PEMBUNUHAN YANG DI SENGAJA

1591 Kata
Tanganku hendak menarik selimut ke atas d**a, ponselku berdering secara tiba-tiba. Aku menatap ke arah ponsel dan tanganku menggapainya. Nama Steve tertera di ponsel ini. Aku spontan menjawab, “ ya halo?” ucapku menjawab panggilan. “ aku ibu Steve” katanya terdengar dari ponsel Steve. Rupanya, nyonya Zoe yang memegang ponsel Steve sekarang. Dan tiba-tiba saja, aku melirik ke ponsel dengan heran sambil mengukir senyum jahat di wajahku, “ ya ada apa?” tangkasku lagi. Suara riuh juga terdengar, sepertinya Steve sedang di landa masalah. Namun masalah apa yang melandanya? “ aku ingin berbicara padamu” ketus nyonya Zoe, hal itu membuat alisku hampir menyatu. “ aku ingin mengatakan bahwa....” imbuh suara nyonya Zoe. Steve memotong ucapan ibunya, “ bahwa ibu ingin mengajakmu makan malam” celetuknya dengan nafas terengah-engah. Seketika batinku ingin berteriak ‘hah', mengapa tiba-tiba Steve memotong pembicaraannya. Aku masih terdiam, dan berpikir sejenak tentang ajakan makan malam bersama keluarga nya. “ makan malam ya?” kataku basa-basi. “ i-iya, hadir saja besok. Aku akan menjemputmu” tukas Steve. Steve juga menutup teleponnya dengan cepat, sebelum aku menjawab ucapannya. Dia tak biasanya bertingkah seperti itu, kali ini berbeda. Suara kericuhan juga terdengar jelas, membuat aku berpikir soal masalah yang terjadi di keluarganya. *** Steve mematikan ponselnya, dia menyimpan nya lagi ke saku celananya. Ibunya dan ayahnya masih menganga setelah mendengar Steve mengundang wanita itu tanpa persetujuan kedua orang tuanya. “ apa-apaan kau Steve” teriak ibunya marah. “ kenapa? apa yang ibu permasalahkan?” ucap Steve dengan tatapan kesal. “ wanita itu, dia hanya membohongimu Steve” ketusnya. “ bohong soal apa? apa yang Irene lakukan padaku bu?” teriaknya semakin parah. Zacklee hanya menyaksikan istri dan anaknya berseteru, dia tak ikut campur bahkan tak melerai keduanya. “ Dia bukan wanita baik-baik, dia memiliki hubungan dengan Louis pengawal baru itu. Dia juga yang merampas aset ibu” Steve terdiam, dia tertegun mendengar jawaban ibunya. “ aset apa yang ibu maksud?” “ ibu kehilangan rumah sakit Oxford karena dia yang merebutnya” sentak nyonya Zoe dengan air matanya yang berlinang. Steve mengangguk-angguk, “ apa karena dia mengambil harta ibu, ibu tak merestuinya untukku?” tanya Steve sambil menundukkan kepalanya. “ dia tak pantas untukmu Steve, ibu tak menyukai wanita pembohong” kata nyonya Zoe pelan. Steve mendongakkan kepalanya menghadap sang ibu, tanpa terasa matanya juga berkaca-kaca. “ kalau begitu, mengapa ibu tak menanyakan sendiri padanya? apa benar dia melakukan itu? Jika iya, ibu bisa bersikap semau ibu” Desis Steve pelan, kemudian dia meninggalkan kamar ibunya. Pintu kamar di tutup dengan keras oleh Steve, orang tuanya merasa terhentak. Zacklee berdiri dari ranjang dan menepuk pundak sang istri yang tengah berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya. “ kau terlalu gegabah Zoe” kata Zacklee santai, namun nyonya Zoe menghempaskan tangannya. *** Mataku kembali segar setelah mendapat telepon dari Steve. Aku menjajaki anak tangga guna pergi ke kamar paman. Ku ketuk pintu kamarnya, dari dalam paman menyuruhku masuk. “ masukkk” katanya. Aku membuka pintu perlahan-lahan, Dan duduk di hadapan paman yang saat ini tengah merokok dan meminum alcohol di dalam kamar. “ aisss, mengapa paman tak mengajakku?” “ duduklah nak, mengapa kau menghampiriku selarut ini?” tanya nya sambil menghisap rokoknya dan melambaikan tangannya agar aku duduk di sofa. “ aku ingin membicarakan sesuatu” kataku pada paman. Paman mengalihkan pandangannya, “ Louis sudah berhasil masuk ke dalam ruangan rahasia itu” jawabku pelan. “ hah bagaimana bisa?” kata Paman antusias. “ dia menggunakan alat sensor sidik jari Zacklee, dia bisa masuk ke dalam. Dan dia juga mengirimiku beberapa gambar.” jawabku sambil menunjukkan foto isi ruangan rahasia itu. Paman menghimpit rokok dengan bibirnya, kedua tangannya menggapai ponsel yang ku tunjukkan padanya. “ Louis bilang, itu adalah alat untuk mengendalikan listrik atau the solar energy, penemuan milik ayah” ujarku pelan. Paman menyipitkan matanya, dia serius memperbesar foto yang di kirim oleh Louis itu. “ tapi, ayahmu tidak pernah menciptakan alat seperti ini” tukasnya. “ itulah paman, pembunuhan itu memang di sengaja beberapa tahun lalu. Aku tak terkejut dengan itu” ucapku pelan. “ tapi tunggu, bagaimana kau tahu ayah tidak menciptakan alat seperti ini?” imbuhku, setelah aku sadar arti ucapan paman. Paman menaruh rokoknya ke asbak, dia menghela nafasnya dan mulai bercerita. “ aku ingin menceritakan ini semua padamu nak, adikmu sudah tau mengenai ceritaku” *** Beberapa tahun silam.. Beberapa hari setelah tragedi yang menimpa Lay, apa kau masih mengingatnya? saat Lay hampir jatuh dari atap perusahaan yang menjulang itu? Lay semakin akrab dengan tuan Hans, ayah Irene. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, mengobrol dan minum saat malam. Lay melempar sebuah kertas untuk resign dari perusahaan tuan Frederic, ayah Zacklee. Tuan Frederic menatap kertas yang saat ini berada di hadapannya, dia mulai gundah saat hatinya menggertak membaca tulisan resign yang ada di halaman kertas. “ kau ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini?” tanya tuan Frederic. Lay yang masih emosional mengingat kejadian itu menjawab, “ ya sepertinya perusahaan ini sudah tidak cocok lagi untukku” jawabnya sambil menyindir secara halus. Tuan Frederic melempar kertas ke meja dengan kasar, “ bagaimana jika kau bekerja sama dengan perusahaan ini? kembangkan penemuanmu! “ tukas nya dengan sorot mata tajam. “ sepertinya, waktuku sudah selesai. Aku pergi dulu, terimakasih” kata Lay tanpa basa-basi sambil membungkukkan badan sebagai ungkapan penghormatan terakhirnya. Dia melangkah keluar dengan komuk kesal, lalu menutup pintu ruangan direkturnya dengan keras. Dia mengemas barang-barang di kantor, semua mata tertuju padanya. Lay keluar dari kantor, semua orang bertanya-tanya. Mengapa orang sekompeten itu keluar dari kantor ini? Mobilnya melaju dengan kencang, dia berhenti di sebuah rumah sakit. “ dimana kau?” tanya Lay menelepon temannya. Lay masuk ke dalam rumah sakit, Dia berlari memasuki ruangan rumah sakit. Pandangannya matanya tetap terarah ke satu jalur, dia tak memerhatikan yang lainnya. Kemudian dia membuka pintu ruangan itu, Nampak Zyco sedang meratap di kursi samping ranjang. Dia memegangi kedua tangannya dengan tatapan kosong, Lay masih terengah-engah dengan nafasnya. Kemudian dia berdiri di samping Zyco dengan tangan mengepal, “ apa-apaan ini? mengapa kau membawaku ke rumah sakit?” ucap Lay mendengus kesal. “ entahlah, jika kau ingin marah. Luapkan saja” ujar Zyco menunduk dengan suara pelan. “ apa yang terjadi?” kata Lay, “ Istriku sakit parah, aku sudah kehilangan arah. Itu sebabnya aku memberitahu tuan Frederic kalau kau bisa menuntaskan masalahnya” jawabnya dengan nada rendah. Tangan Lay mulai bergetar, “ kau...kau mengorbankan aku, hanya demi kepentingan mu sendiri?” teriak Lay, kemudian dia menarik kerah Zyco dan meluapkan segala amarahnya. “ tahukah kau betapa takutnya aku hah? dia hampir membunuhku, Itukah yang kau mau Zyco?” teriak Lay dengan suaranya yang mengisi kehampaan ruangan. Zyco mengangkat tangannya, kedua telapak tangannya basah dan mulai bergetar. Lay mengambil posisi untuk memukul pipi Zyco, tapi air mata Zyco mulai mengucur tak terbendung. “ Maafkan aku Lay, aku tak berniat melakukan ini padamu. Aku tak tahu aku harus berbuat apa untuk menyelamatkan istriku. Kehamilannya adalah hal yang paling di nanti-nanti oleh keluargaku, aku tak mau kehilangan anakku” desis Zyco menangis. Lay terdiam, dia menatap tajam Zyco dengan penuh kebencian. Lalu terdengarlah suara kecil yang keluar dari mulut Istri Zyco, “ sayanggggg apa yang terjadi” katanya yang baru sadar dari siuman dengan kondisinya yang masih tidak stabil. Zyco mengalihkan pandangannya ke arah sang istri, Lay pun begitu. Dia menurunkan tangannya yang mengepal ke bawah dan melepas tangan kirinya yang mencengkram baju Zyco. Lalu dia keluar dan membanting pintu. Lalu malam itu, paman duduk sambil mengangkat kaki kanannya di hadapan tuan Hans. Dia sudah akrab, dan selalu mencurahkan isi hatinya kepada sahabat yang baru di jumpainya itu. “ Sejujurnya aku kesal, temanku dengan mudahnya mengkhianatiku” kata Lay sambil meneguk soju Tuan Hans menatapnya sambil tersenyum, “ Kau harus pintar memilih teman, kau paham?” “ Dia bilang istrinya sakit, tapi dia mengorbankanku. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?” tanya Lay. Tuan Hans menyeruput soju nya, “ Aku akan memaafkannya, lalu aku akan fokus pada diriku sendiri untuk mengembangkan penemuanku” Mata Lay melotot, “ ahhh sayangnya aku bukan tipe orang sepertimu Hans” “ Lay, suatu saat nanti aku juga akan mengembangkan penemuanku. Aku akan membuat masyarakat di kota ini sejahtera dan menjalani hidup mereka dengan baik” ucapnya. Lay bergelak ringan, “ itukah impianmu? kau begitu mulia kawan” ujar Lay sambil meremas pundak temannya. “ aku akan menciptakan alat pembangkit listrik, orang-orang tidak akan membayar listrik lagi kepada pemerintah. Aku akan membuatnya secara gratis, itu akan di gunakan untuk beberapa tahun ke depan. Mereka tidak akan bingung lagi” katanya panjang lebar. “ apa itu semacam alat listrik yang tidak akan padam selama-lamanya?” ucap lagi Lay. Hans mengangguk sambil melayangkan senyumnya, ponselnya dengan mendadak berdering. “ ahhhh istriku menelepon, aku harus pulang. Dinginkan kepalamu” *** Paman menceritakan kisah itu sambil tersenyum, seolah masa lalu bersama ayahku adalah masa lalunya yang paling indah. Aku juga tak mengerti mengapa dia sesenang itu, tapi mendengarkan ceritanya cukup membuatku bangga. “ dia memiliki niat yang mulia dengan menciptakan alat listrik yang tidak padam selama-lamanya. Ku pikir itu ide yang gila, tapi dia berhasil menemukan penemuan itu” kata paman. “ jika ayah menciptakan penemuan yang seharusnya di pakai selama-lamanya, berarti listrik di kota ini tidak akan padam beberapa tahun lalu” jawabku. “ Zacklee yang menciptakan alat pengendali ini, dia memang sengaja membunuh ayahmu. Itulah sebabnya aku selalu menyuruhmu untuk balas dendam nak” ujar paman. “ aku memiliki rencana kedepannya paman,” tukas ku. Paman mengalihkan pandangannya penasaran, “ apa yang akan kau rencanakan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN