Reina tidak mengatakan akan setuju atau tidak untuk merahasiakan semua ini. Tapi, semoga saja dia setuju. Kalau tidak, ini benar-benar bahaya. "Ayah? Kenapa melamun?" Rama menoleh, Ian sudah duduk di sampingnya sambil membawa mainan. Anak kecil itu menunggu jawaban dari sang ayah. "Tidak apa-apa, Ayah hanya sedang lelah. Ian bisa main sendiri, kan?" Meski agak kecewa, tetapi Ian menurut. Rama menghela napas panjang nan berat. Ingatan tentang pertemuannya tadi dengan Reina terulang. Kalimat-kalimat panjang Reina yang tajam dan menghakimi menguras hati dan logikanya. Apa yang dikatakan Reina, semuanya memang benar. Dia laki-laki egois yang haus akan kasih sayang dari keduanya, tidak ingin melepas salah satu dari mereka untuk mengejar cinta lain. Sebuah kopi diletakkan seseorang di meja

