Seseorang muncul dari atas, setelah suara gebrakan itu terdengar. Bukan dua pengawal tuan Frederic, melainkan orang yang berbeda. Dia menjulurkan tangannya, mencoba menarik paman Lay ke atas dan menyelamatkannya.
“ ayo pegang tanganku, kau harus hidup” ucapnya dengan wajah penuh keringat.
Paman Lay membuka matanya lebar-lebar, dia merangkul tangan orang itu dengan tangan kanannya. Dia menarik dengan sekuat tenaga, berharap orang yang di tolongnya tak jatuh ke bawah.
“ bertahanlah, aku akan menarikmu” teriaknya dengan sekuat tenaga.
Orang itu mengerang, dia menaruk tangan kanan paman Lay dengan kedua tangannya. Keringatnya bercucuran, betapa mulianya orang itu. Dan setelah selang beberapa lama, paman Lay berhasil di selamatkan.
Dia kembali naik ke atas atap dengan nafasnya yang terengah-engah. Nampak dua pengawal itu sudah terkapar lemas di atap. Mereka berdua pingsan dengan balok yang berada di antara keduanya.
“ siapa yang menaruk balok kayu ini?” tanya paman sambil menghela nafasnya.
Orang yang masih mengontrol nafasnya itu mengangkat tangan, “ aku memukul mereka berdua” ujarnya.
Paman Lay berlari dan mengambil balok kayu itu, dia memukulkan ke kepala keduanya hingga darah mengucur dari kepala kedua pengawal itu. Seorang yang menyelamatkan paman Lay menyentuh punggung paman dengan telapak tangannya.
“ jangan kau pukul mereka lagi, mereka tidak akan menyakitimu” Gumam orang itu dengan pelan.
Paman mengalihkan pandangannya perlahan-lahan, dia kemudian meraba ke baju kedua pengawal tuan Frederic guna mencari flashdisk yang berhasil di rampas oleh keduanya.
Kemudian paman berdiri dan mendekat ke orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dia membungkul begitu lama, hanya untuk mengucapkan kata terimakasih. “ terimakasih telah menyelamatkan nyawaku” ujarnya pelan penuh hormat.
Orang itu menepuk punggung paman Lay, “ berhentilah membungkuk,” katanya pelan.
Paman Lay menaruh takjub kepadanya, dia begitu rendah diri. Kemudian paman kembali berdiri tegap. “ tapi aku memang seharusnya mengatakan terimakasih kepadamu” ucap paman Lay.
Orang itu hanya tersenyum, dia menjulurkan tangannya lagi dan memperkenalkan diri. “ perkenalkan, namaku Hans. Aku bekerja di kantor ini juga” katanya.
Paman Lay membulatkan matanya, tangannya bergetar saat dia ingin menjabat tangan hangat orang itu. Walaupun dia gugup tetapi dia tak gentar untuk membalas jabatan tangannya dengan penuh takjub. “ aku Lay, aku masih baru bekerja disini” ujar paman kagum.
Hans, ini adalah pertama kalinya paman Lay bertemu dengan ayah Irene. Pertemuan pertama yang begitu membuatmya terkesima terhadap kemuliaan hati orang itu. Kerendahan hatinya, tutur kata, dan bagaimana dia memperlakukan orang secara tak langsung menyentuh hati paman Lay.
“ apa kau baik-baik saja setelah dua pengawal tau. Frederic mengejarmu?” ucap tuan Hans.
Paman Lay mengangguk-anggukan kepalanya, “ aku hanya sedikit trauma tadi. Dia hampir membuatku mati” kata paman Lay menjawab.
Tuan Hans bergelak ringan, “ beruntung tuhan masih menyelamatkan nyawamu” jawabnya pelan.
Paman berjalan dan menyenderkan tubuhnya ke pagar atap, “ apa seperti ini cara perusahaan ini memperlakukan karyawannya? mengapa perusahaan ini sangat terobsesi dengan pasar asing?” kata paman Lay mencurahkan kekesalannya.
Tuan Hans dan memposisikan dirinya di samping paman Lay, “ ya seperti itulah perusahaan ini bergerak. Kita harus pandai-pandai menjaga diri” tukas tuan Hans.
“ jaga flashdisk mu, itu adalah karya dan hasil kerja kerasmu. Jangan serahkan penemuan itu kepada siapapun. Kau harus bisa mengembangkannya sendiri, walaupun dunia itu kejam. Kau harus bisa!!”
Lagi-lagi senyuman takjub terukir di wajah paman, “ ya tuan. Aku akan menjaga flashdisk ini”
“ ahhhh bagaimana jika kita mengobrol lebih lama? kapan kau ada waktu? “ imbuh paman.
Tuan Hans mengalihkan pandangannya ke wajah paman, “ hmmm?”
Begitulah kisah pertama kali paman Lay bertemu dengan tuan Hans. Wajar, jika dia terpukau dan sangat terobsesi pada pembalasan dendam ini. Mengingat dia memiliki hutang budi kepada ayah Irene.
Di kamar itu, paman Lay termenung memikirkan bagaimana dulu dia selalu bersama dengan ayah Irene. Semenjak kejadian itu, mereka menjadi semakin dekat bahkan melebihi saudara kandung.
***
Louis saat ini berada di perusahaaan Zacklee. Zacklee meminta dia untuk menjaganya selama seharian penuh. Seharian itu dia habiskan dengan menyusuri perusahaan Zacklee.
Sejujurnya, paman Lay bercerita lebih dalam kepada Louis bagaimana dia bertemu untuk pertama kalinya dengan ayahnya. Louis tau mengenai kisah dimana ayahnya yang selalu menjadi penolong bagi paman Lay.
“ jadi dulu paman pernah bekerja di perusahaan Zacklee?” tanya Louis saat dia dan pamannya mengadakan pertemuan di sebuah restoran.
Paman Lay mengangguk-angguk, “ aku dulu hanya pegawai biasa disana. Sebelum aku bekerja di perusahaan busana terkenal, aku bekerja di perusahaan itu” tukas nya.
“ lalu mengapa paman berhenti bekerja?” tanya Louis.
“ Karena mereka ingin membunuhku, aku memiliki sebuah penemuan besar. Mereka ingin merebut penemuanku untuk kemajuan perusahaan mereka” jawab nya.
“ pantas saja ayahku terbunuh setelah ayah membuat penemuan baru” kata Louis sambil meneguk minuman yang berada di hadapannya.
“ mereka benar-benar kejam Louis, mereka semua terobsesi dengan kekuasaan” kata paman.
Sampai detik ini, tetap mengingat bagaimana paman Lay menceritakan sebuah kisah yang menjadi masa lalunya. Dan mengapa dia sangat mengerti, lalu membela paman Lay untuk menghentikan Irene berhubungan dengan Steve.
Louis terus melihat-lihat ruangan-ruangan yang tersedia di dalam perusahaan. Dia melihat bagaimana mewah dan elegannya gedung Zacklee baik di dalam ataupun di luar perusahaan.
“ wahhh ruangan ini lebih maju dari dugaanku” katanya memuji.
Louis pergi ke atap, menikmati angin yang berhembus disana. Setidaknya, dengan ini beban yang berada di dalam dirinya seketika sirna. Meskipun saat ini yang menjadi bebannya adalah mengenai kakaknya sendiri dan Steve.
Louis memejamkan matanya lalu berkata, “ apakah ini akhir dari semua rencana Irene? mengapa gadis itu harus merasakan jatuh cinta?” gumamnya lelah.
***
Di sisi lain, aku berdiri di hadapan cermin setelah sekian lama berkutat mencari busana yang harus ku kenakan ke rumah Steve. Tapi nampaknya, tak ada satupun gaun yang terlihat cocok untuk ku kenakan.
“ tetap saja baju mafia ini membuatku nyaman” ucap Irene sambil melepaskan perhiasan yang di pinjamnya dari Tiffany.
Sejujurnya, aku tak begitu berharap keluarga Steve akan menerima kehadiranku. Jika mereka tak bisa menerimaku apa adanya, aku tidak akan mengemis untuk mendapatkan hati mereka.
Semuanya kini telah kacau, setelah aku datang dari makam ayah dan ibuku aku menjadi sadar bahwa Steve bukanlah orang yang benar-benar ku sayangi. Seperti kata Tiffany, aku harus membuat diriku sendiri terobsesi.
Aku tak mau paman dan Louis menaruh kecewa yang berlebih terhadapku. Tapi kini, mungkin dari hatiku sendiri berkata bahwa aku sangat ingin menghabisi ayah Steve. Jadi sekarang, aku akan menjalankan rencana itu dengan sepenuh jiwaku.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Steve, “ Halo. Aku akan kesana” kataku sambil mengambil pisau yang berada di laci.