Wisnu meringkuk dalam, menatap lantai keramik putih yang sedang ia pijaki dengan alis mengkerut. Tangan yang tadinya berguna menyangga kepalanya kini mulai terulur memijit pelipis. Pikirannya kacau, pria berkepala empat itu terduduk dengan gelisah sembari bolak-balik menatap pintu di sampingnya yang tak kunjung terbuka. Sejenak tatapannya terhenti pada sosok sang keponakan -Raisa- yang masih terisak tepat di sampingnya. Pria itu hanya menatap sendu lalu meraup wajahnya dengan kasar. Tangannya masih bergetar sebab kejadian tegang di ambulance beberapa menit lalu. "Mau ke mana, Pa?" Langkah Wisnu terhenti sejenak tepat di hadapan sang anak, pria itu menatap wajah pias Abim cukup lama lalu memutuskan untuk kembali melangkah tanpa suara. Abim mencelos seketika diperlakukan demikian, anak it

