Steve terus menarik tanganku, dia memancarkan wajah cerahnya pagi ini. Namun, aku terus berfikir bahwa seseorang telah membuntutiku. Wajahku ku tolehkan ke belakang, tapi tak ada satu pun orang yang bisa ku curigai.
Sekarang, dia menarik bangku duduk yang berada di restorant mall. Kami duduk saling berhadapan, dia memangku tangannya sambil menatap ke arahku.
“ mengapa kau menatapku seperti itu?” tanyaku datar.
“ tidak, kau sangat cantik” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
Aku hanya menatapnya dan tak merespons pujiannya dengan satu kata pun. Dia menatapku lagi keheranan. “ yaa, biasanya perempuan akan tersenyum ketika seorang pria memuji nya cantik. Tapi itu tidak berlaku untukmu ya?” kata nya membual dengan gemas.
Aku mengangkat alis kananku dengan tampang dingin, “ apa yang harus kita pesan?” ucapku sambil membuka daftar buku menu.
Dia lagi-lagi membual karena aku tak merespons perkataannya. “ haruskah kita memesan sushi?”
“ ya, baiklah dua pasta, satu jus strawberry dan satu soda” ketusku menutup buku daftar menu dengan keras dan memberi tahu daftar pesananku kepada sang pelayan.
Mata pelayan dan Steve kebingungan, karena aku memesan menu yang berbeda. “ Irene, kau bahkan memesan itu tanpa meminta persetujuanku” Ucap Steve setelah pelayan itu pergi.
“ mengapa kau begitu menyukai masakan mentah?” kataku pelan.
“ itu menu favoritku” ujarnya dengan bibir yang di manyunkan.
“ kau harus mencoba pasta terlebih dulu, kau pasti akan menyukainya. Paham?” jawabku seperti ibu yang memarahi seorang anak.
Steve menghela nafasnya, “ baiklah, demi kamu”
Makanan akhirnya datang, Steve hanya menatap menu nya saja. “ apa kau tak menyukai menu ini?” tanya ku.
Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “ siapa yang berkata seperti itu? aku akan memakan pasta ini” kata Steve.
Tangannya mulai meraba ke arah garpu, dia melayangkan sesuap pasta ke mulutnya. “ tahukah kau, daripada sushi aku lebih menyukai daging tikus. Beberapa kali aku memakannya dan rasanya enak” ujarku pada Steve.
Steve membulatkan matanya, dia menahan mual. Aku tersenyum sedikit demi sedikit, “ mengapa menceritakan hal seperti itu Irene?” Tanya Steve gemas.
“ aku yakin pasti anak orang kaya sepertimu tak pernah makan daging tikus” sahutku.
“ tidak, tidak jangan menceritakan itu lagi.” kata Steve merasa jijik.
Dia meminum jus strawberry nya, gelasnya yang penuh kini habis separuhnya. “ warnanya merah, persis dengan strawberry itu. Aku suka daging merahnya” celetukku lagi.
Steve membuat komuk marah, tapi itu terlihat menggemaskan. Dan aku sendiri masih menahan tawa melihat tingkahnya. “ mengapa kau tak memakan pasta itu? kau bilang kau akan memakannya demi aku” gumamku.
“ Sejujurnya nya pasta nya enak, tapi kau mengubah nafsu makanku” kata nya menggerutu sebal.
“ ahh sial, kau membohongiku” kataku datar.
“ baiklah, aku akan memakan ini” ujarnya.
Aku melirik ke arahnya, dia sungguh melahap pasta itu. Ini pertama kalinya aku memberikan sebuah candaan kecil kepada Steve. Dunia seketika berubah, ketika aku berada di dekatnya.
“ sejujurnya, ini pertama kalinya aku bercanda kepadamu” kata ku lagi sambil menyuap pasta.
Steve mendongakkan kepalanya ke arahku, “ apa yang tadi itu candaan?” tanya nya.
“ aku ingin melihatmu menggerutu” ucapku lagi.
Steve kemudian tersenyum, “ aku senang mendengar itu. Aku sangat terhibur Irene”
Aku tak menjawab ucapan Steve, dia pasti melayang mendengarkan ucapanku. “ wahh apa ini, ternyata kau diam-diam ingin melihatku bertingkah imut ya?” Kata Steve tertawa sendirian.
“ berpikirlah sesukamu” ucapku singkat.
Dia terlihat sangat senang, bahkan wajahnya bersemu merah. Steve juga melahap pasta itu sambil tersenyum, apa-apaan itu. Dia pasti sudah tidak waras. Namun, jika aku bisa membuatnya lebih mencintaiku itu adalah hal yang bagus.
Jika dia terikat denganku, dan mencintaiku, dia akan melupakan orang tuanya sendiri. Itu hal yang bagus, sedikit demi sedikit aku akan menghancurkan mental seorang ibu. Nyonya Zoe akan kehilangan putranya, karena aku yang akan merenggut putranya sendiri.
Aku diam dengan wajah datar lagi, kemudian aku melontarkan sebuah pertanyaan kepada Steve. “ ibumu memiliki penyakit?” tanyaku.
Steve terkejut, “ iya, terkadang dia pusing. Dokter bilang darahnya tinggi, dan dia juga memiliki riwayat penyakit jantung”
“ ahhh pasti susah menjadi ibumu.” jawabku.
“ tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya” kata Steve tersenyum.
Aku mengangguk pelan, di samping itu hatiku berkata lain. Aku begitu senang mendengar nyonya Zoe memiliki riwayat penyakit yang sedikit kronis. Hal itu lumayan bisa membuatnya mati mendadak.
Aku akan memainkan aksiku secara rapi, tak akan ku biarkan siapapun menghadang rencanaku. Kali ini tak akan ada campur aduk antara cinta dan balas dendam. Steve, maafkan aku. Aku hanya mencintaimu dalam sekejap.
***
Hari berlalu begitu cepat, sinar jingga perlahan-lahan menghilang berganti menjadi malam. Zacklee pulang ke rumahnya, Louis pun kembali ke paviliun. Sekarang pria itu masuk ke kamarnya. Nyonya Zoe sedari tadi pun menunggu kedatangan suaminya.
Seperti biasa, Zacklee tengah mengganti pakaiannya sambil berbicara dengan nyonya Zoe. “ bagaimana apa kau mengetahui kabar soal perempuan itu?” tanya nya sambil membuka setelan jas nya.
Nyonya Zoe duduk di ujung ranjangnya sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya berkali-kali. “ tepat sekali kau menanyakan itu sayang, tapi kali ini aku hanya mendapat informasi bahwa putramu pergi keluar bersama wanita itu”
“ hanya seperti itu?” tanya lagi Zacklee.
“ oh ya benar, bukankah kau penasaran dengan wajahnya?” ucap Nyonya Zoe, lalu dia melangkah menghampiri Zacklee dan menunjukkan foto dengan memperbesar bagian wajah Irene.
Zacklee menyoroti foto itu, kemudian dia mengambil ponselnya dan memotret wajah Irene yang tersimpan di galeri nyonya Zoe. Dia menatap serius wajah perempuan itu.
“ aku juga akan mencari tahu soal wanita ini” kata Zacklee dan nyonya Zoe mengangguk.
Kali ini Zacklee turut penasaran, perasaannya mulai janggal saat dia mendengar nama Irene. Karena nama itu adalah nama yang sama dengan nama yang di sebutkan oleh Vincent.
Dia menepuk ponselnya berkali-kali ke telapak tangannya. Sebelum dia mengetahui fakta bahwa Irene lah perebut yayasannya, amarahnya telah berkobar. Dia akan melakukan segala upaya jika benar wanita ini telah mengusik kehidupannya.
“ apa Steve masih bersamanya?” tanya Zacklee.
“ mungkin saja iya” kata Nyonya Zoe.
***
Seharian ini aku masih bersama Steve. Sekarang aku dan dia berdiri di sebuah tempat, dimana aku dan dia bisa melihat bagaimana indahnya kota. Melihat lampu-lampu yang bersinar di kota, membuat hatiku sedikit lebih lega.
Pasalnya, pemadaman listrik selalu membuatku trauma. Aku akan mengingat kejadian itu lagi, kejadian dimana membuatku merasa menjadi manusia paling menyedihkan.
Aku melipat tangaku, dan di sampingku berdiri Steve yang tampak khusuk melihat pemandangan kota di kala malam. “ apa kau masih ingat ucapanku tadi pagi? saat aku mengatakan bahwa aku kekurangan kasih sayang dari orang tuaku?” katanya memulai obrolan.
“ hmm ya, mengapa?” jawabku.
“ sebenarnya, aku juga mengharapkan kasih sayang dari mu. Sekarang aku hanya bisa mengharapkanmu. “ kata Steve dengan ucapannya yang begitu menyentuh.
Aku menatap ke arahnya, “ bagaimana bisa kau memercayaiku, agar aku bisa memberikan kasih sayangku padamu”
“ karena aku melihatmu sebagai orang yang tulus. Aku tau kau adalah wanita yang baik Irene. Mungkin sesuatu telah mengubahmu menjadi dingin seperti ini, tapi aku tak pernah melihatmu sebagai wanita yang dingin” kata Steve.
Tak ada satu pun pria yang melihatku seperti itu. Mereka semua takut, mereka menghindar jika mereka melihatku. Mereka semua hanya terpaku pada kecantikanku, tapi mereka tak bisa menerima bagaimana caranya aku bersikap.
Namun Steve, aku menyadari bahwa dia orang yang berbeda. Aku tau jika di bandingkan, aku memiliki nyali yang lebih besar daripada nyalinya. Tapi dia tak sama sekali takut, bahkan ketika aku menyakitinya berkali-kali.
“ aku hanya ingin mengatakan, jangan terlalu memercayai seseorang” Kata ku menampar ucapan Steve.
“ aku tau, seseorang pun sudah memberimu peringatan seperti itu. Tapi, aku juga melihatmu sebagai orang yang juga bisa di percaya” tukas nya.
Aku terdiam, dia juga bisa menampar balik kata-kataku. Lalu dia membalikkan badanku agar bisa menghadap ke arahnya. Tak terduga, dia memelukku. Seakan-akan memang benar, bahwa dia memang membutuhkan kasih sayangku.
Aku tak semestinya percaya, bagaimana bisa aku di pertemukan dengan pria seperti dirinya. Kami seakan memiliki nasib yang sama , sama-sama kekurangan kasih sayang. Hanya saya, orang tua masih lengkap namun tak bisa memberikan kasih sayangnya.
Tapi di sisi lain, tak semestinya juga aku gundah. Dengan segala rencana yang ku susun selama beberapa tahun. Aku juga tak bisa memaksakan perasaanku, jujur saja di saat seperti ini aku merasakan kenyamanan saat bersama nya.
Setetes air mataku jatuh, aku lagi-lagi kebingungan. Tidak akan ada orang yang mengerti posisi ku ini. Jika waktu bisa di ulang, mungkin ada seseorang yang seharusnya tak ingin ku kenal. Dia adalah Steve!
Beberapa air hujan juga menetes, mendung ini ada secara tiba-tiba. Rintik-rintik hujan juga sepertinya merestui keberadaanku dan Steve. Dia memelukku dengan erat, beberapa kali dia memelukku tapi aku tak bosan merasakan kenyamanannya.
Dengan tiba-tiba juga dia melepas pelukannya, dia sedikit terkejut melihat air mata membasahi pipiku. “ kau menangis?” tanya Steve.
“ tidak, ini tetesan air hujan” jawabku pelan.
Tangannya mengusap air mataku, tapi sepertinya dia juga tak percaya. Karena mata dan hidungku memerah. Lalu dia memelukku lagi untuk kedua kalinya, “ aku sungguh mencintaimu Irene” Ujar nya berbisik di telingaku sambil mengelus-elus rambutku.
Aku tak menjawab sekalipun perkataannya. Aku diam mematung, karena aku juga tak tau apa yang harus ku jawab. Terkadang aku bertanya, mengapa takdirku seperti ini. Kehilangan kedua orang tuaku sudah menyiksa, mengapa aku harus menghadapi cinta dan dendam di situasi yang sama?