Bab 7—Haga, si berondong Tampan

1409 Kata
**** Jantung Sasmi berdebar keras, ia tidak menyangka jika siang itu Marcello—bos yang ia hormati, bos yang selalu ia jaga nama baiknya, berusaha untuk mendapatkan satu-satunya mahkota miliknya tanpa berdasarkan rasa cinta. Jadi, inikah sifat dasar seorang Marcello? Pria yang mendekatinya karena motif tertentu dan bukan karena rasa cintanya selama ini. Sasmita menggeleng tak menentu, jauh di dasar hatinya ia merasakan sakit yang cukup luar biasa. Di saat semua orang berusaha menyatakan cinta dengan perbuatan yang maha hebat, justru Marcello mencabik kepercayaannya selama ini dalam waktu kurang lebih lima menit. Gadis berambut panjang dengan dikuncir ekor kuda itu tersentak manakala Marcello mencengkeram blues-nya tanpa rasa sabar. Wajah Sasmi menegang, kemana ia harus lari? Percuma untuk berteriak, apartemen semewah ini sudah pasti memiliki fitur kedap suara yang bagus. Sasmita menggeleng sekali lagi, menahan tangan Marcello agar tidak mengoyak pakaiannya. "Tuan, apa maksud Anda? Saya datang untuk membawakan proposal dan bukan melayani tubuh Anda." Sasmi akhirnya bersuara, tubuh gadis itu bergetar dan terbayang dibenaknya rasa ketakutan yang maha hebat. Marcello tak peduli, ia memilih diam dan terus berusaha menjarah apapun yang bukan miliknya. Sasmita berontak, berupaya agar pria itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Jantung Sasmi terus meletup, ia ingin menangis tapi apa daya, kekuatannya tidak sebanding dengan milik Marcello yang bertubuh kekar dan memiliki otot dimana-mana. Suara bel berbunyi beberapa kali, terdengar ditekan tanpa rasa sabar. Bel itu membuyarkan hasrat Marcello, ia menggeram marah lalu melepaskan cengkeramannya pada Sasmi. Ketika Marcello berjalan menuju ke pintu, Sasmi tak melepaskan kesempatan itu untuk meraih tas selempangnya lalu beranjak berdiri. Alis Marcello menaut saat pintu itu dibuka. Ia melihat sosok yang katanya adalah tunangan Sasmi saat ini. Belum sempat bicara apapun, Sasmi lantas merangsek keluar dari ruangan Marcello sekarang. "Tuan, karena tugas saya sudah selesai, saya mohon undur diri. Saya harap Tuan bisa mempertimbangkan berkas ini. Selamat berlibur, Tuan." Sasmi membungkuk pelan lalu pergi sambil menarik tangan Haga. Ya, itu ia lakukan dengan sengaja mengingat Marcello begitu tergila-gila padanya. Ia berharap dengan melihat perlakuannya pada Haga, Marcello sadar dan memilih untuk menjauhinya. Haga terdiam, ia melirik tangan Bibi Sasmi sejenak lalu tersenyum bahagia. Baru kali ini ia merasa girang ketika ada gadis yang menggandengnya seperti itu. Tanpa berusaha menegur, Haga terus membiarkan tangan bibi cantik-nya itu menggandeng tangannya. Sasmi menarik napas, membuangnya melalui mulut. Sesampainya ia di parkiran, ia membalikkan badan dan menatap Haga yang berekspresi senyum-senyum. Sasmi curiga, ia sadar jika tangannya masih menaut tangan Haga, hal itu membuat Sasmi buru-buru melepasnya. "Jangan Ge eR ya, aku gandeng kamu tuh biar Marcello gak kejar-kejar aku lagi." Haga menyeringai, ia menikmati wajah Sasmi yang memerah saat menyampaikan alasannya. "Tahu kok, tahu." Lama mereka terdiam dengan rasa canggung, hingga akhirnya pandangan Haga tertuju pada kerah blues milik Sasmita yang sedikit sobek. "Kerahmu kenapa? Kok sobek?" Sasmi meraba kerahnya yang sedikit berlubang, gadis itu menegang. "Ini karen Marcello memaksaku di dalam. Aku berontak dan akhirnya blues-ku sedikit koyak. Tapi ini gak papa kok." "Serius? Kenapa tidak bilang tadi? Kalau misal kamu tadi bilang, aku bisa kok hajar dia sampai babak belur. Walau aku cuma penjual bunga, aku juga punya otot gedhe. Nih!" Haga menyingsingkan kemeja, menunjukkan otot lengannya yang terbentuk dengan sempurna. Sasmi tersenyum geli, ia bahkan tidak menyangka jika Haga akan muncul di waktu yang tepat saat itu. Harusnya ia berterimakasih, jika Haga tidak menekan tombol bel tepat waktu entah apa yang terjadi pada Sasmi detik itu. "Penjual bunga, makasih ya kamu sudah selamatin aku dari Marcello hari ini." Haga tak bereaksi, ia bersedekap dengan wajah manyun. "Haga, namaku Haga. H-A-G-A, Haga. Kamu bisa panggil aku Dek Haga. Jelas?" "Apaan sih? Kenapa harus pakai Dek?" Sasmi merengut, namun hatinya berdesir juga. Haga menyeringai, ia tersenyum manis sekali. "Kan aku berondongnya, Bibi. Bolehlah panggil aku Dek biar terkesan imut." "Imut apa? Kamu tuh jelek!" tandas Sasmi seraya memukulkan tas selempangnya ke lengan Haga. Pemuda itu terkekeh, ia menghindari pukulan Sasmi dengan tangannya. "Sudah ah, yuk mampir ke suparmarket dulu. Ada yang mau aku beli nih?!" Sasmi menahan rasa malu, ia buru-buru berbalik lalu masuk ke dalam mobil SUV miliknya. Wajah gadis itu merona, duh sejak kapan ia merasa senang sekali bercanda dengan si penjual bunga?! Haga menggeleng, ia turut mengekor di belakang Sasmi. Sungguh menyenangkan sekali jika bepergian bersama sang bibi dan perlahan Haga mulai ketagihan jalan bareng sama Sasmi. Ssstt... Ini rahasia loh! **** Supermarket megah dengan tiga lantai kini menyapa bola mata Sasmi. Setelah memarkir mobil di halaman supermarket, pandangan Sasmi tertuju pada bangunan megah dengan warna cat kuning-hijau yang mendominasi. Senyum Sasmi terlukis, hal itu tertangkap kembali oleh mata Haga yang turut berdiri di sampingnya. "Belanja bentar yuk. Kebutuhan bulananku habis." "Apa itu kebutuhan bulanan?" Haga bertanya, ia menatap Sasmi tanpa rasa jemu. Sang sekretaris cantik memutar bola mata ke arah Haga, menyorotnya dengan tatapan kesal yang ditahan. "Bedak sama lipstik, aku juga butuh pembalut dan—" "Tanpa bedak sama lipstik pun kamu sudah cantik kok. Siapa bilang bibi Sasmi jelek tanpa bedak sama lipstik?! Terus pembalut—yakin kamu mau beli? Nanti udah keburu beli eh ternyata tekdung lagi." "Apa kau bilang? Kamu nyumpahin aku tekdung ya? Seneng banget sih kalau lihat aku tekdung?" Sasmita bersungut, ia memukul lengan Haga sekali lagi menggunakan tas selempangnya. Haga menyeringai tanpa beban, ia menyugar rambutnya di depan Sasmi dan itu begitu seksi dalam penilaian Sasmi. "Ya nggak nyumpahin sih, cuma berharap aja. Kata orang, pria usia 20 tahunan itu benihnya top. Siapa tahu sekali tembak kena sasaran." "Issh, makin ngawur aja kamu ya? Udah ah. Lagipula aku juga gak mau hamil diluar nikah sama kamu," tegas Sasmi lalu berjalan meninggalkan Haga seorang diri menuju ke dalam supermarket. Haga terkekeh, ia mengekor di belakang Sasmi dengan cepat. "Siapa bilang hamil diluar nikah? Kalau kamu hamil, sudah pastilah aku tanggung jawab. Aku 'kan bapaknya, jadi jangan khawatir." Haga berbicara sambil berjalan, Sasmi terus mengabaikan ucapannya. "Bibi, aku akan bertanggungjawab pada bayimu!" teriak Haga di dalam supermarket. Langkah Sasmi terhenti, bersamaan dengan orang-orang yang memperhatikan Sasmi dan Haga bergantian. Wajah malu kini menempel di wajah Sasmi, benar-benar sempurna. Tanpa menoleh lagi, Sasmi lalu berlari meninggalkan Haga. Sialnya Haga juga turut mengejarnya hingga beberapa orang merasa heran dengan tingkah keduanya. Setelah puas membeli beberapa kebutuhan pribadi, perjalanan belanja mereka sampai juga di bagian buah-buahan. Sasmita sangat menyukai buah kiwi, rasa manis dari si hijau membuatnya ketagihan bahkan menyetok buah itu di rumah. Saat tengah memilih buah kiwi, Haga menatap buah kiwi dengan seksama. "Suka buah kiwi ya? Kenapa memang?" Sasmi melirik Haga sejenak tanpa ekspresi. "Kiwi tuh manis, rasanya spesial, lagipula banyak vitaminnya." Haga menyeringai, ia mendekatkan wajahnya di telinga Sasmi lalu berbisik. "Punyaku juga memiliki rasa yang manis dan juga spesial kok." "Apaan sih?! Sini keluarin biar aku gunting." Sasmi menjawab dengan kesal. Haga kembali terkekeh, merasa tak keberatan dengan permintaan Sasmi, ia pun segera meraba ikat pinggangnya berniat untuk melepasnya. "Hei penjual bunga, jangan aneh-aneh ya!" Sasmi mengancam, Haga tergelak karena wajah Sasmi kini memerah seperti lobster. Padahal ia hanya berniat untuk bercanda saja tapi tanggapan Sasmi jauh lebih asyik dari yang ia bayangkan. "Kenapa gak pilih buah rambutan saja yang rambutnya lebat? Kamu pilih kiwi karena rambutnya halus 'kan? Kan?!" "Bilang sekali lagi, kupukul kepalamu nanti!" Sasmi menyalak dengan galak. Ia bersiap untuk mengangkat tasnya ketika seseorang tiba-tiba menyapanya dengan begitu akrab. "Sasmi—ini benar Sasmi 'kan?" sapa wanita itu sambil mendekat ke arah Sasmi. Gadis itu menoleh, ia mendapati Nessi teman baiknya tengah berbelanja juga dengan Danish dan Ega. "Eh, Nessi." Sasmi mendesis, merasa malu karena ketahuan belanja dengan berondong muda macam si penjual bunga, Haga. Pandangan Nessi kini tertuju pada Haga, ia menatap Sasmi dengan tatapan tak mengerti. "Ini pacarmu, Sas? Wah gak nyangka ya kamu bisa gandeng pemuda berondong kek gini. Ehm, kamu bakal awet muda dong." Kelakar Nessi disambut dengan tawa Danish dan Ega. Sasmi hanya tersenyum kaku, merasa tak punya kesempatan untuk menjelaskan. "Bukan kok, dia cuma temennya keponakanku." "Temen apa temen? Pacar juga gak papa kok. Pemuda ini ganteng, sehat juga. Kamu bisa dapet bayi dalam sekali tembak," kelakar Danish menyahut, tawa kembali meledak. Wajah Sasmi terlihat kesal namun ia hanya bisa menahannya dan terus mendengar kelakaran teman-temannya. Tawa Nessi, Danish, dan Ega perlahan berhenti. Nessi maju selangkah, ia mengusap pucuk kepala Sasmi dengan lembut. "Lagipula apa sih yang kamu cari? Kamu sudah tiga puluh tahun loh. Sudah waktunya kamu menikah dan urus baby. Pemuda ini sehat dan ganteng, kamu bisa dapet banyak baby dari dia. Jadi, beneran 'kan berondong ini pacar kamu?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN