Perlahan, pintu itu berderit pelan, di sela rongganya terdapat pijakan sepasang sepatu putih yang melangkah dengan lambat. Bunyi jarum jam yang bergerak teratur mulai menyapa indera pendengeran si pemilik kaki. Tangannya terulur menutup pintu dengan cengkraman kuat. Sebelum kembali melangkah, April berulang kali menarik napas, mengerjabkan sang kelopak mata yang sedikit membengkak. Penampakan suram di depannya menyapa, membuat bola matanya yang telah memerah kembali berkaca. Akhirnya, langkah yang dipenuhi kegusaran itu mulai tergerak, menapaki beberapa pola kotak keramik putih hingga menyentuh kaki ranjang beroda di mana tempat sang pangeran tidurnya berada. April terpaku, menangis tergugu dalam diam sambil mendekap sang mulut dengan erat menggunakan kedua tangan. Sang pangeran terliha

