Video Call

1207 Kata
Di kamar Rangga. Sambil menyenderkan punggung di kursi yang ia duduki, Rangga memegangi handphone-nya dan menatap lurus ke arah layar yang menampilkan wajah Grace yang hampir memenuhi layar, sedangkan wajahnya sendiri di tampilkan berukuran lumayan kecil di bagian pojok kanan bawah layar. Dia sedang melakukan sambungan video call . Tangan kiri Rangga memegangi handpone yang di arahkan tepat di hadapan wajahnya sementara tangan kanannya, sibuk memegangi kue brownies, sesekali ia memakan brownies tersebut sembari mengobrol dengan Grace. “Oh, hai Grace. Akhirnya telpon dari gue di angkat juga.” Kata Rangga sesaat setelah Grace mengangkat telpon. “Kenapa sih nelpon-nelpon ganggu aja, tadi gue masih di jalan, makanya gue enggak angkat telpon dari lo.” Wajah Grace terlihat sedikit kesal saat mengatakan itu, mungkin karena Rangga menelpon di saat yang kurang tepat. “Lo lagi di mana sih?” Rangga bertanya. Di seberang sana, Grace mengubah tampilan kamera handphone-nya, dari tampilan kamera depan, ke kamera belakang untuk menunjukan situasi di sekitarnya kepada Rangga. Ia mengarahkan kamera handpone-nya ke sekeliling sembari berkata, “Gue lagi ada di pasar malem, gue diem-diem kabur dari rumah, bosen gue di rumah terus.” Rangga dapat melihat suasana hiruk-pikuk di pasar malam tersebut melalui layar handphone-nya. “Wah, keliatannya seru tuh.” Rangga sedikit iri, karena dia yang anak rumahan juga jarang datang ke acara pasar malam seperti itu. “Rame banget, kan?” Grace menggerakan kameranya, menunjukan kepada Rangga hal-hal yang ada di hadapannya. “Iya, gue jadi pengen kesana.” Rangga sedikit bercanda. Lalu lanjut bertanya. “Ngomong-ngomong, lo ke pasar malem sama siapa?” Grace yang sedang berdiri di beberapa langkah di depan Rangga, mengalihkan sorotan kamera depannya ke arah Agung yang sedang duduk di bangku panjang dekat situ. “Sama Agung,” Jawab Grace sesaat setelah kameranya menyorot ke arah Agung. “Dia tadi siang gue suruh jemput di halte depan sekolah.” Jelasnya. “Jadi, lo tadi siang sempet ke sekolah?” Tanya Rangga. Grace kembali mengganti tampilan kamera handphone-nya, dari kamera belakang, ke kamera depan lagi untuk menampilkan wajahnya. “Iya, gue sempet ke sekolah dulu, terus Agung ngejemput gue dan ngajak gue ke restoran mewah, dia ngajak makan malem di rooftop, abis itu kita pergi ke pasar malem seperti apa yang lo liat sekarang.” Jelas Grace. Rangga diam sejenak untuk mencerna penjelasan singkat dari Grace. “Romantis banget ngajak makan malem di restoran mewah, di rooftop pula.” Kata Rangga. Grace memasang wajah datar, “Romantis apanya, kita gagal dapet momen romantis gara-gara tadi secara random ketemu Putri disitu.” “Putri temen sekelas kita yang polos itu ya,” Rangga menggeser sedikit punggungnya dari sandaran kursi belajar yang ia duduki karena merasakan pegal di sekitar pundak. “Iya, dia ternyata juga ada di situ, dan pada akhirnya kita malah ngobrol bertiga. “Grace menata rambutnya. “Lo tahu, kan Putri orangnya kayak gimana?” Lanjutnya. “Enggak begitu tahu sih hehe...” Grace hanya terdiam mendengar perkataan Rangga. “Ngomong-ngomong...” Rangga beranjak dari tempat duduk, kemudian berjalan menuju ke arah jendela kamarnya, ia mengubah tampilan kamera depannya, ke kamera belakang, mengarahkan kameranya ke arah jembatan papan kayu yang membentang di situ. “Gue yakin lo pake papan ini buat pergi ke kamar gue, trus kabur lewat rumah gue,kan?” Rangga bicara sembari mengarahkan kameranya dari ujung papan yang ada atas jendela kamarnya ke ujung papan yang ada di seberang, di jendela kamar Grace. Grace tampak menyeringai sembari menatap layar handphone-nya, sedikit merasa tak enak hati pada Rangga. “Hehe... iya, gue tadi kabur lewat situ.” Jawabnya. “Kok lo berani sih ngelewatinya, gue aja ngeri ngebayanginya.” Rangga masih mengarahkan sorot kameranya ke arah