Wisnu PoV "Aku visit dulu, nanti sekalian mampir ngecek kabar mbak Tyas. Mas ... bener mau jaga keponakan aku, 'kan?" "Abim itu anak aku, Din." Kudengar dia tertawa kecil lalu menepuk bahuku. "Masalah itu dihadapi, bukan dihindari, Mas." Aku menoleh seraya tersenyum kecil, menyaksikan tubuh berbalut jas putih itu mulai berlalu dan tertelan pintu. Selanjutnya, kujatuhkan tatapanku pada sosok yang sedang terlelap damai dalam pejamnya ini. Dia ... jagoanku, satu-satunya anak manja yang mewarisi lesung pipi juga keras kepalaku. Perlahan mulai kugenggam tangannya yang terkulai di sisi ranjang, berusaha menikmati sentuhan yang belakangan ini agaknya mulai kuhindari. Lihatlah, bahkan hanya menatapnya saja membuat hatiku sakit. Kusibak surainya yang menutupi dahi. Jemariku bergerak menelusu

