Louis berlari menghampiriku yang saat ini berdiri di tepi jembatan. Nafasnya yang terengah-engah mulai terdengar. Aku menghadapkan tubuhku ke arah Louis, dia masih mengatur nafasnya.
Setelah beberapa saat aku menyadari soal foto-foto yang sengaja di potret oleh Louis, aku menjadi tahu. Bahwa kematian itu sudah di rencanakan sejak lama oleh Zacklee, itulah mengapa dia hidup sebagai orang yang tak punya setetes pun kesalahan bukan pendosa.
Aku juga tahu, setiap manusia pasti punya dosa dan kesalahan. Tapi bagiku, kesalahan yang di perbuat oleh Zacklee adalah dosa yang mutlak. Aku menjadi semakin marah terhadap diriku sendiri, mengapa sulit hanya untuk melakukan dendam ini.
“ bagaimana bisa kau masuk ke ruangan itu, sedangkan kau sendiri tak mengetahui kode masuk ke dalamnya?” tanyaku pada Louis sambil memberikan ponselnya yang ku pegang. Dan Louis menatapku dengan penuh teliti.
***
Semalam setelah dia menelepon Irene, Dia mencoba mengingat-ingat lagi bagaimana bentuk dari tempat kode yang terpajang di balik lukisan dinding. Louis sempat mengingat, bahwa selain kode dia juga bisa membuka ruangan itu dengan sensor sidik jari.
Louis menatap keluar jendela paviliunnya, dia melihat mobil Zacklee melaju kencang tapi bukan ke arah perusahaannya melainkan dia berbelok ke arah yang lain. Louis segera bersiap berangkat ke perusahaan Zacklee.
Dia mengotak-atik barang-barang Zacklee yang tersimpan di dalam ruangannya sambil memerhatikan ke arah luar. Suatu barang di temukan di dalam rak buku tempat menyimpan berkas-berkas kerja. Dia melihat alat pendeteksi sidik jari, semacam jari mainan yang biasa di gunakan oleh orang-orang. Jika kau ingin masuk ke ruangan, atau membuka ponsel kau bisa menggunakan alat itu untuk membukanya, karena alat itu sudah menyimpan sensor sidik jari dari pemiliknya.
Louis tersenyum melihat ke arah benda yang berbentuk jempol itu, “ pasti Zacklee telah menyensor sidik jarinya ke alat ini” pikirnya.
Kemudian dia menurunkan lukisan yang di jadikan alat untuk menyembunyikan tempat kode untuk masuk ke ruangan, Louis memencetkan alat pendeteksi sidik jari itu ke tempat sidik jari.
Sebuah tanda centang mulai keluar dari layar, “ SIDIK JARI YANG ANDA MASUKKAN BENAR. SELAMAT DATANG TUAN ZACKLEE” kata tempat kode itu, yang mengeluarkan suara seperti robot.
Mata Louis menatap ke arah pintu, namun pintu tak kunjung terbuka. Dia beberapa kali memencetkan alat pendeteksi sidik jari itu ke tempat kode berkali-kali namun hasilnya nihil.
Dia sempat berpikir bahwa usahanya sudah sia-sia. Kemudian dia merapikan lukisan itu lagi. Lukisan sudah terpajang, Louis hendak melangkahkan kakinya pergi, tiba-tiba terdengar suara di belakangnya.
Pintu itu kemudian terbuka lebar, mata Louis mulai tercengang. Dia masuk ke dalam ruangan tanpa rasa takut. Saat dia masuk, ruangan itu nampak seperti sebuah lift, tak ada ruangan lagi di dalamnya. Sedikit sempit, Louis membuka ponselnya dan memotret area dalam.
Kemudian pintu ruangan rahasia itu tertutup dengan sendirinya, rasanya itu benar-benar seperti lift. Dia serasa di bawa ke tempat lain oleh ruangan itu. Dan dengan mendadak, dia terhenti.
Sebuah pintu dengan warna titanium terbuka lagi, dia melihat sebuah ruangan yang lebih besar dengan alat listrik yang juga cukup besar. Louis berjalan perlahan-lahan sembari melawan rasa terkesima nya terhadap alat besar itu.
“ wahhh alat apa ini?” ucapnya takjub, dia mengangkat ponselnya lagi dan memotret banyak gambar.
Di samping alat itu juga berisi poster yang cukup besar, tentang penggunaan dan peringatan dalam penggunaan alat. Louis juga memotret bagian yang cukup nyentrik itu.
Jadi semenjak dia membaca poster yang memang di pajang rapi, dia menjadi paham. Bahwa alat ini memang di jadikan kendali, agar penggunaan listrik di seluruh kota tetap terkendali.
Zacklee juga bisa dengan mudah memadamkan dan menghidupkan lampu di seluruh kota. Namun mengapa hanya pada saat pembunuhan ayah dia memadamkan lampu? jadi, memang pembunuhan itu adalah hal yang cukup di sengaja olehnya.
Louis menaruh smirk di wajahnya, “ pria itu benar-benar b******n. Aku harus memberitahu ini kepada Irene” ucapnya.
Setelah dia puas melihat-lihat ke dalam dan memotret keseluruhan, dia turun ke bawah namun dengan cara mengendap-endap. Beruntunglah tak ada satupun orang yang lalu lalang di depan ruangan Zacklee dan masuk ke dalamnya.
Dia akhirnya pergi menelepon dan mengajak Irene bertemu secara mendadak di jembatan kota tempat mereka biasa bertemu.
***
“ jadi seperti itu, itulah mengapa aku bisa masuk ke dalam” kata Louis setelah menceritakan seluruh strateginya panjang lebar.
Aku membuang nafasku, “ pria itu b******n” kataku menggerutu.
“ tapi baguslah, aku akan menggunakan alat itu untuk menghabisinya sama hal nya seperti dia menghabisi ayah kita” imbuhku sebal.
Louis menepuk pundakku, “ menurutmu apa kita harus berbicara dengan paman?”
Aku menganggguk mengiyakan, “ kita harus menceritakan ini kepadanya, ini benar-benar penting. Aku tidak mau paman merasa tak di butuhkan oleh kita” jawabku.
Louis turut menganggukkan kepalanya, kemudian dia pamit pergi kepadaku. Aku masih terdiam di jembatan itu, memikirkan berbagai cara yang cukup mudah untuk membalas perbuatan Zacklee.
Sebenarnya aku juga tak cukup terkejut mendengar Zacklee merencanakan semua ini. Mengingat, bahwa semenjak kejadian itu dia banyak memutar balikkan berbagai macam fakta di depan khalayak ramai.
“ tak sampai setahun, akan ku habisi kau Zacklee” gumamku menghela nafas sambil menepuk ke pagar pembatas jembatan.
***
Pesuruh nyonya Zoe, juga tampak hadir di jembatan kota itu. Menyaksikan perbincangan antara Louis dan Irene, tapi dia tak sama sekali mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sebenarnya dia juga penasaran dan bingung, siapa pria yang di temui oleh Irene sepagi ini. Tak lupa tangannya mengambil gambar ke arah Irene dan Louis yang berdiri.
Dia berdiri di sebuah tempat dimana Irene tak bisa mencurigainya, dia bersikap seolah dia juga tengah mencari angin di jembatan kota itu. Tangannya mengotak-atik foto yang berhasil di bidiknya, dia memperbesar gambar yang menunjukkan wajah Louis, dan kemudian dia mengirimnya ke nyonya Zoe.
***
Nyonya Zoe hendak menelepon Zacklee mengapa dia menyuruh Visco memeriksa isi ruangan Louis. Apa yang terjadi dengan Louis sebenarnya?
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dia baru saja ingin menekan tombol panggil ke nomor suaminya. Tapi dia penasaran, pesuruhnya rupanya mengirim sebuah foto. Nyonya Zoe melihat foto itu, dia memperbesar wajah pria yang di duga bertemu dengan Irene kali ini.
Mulutnya mulai menganga, ternyata pria itu adalah Louis pengawal baru yang menetap di rumahnya. Nyonya Zoe menelepon pesuruhnya, “ halo eunbi?” ujar nyonya Zoe.
Eunbi, tangan kanan perempuan yang kini menjadi pengangguran semenjak kehilangan pekerjaan di tempat kerjanya menjawab telepon dari bos nya. “ ya nyonya?”
“ apa yang mereka bicarakan?” tanya nyonya Zoe penasaran.
Eunbi dengan datar menjawab pertanyaan dari nyonya Zoe, “ aku tidak begitu mendengar ucapannya. Tapi sepertinya mereka membicarakan hal yang begitu penting” jawab Eunbi.
“ jadi maksudmu, Irene berselingkuh dengan Louis?” kata nyonya Zoe bertanya lagi.
Eunbi tetap tenang walau dia berada tak jauh dari Irene, “ jika kau bilang mereka berselingkuh aku sama sekali tak memercayai, mereka tak terlihat seperti pasangan kekasih” jawabnya pelan.
“ tetap cari tahu apapun yang bersangkutan dengan Irene” tegas nyonya Zoe.
Eunbi mematikan ponselnya dengan pelan, kemudian dia menatap ke arah Irene yang sedang memerhatikan lautan. Eunbi tersenyum tipis melihat dia, Dia terlihat seperti seseorang yang mengetahui sesuatu.
***
Visco masuk ke dalam ruangan Louis, dia tak lagi mengendap-endap. Beberapa barang Louis terlihat tak begitu mencurigakan. Dia datang seperti pengawal polos pada umumnya.
Tapi melihat tingkah Louis yang setiap hari selalu duduk di kamarnya tanpa bersosialisasi dengan pengawal lainnya cukup membuat Visco berpikir bahwa dia orang yang mengkhianati bosnya.
Visco juga memeriksa bagian lemari Louis, laci dan sebagainya. Tapi sama sekali tak ada satu pun barang aneh yang tersimpan di dalamnya. “ tapi, dia berasal dari kota mana? aku harus mencari tahu soal itu” gumamnya pelan sambil mencari-cari sesuatu.
Dia keluar dari ruangan Louis setelah lama beekutat dengan beberapa barang-barang Louis. Nyonya Zoe menghampirinya lagi, “ apa ada hasil yang bisa di curigai?”tanya nyonya Zoe tiba-tiba.
Visco terdiam lagi, dia menjawab pertanyaan nyonya Zoe dengan kaku. “ hmm ti-tidak ada nyonya. Saya permisi” ucap Visco yang membungkuk lalu meninggalkan nyonya Zoe.
***
Malam pun akhirnya tiba, menit berganti jam, dan akhirnya rembulan pun memancarkan sinarnya. Zacklee kali ini duduk bersama nyonya Zoe di ujung ranjang. Istrinya mulai membuka obrolan soal Irene.
“ kau harus melihat ini Zack” ucap nyonya Zoe sambil menjulurkan ponselnya ke arah Zacklee.
Zacklee menatap ke gambar yang di tunjukkan oleh nyonya Zoe, dia merampas ponselnya karena penasaran. “ Louis bertemu wanita ini? jika dia tahu soal wanita ini? dia mengenalnya?” gumam Zacklee.
Zoe membalikkan badannya dan berjalan menuju gorden, dia menggigit jarinya. “ aku takut pengawalmu itu hanya mengkhianatimu” jawab Zoe.
“ sebenarnya, Irene itu adalah wanita yang merebut yayasan Oxford” jelas Zacklee.
Nyonya Zoe dengan spontan terkejut dan membalikkan tubuhnya menghadap Zacklee, “ apa katamu? bukankah Vincent Morgant yang merebut asetku?” tegas Zoe.
“ dia bekerja sama dengan wanita itu.” jawabnya pelan.
“ kurang ajar” gumam Zoe sebal.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Nampak Steve tengah menghantarkan s**u panas untuk ibunya. “ ibu,, aku membawakanmu ini” kata Steve di balik pintu.
Dia sedikig gugup melihat ibunya yang terlihat sedang marah, Steve menaruh s**u itu di laci samping tempat tidur ibunya. Kemudian dia menghampiri ibunya yang tengah melipat tangan, “ apa ibu baik-baik saja?” tanya Steve lembut sambil memeriksa keadaan ibunya.
Tangan Steve meraba ke area dahi sang ibu, dia khawatir ibunya terkena demam. Zacklee hanya menatap tingkah putranya, sedang nyonya Zoe dengan pelan menepis tangan Steve. “ ibu tak apa” jawabnya datar.
Steve termenung melihat ibunya yang sepertinya marah terhadapnya, “ apa ibu punya masalah?” tanya Steve.
“ berapa lama kau berhubungan dengan wanita itu?” celetuk Zacklee yang merebahkan diri di ranjang.
Steve menolehkan kepalanya ke arah sang ayah, “ apa maksud ayah Irene?” tanya Steve dan Ayahnya mengangguk.
“ sudah cukup lama” jawab Steve tersenyum tipis.
“ apa kau tak tahu bagaimana sifat aslinya?” ujar ayahnya pelan.
Steve yang tersenyum tiba-tiba memasang wajah datar, “ dia baik dan juga cantik” ucapnya singkat.
“ itulah masalahnya Steve, kau tertipu dengan dia. Dia tak sebaik apa yang kau kira Steve.” teriak nyonya Zoe yang sedari tadi terdiam.
Bentakan itu membuat Steve tersentak, dia tak menyangka ibunya akan marah seperti ini. Mata Steve sedikit berlinang, nyonya Zoe hanya menatapnya. Kemudian dia merampas ponsel Steve yang berada di saku celananya.
“ ibu, apa yang ingin ibu lakukan?” teriak Steve yang berusaha merampas ponselnya.
Ibunya menjauh dari Steve, dia mengotak-atik ponsel putranya dan menelepon Irene. Panggilan terus berdering, kemudian suara muncul di ponsel Steve. “ halo Steve, ada apa?” kata Irene yang tiba-tiba berbicara.
“ Aku ibu Steve, ada yang ingin ku katakan padamu” ketus nyonya Zoe.
“ iya?” kata Irene meladeni.
“ aku ingin mengatakan bahwa...”
Steve dengan segera merampas dan menggapai ponsel yang di genggam oleh ibunya, “ bahwa ibu mengajakmu makan malam, ya. Dia mengajakmu makan malam” kata Steve dengan nafas terengah-engah.
Nyonya zoe terbebelalak lebar, dia tak menyangka bahwa Steve akan mengatakan hal sejijik ini. “ apa yang kau katakan Steve?” teriak ibunya.