MENGAPA KAMU HADAPI SENDIRI ?

571 Kata
" Andra .... " Rajendra menepuk nepuk pipi yang terasa dingin. " Permisi." dr Crist menepuk bahu Rajendra dan mengambil alih kendali dengan tenang. Rajendra tercenung, tergagap ketika merasa ada yang memeluk kakinya ," Gak apa apa sayang, ibu mungkin cuma lelah." diangkatnya Narend yang langsung memeluk lehernya. Thomas dan Sam bertatapan penuh arti melihat kemiripan keduanya .... dan sedikit banyak mereka menebak apa yang membuat perempuan tangguh seperti Diandra pingsan. Diandra mengeluh, mencoba mengusir kabut tebal saat matanya terbuka. " Tutup dulu dan buka matamu perlahan." suara lembut dr Crist memasuki pendengarannya .... Dibukanya mata lagi, kali ini perlahan, dan menemukan wajah keibuan itu tersenyum kearahnya. " Narend." tiba tiba Diandra panik. " Dia disini." suara lembut itu menyahut pelan, dan dua wajah serupa itu muncul dihadapannya. " Jen ......." bisiknya dengan bibir gemetar. Ditatapnya Narend yang dengan kepercayaan penuh memeluk leher lelaki yang menggendongnya. Lelaki berkacamata itu masih berdiri memeluk Narend, menatapnya dengan pandangan tajam. Diandra berusaha duduk, menatap keduanya dengan pandangan bersalah. " Narend anakku kan , Ndra ?" tanya Rajendra dengan suara bergetar. Diandra hanya mampu mengangguk tanpa suara. Narend menatap keduanya dengan bingung. Rajendra berlutut, menurunkan Narend dan memegang bahunya ," Ibu perlu istirahat, Narend main dulu ya .... ayah akan temani ibu." " Ayah ? Daddy ? Aku punya Daddy seperti Morie ?" mata beningnya berputar saat ia berusaha mencerna informasi singkat itu, ditatapnya Diandra dan Rajendra bergantian lalu berteriak senang saat keduanya mengangguk ," Uncle Thomas, antar aku ke Morie. Aku punya Daddy juga." " Ya." Sahut Thomas singkat, menatap dua orang yang berhadapan itu sejenak sebelum meninggalkan mereka diikuti Sam dan dr Crist. Hening ... Diandra duduk menekuri jemari yang bertautan dipangkuannya. Rajendra berdiri mematung sambil menenggelamkan kedua tangan kedalam saku dalam dalam. Diandra menarik nafas panjang, diamnya Rajendra begitu menyiksanya. Diangkatnya kepala tepat pada saat lelaki itu mengalihkan pandangan dari ujung sepatu. Terguncang dan kecewa tergambar jelas di mata kelam Rajendra. Rasa bersalah dan terluka menyorot lemah sebelum Diandra menelan ludah dan memejamkan matanya, mencegah air mata turun. Rajendra duduk disamping Diandra ," Ini yang kita lakukan malam itu, Ndra ?" " Ya." sahutnya dengan suara tertahan. " Ini yang bikin kamu pergi tanpa kabar ?" " Ya." " Kamu simpan sendiri ... kamu jalani sendiri ...." " Maaf, Jen." Rajendra menarik nafas, mencoba menenangkan dirinya ," Kenapa gak bilang, Ndra ? Kamu pikir aku bakal lari dari tanggung jawab ?" " Bukan gitu ...." " Lalu kenapa ?" Diandra menutup wajahnya .... bagaimana aku harus mengatakannya ... ? Ditariknya nafas panjang, mencoba menatap lelaki disampingnya yang duduk dengan bahu luruh." Kamu kesini sama siapa ?" Rajendra mengangkat wajahnya, " Papa mama, Laras dan suami serta anaknya." " Bisa kita bicara nanti ? Di rumahku." diedarkannya pandangan, melihat beberapa staff resort memilih mengambil jalan memutar ," disini mengganggu mereka." " Ok, ayo ...." Rajendra berdiri. " Bilang dulu sama keluargamu, karena mungkin pembicaraan ini akan panjang." Diandra meraih tas yang tadi disimpan di balik meja ," Kamu bisa minta alamatku pada staff di depan. Bisa kan, Jen ? Aku butuh menenangkan diri sebentar saja." Rajendra tahu dirinya juga butuh waktu untuk bernafas. Ditatapnya wajah pucat yang dirindukannya itu, dan seketika harus ditahannya keinginan memeluknya seperti dulu. " Ok ... aku kesana satu jam lagi. Cukup ?" Diandra mengangguk ," Makasih. Aku duluan." " Ndra ....," ditahannya lengan Diandra ," Kamu yakin bisa pulang sendiri ?" Diandra tersenyum tipis sambil mengangguk dan berlalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN