Bab 10—Bertemu Bapak di Rumah

1632 Kata
**** Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Haga Hanuraga mendapat pinjaman motor dari Davino dan menggunakannya untuk menjemput sang dewi fortuna, Sasmita Anggi. Dengan semangat empat lima yang berkobar, Haga memacu motor sportnya menuju ke apartemen milik Sasmita. Pemuda itu tersenyum saat melihat Sasmita sudah menungguinya di area parkir. Melepas helm hitam yang dipakai, Haga mendapati Sasmita Anggi berlari menghampirinya. Kuncir kuda di belakang kepala Sasmi terlihat bergoyang, kesan lucu yang menambah nilai eksotis di mata Haga Hanuraga. "Sudah siap? Maaf, cuma motor pinjaman." Haga berkata pelan sambil mengusap motor sport warna merah tersebut dengan pelan. Sasmi hanya melirik sekilas, ia memegang ponsel dan sesekali membenahi letak tas selempangnya. "Yang penting kamu anterin aku pulang sekarang," ucap Sasmi tak ambil pusing. Haga kembali tersenyum, ia lalu menawarkan helm warna serupa ke hadapan Sasmita. "Pakai, Sayang!" pintanya dengan lembut, membuat ekspresi Sasmita kembali berubah. Meski ia merengut, ia menerima helm itu lalu memakai di kepalanya. "Jangan sembarang panggil sayang, aku denda kamu nanti." Sasmi mengancam karena kesal. Kekehan Haga terdengar begitu renyah, ia bahkan tidak peduli betapa kesalnya Sasmita dengan panggilan itu. "Ayo naik, keburu malem." Haga berkata lagi, kali ini Sasmita hanya menurut. Gadis itu menyentuh pundak Haga dengan kaku, ia naik ke belakang Haga dan bersiap untuk perjalanan ke rumah. Heran karena Haga tak kunjung menyalakan mesin motor, Sasmita melongok ke depan. "Ayo jalan, tunggu apalagi?!" "Pegangan yang erat dong kalau gak mau jalannya kayak semut," goda Haga sambil menyeringai. Sasmita terdiam cukup lama, namun ia lantas mencubit pinggang Haga cukup keras hingga Haga mengaduh dan bergerak refleks. "Aduh, sakit Bebz!" "Rasain tuh! Ini baru kucubit, belum kutampol!" tegas Sasmi dengan nada suara galak. Haga kembali tergelak, ia perlahan menyalakan mesin motor dan bersiap untuk berangkat. Haga memacu motornya dengan kencang, satu hal yang membuat hati Sasmita nyaris meloncat karena kaget. Haga tertawa melihat Sasmita kaget lalu mencengkeram pundaknya kuat-kuat. "Tuh 'kan, aku udah bilang pegangan yang kuat. Nih, dekap perutku! Akan kuantar kau dalam waktu sepuluh menit." "Oh ya? Nih, tampol!" Sasmi kesal luar biasa, ia lalu memukul kepala Haga cukup keras. Pemuda itu terkekeh, sesekali mengaduh karena serangan tangan Sasmita yang terasa berat dan panas juga. "Makanya jangan macam-macam sama orangtua. Ayo jalan!" Meski Sasmita mulai berani melakukan kekerasan pada Haga, nyatanya pemuda itu justru ketagihan untuk menggoda gadis yang pantas dipanggil Bibi olehnya. Haga senang jika bersama Sasmi, entah perasaan apa yang merasuki hatinya. Yang jelas ketika ia bersama Sasmi, ia merasa bahagia luar biasa. Motor sport warna merah itu memacu kencang di jalanan kota, bersamaan dengan kendaraan lain mereka mengejar waktu agar sampai di rumah tepat waktu. Berkat kelihaian Haga dalam memilih jalan, akhirnya tidak sampai tigapuluh menit motor yang dikendarai keduanya telah mengantarkan mereka sampai ke depan gerbang pintu gerbang rumah Sasmita Anggi. Lampu di lingkungan perumahan menyala dengan terang sehingga memudahkan Haga untuk mengenali jalan dan rumah orangtua Sasmita Anggi. Turun perlahan dari atas motor, Sasmi mencoba melepas tali helm yang mengikat erat di bawah dagunya. Melihat Sasmi sedikit kesulitan, Haga tidak tinggal diam. Pemuda berjaket jeans itu memiliki inisiatif untuk membantu melepas helm di kepala Sasmita. Keduanya saling pandang dalam diam, Haga melempar senyum manis ke arah Sasmita. Tanpa disadari oleh Sasmi, jemari Haga mengusap bibirnya yang sedikit menor karena lipstik merah yang ia pakai. "Jangan pakai lipstik terlalu berlebihan dan menyala seperti ini, tidak bagus untuk wajahmu. Kamu cantik walau tanpa bedak sama lipstik, Oke?!" Sasmi terpaku, ia merona karena ucapan Haga yang terdengar begitu perhatian kepadanya. Gadis itu memundurkan tubuh, menghindari jemari Haga yang berhasil mengusap sebagian dasar bibirnya. "Udah, kamu tunggu di sini aja. Jangan kemana-mana. Maaf, aku belum bisa bawa kamu masuk ke dalam," ucap Sasmi lirih seraya membetulkan letak tas selempangnya di bahu. Haga terdiam, ia memilih untuk melepas helmnya lalu menyugar rambutnya sejenak. Pemuda itu tak ambil pusing dengan keputusan Sasmi, ia tahu mungkin ada alasan tertentu sehingga Sasmi berbuat demikia terhadapnya. Tak ingin ada keributan, Haga hanya mengangguk lalu mempersilakan Sasmi untuk masuk ke dalam gerbang rumahnya. Tanpa mereka sadari, gerak-gerik keduanya dipantau langsung oleh bapak melalui celah tirai jendela dari dalam rumah. "Oh, begitu ya?! Lihat saja Sasmi, Bapak akan tegakkan keadilan untuk pria itu. Enak saja dia kamu tinggal di luar dan tidak diperkenalkan sama Bapak dan Ibu," gumam Pak Harjono geram. Pria paruh baya itu berkata lirih seraya membetulkan sarung kotak-kotak warna biru yang ia pakai. Pak Harjono bersiap membuka pintu untuk putrinya. Tak lama kemudian ketukan pintu terdengar, Pak Harjono pura-pura datang dan membuka pintu. "Sasmi?!" Sasmita menjumpai bapaknya yang terlihat menatap awas, gadis itu segera meraih tangan bapaknya lalu mencium punggung tangannya. "Kamu sama siapa? Mana mobilmu?" Sasmita memindai bola mata Pak Harjono yang terlihat menatap keluar gerbang. Sasmita turut menoleh, kebetulan Haga tidak berada di luar gerbang, membuatnya sedikit beruntung karena lepas dari cercaan bapaknya. "Mobilku dipinjam tetangga buat antar anaknya ke rumah sakit, Pak. Aku kesini sama ojek online." "Ah, masak sih?" Pak Harjono tak percaya, ia terlihat celingukan mencari sesuatu. "Kamu tidak bohong 'kan?!" "Sudah Pak ayo masuk, gimana keadaan Ibu saat ini?" tanya Sasmi mengalihkan perhatian bapaknya sambil menarik tangannya agar masuk ke dalam rumah. Jika bapak mengetahui keberadaan Haga bisa runyam masalahnya. Beruntung Pak Harjono menurut, ia turut masuk ke dalam rumah tanpa mengecek ke luar gerbang. Duh, punya bapak seperti ini memang harus ekstra sabar dan punya stok alasan banyak. Heemmn. **** Putri Anggi keluar dari dalam taksi online yang ia sewa. Setelah membayar, Putri bergegas turun dan berjalan menuju ke gerbang pintu rumahnya. Tatapan gadis berambut pendek sebahu dengan cat rambut warna kuning itu tertuju pada samping rumah dimana Haga rela menanti Sasmi bersama para nyamuk yang berpesta untuk menggigiti si berondong muda. Tatapan keduanya bertemu, Putri tertegun sedikit lama ketika melihat Haga. Ia seolah menerawang pada masa-masa lalu saat bersama pemuda itu. Ya, Haga adalah cinta pertama Putri sewaktu SMA. Mereka putus karena Putri tidak menyukai profesi Haga yang tukang kembang. Putri memacari Haga karena Haga cukup tampan pada masanya dan juga memiliki kepintaran yang luar biasa. Bisa dibaca 'kan jika niat Putri memacarinya agar mendapatkan nilai yang bagus di setiap mata pelajaran. "Haga, kamu? Kenapa di sini?" Putri menyapa dengan heran. Jantungnya berdebar kencang saat melihat mantan kekasihnya mengendarai motor sport dengan dandanan keren dan wajah yang super tampan. "Aku? Aku antar Bibi Sasmi pulang," jawab Haga lirih. Pemuda itu mendadak kurang nyaman dengan kehadiran Putri, ia kembali teringat akan drama percintaannya dengan gadis ini dimana ia ditinggal begitu saja setelah tahu bahwa ia hanyalah si tukang kembang. "Bibi Sasmi? Oh, dia itu kakakku," kekeh Putri merasa lucu saat Haga memanggil kakaknya bibi. Ya, perbedaan usia keduanya memang mencolok jadi pantas saja jika kakaknya dipanggil bibi. "Kamu tidak masuk? Ayo masuk ke dalam." "Tidak usah, Bibi bilang aku suruh menunggu di sini saja," ucap Haga menolak. Putri kembali tergelak tertawa, ia merasa lucu ketika Haga yang dulu masih saja terlihat polos dan imut. Hanya saja, entah kenapa ada rasa ketertarikan dalam diri Putri ketika ia melihat ketampanan Haga yang kini menjelma 100% sempurna. "Apa hubunganmu sama Mbak Sasmi, hah? Kenapa kamu nurut sekali?!" Putri lagi-lagi tertawa karena lucu. Keributan di luar diendus oleh Pak Harjono yang sedang menyeruput kopi sambil menonton siaran berita di televisi. Pria paruh baya itu berdiri, membetulkan sarung kesayangannya lalu berjalan menuju ke jendela untuk melihat luar dari balik tirai. Sasmita baru saja balik dari dapur saat Pak Harjono mengajaknya berbincang. "Sasmi, di luar itu siapa? Putri ngobrol sama siapa? Hayuk kita dekatin!" Pak Harjono lalu membuka pintu dengan semangat empat lima. Baginya ini adalah peluang emas untuk menyiduk kebohongan putri sulungnya. Sasmita tertegun di posisinya, jantung berdebar kencang saat kebohongannya terendus dengan cepat oleh si bapak. Dengan langkah berat ia mengikuti langkah Pak Harjono keluar dari rumah dan menuju ke gerbang utama. "Ada apa ini? Putri, kamu pulang?" Pak Harjono pura-pura mendatangi. Pria paruh baya dengan kumis tebal itu membuka pintu gerbang lebar-lebar, ia melirik sejenak pada pemuda tanpa berpakaian jaket jeans warna biru. Melihat kedatangan Pak Harjono, Haga lantas turun dari motor. "Iya, Pak. Katanya Mbak Sasmi, Ibu sakit ya Pak?" Putri bertanya pelan, tak lupa pula ia menaut tangan bapaknya lalu menciumnya. "Iya. Ini siapa Putri?" tanya Pak Harjono tak sabaran, ia memindai penampilan sang pemuda yang lumayan juga. "Oh, dia Haga Pak. Dia ke sini bareng Mbak Sasmi tadi, entah kenapa Mbak Sasmi nggak ajak masuk aja?!" jelas Putri pelan, bola mata sang adik kini menatap ke arah Sasmi yang perlahan menghampiri mereka. Haga tersenyum manis saat tatapan Pak Harjono menikamnya, perlahan ia maju lalu menyalami pria paruh baya itu dengan sopan. "Saya Haga, Pak. Saya kesini mengantar Mbak Sasmi." Darah Pak Harjono berdesir, antara ingin marah dan girang bukan main. Tebakannya tidak luput, Sasmita-nya memang membawa laki-laki ke rumah tapi malu untuk memperkenalkan pria itu padanya. "Sasmita, sini kamu!" Sasmita menggigit bibir, sudah pasti bapaknya akan marah besar kali ini. "Iya, Pak." "Kamu ini bagaimana sih? Kenapa calon suamimu kamu tinggal di luar? Pasangan macam apa kamu ini?! Bapak sama Ibu tidak pernah mengajarkan hal itu padamu!" tegas Pak Harjono berkacak pinggang di hadapan Sasmi. "A-apa? Calon suami?" Putri terlihat terkejut, ia membingkai wajah Haga seolah tak percaya. Sama halnya dengan Putri, Haga juga terkejut bukan main saat pria paruh baya itu memanggilnya calon suami Sasmita. Sebenarnya ada rasa bahagia sih saat pria paruh baya itu berkata demikian, selama ini motivasinya mendekati Sasmi 'kan memang karena dia menyukai sang bibi. "Pak, dia-dia bukan calon suamiku, Pak. Kami cuma temenan kok," tolak Sasmi dengan wajah memerah. Gadis itu terlihat memelas, merasa tidak nyaman dengan sikap bapaknya yang terlalu grusa-grusu. Pak Harjono menoleh ke arah Haga, memastikan jawaban Sasmita benar atau tidak. "Benar begitu, Haga?" "Sa-saya—" "Ah, Bapak tidak percaya. Haga, kamu masuk ke dalam rumah. Sasmi, Bapak perlu bicara dengan kalian berdua di dalam rumah. Ayo masuk! Bapak ingin tahu kebenarannya dari kalian." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN