****
Anak mana yang tidak panik ketika mendengar kabar mengenai orangtuanya yang sedang sakit, Sasmi pun mengalami perasaan yang sama. Gadis itu mengempaskan bokongnya di sofa, menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan hampa. Sudah satu bulan ia tidak pulang, ia melakukan hal itu karena ia memang sengaja. Orangtua yang begitu getol menanyakan soal pendamping membuat Sasmi mengalami stress beberapa kali. Ia hingga takut untuk pulang bahkan harus menahan rindu pada ibunya.
Menarik napas dalam-dalam, Sasmi ingin sekali pulang. Namun ucapan bapaknya adalah momok paling menakutkan dalam diri Sasmi. Bapak adalah mantan polisi, ia tidak akan melepaskannya dan sudah pasti setibanya di rumah lagi-lagi akan menanyakan calon suami.
Sasmi lantas teringat dengan adiknya, Putri Anggi. Adiknya tersebut memilih kuliah di luar kota, lagi-lagi karena Bapak yang sering bawel padanya membuat Putri memilih untuk kost dan pulang pada akhir pekan. Meraih ponsel yang tergeletak di meja, Sasmita menghubungi adiknya perihal ibu yang sedang sakit.
"Mbak, ada apa?" Suara Putri yang terdengar centil lagi kemayu kini menyapa indra pendengaran Sasmi.
"Put, Ibu sakit. Kamu tidak pulang?" tanya Sasmi tanpa basa-basi, wajah gadis itu menegang tatkala membayangkan ibunya tengah sakit.
"Wah, benarkah? Tapi Bapak tidak telepon aku." Putri turut bingung, Sasmi menarik napas dengan kesal.
"Mungkin Bapak lupa. Apakah kamu tidak pulang akhir pekan ini?" Sasmi bertanya penuh selidik sambil memainkan jari di atas meja.
"Tidak Mbak, sudah dua pekan aku tidak pulang. Tugasku mulai menumpuk, lagipula Bapak terus-terusan telepon suruh di kost aja. Padahal 'kan aku harus bolak-balik ke perpustakaan daerah guna mencari referensi buku mata kuliahku." Putri turut mengadu mengenai kebawelan bapaknya.
Keduanya lantas sama-sama diam hingga akhirnya Sasmi memijit pelipisnya pelan. "Ya sudah, malam ini bisa pulang tidak? Aku tunggu di rumah ya, Put."
Sasmita lalu mematikan ponselnya. Gadis berambut panjang mulai memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Mungkinkah ia merepotkan Haga lagi? Duh, kenapa semenjak kehadiran Haga, Sasmi selalu saja kepikiran si tukang kembang itu, ya?!
Sasmita menggeleng, ia tidak akan merepotkan si tukang kembang. Nanti yang ada Haga malah Ge ER dan menuduh ia yang bukan-bukan lagi?! Tapi—jika bukan Haga terus siapa lagi?
Setelah mempertimbangkan masak-masak selama hampir satu jam, pilihan kembali tertuju pada Haga. Kali ini ia berniat untuk meminta antar Haga karena mobilnya kebetulan dipinjam tetangga buat antar anaknya ke rumah sakit. Sebagai tetangga yang baik mana mungkin Sasmita menutup mata terlebih tetangganya itu sering sekali berbagi cemilan padanya.
Sasmita berjalan mondar-mandir, ia menatap jam dinding yang menunjuk pukul enam petang. Masih mengumpulkan niat lima belas menit, Sasmi akhirnya memberanikan diri untuk menelpon Haga 'sekali lagi'.
"Hallo, Bibi Sayang, duh, orderanku laris manis nih?! Butuh apa lagi, Bebz?" Suara Haga terdengar renyah macam keripik yang baru lulus uji dari penggorengan.
Sasmita mengernyitkan dahi, tak terbiasa berbicara dengan anak muda kelewat santai seperti Haga. Menepis keraguannya, Sasmi mencoba mengutarakan niatnya dengan ucapan serius. "Bisa antar aku pulang ke rumah? Ibuku sakit, Bapak memintaku pulang dan—" Sasmi mengingat pesan terakhir bapaknya di telepon, membuatnya mendadak sulit bernapas.
"Dan apa?" Haga penasaran, suaranya yang merdu kini menghiasi telinga Sasmita Anggi.
Gadis itu menghela napas. Kurang sopan jika menceritakan hal pribadi pada si bocil yang lagi labil. "Kamu bawa kendaraan ya. Mobilku dipinjam tetangga sebelah buat antar anaknya ke rumah sakit. Aku tidak enak menolak karena mereka sering banget kasih jajan aku."
Ada rasa sakit ketika Sasmi mengatakan kenyataan bahwa tetangganya sering berbagi makanan dengannya. Ini terlihat seperti Sasmi adalah 'orang kaya yang tidak memiliki cemilan sebijipun'.
