan lemes kayak mau mati.”
“Iya, bener banget.”
“Lagian kalian ngapain sih? Ngapain kalian ribut-ribut sama si Clara CS tadi?”
“Mereka yang nyari gara-gara duluan sama kita.” balas Liora. “Orang kita lagi jalan, mereka malah nabrak.”
“Iya, terus mereka malah nyalahin kita, pake nyolot sama ngebentak lagi, padahal mereka yang salah.” ucap Alexa.
“Terus pas kita mau pergi, mereka malah sengaja ngehadang kaki kita sampe bikin kita jatoh.” ucap Elina.
“Terus si Clara ngajak ribut banget! Pake ngatain aku sok cantik segala.” ucap Liora.
“Seriusan si Clara bilang kayak gitu?” tanya Gerald.
“Serius, dia bilang aku sok cantik, dengan gayanya yang ngajak berantem banget.”
“Kok dia ngomong gitu sih?”
“Ya karena dia kesel dan benci sama aku, makanya dia ngomong kayak gitu.”
“Kenapa dia benci sama kamu?”
“Karena aku yang bisa dapetin kamu, bukan dia.”
“Maksudnya?”
“Kamu tuh nyadar dong! Si Clara itu suka sama kamu, makanya dia benci sama aku, karena aku yang bisa dapetin kamu.”
“Hah? Kamu tahu dari mana kalau dia suka sama aku?”
“Yaelah Ger!” ucap Alexa. “Lo nggak ngelihat apa kalau selama ini dia itu suka caper sama lo, apalagi waktu pelajaran olahraga kemarin.”
“Iya, dia cuma mainin bola yang diover dari lo doang. Terus pas lo jatuh dia langsung caper deketin lo. Udah kelihatan banget kalau dia itu suka sama lo.” ucap Elina.
“Yang paling bikin dia kelihatan banget suka sama lo itu ya tadi, waktu dia bilang Liora sok cantik. Itu nunjukin banget kalau si Clara cemburu, karena Liora yang bisa dapetin lo.” ucap Alexa.
“Jijik banget gue sama tuh cewek! Dipikir cowok cuma Gerald doang apa. Emang dia nggak bisa gitu cari cowok lain? Kenapa harus ngarepin Gerald mulu? Sampe nyari ribut sama gue!” ucap Liora kesal.
“Ra, lo nggak boleh gitu!” ucap Rival. “Lo nggak boleh soudzon sama orang!”
“Maksud lo?”
“Ya, kita kan belum tahu, Clara itu beneran suka sama Gerald apa nggak? Jadi, kita nggak berhak dong buat ngejudge dia seenaknya.”
“Heh Tevi! Lo kok malah belain dia sih?” tanya Elina. “Udah jelas kelihatan kali kalau si Clara itu suka sama Gerald. Apanya yang soudzon?”
“Ya tapi kan belum tentu apa yang kita lihat itu sesuai sama kenyataannya. Inget sama kata pepatah, jangan mencela buku hanya dari tampilan depannya. Jadi, belum tentu, apa yang kita lihat dari Clara, itu sama persis dengan kenyataannya.”
“Tev, lo suka ya sama si Clara?” tanya Alexa.
“Nggak.”
“Halah nggak usah ngeles lo! Bilang aja kalau lo tuh suka sama dia!”
“Apaan sih Al? Gue nggak ada rasa apa-apa kok sama si Clara.”
“Heh Tevi! Kalau lo suka sama si Clara bilang! Biar kita cari tempat lain buat ngomongin si Clara! Supaya lo nggak sakit hati karena crush lo kita omongin.” ucap Liora.