Mata Hana melebar saat membuka pintu dan menemukan Rama berdiri tepat di hadapannya. Tidak bernah menyangka bahwa lelaki di hadapannya ini akan menemukan tempat tinggal barunya. Refleks Rama lebih cepat untuk menahan pintu saat Hana bergerak akan menutup pintu. “Apa yang kau lakukan di sini?” desis Hana berang, berusaha mengecilkan suaranya agar Ian yang tengah sarapan tidak mendengar, dia tidak ingin Rama bertemu putranya. “Aku ingin menemuimu, kita harus bicara.” Gelengan keras diberikan Hana. “Aku tidak butuh bicara apa pun padamu. Kita cukup sampai di sini saja.” “Han, kamu istriku!” tegas Rama. Hana mendecih. “Setelah menduakanku, Mas masih menganggapku sebagai istri? Ingat, kita akan bercerai!” “Tidak, Hana! Kumohon beri aku waktu untuk menjelaskan!” “Penjelasan seperti apa lag

