Peter berlari dengan tergesa, menuju rumah Jina. Setelah mencari tahu cukup lama, ia akhirnya berhasil menemukan alamat rumahnya. Begitu sampai, ia langsung menekan bel rumah berkali-kali, bahkan mengabaikan napasnya yang tidak beratur. Cklek. Tak berselang lama pintu terbuka. Seseorang yang membukakan pintu tercengang melihat siapa yang datang. Rambut acak-acakan, dengan penampilannya yang hanya berbalut celana jeans dan kaos lengen pendek, membuat si pembuka pintu, tahu siapa seseorang di depannya. Bukan seseorang yang sudah ditemuinya beberapa saat lalu. "Kau masih hidup?" gumamnya, setelah napasnya lebih stabil. Peter mengambil beberapa langkah untuk mendekati seseorang yang berdiri di depannya, sebelum akhirnya memeluknya erat. Sangat erat. Jina, seseorang yang sudah membukakan

