Bab 5—Kejutan Pot Bunga

1327 Kata
**** Davino membunyikan klakson setibanya ia di depan apartemen Cinderella Hills. Dengan tenang Haga Hanugara menghampiri Davino dan masuk ke dalam mobil Lexus keluaran terbaru tersebut. Davino menatap Haga yang duduk di jok belakang melalui kaca depan, wajah pemuda itu berseri seolah mendapatkan berkah dari sang pencipta. Terlalu penasaran, Davino menyempatkan diri untuk bertanya pada pemuda yang usianya lima tahun lebih muda darinya. "Tuan, ada apa? Sepertinya kau bahagia sekali hari ini. Oh ya semalam kenapa tidak pulang? Tuan besar mencari Anda," ucap Davino mengatakan rasa penasarannya sambil menyetir mobil yang saat ini tengah laku keras di pasaran Indonesia. Haga melempar senyum, ia mengingat kembali deretan kejadian yang terjadi semalam. Jujur, ia tidak bisa melupakan bagaimana ekspresi Sasmi yang begitu menikmati permainan di bawah kendalinya. Jika bukan karena pengaruh obat yang tertanam dalam diri Sasmi, maka perjalanan yang mendebarkan lagi menegangkan itu mana mungkin bisa terjadi. "Tuan, kenapa malah senyum-senyum? Anda sehat 'kan?" Davino mengangkat alis, melirik lagi dari kaca depan. Haga tak bisa menyembunyikan kekehannya, wajah pemuda itu memerah tak karuan. Jantungnya meletup-letup, menyemburkan aroma wangi dari bunga-bunya yang memenuhi hatinya. "Davino, aku baru saja meniduri anak gadis orang." Haga terlalu jujur, ia menyeringai bangga. Berbeda dengan Haga, Davino dibuat terkejut olehnya. "Hah? Apa? Tuan Muda sadar akan hal itu?" Davino terperanjat dengan pengakuan pemuda tengil ini. Mana bisa ia mengekspresikan wajah bangga seperti itu setelah meniduri anak orang?! Terkadang Davino harus menelan pikirannya sendiri, merasa tidak masuk akal dengan kelakuan putra semata wayang keluarga Hanugara. "Ya, aku sadar. Aku bahkan menyervisnya hingga tiga kali." Haga lalu terkekeh, ia menyandarkan kepalanya di jok sambil menatap langit-langit mobil. Davino terbungkam, ia menepuk jidatnya tak habis pikir. "Tuan, jika Tuan Besar tahu hal ini, beliau bisa marah besar. Meniduri anak gadis orang itu sebuah kejahatan, bagaimana jika ia menuntutmu dengan uang beberapa ratus juga? Belum lagi jika dia mengandung bayi singamu. Tuan, harusnya kau berpikir panjang. Lalu, bagaimana dengan gadis itu?" Haga menegakkan punggung, ia membayangkan wajah Sasmi sekali lagi. Ada rasa penuh minat yang kini tertanam dalam otaknya. "Kau tahu, dia lebih tua dariku. Dia seorang sekretaris di Underflows Company, perusahaan yang berada di samping kantor kita. Aku hanya heran kenapa gadis seusia dia belum juga menikah bahkan—dia masih perawan Davino. Aku bisa melihat darah miliknya." Davino tak menanggapi, wajahnya kini malah memerah setelah mendengar pengakuan majikannya tersebut. Duh, otak putra mahkota Hanugara sepertinya memang perlu direvisi! "Tapi aku hanya mengaku sebagai penjual bunga saja. Aku tidak mau latar belakangku di ketahui oleh siapapun. Davino, bisa bantu aku selidiki dia?" Haga memajukan duduknya, mendekatkan tubuh pada Davino yang sibuk menyetir di depan. Davino melirik sekilas, ia masih fokus pada jalanan ramai di depan. "Tuan, kita masih sibuk dengan ekspor bunga kita ke Singapore. Jangan pikirkan masalah wanita, Tuan Besar akan marah." Haga terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu. Pikirannya kini telah teracuni oleh sang bibi muda yang telah merenggut keperjakaannya tadi malam. Pengalaman yang ia alami sungguh menegangkan dan ia tidak akan pernah melupakan sosok Sasmi setelah malam itu. "Tapi, kau bisa 'kan kirim bunga untuk Bibi Sasmi di Underflows? Jangan bilang tidak bisa, atau aku akan—" "Ya, ya, baiklah. Jangan mengancamku lagi! Terakhir kali kau mengancam, kau membuatku terusir dari rumah oleh anak dan istriku." Haga tertawa menang, ia menyandarkan punggungnya di jok mobil. Perlahan ia mengeluarkan kartu nama tersebut dari kantong sakunya, membaca berulang satu nama yang kini akan menghiasi hari-harinya. "Bibi, aku datang! Jangan pernah tidur sebelum kau menyebut namaku." Tawa Haga kembali terdengar, ia bahagia sekali. Davino hanya bisa menggeleng, ia selalu menjadi serdadu bagi Haga Hanugara. Selalu dan selalu. **** Jujur saja hidup Sasmita Anggi menjadi horor setiap kali ia bangun dari tidur, ia selalu mengelus perutnya yang entah ada isinya atau tidak. Hidupnya terkatung-katung, ia bahkan tidak bisa menikmati pasta atau tidur delapan jam lamanya dengan tenang. Pergi ke kantor asal berangkat saja dan berharap tidak menemui masalah apapun karena ketidakberesan otaknya. Sasmi mengusap peluhnya, ia baru saja