****
Sasmita Anggi masih berpikir, kurang lebih sepuluh menit gadis itu terdiam hanya untuk memikirkan kira-kira diterima atau tidaknya Haga Hanugara untuk menjadi sopirnya. Selama ini ia hidup mandiri di apartemennya, jika ia melibatkan orang lain dalam hidupnya sudah pasti ia harus memikirkan orang tersebut. Sungguh hal yang sangat melelahkan untuk gadis mandiri macam Sasmita.
"Bagaimana? Kenapa hanya diam?" ucap Haga penasaran dengan jawaban Sasmi sekarang. Gadis itu hanya diam dan mengembuskan napas dalam-dalam, seolah ingin menolak Sasmi berharap Haga tidak akan mempermasalahkan jawabannya nanti.
"Sepertinya aku tidak bisa menjadikanmu sebagai sopirku. Selama ini aku hidup dengan mandiri, jika aku membawa laki-laki lain ke dalam apartemenku bagaimana tanggapan saudara perempuanku dan juga ayah ibuku? Perasaan mereka jauh lebih penting ketimbang perasaanku sendiri. Jadi permintaanmu sudah jelas aku tolak," jawab Sasmi dengan wajah tenang. Berbeda dengan Haga, pemuda itu diam sejenak karena merasa kecewa. Menarik napas, Haga mencoba menenangkan perasaannya.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang." Sasmi lantas beranjak berdiri, ia berbalik badan guna melangkah menuju ke kasir tempat dimana ia harus membayar tagihan makan Haga Hanugara.
"Bagaimana jika aku memiliki video panas tadi malam? Apakah kamu masih mau menolakku untuk menjadi sopirmu?" Haga kembali membuka suara. Langkah tenang Sasmi kembali goyah, ia menghentikan langkahnya tiba-tiba. "Aku masih memiliki video kejadian semalam, jangan lupakan itu Bibi."
"A-apa?" Sasmi tergagap, ia berbalik badan dan menatap sosok Haga yang menatapnya sambil menggoyangkan ponselnya di hadapan Sasmi. Gadis itu mendadak mati kutu, tidak tahu kenapa Haga sepertinya ingin sekali mendekatinya kali ini.
"Aku sengaja merekamnya, hal ini aku lakukan kalau misal kamu tidak mau bertanggungjawab atas diriku. Benar saja, kamu memang tidak mau bertanggungjawab atas perbuatanmu. Untung saja aku merekamnya, jadi aku tidak terlalu merugi." Haga menjelaskan lalu mencium ponselnya dengan wajah girang.
Sasmi mendadak naik darah, ia mengepalkan jari-jarinya dengan kuat. "Berhentilah berpura-pura menjadi korban wahai penjual bunga! Kenapa kau begitu tega padaku. Aku korban dari semua ini tapi kenapa kau masih saja memanfaatkanku!"
"Aku tidak ingin memanfaatkanmu, aku hanya ingin bernegoisasi denganmu. Jika kau hamil karena semalam--," Haga menghentikan ucapannya saat seluruh penghuni ruang makan menoleh ke arah Haga. Wajah Sasmi semakin malu terlebih Haga mengatakannya cukup keras di depan umum. "Baiklah! Mari bayar tagihannya dan kita bicara di luar."
Haga lalu berdiri dari duduknya, melangkah pergi dari ruangan penuh dengan orang yang bersantap sambil menarik tangan Sasmi. "Mari bicara di luar saja. Ini privasi kita berdua."
Sasmi tak menolak, ia bahkan tidak sadar jika tangannya kini berada dalam cekalan pemuda 20 tahun. Setelah membayar semuanya, mereka lantas berjalan menuju luar hotel. Suasana pagi dengan sinar matahari yang masih hangat membuat siapa saja betah untuk beraktifitas di luar ruangan. Beberapa orang terlihat tengah joging, ada juga yang bersiap-siap untuk pergi berangkat kerja.
"Jadi bagaimana? Aku memiliki semua bukti dan aku hanya ingin menjadi sopirmu, tapi kamu begitu keberatan seolah aku ingin merampas seluruh hartamu." Haga berkata tenang, kedua tangannya berkacak pinggang. Pandangan pemuda itu mengedar pada jalanan panjang yang kini ramai dilalui kendaraan.
"Hapus saja video itu, kumohon." Sasmi berkata lirih, ia menatap Haga dengan tatapan serius.
"Apa? Hei bibi cantik, kamu telah melecehkanku tadi malam. Jika aku tega, aku bisa memprosesnya secara hukum. Tinggal bagaimana keputusanmu saat ini, mau menjadikanku sopirmu atau aku melaporkannya pada pihak berwajib," ancam Haga sambil bersedekap.
Sasmi menatap Haga dengan kesal, rasanya ingin sekali ia menempeleng kepala pemuda tengil ini. Dirinya adalah korban tapi kenapa di mata Haga, Sasmi-lah si pelaku utama. Duh, heran sekali.
"Kenapa tidak kau terima saja uang 10 juta itu? Kau bisa membeli apapun yang kau mau tanpa harus menjadi sopirku," tandas Sasmi masih bersikeras. Haga terkekeh, ia kembali mengalihkan tatapannya.
"Jadi keperjakaanku cuma dihargai 10 juta?" Haga menggelengkan kepala, membuat Sasmi makin pening menghadapi pemuda gila ini.
"Lalu, haruskah aku membayarmu 100 juta?" Sasmi nyaris melotot saat mengatakan hal ini. Ia benar-benar kesal dengan Haga yang seolah tidak mau melepaskan dirinya. Haga tersenyum, ia bersedekap lalu menatap Sasmi dengan tatapan dalam.
"Bagaimana jika aku menjadi simpananmu saja? Aku bisa melakukan apapun untukmu. Aku bisa membantu memperbaiki mobilmu jika mogok, aku bisa membelikan popcorn, aku juga bisa membuat kue nastar untukmu. Semua itu gratis, kau tak perlu lagi—"
"Baiklah. Kau jadi sopirku saja mulai hari ini." Sasmi memutar bola matanya dengan tatapan kesal. Gadis itu lalu menyerahkan kunci mobil pada Haga lalu berbalik badan menuju ke mobil yang ia parkir dengan rapi di halaman hotel.
Haga terpaku namun ia segera tersenyum semringah saat perdebatannya benar-benar membuahkan hasil. Ya, meskipun hanya menjadi sopir pribadi, Haga merasa senang saja dengan bibi satu ini.
Memasuki mobil SUV sang bibi, Haga merasa senang saat mengemudikan mobil tersebut. Ia sama sekali tidak kaku dalam menyetir, hal ini membuat Sasmita curiga. Pada awalnya ia mengiyakan permintaan Haga untuk menjadi sopir karena ia yakin Haga mungkin tidak mampu menyetir toh ia hanya penjual bunga. Namun kenyataan menampar Sasmi, pemuda ini bahkan lihai sekali dalam menyetir. Satu kebodohan lagi yang Sasmi perbuat.
"Antar aku pulang ke Apartemen Cinderella Hills," ucap Sasmi sambil memijit dahinya yang pening. Ia merasa salah karena telah memutuskan hal itu secara mendadak.
Haga melirik ke arah Sasmi melalui kaca depan, ia tersenyum geli. Pria itu mampu membaca pikiran Sasmi saat ini yang mungkin merasa menyesal berkali-kali lipat. "Siap Bibi, aku akan mengantarmu pulang kali ini."
****
Mobil SUV warna merah keluaran terbaru itu melejit diatas jalanan aspal tanpa hambatan sedikitpun, membuat Sasmi benar-benar tidak bisa meremehkan kemampuan Haga si penjual bunga. Setelah sampai di apartemen, Sasmi keluar dari mobil. Ia terpaku saat Marcello—pria yang mengundangnya ke pesta terlihat menunggunya di parkiran apartemen.
"Sasmi, aku mengkhawatirkanmu sedari tadi malam. Kemana saja kau pergi, kenapa tidak kembali ke acara pesta?" Marcello berjalan mendekati Sasmi. Wajah tampan pria itu terlihat begitu memesona hanya saja Sasmi hanya melihatnya sebagai sosok yang biasa saja.
"Tuan, tadi malam aku ke toilet dan mendapat telepon dari rumah. Jadi aku memutuskan pulang tanpa pamit padamu, maafkan aku." Sasmi mencoba ramah dengan Marcello, bos besar yang saat ini tengah memiliki hubungan erat dengan perusahaan yang menaungi Sasmi saat ini.
"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu," ucap Marcello seraya mendekati Sasmi. Gadis itu hanya tersenyum canggung, ketika tangan Marcello hendak menyentuh pucuk rambut Sasmi, Haga keluar dari kemudi mobil. Tatapan Marcello terpaku pada Haga, ia pun menatap Sasmi dengan tatapan tak mengerti.
"Dia, siapa dia?" Sang bos besar merasa mulai tidak nyaman. Sasmi menatap Haga sekilas, ia tahu Haga akan menolongnya lepas dari pria ini. Sasmi mengisyaratkan sesuatu melalui matanya pada Haga, berharap pemuda tengil itu memberinya sedikit manfaat dan menyelamatkannya.
"Dia—"
"Perkenalkan Tuan, saya Haga—tunangan Bibi Sasmi." Haga mengulurkan tangan pada Marcello dengan penuh percaya diri.
Duh! Tamat sudah riwayat Sasmita kali ini. Kenapa harus bilang tunangan sih? Bilang teman atau pacar mungkin sedikit membantu tapi kalau tunangan? Sepertinya Haga memang sengaja memperkeruh suasana.
"Tunangan? Kamu sudah bertunangan Sasmi?" Marcello tak habis pikir, ia menatap Sasmi dengan tatapan kecewa. "Baiklah, aku hanya ingin memastikan keadaanmu saat ini. Rupanya kau baik-baik saja dan itu sudah cukup bagiku. Oke, aku pulang dulu Sasmi."
Marcello lalu berbalik badan, ia meninggalkan Sasmi dan pergi bersama mobil Ranger Roover miliknya.
Kini tatapan Sasmi tertuju pada Haga, ia melotot marah. Haga hanya tersenyum lalu bersedekap. "Kenapa Bibi, apa ucapanku ada yang salah?"
"Dia itu bos yang menanam modal di perusahaan aku, sekarang dengan kamu bilang kamu adalah tunangan aku maka tamat sudah riwayatku. Kamu bisa 'kan bilang kalau kamu saudara aku atau maksimal pacarlah. Siapa suruh kamu bilang tunangan aku?!" Sasmi mengeluarkan kemarahannya.
"Oh itu, maaf aku sama sekali tidak tahu. Yang aku lihat dia memang sedikit kurang ajar denganmu Bibi jadi aku—"
"Terserah, sekarang kamu pergi dari sini. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," tandas Sasmi lalu merebut kunci mobil dari tangan Haga. Gadis berambut panjang lalu bergegas pergi menuju ke lift.
"Loh, Bibi, bagaimana aku bisa pulang? Aku naik apa? Hei, Bibi!" Haga berteriak pada Sasmi yang terus meninggalkannya karena marah.
"Terserah! Jalan kaki sana." Sasmi lantas lenyap dibalik pintu lift. Haga terdiam, namun tak lama kemudian ia tersenyum. Merogoh saku celananya, Haga lantas menghubungi Davino.
"Davino, jemput aku di Cinderella Hills sekarang. Kita mulai rapat dalam tiga puluh menit."
****