"Oh, baiklah. Kapan?" Haga menjawab dengan enteng, memberi rasa lega dalam diri Sasmi. Setidaknya pria itu tidak membully-nya kali ini.
"Malam ini, kamu siap-siap jemput aku di apartemen ya." Sasmi terus berhati-hati dalam berucap, ia berusaha berkata selembut mungkin.
"Baik, Bibi Sayang. Tapi upahnya apa nih? Boleh minta kiss lagi kayak siang tadi?" Haga mencelos. Tuh 'kan?!
Sasmi memutar bola mata dengan kesal. Membayangkan bagaimana Haga mencuri ciuman di pipinya membuat suhu tubuhnya naik begitu cepat. Uap panas seolah menyembur di sela pori-pori wajah Sasmita. "Udahlah, cepetan datang ya. Aku tunggu!"
Sasmita buru-buru menekan tombol warna merah di layar ponsel. Jantungnya berdegup kencang terlebih mengingat kembali kejadian tadi siang. Apakah-apakah ini cinta? No. Sasmi akan mengelak jika ini cinta. Tidak mungkin ia menyukai si tukang kembang aneh itu!
Menarik napas panjang, Sasmita menggeleng. Gadis itu mencoba mengusir bayangan Haga tadi siang secepat mungkin. Sasmita lantas menyiapkan tas selempang yang ia bawa, perhatiannya pecah saat notifikasi mobile banking miliknya berbunyi.
Sasmita mengecek ponsel dan ia menjumpai transaksi transfer dari bank yang sama dengan bank miliknya. Transfer uang 10 juta? Uang siapa ini? Adakah yang salah kirim uang? Sasmita mendadak kebingungan.
****
Haga mengobrak-abrik seluruh isi lemari, mencari baju paling sederhana yang pernah ia miliki. Kelakuan si pemuda lagi-lagi mengalihkan perhatian si Davino yang tengah memandangi tablet miliknya. Pria itu mengikuti perkembangan kurs dollar, bekerja siang malam dengan penuh totalitas.
"Davin, kamu punya kaos oblong kah?" Akhirnya Haga sambat pada teman, rekan, sekaligus bawahannya. Davino melirik Haga dari sofa sudut di ruang kamar Haga Hanugara, ia menaikkan alis sebelah.
"Tuan, kau sama sekali tidak memiliki kaos oblong?" Davino mengusap dahinya pelan, sebuah ekspresi kecut yang tidak bisa ia salurkan sembarang tempat.
"Tidak, kau lihat sendiri isi lemariku hanya penuh dengan jas hitam, tuxedo, dan beberapa kemeja bermerk. Tidak mungkinkan tukang kembang kayak aku pakai kemeja dengan merk Dolce & Gabbana?"
"Apakah kau akan berkencan dengan bibimu itu lagi?" tandas Davino menatap Haga sejenak. Pemuda itu tertegun lalu menyeringai puas.
"Ya, bibi cantik mengajakku berkencan berkali-kali. Aku tidak boleh melewatkan hal ini," ujar Haga dengan semringah. Ia tersenyum bangga lalu kembali memilah pakaiannya.
"Kalau hanya kaos oblong, ambil saja di lemariku Tuan. Mau pakai lima sekaligus, silakan." Davino menjawab, bola matanya masih tertuju penuh ke arah tablet.
Davino dan Haga tinggal di dalam satu apartemen. Meski hubungan mereka adalah bos dan bawahan, tapi pada kenyataannya sehari-hari, mereka seperti kakak beradik yang gemar sekali berbagi irisan pizza.
"Baiklah, aku cari di kamarmu." Haga lalu melenggang ke kamar Davino. Tak menunggu waktu lama, pemuda itu datang dan telah memakai kaos oblong warna putih milik Davino. "Bagaimana? Ganteng 'kan?"
Davino mengangkat wajah, ia terbengong melihat Haga memakai kaos baru miliknya yang sama sekali belum pernah ia pakai. Dan sialnya, kaos itu cocok sekali di tubuh Haga yang berkulit putih bersih. "Ya, Anda terlihat tampan."
Haga tergelak, bangga dengan pujian Davino. Ia tidak tahu jika di dalam hati Davino tengah berkata kasar karena kaos baru miliknya dipakai oleh Haga.
"Oh ya, Dav, pinjamkan aku motor ke tetangga sebelah dong!" Haga menyeletuk membuat Davino melebarkan kedua bola matanya.
"Apa? Aku tidak salah dengar 'kan?"
"Tidak. Tolong pinjamkan ya?! Tidak lucu kalau aku si tukang kembang jemput dia pakai Range Roover milikku?!" Haga berkilah sambil bersedekap.
Davino terdiam, daftar umpatan kini bertambah dalam benaknya. Perlahan pria itu menaruh tablet di meja lalu beranjak bangun dari sofa. "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan keluar dan mencari pinjaman."
***
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui tap love. Terima kasih.