jembatan papan kayu buatan Grace itu. “Ya, ngeri juga sih...” Grace tiba-tiba terdiam, berniat mengalihkan topik pembicaraan. “Eh.. ngomong-ngomong, lo sempet dateng ke rumah gue, enggak?” “Sempet kok, kenapa emangnya?” Rangga balik bertanya. “Ibu gue kira-kira gimana? Dia sadar enggak kalau gue pergi dari rumah?” Grace terlihat khawatir. “Aman kok, dia masih ngira kalo lo ada di kamar.” “Hufft...” Grace menghela nafas lega. “Lo bo’ong kan ke ibu lo? Lo bilang kalo lo lagi sakit, kan?” Kata Rangga. “I...iya sih...” Grace menggaruk-garuk kepalanya. “Parah lo.” Rangga kemudian memindah tampilan kameranya seperti semula, ke kamera depan yang menyorot wajahnya. Wajah Grace terlihat masam, ia sangat amat merasa tak enak hati karena mengingat telah berbohong pada ibunya, hal tersebut seakan melawan hati nuraninya sendiri. Ia merasa demikian karena dia memang jarang berbohong pada ibunya, baru kali ini ia melakukan hal itu. “Ya, habis mau gimana lagi.” Grace pasrah. Rangga berjalan kembali ke arah meja belajarnya, dan duduk di kursiuya lagi. “Eh...” Setelah terdiam sejenak, Grace berkata, “Itu papan jangan di apa-apain dulu ya, nanti gue mau pulang lewat situ lagi.” Grace memperingatkan pada Rangga soal jembatan papan itu. “Iya...iya, gue tahu itu kok,” Rangga menengok ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu menunjukan pukul delapan malam lebih lima belas menit. “Emangnya lo mau pulang jam berapa?” Ketika menerima pertanyaan itu dari Rangga, Grace di seberang sana nampak memeriksa jam tangan yang ia pakai, sebelum akhirnya berkata. “Enggak tahu, sekitar jam sepuluh sampai jam sebelasan mungkin...” Rangga memakan browniesnya, “Iya deh, gue tunggu.” “Udah dulu ya, ngga.” Grace kemudian menengok ke arah belakang, ke arah Agung yang masih duduk di bangku panjang. “Kasian Agung jadi gue anggurin.” “Oke...” “Bye...” Ucap Grace. “Bye...” Balas Rangga. Grace menutup sambungan video call dan berjalan menuju ke arah Agung. Sementara Rangga meletakan handphone-nya datas meja. Rangga menikmati brownies yang ia bawa dari rumah Grace tadi, ia bersantai menikmati kesendiriannya. Dia kemudian membuka laptop, menyalakan musik dari situ. Sebenarnya Rangga memiliki keinginan untuk lanjut mengerjakan cicilan novelnya, tapi saat membuka file tersebut, Rangga masih terkena writer block, masih belum tahu harus menulis apa lagi. sepuluh jari nangkring di atas keyboard laptop Acer kesayanganya. Otak Rangga buntu, tak ada pergerakan dari jari-jarinya. Mata Rangga memendang fokus kearah monitor. Kadang-kadang Rangga baca ulang naskah yang sudah mencapai sekitar sepuluh halaman itu, saking buntunya, dirinya sangat kesulitan menulis kalimat walau hanya satu kata, dia sendiri sampai bingug. Mungkin itu di sebabkan karena dia yang terlalu memaksakn diri. Tak ada yang bisa Rangga akukan, kecuali... main game di laptopnya. Udara yang berhembus melalui jendelah masih terasa amat dingin, Rangga mengambil selimut tebal untuk melindungi dirinya dari serangan hawa dingin. Sambil membalut dirinya dengan selimut tebal, Rangga duduk dengan seksama memainkan game berjudul God Eaters. Lama- kelamaan, Rangga merasa bosan bermain game, ia lantas menghentikan permainannya dan beralih menjelajah website resmi sekolah untuk iseng membaca-baca artikel-artikel serta berita yang dimuat di website itu. Diantara semua yang di muat di website resmi sekolahnya itu, Rangga tertarik pada sebuah pamflet online yang tertera di website itu. Pamflet itu berisi pengumuman sebuah lomba menulis cerpen bertema horor. Rangga mengamati pamflet itu dalam waktu yang cukup lama jika di bandingkan dengan bacaan-bacaaan sebelumnya di website itu. Ia sepertinya merasa tertarik dan ingin mencobanya. “Kayaknya gue harus nyoba ikut lomba-lomba semacam ini deh untuk ngasah skill nulis.” Katanya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN