Diandra duduk diujung sofa, mempermainkan jemari di pangkuannya ," Jen ...maaf ... harusnya aku bicara langsung ama kamu. Aku ...."
" Maafin mama papa ya."
Diandra menatap lelaki yang tertunduk menatap ujung sepatu. Suaranya terdengar berat dan dalam.
Satu beban besar bergulir dari bahu Diandra ... terlalu sulit mengatakan hal itu pada Rajendra.
" Harusnya mereka tanya aku."
" Harusnya aku bilang sendiri."
" Harusnya mereka gak menyamakan kamu dengan mereka. Mereka mengenalmu, apalagi kamu dateng sama ayah ." Rajendra menatap Diandra yang menggigit bibir sambil memejamkan mata ... kabut tebal menggayut dimata kecoklatan itu ketika pemiliknya membuka mata dan mencoba tersenyum tipis, " Ayah sakit karena kita Ndra ?"
Diandra menggeleng ragu ," Entahlah. Ayah baik baik saja menyiapkan semua untuk aku pindah kesini. Ayah memutuskan untuk ikut pergi setelah rumah laku. Malam itu tiketku dan lainnya sudah siap, tapi ayah gak pernah bangun lagi."
Rajendra mendekat meraih tangan dingin itu.
" Ayah gak bilang sedih atau marah, cuma bilang untuk melanjutkan hidup dengan semua tanggung jawab atas keputusanku."
" Tanggung jawabku juga." Rajendra memotong pelan ," Ndra ... bagaimana kamu menjalaninya sendiri ? Setelah ayah pergi, jauh disini, mengandung dan membesarkan anakku ..." suaranya bergetar mengandung tangis, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Diandra menatap lelaki disampingnya, tangannya terulur ragu menyentuh bahu kokoh itu ," Maaf Jen. Aku egois ... aku cuma menuruti kemarahanku dan mengabaikanmu." Ditariknya lagi tangan, " Dan kemiripan kalian ... itu anugrah sekaligus hukuman buatku." suaranya melemah.
Rajendra mengangkat muka, mencoba tersenyum ," ini sudah jalannya." diedarkannya pandangan dan berdiri mendekati dinding yang penuh dengan foto Narend. Mengusap wajah lelaki kecilnya di berbagai usia , bahkan saat dalam kandungan," ada file nya gak ?"
" Ada, nanti aku kirim ke emailmu." Diandra mendekat, mengawasi lelaki itu menatap lekat, seakan ingin mengikuti perkembangan anaknya. Dan rasa bersalah itu kembali memenuhi dadanya ," Maaf kamu melewatkan semua ini."
Rajendra menghela nafas ... mengapa rasa bersalah lebih memenuhi dadanya ketimbang menyalahkan perempuan ini ?
" Narend lahir normal, tepat sembilan bulan sepuluh hari. Tiga setengah kilo, 53 cm." guman Diandra saat pandangan Rajendra terpaku pada foto pertama Narend.
Lima bulan lagi .... Narend genap berusia lima tahun ...dan dia harus punya nama keluarga.
" Ndra ..."
Diandra tergagap ," Ya... Kamu bicara apa ?"
Rajendra menangkup wajah pucat itu dengan kedua tangannya ," Apa yang kamu pikirkan ? Kita harus bagaimana sekarang ?"
Diandra menggigit bibirnya ," Jen ... apa kamu yakin tentang Narend ? Maksudku untuk mengakuinya secara hukum." lanjutnya cepat saat Rajendra tampak gusar dengan pertanyaannya.
" Tentu saja."
" Kamu bersedia untuk tes DNA ?"
Mata kelam Rajendra semakin gelap ," Aku gak butuh itu." suaranya tersendat menahan emosi.
Diandra menghela nafas, mengusir rasa sakitnya ," Bukan buat kita ... buat Narend." dijauhkannya tubuh, meraih map dan menyerahkannya pada Rajendra ," Narend belum punya nama keluarga. Dan tahun ini batas akhir memberikan nama ayah untuknya."
Rajendra menatap nanar pada surat keterangan lahir yang hanya mencantumkan nama Diandra.
" Dan salah satu syaratnya adalah tes DNA untuk mencantumkan namamu sebagai ayah biologisnya. Atau ... hanya akan ada namaku dan otomatis pake nama keluarga ayah."
Rajendra membaca dengan cermat semua dokumen di tangannya. Kiranya Diandra sudah siap dengan berbagai kemungkinan ," Kamu berniat ganti pasport ?"
" Salah satu kemungkinan terburuk yang harus aku siapkan. Persyaratan untuk itu sudah aku penuhi, dengan tidak meninggalkan negara ini selama tiga tahun terakhir, memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap.."
" Kamu bener bener gak ingin kembali ?"
" Hanya kalau itu yang terbaik buat Narend." ditariknya nafas ," Dengan posisimu dan kemiripan kalian ... sulit untuk membayangkan kami kembali tanpa gaduh. Setidaknya disini tidak terlalu mempermasalahkan sertifikat lahir tanpa nama ayah ... lagipula kami hanya warga sipil biasa yang bukan menjadi sorotan publik."
Rajendra membaca sekali lagi, berusaha menekan rasa sakitnya ," Dan ini prosedur untuk mencantumkan namaku ... bahkan formnya sudah ada."
" Salah satu harapan terbaikku .... walaupun jujur aku belum menemukan cara untuk menyampaikannya padamu sampai pagi tadi." Diandra beranjak ke jendela, menatap langit yang mulai redup ," Prosedur awalnya hanya sehari setelah permohonan diajukan, tapi hasilnya sekitar tiga minggu. Setelah itu butuh kehadiranmu untuk sidang tertutup, waktunya bisa disesuaikan."
" Kita bisa mengajukannya besok pagi, aku masih disini untuk seminggu ke depan." ditahannya untuk tidak merengkuh perempuan yang tampak rapuh dari bahunya yang merosot ... bahu yang selama ini tegar menanggung semuanya sendiri.
" Kamu yakin ?" Diandra berbalik ," Bicarakan dulu dengan keluargamu. Ini bukan hanya tentang kamu dan Narend."
Rajendra menatapnya dalam ... mengapa ia merasa Diandra tengah memisahkan dirinya sendiri ? Ada kelegaan, sekaligus sedih dan ketakutan di mata coklat itu ... " Ya, bukan hanya tentang aku dan Narend, tapi kita ... Aku, kamu dan anak kita."
Tubuh Diandra bergetar saat memejamkan mata, menahan tangisnya. Aku, kamu dan anak kita .... mengapa rasa sedih itu lebih besar dari bahagianya ? bukankah ini yang diimpikannya selama ini ?
Rajendra meraih Diandra ke dalam pelukannya, mengusap rambut legam yang masih lembab itu. Rasanya yang berhubungan dengan Narend akan lebih mudah dibanding meraih hati perempuan dalam pelukannya ini kembali.