22

1132 Kata

"Kau gila?" tanya Jina. Walter mendengus. "Kau masih muda, jangan jadi bodoh hanya karena perasaanmu," Jina menyentuh lengan kanan Jiles, dan mencengkeramnya dengan cukup erat. "Tetaplah hidup," ucap Jina. "Aku ingin melihatnya." Jiles tidak menjawab, lidahnya terasa kelu, serta tenggorokannya sangat sakit. Walter tak lama mendekatinya, sembari menyerahkan sebuah pedang yang dilindungi sarung kulit berwarna hitam, dengan ukiran-ukiran yang indah. Pada gagangnya terdapat batu permata merah. "Ada yang memang pantas mati, tapi ada yang harus melanjutkan hidupnya. Kau harus melanjutkan hidupmu, kau akan rugi kalau bunuh diri," tutur Walter. Ia kemudian melirik Jina yang sedang menundukan kepalanya. Walter mengulurkan tangannya, untuk mengusap kepala Jina. "Aku bangga padamu." ••• Jin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN