Bab 8—Rusuh

1640 Kata
**** Nessi, Danish, dan Ega. Ya, mereka bertiga dikenal sebagai tukang kepo sedari SMA. Ketiganya kebetulan bekerja satu kantor, untungnya tidak sekantor dengan Sasmita. Kebiasaan mereka yang suka kelayapan di mall besar, swalayan, dan supermarket membuat mereka dicap sebagai ratu gosip. Ketiganya tak pernah putus, seperti rantai yang saling membelit satu sama lain. Mungkin hari ini adalah apesnya Sasmi karena dia harus bertemu teman SMA-nya yang super kepo akan kehidupan orang lain. Mendengar ucapan Nessie yang begitu ingin tahu mengenai pribadi Sasmi, Haga berlagak seperti cacing yang terkena cairan garam. Tidak ada angin tidak ada hujan, Haga lantas merangkul tangan Sasmi dengan erat dan manja. "Ya, aku ini berondongnya Bibi Sasmi? Kenapa? Aku ganteng 'kan? Kalian pasti iri 'kan?" Nessie terpaku, ia menatap Danish dan Ega bergantian. Tak lama kemudian tawa ketiganya pecah. Tentu saja mereka menertawakan pemuda berondong dengan bibi tercintanya. Haga menatap Sasmi sekilas, wajah gadis di sebelahnya terlihat merah padam karena menahan malu. Haga lantas menyeringai, ia menatap ketiga teman Sasmi yang menertawakan mereka. "Coba lihat kalian! Selain keluyuran tak jelas di supermarket, apa kesibukan kalian selama ini? Urusin kehidupan orang ya? Duh kasihan, bahkan di usia 30 kalian sama sekali belum memikirkan bagaimana mendapatkan pasangan." Nessie langsung terbungkam, tawa ketiganya mendadak hilang tertimbun oleh suara loudspeaker besar yang berada di lorong. Suara pramuniaga yang tengah menawarkan diskon 50% untuk diaper baby kini menghiasi telinga mereka. "Kami sudah punya pasangan!" seru Nessie tak terima dengan cibiran Haga. Gadis itu melotot ke arah Haga, wajahnya kini memerah padam. Haga tergelak, ia merapatkan pelukan di tangan Sasmita. "Oh ya? Mana coba? Kalau kalian mengaku sudah punya pasangan, kalian tidak akan mungkin keluyuran di sini." Nessie tak menjawab, wajahnya kini benar-benar terlihat marah. Begitupun dengan Danish dan Ega, keduanya juga merasa tersinggung dengan ucapan Haga yang teramat pedas. Haga menatap Sasmi dengan tatapan lembut, tatapan seorang pangeran pada sang cinderella ketika bertemu pertama kali di acara pesta dansa. "Sayang, belanjanya udahan? Yuk pulang, aku yang bayar semuanya." Sasmi mengerutkan dahi, ia menatap Haga tak mengerti. Pemuda itu hanya tersenyum, ia lalu menggandeng tangan Sasmi dengan manja. "Jangan ladenin anjing betina yang lapar karena singa terlalu mewah untuk menantang mereka." Haga menarik tangan Sasmi, dengan sikap seolah pria sejati Haga mendorong troli milik Sasmi menuju ke kasir. Mereka meninggalkan Nessie, Danish, dan juga Ega sendirian. Ketiganya mendesis kesal, mengumpat dan mengeluarkan kata kasar. Persetan dengan mereka! "Tu-tunggu!" Sasmi mencegah Haga, gadis itu menghentikan langkah ketika keduanya telah jauh dari ular-ular berbisa tersebut. Haga menoleh, ia menatap Sasmi dengan tatapan seriusnya. Sasmi memandangnya cukup lama, tanpa sadar ia meneguk salivanya dengan susah payah akibat kegantengan Haga yang baru terlihat di matanya. "Apa?" tanya Haga pelan, ia merasa curiga karena Sasmi menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. "Kenapa gak kedip? Baru sadar aku ganteng?" Sasmi tersadar, wajahnya merona tak karuan. Ingin rasanya memukul kepala Haga tapi saat ini mereka ada di depan umum, rasanya kurang pantas jika Sasmi melakukan kekerasan pada bocah di swalayan terlebih suasana saat ini sedang ramai. "A-apakah semua ini kamu yang akan bayar?" "Oh, ya jelas, tidak. Aku 'kan cuma pengin selamatin kau dari teman-temanmu saja." Haga menjawab dengan tenang sambil bersedekap. "Makanya ayo segera pulang sebelum ketahuan mereka lagi." Haga lalu berbalik badan, mendorong troli penuh belanjaan ke area kasir. Rasa terkesima dan kagum dalam diri Sasmi mendadak lenyap dalam sekejap saat Haga berkata demikian dengan penuh rasa percaya diri. Mendadak ia kesal, kemarahannya sampai ke ubun-ubun. Jari-jari Sasmi mengepal, ia bahkan sudah berharap jika si tukang bunga akan bersikap royal padanya. Tapi, ya, tukang bunga tetaplah tukang bunga. Salah Sasmi sendiri yang terlalu berharap si berondong Haga akan membayari semua belanjaannya. Setelah mengantri untuk membayar seluruh belanjaan, Sasmi mengeluarkan ATM mastercard miliknya. Kasir dengan wajah ayu melayani mereka dengan ramah, setelah menghitung total harga semua barang, Sasmi segera membayarnya. Haga hanya meliriknya sekilas lalu membantu Sasmi membawa barang belanjaannya ke mobil. Tak ada percakapan, suasana di dalam mobil pun terkesan kaku. Haga yang duduk di jok kemudi hanya menanti Sasmi membuka percakapan mereka. Mobil warna merah itu melaju meninggalkan area supermarket yang begitu ramai oleh pengunjung. "Aku akan menurunkanmu di Wahana Kartika. Terima kasih sudah menemaniku hari ini," ucap Sasmi tanpa menatap Haga. Gadis itu menatap jalanan ramai di depan, ekspresinya sama sekali tidak berubah. Haga hanya mengangguk, ia tersenyum kecil untuk Sasmi. "Yakin mau udahan? Setelah aku pergi, jangan kangen ya?!" Haga menyeletuk, membuat wajah Sasmi merona sempurna. "Oh tidak, aku sama sekali tidak akan kangen sama kamu." Sasmi menolak dengan percaya diri, ucapannya hanya ditanggapi dengan gelak tawa Haga yang khas. Mobil itu melaju kencang di atas jalanan aspal hingga tanpa terasa wahana Kartika telah sampai di depan mata. Haga menepikan mobil perlahan, ia menatap Sasmi sejenak lalu tersenyum. "Telepon aja kalau kamu kangen sama aku." "Enggak, aku gak akan kangen sama penjual bunga kayak kamu." Sasmi menukas sambil menggeleng. "Dek Haga maksudnya?" Haga menimpali, meralat ucapan Sasmita yang terdengar begitu lucu. Lagi-lagi Haga terkekeh, merasa terhibur dengan wajah cemberut yang ditunjukkan Sasmi. Melepas sabuk pengaman, Haga bersiap untuk keluar dari mobil. Sasmita menatapnya, ia lantas menahan Haga. "Tunggu!" Haga menoleh, merasa heran pada Sasmita. Gadis itu meraih plastik yang berada di jok belakang, ia meraih sekantong buah kiwi lalu menyodorkannya ke arah Haga. "Buat kamu." "Apa?!" Haga terheran, ia menerima buah itu dengan ragu. Sasmi tersenyum tipis pada Haga, merasa lucu dengan ekspresi Haga saat ini. "Buah kiwi itu mahal, kalau gak suka jangan dibuang. Kamu pasti belum pernah makan 'kan? Daripada rambutan, mending buah kiwi. Makasih untuk waktumu hari ini." Sasmi lalu mengulas senyum termanisnya pada Haga. Perlahan ia berpindah ke jok kemudi, bersiap untuk menyetir. Haga balas tersenyum, hatinya menghangat saat bibi-nya yang cantik tersenyum kepadanya. Entah keberanian darimana Haga lantas mengecup pipi kiri Sasmi secara kilat. Hal itu membuat Sasmi terkejut bukan main, ia terperangah lalu menatap Haga. Pemuda itu meringis, ia mengangkat sekantong buah kiwi di hadapan Sasmi. "Terima kasih kiwi-nya Bibi." Wajah Sasmi merona, ia buru-buru melengos lalu memakai sabuk pengamannya. Tanpa banyak bicara, Sasmi menutup pintu mobil lalu pergi dari hadapan Haga beserta mobilnya. Haga kembali tersenyum, ia menatap buah kiwinya sekali lagi. Menarik napas, Haga merogoh ponsel do saku celana lalu menelepon Davino. "Tuan, ada apa?" Suara Davino yang maskulin terdengar menyapa dengan sabar. Haga tersenyum sambil menatap buah kiwinya. "Bisakah kamu cek berapa nomer rekening bank atas nama Sasmita Anggi di Bank Central? Kalau sudah ketemu, tolong transferkan beberapa uang ke rekeningnya." Haga berkata dengan tenang seraya berjalan menuju ke parkiran dimana mobil ranger roover miliknya ia titipkan. "Tuan, ada apa lagi ini?" Davino tak mengerti maksud Haga, ia menggaruk lehernya yang tak gatal dengan perlahan. Haga tersenyum, ia mengeluarkan kunci mobil dari saku lalu menekan kunci alarm mobil dari kejauhan. "Ada sekantong buah kiwi yang harus aku bayar. Jadi, tolong tansferkan beberapa rupiah ke rekeningnya , ya." **** Kediaman Harjono terlihat lengang, pintu gerbang terlihat terkunci sedari pagi. Rumah itu tidak terlalu mewah, hanya rumah dengan dua lantai dimana atasnya terdapat balkon yang dipenuhi dengan pot bunga bugenville kesukaan Nyonya Mita Harjono—ibunda Sasmita Anggi. Rumah itu hanya dihuni Ibu Mita, Pak Harjono, dan Putri, adik Sasmita yang kini tengah kuliah semester pertama. Adik Sasmi hanya pulang ketika akhir pekan begitupun dengan Sasmita. Menyeruput kopi, Pak Harjono terlihat sibuk dengan koran langganan yang ia beli tiap pagi. Sebagai seorang pensiunan polisi, Pak Harjono masih terlihat gagah di usia senjanya. Bu Mita menatap suaminya dari arah dapur, ia menyiapkan beberapa potong kue bolu ke dalam piring lebar dan membawanya ke hadapan sang suami yang kini tengah menikmati suasana sore hari di halaman belakang dimana di sana suasana sejuk dan penuh dengan tanaman hijau. "Pak, Ibu kangen sama Samsi. Sudah satu bulan ia tidak pulang," curhat Bu Mita seraya meletakkan kue itu di meja. Pak Harjono tak menjawab, ia terus membaca koran langganannya. Bu Mita menghela napas, ia duduk di samping suaminya dengan wajah layu. "Ibu kangen. Bapak bisa telepon Sasmi untuk pulang tidak?" "Dia mana mungkin mau pulang, Bapak sudah wanti-wanti ke dia kala pulang Bapak suruh bawa laki-laki ke rumah," jawab Pak Harjono tanpa menatap istrinya. Bu Mita mendengkus kesal, ia memukul paha suaminya sedikit keras. "Bapak ini terlalu mendesak Sasmi, jadi dia gak berani pulang karena Bapak." "Salah dia sendiri. Apa dia gak malu sama umurnya? Dia udah kepala tiga tapi belum juga mau nikah. Apa sih yang dicari? Bapak udah tua, bentar lagi balik ke tanah. Kalau dia tidak segera menikah, Bapak tidak bisa lihat cucu Bapak." Pak Harjono tetap pada pendiriannya, ia sama sekali tidak mau disalahkan. Bu Mita cemberut, ia menatap suaminya sekali lagi. "Pak, teleponin Sasmi sekarang Pak! Ibu kangen." Pak Harjono menatap Bu Mita perlahan, ia menutup korannya setelah melihat wajah istrinya yang memelas. Menghela napas, Pak Harjono meluluskan permintaan istrinya untuk menelepon Sasmita. Menekan tombol nomer kontak Sasmi, Pak Harjono dengan setia menunggu bunyi 'tut' itu berganti dengan suara Sasmi yang terdengar lembut dan mendayu. "Hallo Pak, ada apa?" Suara Sasmi terdengar, Pak Harjono melirik sekilas ke arah Bu Mita yang menatapnya penuh minat. "Hallo Nak, gimana, mana calon suamimu? Ibumu kangen nih! Kamu pulang, ya. Jangan lupa bawa calonmu ke rumah, Bapak sama Ibu nungguin. Malam ini kamu bisa pulang tidak? Ibumu sakit, dia pengin lihat calon suamimu. Udah, gitu aja. Cepetan pulang ya, Nak." Pak Harjono buru-buru menutup telepon, tak memberikan kesempatan untuk Sasmi bicara. Bu Mita bersedekap, ia kembali merengut marah terlebih suaminya justru mengatakan ia sakit hanya demi calon suami. "Bapak ini gimana sih?!" Pak Harjono menyeringai, ia meletakkan ponselnya di meja. "Tak apa. Lihat saja, nanti dia pulang apa tidak. Bagaimanapun Sasmi harus segera menikah, di usianya yang ke-tigapuluh, kita harus desak dia agar cepetan nikah. Bu, Bapak udah pengen cucu dan Bapak udah gak sabar lihat calon suaminya Sasmi. Bapak yakin setelah dia denger Ibu sakit, dia pasti pulang. Dan bonusnya, dia pasti bawa laki-lakinya ke rumah. Bapak yakin, Bapak berani taruhan." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN