TERBONGKAR

1609 Kata
Rintik-rintik air hujan sedikit demi sedikit turun, Dia memelukku untuk kedua kalinya. Pelukan hangat itu bahkan membuatku tak pernah bosan, entah apa yang ku rasakan kali ini. Dengan mendadak, ponsel Steve bergeming di kantongnya. Suara deringan itu membuatnya melepas pelukan. Dia mengangkat ponselnya untuk memastikan siapa yang menelponnya. Aku melirik, ternyata itu adalah panggilan dari ibunya. Steve sedikit menjauh dariku, dia mengangkat panggilan itu. Di sisi lain, aku memang tak mau mendengar apa-apa. Jantungku berdegup begitu kencang, rasanya semuanya ingin ku akhiri. Pembalasan dendam ini, tapi ini sungguh menyiksa ku. Aku menyentuh dadaku, bahkan bibirku tak bisa mengucapkan sepotong kata pun. Steve menghampiri ku lagi, aku dengan segera berdiri tegap dan menurunkan tangan. “ ayo kita pulang” ajaknya. Aku tertegun tapi aku juga mengangguk mengiyakan, dia menggenggam tanganku ke dalam mobil. Hujan pun datang, aku tiba di depan rumah. Dia membuka lebar payung yang tersedia di mobilnya dan mengantarku masuk ke dalam. “ aku pulang dulu, hangatkan dirimu” ucap Steve. Namun saat itu aku hanya terdiam, menatapnya tersenyum kepadaku dan melihatnya masuk ke mobilnya. Aku mengepalkan tangan, emosi ini melanda begitu saja. *** Louis merebahkan tubuhnya ke ranjang lembut, dia menghela nafas nya dalam-dalam untuk melegakan diri. Ia teringat saat dia memasuki ruangan Zacklee dan hendak mencari tahu isi ruangan rahasia itu. Tangannya meraba ke kantongnya. Dia ingin menelepon kakaknya Irene, “ halo Irene” ucap Louis setelah memencet tombol panggil. “ hmm?” jawab Irene dari seberang yang duduk melamun di ranjangnya juga. “ kau tau, ruangan rahasia itu memiliki kode tersendiri. Aku harus memencet beberapa kode agar aku bisa memasukinya” kata Louis dengan suara pelan. “ bukankah kau jago melacak? apa kau tak punya niatan untuk melacaknya?” jawab Irene dengan suaranya yang terdengar tengah gundah. Louis menatap ke arah ponselnya, kakaknya seolah tak ada semangat untuk meladeni ceritanya. “ tapi itu susah, ngomong-ngomong ada apa denganmu?” “ aku hanya lelah saja, jika kau tidak keberatan cari tahu soal kode itu. Zacklee pasti menyimpannya di suatu tempat. Kode yang penting, biasanya di tulis atau di simpan menghindari lupa” jawab Irene panjang lebar. “ ya kau benar, aku akan segera mencarinya” kata Louis. Irene menutup teleponnya, Louis menatap lagi ke ponselnya. “ sial, ada apa dengan wanita itu” ujarnya menggerutu dan membuang ponselnya ke ranjang. *** Zacklee pergi ke balkon kamarnya, dia menyender ke pagar balkon sambil memperbesar foto Irene. Secara langsung dia juga bisa menatap ke arah paviliun yang di tempati oleh Louis. Lampu kamar Louis masih menyala di jam yang bisa di bilang larut ini. Dia lagi-lagi teringat pada ucapan Vincent yang mengatakan bahwa Louis adalah adik dari wanita yang mengincarnya. Dia curiga, Louis masuk ke kehidupannya hanya untuk menjadi seorang mata-mata. “ jika di pikirkan lagi, bisa jadi memang Louis mata-mata di rumah ini.” gumamnya berpikir sendirian. Kemudian Zacklee masuk lagi ke kamarnya setelah mendinginkan diri. Dia berencana untuk mengunjungi Vincent lagi besok. *** Keesokan harinya Zacklee keluar dari kamarnya. Dia sudah tampak rapi dengan jas seperti biasanya. Namun kali ini, Zacklee tak ingin mengajak Louis untuk mengawal karena dia masih berfikir bahwa Louis adalah mata-mata di rumahnya. Mobil mewahnya mulai melaju, dua pengawal lain di tugaskan menjaga dan mengawalnya hari ini. Pengawal yang telah bekerja lumayan lama untuk Zacklee, dan orang-orang yang oleh Zacklee juga di beri kepercayaan lebih. Zacklee turun dari mobilnya, dia merapikan jas nya. Kantor polisi masih begitu sepi, mungkin karena ini terlalu pagi. Dia menapakkan kakinya ke dalam, berharap bahwa kali ini dia berhasil mendapat informasi yang selama ini di inginkannya. Beberapa menit dia menunggu Vincent Morgant keluar, akhirnya yang di tunggu-tunggu nya telah tiba. Kakak tirinya duduk di hadapannya dengan tangan yang di borgol. Dia menggeliat, meminta si petugas untuk membuka borgol yang mengikat tangannya. “ kau sudah gila? kau masih tidak bisa membiarkanku bebas, aku bahkan masih ada di penjara” ucap Vincent marah. Zacklee hanya menatap kakak tirinya yang berseteru, dia duduk tenang dengan badannya yang tegap. “ sial, mengapa kau datang kesini lagi? kau bahkan tak membebaskanku” teriak Vincent lebih murka setelah mengalihkan pandangannya ke arah Zacklee. Zacklee terdiam tenang, dia kemudian mengeluarkan sebuah foto yang telah di cetak dari dalam jas nya. Dia melempar foto itu ke hadapan Vincent, alis kanannya mulai di angkat. “ Irene, wanita yang kau bilang merebut aset ku” ujar Zacklee tenang, pengawalnya menatap heran ke arah Zacklee. Dia tak mengerti mengapa Zacklee hanya memberi pernyataan, bukan pertanyaan. Vincent mengambil foto dan menatapnya dengan serius, “ jadi kau sudah tau soal wanita ini?” jawab Vincent. “ dia dekat dengan Steve, putraku. Jadi benar bahwa dia yang merebut asetku” jawab Zacklee seolah dia telah mengetahuu bahwa benar itu adalah Irene yang merebut asetnya. Vincent bergelak tawa, “ jadi kau hanya ingin memastikan bahwa Irene di foto ini yang merebut asetmu? cihh” “ tidak, aku sudah mengetahui itu” jawab Zacklee mengelak. Vincent mengedapankan tubuhnya sambil menopang dagu dengan tangannya, “ adik. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan lagi?” ucap Vincent membujuk adiknya untuk melakukan kesepakatan baru. Zacklee mengernyitkan dahinya, “ Kau harus mengeluarkanku jika kau ingin melawan wanita itu, dia cukup cerdik. Percuma jika kau menyuruh semua pengawalmu untuk melawannya. Dia punya berbagai macam strategi” imbuh Vincent. “ sepertinya waktu mengobrol kita sudah cukup, aku pergi dulu” jawab Zack yang berdiri dan menghiraukan ucapan kakaknya. Dia melangkah keluar di kawal oleh pengawal sambil memasang kacamata hitamnya. Vincent yang tadinya tersenyum berharap Zacklee akan menerima kesepakatannya tiba-tiba berubah menjadi datar. “ ahh sial, yang benar saja” gumamnya sebal. Polisi menandatangi Vincent, dia memborgol tangan tahanannya itu. Kemudian membawanya masuk ke dalam sel penjara. Di sisi lain, pengawal Zacklee bertanya kepada tuannya. “ tuan, apa kau yakin dengan jawaban tuan Vincent bahwa pacar tuan muda yang merebut aset nyonya Zoe?” tanyanya sambil berjalan di samping Zacklee. “ mendengar jawabannya saja sudah meyakinkan, jika kau bertanya padanya. Dia akan menawarkan perjanjian lagi agar aku bisa membebaskannya.” jawab Zacklee. Pengawalnya terdiam mengangguk, dengan mendadak langkah Zacklee terhenti. “ ada apa tuan?” tanya lagi pengawalnya. “ aku melupakan sesuatu, mengapa aku tidak menanyakan soal Louis yang di duga adik Irene itu?” ucap Zacklee sambil menghela nafas. “ apa kita perlu kembali?” kata sang pengawal. “ ahhh sial, aku sudah tidak ada waktu lagi. Biarkan Zoe yang mencari tahu soal ini” jawabnya. Pengawalnya membungkuk, lalu dia membukakan pintu mobil untuk tuannya. Zacklee masuk, sekarang yang menjadi tujuannya adalah kantor perusahaannya sendiri. “ Visco, cari tahu soal Louis sekarang. Periksa apapun yang berada di kamarnya, dan segera beritahu aku jika ada sesuatu yang kau curigai” perintah Zacklee. *** Setelah mengantarkan Zacklee ke perusahaannya, Visco sosok pengawal yang juga di beri kepercayaan oleh Zacklee bergegas pergi ke rumah. Dia hendak memeriksa seisi paviliun Louis. Tepat sekali, pagi ini Louis sudah menjaga di perusahaan. Tidak ada satupun orang yang berada di ruangannya. Visco membuka pintu ruangan secara perlahan-lahan, kemudian seseorang menarik bahunya. Dia menelan ludahnya, berharap bukan Louis yang datang secara tiba-tiba. Saat dia membalikkan badannya, orang yang berdiri di belakangnya adalah nyonya Zoe. “ untuk apa kau mengendap-endap ke ruangan pengawal baru itu Visco?” ucap nyonya Zoe dengan komuk datar. Visco menghela nafas lega, kemudian dia membungkukkan badan. “ nyonya, tuan Zacklee memerintahku untuk memeriksa seisi ruangan Louis” ucapnya. Nyonya Zoe mati penasaran, “ memangnya untuk apa?” tanya nya pelan. Visco terdiam, dia menundukkan kepalanya tanpa berbicara. “ Visco, ada apa?” ketus nyonya Zoe. “ sebaiknya nyonya Zoe bertanya kepada tuan Zacklee sendiri.” jawab Visco sopan. *** Louis mengajakku bertemu, aku berkata padanya untuk menemuiku di tempat biasanya. Mengapa aku dan Louis tak membicarakan suatu hal di dalam rumah saja? bagaimanapun, sebelum Louis memberitahu sesuatu kepada paman Lay, dia harus memberitahu aku terlebih dulu. Karena disini aku yang memulai dan membuat rencana itu. Angin-angin di jembatan kota terus berhembus, Louis datang dengan mengenakan topi hitam yang menutupi separuh wajahnya. Dia berdiri di hadapanku dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket. “ ada apa mengajakku bertemu? apa yang kau temukan?” tanya ku penasaran. Louis memberikan beberapa foto yang berhasil di potret di ponselnya. Irene mengambil ponsel Irene dan menggeser beberapa foto yang tersimpan di dalamnya. Matanya mulai menatap serius. “ ruangan apa ini? apa ini isi dari ruangan rahasia itu?” ujarku kembali memastikan. Louis mengangguk, “ aku menjadi paham mengapa listrik di kota beberapa tahun silam mati. Dia sengaja membuat seluruh kota padam, itu bukan pemadaman biasa. Dia memang merencanakan pembunuhan terhadap keluarga kita” jawab Louis panjang lebar. Tanganku kembali mengepal, “ kurang ajar. Jadi seperti itu cara dia memainkan rencananya?” “ bisa ku simpulkan, penemuan milik ayah merupakan penemuan yang besar sepanjang sejarah sepuluh tahun terakhir. Semua orang menggunakan listrik yang masih berbasis usaha milik pemerintah. Mereka tidak membeli dan menggunakan listrik milik perusahaan Zacklee” “ karena listrik yang di rakit oleh pemerintah lebih di nilai kurang efektif dan efesien, mereka beralih pada listrik yang di ciptakan oleh ayah. Listrik mereka tak lagi padam setiap beberapa kali, listrik mereka terus menyala dan mereka nyaman menggunakan listrik yang di temukan oleh ayah kita. Tapi tetap saja, kendali masih di pegang oleh Zacklee. Dia bisa saja memadamkan listrik seluruh kota yang memakai listrik milik perusahaan hanya dengan satu alat jika dia mau.” kata Louis lagi. “ dan kau tahu Irene, saat pemadaman listrik beberapa tahun yang lalu dia membuat alasan kepada publik bahwa saat itu listriknya masih dalam perbaikan agar penggunaannya bisa tahan lama selama beberapa tahun ke depan” tambahnya lagi. Aku mendengus kesal, “ tapi bagaimana kau bisa masuk ke ruangan itu? bukankah kau tidak mengetahui kode nya?” tanyaku menatap tajam mata Louis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN