****
Haga kelabakan. Setidaknya itu adalah cerminan yang mewakili bagaimana tindakan Haga menjelang siang ini. Ketika dirinya masih memakai jas kantor, memakai jam tangan mewah, dan juga bau parfum pria parlente, tugas dadakan dari Bibi Sasmi menyapanya. Haga kebingungan, ia memutar otak supaya rencananya kali ini tidak gagal. Ya, rupanya berbohong itu tidaklah enak rasanya.
Davino menggeleng ketika melihat ulah Haga yang buru-buru melepas jas hitam kantornya dan menggantinya dengan setelah kemeja kotak bergaris biru. Di dalam ruangan elite milik Haga Hanugara, pria itu semacam kesurupan. Mengganti baju, melepas jam tangan, semuanya ia lakukan secara kilat. Dan parahnya lagi, kemeja yang ia pakai pun adalah hasil pinjaman dari Davino.
"Dav, aku mau menjalankan misi dulu. Bibi Sasmi butuh bantuanku nih!" Haga berkata seraya melipat lengan kemeja hingga sebatas siku. Pemuda itu sama sekali tidak lupa untuk mengacak rambutnya yang sebelumnya ia tata klimis dengan sisiran ke belakang bak bos besar.
Davino meliriknya sekilas, ia masih memperhatikan curva penjualan bunga di luar negeri melalui layar laptop miliknya. "Siapa suruh ngaku-ngaku jadi tukang bunga. Kerepotan sendiri 'kan?!"
Haga menyeringai, ia memberesi jas hitam dan juga jam tangan mewahnya. Pemuda itu menyimpannya di laci, tempat penyimpanan paling aman di ruangannya. "Soalnya, gadis jaman sekarang suka pilih-pilih kalau sama lelaki. Aku 'kan jadi males kalau harus bilang siapa sebenarnya diriku. Ntar dia nempelnya nggak tulus."
Davino menatap kemana arah langkah Haga, ia menggeleng pelan. " Gadis sih gadis, Tuan. Tapi jangan bibi-bibi dong!"
Haga terkekeh, ia membayang wujud fisik Sasmita sejenak. Meskipun gadis itu sudah terlalu tua untuknya tapi kepolosan gadis itu menjadi alasan Haga untuk mempertimbangkan Sasmita. "Iya, tapi bibi-bibi itu asyik loh. Tidak percaya? Kamu coba aja?!"
Seringaian Haga membuat Davino bergidik. Apa ia sudah gila jika menuruti saran tuannya?! Davino sudah memiliki istri dan satu anak laki-laki. Jika ia mencoba bibi-bibi, bagaimana reaksi istrinya nanti?!
"Aku masih waras Tuan. Wajan di rumahku masih sakit kalau ditimpukin ke kepala," ujar Davino lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Haga terkekeh, ia merasa lucu dengan jawaban sekretaris, sopir, sekaligus sahabat dekatnya tersebut.
"Baiklah, aku berjuang dulu. Ingat, jika papaku datang kau tahu 'kan alasan apa yang menyiasatinya?" Haga menatap Davino penuh rasa percaya.
Davino menarik napas panjang, bahunya mengendik perlahan. "Ya, bilang bahwa kau tengah menyurvei lapangan dan beberapa kebun bunga."
"Tepat sekali. Kau memang sekretarisku yang hebat. Lanjutkan Davino, aku membanggakanmu." Haga kembali terkekeh, ia merapikan kerah kemejanya lalu menyambar ponsel dan mulai pergi dari kantor.
"Dasar majikan gila!" Davino bergumam lirih saat bayangan punggung Haga hilang dibalik pintu.
****
Mobil SUV warna merah milik Sasmita cukup dikenali oleh Haga. Ketika pemuda itu menunggu Sasmi di depan wahana Kartika, Haga tidak keberatan untuk terpanggang sinar matahari sedikit lama. Senyumnya merekah saat mobil Sasmi berhenti di hadapannya. Seperti layaknya penjual bunga, Haga bersikap ramah pada Sasmi walaupun gadis itu telat lima belas menit dalam menjemputnya.
Sasmita keluar dari dalam mobil, wajahnya merengut dan terlihat tegang. Ia menatap Haga yang sedari tadi tersenyum ramah kepadanya. "Kenapa senyum-senyum? Ingat ya, aku menggunakan jasamu karena terpaksa."
"Bibi jangan seperti itu dong. Aku melakukannya dengan ikhlas kok masak yang nyuruh sama sekali tidak ikhlas," timpal Haga tak berkecil hati. Sasmi terdiam, ia melempar kunci mobil ke arah Haga. Dengan sigap pemuda itu menangkap kunci mobil dari tangan Sasmi.
"Kita ke Harza Town sekarang, aku harus mengantarkan berkas-berkas ke sana." Sasmita lalu berbalik badan, ia masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan bagian kiri.
Haga mengangkat alis, ia mengusap tengkuknya lalu mengikuti langkah Sasmi untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, Haga mulai menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya. "Kenapa tidak diantar sendiri saja ke kantornya? Kenapa malah ke apartemen?"
"Itu karena bosnya sedang cuti sedangkan berkas harus segera ditandatangani. Terpaksa aku harus mengantarkannya ke kediamannya. Oh ya, jangan kirimi aku pot bunga lagi, itu sangat memalukan," dengkus Sasmi tanpa menatap wajah Haga.
Pemuda itu tergelak tertawa, ia memukul kemudi sedikit kencang. "Aku cuma penjual bunga, aku mengirimi bunga karena aku ingin berbagi saja denganmu. Kenapa? Apakah lavenderku bisa mengusir nyamuk di kantormu?"
"Kau tahu, karena pot bungamu aku dibully." Sasmi merengut, ocehannya hanya ditanggapi tawa oleh Haga. Keduanya jeda sesaat, tak ada perbincangan hingga mobil mewah itu memasuki kawasan Harza Town yang begitu luas dan megah.
Setelah memarkir mobil dengan rapi, Haga mematikan meain mobil. Ia sedikit terheran melihat Sasmi tak kunjung turun dari dalam mobil. Ia menatap Sasmi cukup lama lalu menyeringai. "Kenapa tidak turun dan pergi? Ah, kamu masih pengen lama-lama sama aku ya?"
Sasmi melirik Haga sejenak, ekspresinya terlihat tegang. Gadis itu meremas lututnya dengan cemas, ia merasa enggan untuk keluar dari dalam mobil. "Apaan sih? Jangan melucu deh!"
Haga terkekeh, ia menggelengkan kepala pelan. "Mau di-kiss dulu ya? Sini-sini aku kiss dulu."
Sasmi melotot, ia memukul tubuh Haga dengan tas selempang miliknya. "Dasar m***m! Di otakmu apa hanya itu saja?!"
"Soalnya sejak malam itu, aku—"
"Sudah-sudah jangan diingat lagi!" tukas Sasmi menggeleng, ia melepas sabuk pengamannya dengan hati-hati. "Bisa tidak kamu temani aku masuk ke dalam? Sebenarnya orang yang aku cari adalah orang yang aku takuti. Dia-dia memiliki perasaan padaku tapi aku sudah menolaknya sedari satu tahun yang lalu. Karena dia memiliki kerjasama dengan kantorku, apa boleh buat aku tidak bisa menolak dan terus bergesekan dengannya. Malam itu—semuanya juga karena ulah dia. Dia mencampur obat rangsang ke dalam minumanku, beruntung aku bisa lepas darinya. Dan—"
"Dan akhirnya kau memaksaku untuk menidurimu 'kan?" sahut Haga dengan tenang, mata Sasmi melotot. Namun demikian ia tidak mengatakan apapun terkait kejadian malam itu. "Lagipula, sebenarnya tidak ada yang rugi diantara kita. Kita sama-sama enak 'kan? Buktinya kamu malah minta tambah."
Sasmi menautkan alis, wajahnya memerah karena malu. Ia kembali menimpuk bahu Haga dengan tas selempangnya. "Kalau tidak mau ya sudah. Aku masuk sendiri saja!"
Sasmi lalu bersiap untuk keluar dari dalam mobil, ia merapikan berkas-berkas yang harus ia bawa ke kediaman Marcello Jovie. Haga menggeleng pelan, "Ehm, sudah bibi-bibi ngambekan lagi?!"
"Apa? Apa kau bilang?" Sasmi mencuramkan alis pada Haga, pemuda itu terkekeh lagi.
"Iya Cantik, aku antar kamu masuk ya. Hati-hati turunnya ya Sayang, agak becek karena tadi sepertinya di sini turun hujan." Haga mulai mencandai, ia menyeringai dan menawarkan senyum manisnya.
Sasmita mendengkus, ia lalu keluar dari dalam mobil. Berjalan lebih dulu, Sasmita menuju ke arah lift dengan Haga yang mengekor di belakang. Sasmita menoleh sekilas, ia tersenyum geli saat pemuda itu benar-benar berniat untuk mengantarnya. Bagaimanapun pemuda tengil ini bisa juga dimanfaatkan disaat ia butuh, harusnya Sasmi bersyukur bertemu dengan Haga. Meskipun rada miring otaknya tapi Haga tidak marah dengan sifatnya yang seriusan.
"Nanti, kita mampir ke swalayan dulu ya. Ada sesuatu yang harus kubeli." Sasmi menginstruksi, Haga hanya tersenyum lalu mengangguk.
****
Wajah Sasmita terlihat bimbang setibanya ia di depan pintu apartemen nomer 11. Pintu itu milik Marcello Jovie, ia berdiri di sana cukup lama. Menatap Haga sejenak, pemuda itu mengangguk dan mempersilakan Sasmi untuk menekan bel masuk.
Sasmita menurut, ia menekan tombol bel. Sedikit lama hingga akhirnya Marcello membukakan pintu untuknya. Sasmi melangkah masuk, ia duduk di sofa warna kuning milik Marcello. Pria itu masih memakai piyama tidurnya, ia terlihat letih dan sedikit sakit.
"Terima kasih karena kamu sudah datang membawakan berkas itu," ucap Marcello tersenyum pada Sasmi. Pria itu berjalan menuju ke dapurnya, menuangkan sebuah ginger lemon tea ke dalam cangkir. Menatap minuman itu, ada trauma dalam diri Sasmi. Terakhir meminumnya, ia berakhir di atas ranjang Haga, si penjual bunga tengil itu.
Marcello menghampiri Sasmi sambil menyodorkan minuman itu di meja. Pria dewasa itu lantas duduk di samping Sasmi, ia meraih berkas-berkas yang dibawa Sasmi dan memeriksanya. "Aku akan menandatanganinya nanti. Aku masih tidak enak badan karena kurang tidur akhir-akhir ini."
"Tidak masalah Tuan, kami akan menunggu keputusan Anda besok." Sasmi terpaksa tersenyum pada pria yang jelas-jelas ingin mencelakainya malam itu. Marcello menatap Sasmi cukup lama, ia masih diam dan terus menelisik wajah ayu Sasmi yang begitu khas dan menarik.
"Apa benar pria itu tunanganmu? Aku harap semua itu tidak benar," ucap Marcello pelan. Pria berpiyama motif garis hitam merah itu meraih rokok di atas meja, menyulutnya hingga menimbulkan asap di dalam ruangan tersebut.
Sasmi terdiam, ia kembali meremas lututnya dengan cemas. Kali ini ia bingung harus menjawab apa. Suara dengkusan dari mulut Marcello terdengar begitu jelas di telinganya, ada rasa tidak nyaman yang ingin pria itu ungkapkan.
"Aku sudah menyukaimu jauh-jauh hari, aku juga berniat untuk melamarmu. Tapi sayang, kau justru memiliki berondong seperti dia untuk menemanimu." Marcello kembali berucap, ia mengisap rokoknya lagi. "Benarkah ia tunanganmu?"
Sasmi belum menjawab, ia tersentak saat Marcello menarik tangannya sedikit kasar guna mendapatkan jawaban. "Sasmi, jawab pertanyaanku?!"
"T-Tuan, i-iya. Memang pemuda itu adalah tunangan saya. Maaf, saya tidak layak bersanding dengan Tuan." Sasmi mengatakannya dengan terbata, ia meringis kesakitan tatkala Marcello menggenggam pergelangan tangannya dengan begitu erat.
"Apa salahku? Kenapa kamu melakukan ini? Menurutmu, apa yang kurang dariku?" timpal Marcello frustrasi. Pria itu menggeleng, ia mematikan putung rokoknya pada asbak lalu berdiri di samping Sasmi.
Bola mata gadis itu melebar, ia mencengkeram sisi sofa dengan kuat tatkala melihat Marcello buru-buru membuka piyamanya di depan Sasmi. "Kamu harus puaskan aku siang ini!"
Titah itu terdengar begitu tak terelakkan, mendominasi, dan juga memaksa. Sasmi beranjak bangun dari duduknya bersamaan dengan cekalan tangan Marcello yang mengait tangan kanannya. "Kamu harus mau melayaniku karena selama ini kau terus menolakku. Tak apa jika kau sudah bertunangan tapi pastikan padaku bahwa kegadisanmu harus menjadi milikku seorang. Sasmi, buka bajumu. Mari kita lakukan sama-sama siang ini."
****
Jangan lupa tap love dan follow ya, kakak reader yang baik.
Terima kasih.