Keringat mengucur dari dahi Louis. Dia dengan panik membereskan lukisan yang tak sengaja di senggolnya. Gagang pintu juga bergerak, seseorang akan masuk ke ruangan kerja Zacklee.
Orang yang membuka pintu itu adalah Zacklee. Dia membukanya dengan penuh curiga, sepasang matanya menatap ke arah dalam tapi menurutnya tak ada sesuatu yang di rasa janggal. “ apa yang terjadi?” ucap Zacklee sambil melihat ke dalam dari arah pintu.
Lalu dimanakah Louis? Kalian pasti bertanya-tanya soal keberadaannya. Dia cekatan mencari tempat persembunyian. Namun, tempat persembunyian nya kali ini cukup menantang. Di balik pintu ruangan, Ya Louis bersembunyi di sana. Dia berdiri dan semaksimal mungkin tak mengeluarkan suara.
Saat Zacklee membuka pintu, dia juga tak akan pernah menemukan Louis. Karena pengawal cerdiknya bersembunyi di balik nya. Zacklee cukup heran, tak sesuatu yang terjadi di dalam. Dia menyoroti ke arah lukisan, “ ahhhh mengapa penempatannya menjadi tidak lurus seperti ini?” kata Zacklee membual saat menatap ke arah lukisan.
Zacklee melangkah masuk ke dalam, dia berdiri di depan lukisan itu. Louis dengan pelan melangkahkah kakinya ke luar secara mengendap-endap. Jantungnya berdebar kencang, dia takut Zacklee semakin menaruh rasa curiga terhadapnya.
Akhirnya Louis berhasil keluar, tapi telinga Zacklee cukup jeli. Dia langsung menghadap ke arah belakang, “ siapa disana?” ucap Zacklee curiga. Mata Louis membulat seketika, Beruntungnya dia telah keluar dari ruangan kerjanya.
Kemudian, Zacklee mulai melangkahkan kakinya keluar. Dia ingin memastikan suara kecil yang di dengarnya. Louis dengan polos mengusap keringatnya,“ Louis?” ucap Zacklee terkejut saat dia melihat Louis berdiri di luar.
“ bukankah kau keluar? aku ingin menutup pintu ruanganmu karena terbuka. Tadi aku berencana membeli makanan. Tapi aku masih ragu untuk meninggalkan ruangan kerjamu sendirian” kata Louis dengan tenang.
Zacklee menatap serius ke arah Louis, kemudian kepalanya mengangguk-angguk percaya. “ ya, tadi aku masuk ke dalam untuk memeriksa sesuatu” jawabnya pelan.
Louis turut mengangguk-anggukan kepalanya, “ baguslah kalau begitu” ucap Louis.
***
Suasana masih terlalu pagi, Angin segar berhembus membuat bulu kudukku berdiri. Ini adalah saat yang tepat untuk berolahraga, Aku melatih tubuhku untuk tetap sehat. Apalagi sekarang paman Lay berada di sisiku, aku bisa berlatih bela diri kepadanya.
Aku keluar sambil meregangkan tangan. Mobil mewah berhenti di depan gerbang rumahku. Ahhh bocah itu, ini masih terlalu pagi. Tapi mengapa dia bisa memantapkan diri untuk pergi kesini.
Aku membuka gerbang sambil memberi senyuman yang begitu di paksakan kepada Steve. Dia keluar dari mobilnya, “ kau sedang berolahraga?” tanya nya pelan.
“ ya, tubuhku sedikit sakit jadi aku berolahraga” jawabku.
Steve membawa mobilnya masuk ke dalam rumah, “ apa paman dan bibimu ada di rumah?” tanya nya padaku.
“ emmm ya mereka ada. Jika kau ingin masuk, masuklah” ucap ku.
Steve masuk sambil membawa buah tangan, Tiffany menghampiri Steve dengan sumringah. “ Steve, lama tidak bertemu” sapa Tiffany sambil tersenyum.
Steve membungkuk ke arah Tiffany, “ Selamat pagi bi, ya sudah lama tidak bertemu” ujar Steve.
“ ayo duduklah di sofa, kita harus sarapan bersama” ajak Tiffany, aku melotot ke arah Tiffany. Aku memberi kode agar tidak mengajaknya, “ ya ayo Steve duduklah, bibi akan memasak. Kita bisa sarapan bersama” teriaknya semakin nyaring.
Steve menatap ke arahku, kemudian aku memberikan senyum paksaanku lagi kepadanya. “ ya ayo kita sarapan hehe” celetukku kaku dan Steve tersenyum.
“ ya, oh iya bi. Aku membeli kue manis ini untuk bibi dan sekeluarga” kata Steve penuh sopan santun sambil memberikan buah tangannya pada Tiffany.
Tiffany menerima itu dengan penuh cinta, “ wahhh terimakasih Steve. Ayo duduk” sahutnya sambil membawa Steve duduk di sofa.
Beberapa menit kemudian, Tiffany telah menyiapkan beberapa makanan di meja makan. Dia juga memanggil Steve untuk bergabung di sana, aku sedikit ragu. Bagaimana jika paman Lay memperlakukan Steve dengan buruk? akankah dia menerimanya setelah dia juga baru berdamai denganku?
“ Lay ayo turun, saatnya sarapan” teriak Tiffany sambil mendongakkan kepalanya ke lantai dua.
Aku menarik tangan Steve untuk bergabung menyantap sarapan bersama. Raut wajahnya menggambarkan bahwa dia bahagia karena ajakan ini.
Paman Lay turun dari tangga, dia menatap tajam ke arah Steve. Aku tau, Steve pun pasti merasa tak enak karena paman memberikan tatapan sinis seperti itu. Bibi dan aku saling menatap canggung, suasana yang awalnya ramai itu tiba-tiba menjadi hening.
Tiffany menyiapkan piring itu dengan canggung, seketika dia terdiam saat paman Lay datang. Namun, suatu hal yang tak ku duga datang dan keluar dari mulut paman Lay. “ aku tau nak, kau pasti berpikir bahwa aku tak menyukaimu.” ucap paman kepada Steve dengan penuh candaan.
Steve bingung sekaligus terkejut, dia menggelengkan kepalanya. “ tidak, tidak aku tidak pernah berfikir seperti itu untuk paman” kata Steve.
Paman bergelak, “ ya, ya, tapi alis mu dan matamu yang berbicara.” jawabnya.
Aku dan bibi saling menatap, mengapa paman tiba-tiba mengubah suasana menjadi cair seperti ini? “ baiklah ayo makan, kau juga harus sarapan” kata paman kepada Steve dan semuanya.
Aku menatap ke arah Steve, dia sangat bahagia hari ini. Aku tak pernah melihatnya tertawa lepas seperti ini. Tapi aku pun cukup penasaran, hal apa yang membuat hati dingin paman tiba-tiba berubah kepada Steve?
Sarapan pun telah usai, kini aku dan Steve berdiri di sebuah taman. Tempat pertama kami menjadi dekat adalah taman dekat rumahku ini. Suasana masih sama, anak kecil tertawa riang dan beberapa sepasang kekasih juga lalu lalang sambil bergandengan tangan.
Aku melipat tanganku, menatap keceriaan mereka. “ terkadang, jika aku melihat anak kecil itu aku menjadi iri” kata Steve padaku berbisik.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Steve, “ apa yang membuatmu iri terhadap mereka?” tanyaku.
“ karena mereka mendapat kasih sayang, berbeda denganku” kata nya.
“ bukankah kau selalu di jaga dengan baik oleh ibumu Steve?” tanya ku penasaran sambil merapihkan rambutku yang terkena angin.
“ tidak, dari kecil aku tidak pernah bersama seperti mereka. Aku selalu dekat dengan sopirku. Bahkan ku anggap dia seperti ayahku sendiri. Ibu hanya memberiku kasih sayang saat aku berusia dewasa. Itu pun dia terlalu mengekangku” lirihnya sambil menunduk.
Aku menepuk pundak Steve untuk menenangkannya, “ kau harus bisa berdiri sendiri. Kau pantas membuat dirimu bahagia” kata ku.
Steve tersenyum, dia mengangguk pelan. Kemudian dia meraba tanganku yang berada di pundaknya. “ itulah sebabnya aku mengharapkanmu” ujarnya.
Aku tertegun mendengar jawaban singkat dari nya, aku tak bisa berkata-kata lagi. “ ingin jalan-jalan dan berbelanja?” tanya Steve mengajak dan aku mengangguk pelan tanpa berpikir panjang.
Dia membawaku ke tempat-tempat yang bisa menyegarkan pikiranku. Lalu kali ini adalah tempat dimana aku tidak pernah mendatanginya sama sekali. Sebuah mall besar yang terletak di pusat kota.
Aku dan Steve berdiri di depan, mataku menatap ke arah gedung yang lumayan menjulang itu. “ tempat macam apa ini?” kataku pada Steve.
Steve menganga heran mendengar ucapanku, “ apa kau tak pernah berbelanja?baju?” tanya nya.
“ aahh tempat belanja rupanya, ayo kita pulang. Aku tidak hobby dengan ini” kataku menarik tangan Steve pulang.
Steve lebih menarik tanganku dengan kuat, dia mengajakku masuk dengan senyum lebarnya. “ ayo kita masuk,kau akan menyukai ini” kata nya.
Aku menatap ke seisi mall, tempat mewah dengan banyak toko-toko perbelanjaan yang begitu mewah. Aku yakin, semua baju ini akan di gadang dengan harga yang begitu fantastis. Tapi apa itu? harga tidak akan pernah membuat Steve gentar. Dia anak orang kaya.
Steve mengajakku masuk ke sebuah toko dengan yang memiliki tema gold. Apalagi jika bukan toko tas dan aksesoris mewah. “ Irene masuklah, ini tempat orang menjual banyak aksesoris dengan merek ternama. Kamu harus mencoba ini” ucapnya.
Aku membuat komuk jijik di wajahku, “ tanganku tidak ahli memegangi benda-benda seperti itu Steve” jawabku.
Steve menghela nafas, dia merasa gemas. “ baiklah, ayo kita makan” kata Steve sambil mengelus-elus rambutku.
Saat keluar dari toko mewah itu, entahlah aku hanya merasa janggal. Ini halusinasiku atau apa, tapi aku benar-benar melihat seseorang yang sepertinya tengah membuntutiku dan Steve.
Dia tiba-tiba membalikkan badannya saat aku dan Steve keluar, aku menatap ke arah orang itu. Tapi Steve terus saja menarik tanganku dengan erat dan berlari.
***
Dan itulah yang sebenarnya terjadi, Orang yang menjadi suruhan ny.Zoe dengan segera menjalankan aksinya. Dia membututi kemana perginya Steve, orang yang di panggilnya tuan muda.
Pagi tadi, Ny.Zoe memberi perintah secara langsung kepada orang itu. Dia mengatakan bahwa Steve telah meninggalkan rumah semenjak tadi pagi. Dia pergi mengikuti jejak tuan mudanya itu hingga sampai sekarang dia mengikuti Irene dan Steve sampai tiba di pusat perbelanjaan.
Tak lupa dia mengambil foto-foto yang akan di jadikan bukti laporan kepada Ny.Zoe. Orang itu menelepon ny.Zoe setelah dia membututi Irene dan Steve ke toko aksesoris mewah.
Setelah Irene dan Steve keluar, dia menekan tombol panggilan kepada ny.Zoe dan melaporkan kejadian itu sambil berbisik di telepon. “ selamat pagi nyonya, tuan muda sekarang berada di pusat perbelanjaan pusat kota. Aku sudah tau bagaimana wajah perempuan itu. Aku akan mengirimimu gambar” ucap nya berbisik.
Orang itu mengirimi foto Irene dan Steve via pesan kepada Zoe. “ ya perempuan yang kau lihat itu adalah perempuan yang harus kau cari latar belakangnya” ucap ny.Zoe setelah melihat foto yang dikirimi oleh pesuruhnya itu.
Dia mengangguk pelan, “ baiklah nyonya, dengan segera aku akan mencari tahu latar belakang perempuan itu. Tapi sekarang aku akan menbututi tuan muda terlebih dahulu”
“ tidak usah, kau tak perlu mengikuti putraku lagi. Kau cukup cari tahu soal siapa itu Irene. Ikuti saja dia dan segera beri laporan kepadaku” Tegas ny.Zoe.