tiba di kantor saat Inaya, teman sekantornya datang membawa satu pot bunga berisi bunga lavender. "Siapa sih Haga? Tuh, dia kirim bunga beserta potnya ke kamu." Inaya berkata rada sewot seraya meletakkan pot warna hitam dengan bunga lavender tumbuh di atasnya di hadapan Sasmi yang baru saja duduk di kursinya. "Kasihan Pak Agus, dia harus bersihkan seluruh tanah yang rontok dari pot itu." Sasmi mengunci mulut, ia menatap bunga itu dengan tatapan kesal. Jelas saja ia tahu siapa Haga, dia si penjual bunga yang harga dirinya tidak bisa dibeli dengan harga 10 juta. "Bilang juga sama Mas Haga-nya kalau kirim kembang jangan sama potnya juga. Terus bunganya yang agak mewah gitu 'lah, masak iya lavender. Memang di sini banyak nyamuk ya?" Innaya menimpali lalu terkekeh lucu. Gadis itu balik ke kursinya sambil senyum-senyum tidak jelas. Sasmi menarik napas dalam-dalam, ia meraih pot itu dan meletakkannya di bawah meja. Lihat saja nanti jika bertemu, Sasmi akan lempar pot itu ke muka Haga dengan keras. "Sasmi, bisa masuk ke ruangan saya sebentar?" Pak Joko selaku pimpinan membuka pintu dan menatap gadis itu dengan tatapan serius. Sasmi menatap Pak Joko lalu mengangguk, ia beranjak berdiri dan masuk ke dalam ruangan sang bos besar. Ruangan itu sedikit luas, beberapa buku besar menghiasi sebagian ruangan tersebut. Perusahaan Underflows company adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perhiasan emas permata. Posisinya tepat dibawah Undercrafh Company, perusahaan milik Marcello Jovie—pria yang menabur bubuk rangsang dalam minumannya tempo hari. "Iya Pak. Ada apa?" Sasmi mulai bertanya pada atasannya saat ia sudah duduk manis di hadapan sang bos besar. Pak Joko menatap Sasmi sejenak, ia menyodorkan beberapa berkas ke arah Sasmita Anggi. "Bisakah kau mengantar berkas ini ke kediaman Tuan Marcello? Aku sudah telepon ke kantor tapi kata sekretarisnya, Tuan Marcello sedang cuti dan kini berada di kediamannya di Apartemen Harza Town. Berkas ini bersifat penting dan harus ditandatangani beliau jadi bisa atau tidak bisa berkas ini harus tiba di tangan Tuan Marcello hari ini juga. Sasmi, aku tahu Tuan Marcello menaruh minat padamu, dengan ini aku mohon, tolong bujuk dia untuk segera menandatangani perjanjian hubungan kerjasama kita. Perjanjian ini menyangkut semua aspek perusahaan, anggap saja kau menjadi pahlawan untuk perusahaan ini, untuk kawan-kawanmu, untukku juga. Bagaimana Sasmi, kamu bisa ya?" Sasmi belum menjawab, ia meremas kedua jarinya dengan resah. Bagaimanapun tugas ini sangat berat terlebih ia harus datang ke apartemen milik Marcello j*****m itu. Masih terngiang bagaimana peristiwa buruk itu terjadi, Sasmi takut kalau-kalau kali ini ia benar-benar terjebak dan tidak bisa melawan. "Sasmi?" Pak Joko memanggil nama Sasmi pelan setelah ia tahu bahwa Sasmi tengah melamunkan sesuatu. Gadis itu tersadar, ia menganggukkan kepala dan menyetujui begitu saja. Senyum Pak Joko melebar, ia lega karena Sasmi mengiyakan perintahnya. Berbeda dengan Pak Joko, Sasmi meratapi kebodohannya karena telah mengiyakan permintaan Pak Joko tanpa peduli keselamatannya dam juga pikirannya. Sasmita keluar dari ruangan Pak Joko dengan wajah murung, ia telah ceroboh kali ini. Kenapa ia tidak mengusulkan Innaya saja yang akan mengantarkan berkas itu ke sana? Dasar bodoh tak ketulungan! Menyiapkan berkas-berkas, Sasmita bergegas untuk pergi walau dengan berat hati. Sempat terpikir olehnya Haga Hanugara. Haruskah ia meminta pengawalan dari si penjual bunga bawel itu? Lalu kalau dia minta upah, bagaimana? Sasmita menggeleng, ia berjalan menuju ke mobil SUV warna merah miliknya. Di dalam mobil pun ia masih didera keraguan. Rasanya ia benar-benar ingin minta tolong Haga saja saat ini tapi— Sasmi 'kan tidak memiliki nomer ponsel bocil itu. Gadis yang memakai blues warna biru itu mendengkus kesal, ia mengecek ponselnya dengan wajah semrawut. Bola mata hitamnya mendadak melotot saat di dalam kontak ponselnya ia menemukan nama Haga dan juga nomer ponselnya. Senyum Sasmi meledak, entah ia harus girang atau apa setelah tahu Haga meninggalkan nomernya di ponsel Sasmi. Tanpa pikir panjang, Sasmi menekan nomer itu dan menghubungi Haga. "Hei penjual bunga, temani aku berjuang siang ini! Tapi ingat, jangan minta upah yang aneh-aneh ya?! Aku tunggu kamu di depan wahana Kartika. Ingat! Jangan minta upah yang aneh-aneh!" **** Hai, aku minta pendapat kalian dong mengenai cerita ini. Komentar ya?! Jangan lupa tinggalkan jejak dengan tap love dan follow ya. Makasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN