"Aku nggak bucin, cuma kalau liat kamu senyum, rasanya udah nggak pengin liat apapun lagi." ••••••• Abim tau, ini gila. Seakan tengah bermain di atas api, ia dengan gampangnya mengikat April dengan satu kalimat konyol yang kiranya baru dua kali ia katakan seumur hidupnya. Abim cinta April? Belum, Abim hanya suka dan tertarik, belum cinta. Tak tahu nanti. Dalam rengkuhan angin malam, Abim terpejam. Ia mencengkram besi pinggiran pembatas balkon yang terasa dingin sebab sang angin telah merajai sang malam. Pikirnya melayang, mengingat kejadian sore tadi yang entah mengapa masih menari-nari di kepalanya. Jujur, sebenarnya Abim sedikit geli kala gadis itu menjawab tembakannya dengan senyum yang mengembang. Walau diberi jeda sekitar sepuluh detik, setidaknya ia tak merasakan perasaan sakit

