TAK MERESTUI

1362 Kata
Panggilan suara berdering dari ponsel Steve. Nama Irene tertera di layar ponselnya, Dia tengah duduk santai di kamarnya lalu mengangkat telepon. “ halo Irene?” sapanya sumringah. “ aku akan mengunjungi rumahmu, tunggu aku” kata Irene dari seberang, lalu dia beranjak pergi sambil membawa pisau kecil yang tergeletak di laci kamarnya. Senyuman terpasang di wajah Steve, dia begitu senang mendengar bahwa Irene akan benar-benar mengunjungi dan datang ke rumahnya. Dia segera bergegas dan bersiap menyambut kedatangan tambatan hatinya. *** Louis masih terhanyut di dalam kenyamanannya saat dia menikmati angin yang berhembus di atap gedung. Rasanya dia sedikit mengingat ucapan yang di lontarkan paman Lay saat dia bercerita tentang kisah pertama kali dirinya bertemu dengan ayahnya, Hans. Louis merebahkan tubuhnya di atap, dia menatap ke arah langit. “ disini lah tempat paman bertemu ayah, tapi sepertinya tempat ini sudah banyak berubah” Dia bangun dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Matanya mulai tersihir saat dia menatap sebuah bangunan kecil yang di bangun di atas atap. Bangunan itu hanya di jadikan tempat untuk menampung air kebutuhan kantor. Louis melangkahkan kakinya dan masuk ke bangunan kecil itu, “ jadi ini tempat untuk menampung air ya?” kata Louis. Dia masuk dan meraba-raba tandon air yang berada di dalamnya. Dan lagi-lagi ia tersihir dengan coretan kecil yang membekas di area dinding. "DUNIA ITU KEJAM, TAPI JANGAN MENGHENTIKAN TUBUHMU UNTUK MELAWAN KEKEJAMAN ITU"-Hans Tulisan dengan tinta yang sudah sedikit pudar, namun seseorang masih bisa membacanya. Kata-kata itu begitu memotivasi, dan mampu menggertak hati bagi siapaun yang membacanya. Louis mendekat, jarinya bergetar namun dia paksakan untuk meraba tulisan cantik itu. Nama yang tersurat juga menjadi suatu alasan mengapa sebulir air matanya harus jatuh. Dia hanya berusaha kuat sembari menyeka air matanya yang menetes, “ ayah benar, dunia itu kejam. Tapi dunia juga adil bagi orang-orang yang berkuasa” gumam Louis pelan sambil mengusap-usap hidungnya yang memerah karena menahan tangis. Louis membalikkan badannya, dia berusaha tegar. Kemudian dia keluar, dan segera menjajaki anak tangga untuk turun ke bawah. Setibanya di sana, dia masuk ke ruangan bos kejamnya itu. Dia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban yang terdengar dari dalam. Alhasil, dia mencoba untuk membuka pintu itu tanpa izin. Namun tak nampak sama sekali batang hidung Zacklee di dalam. Hanya selangkah dia masuk, Zacklee terlihat keluar dari ruangan rahasia. Louis membukatkan matanya, dia menyadari bahwa Zacklee menyimpan ruangan rahasia di dalam ruangan kerjanya Mata Louis di sipitkan dengan serius, dia meniti soal apa yang di lakukan Zacklee hingga dia keluar dari ruangan itu. Dan ruangan apa itu sebenarnya? “ ruangan apa itu sebenarnya? apa yang berada di dalam ruangan itu?” pikirnya di dalam hati. Sedang Zacklee, dia terhenti dari langkahnya di kala dia mengetahui bahwa Louis berada di dalam ruangannya sekarang. “ apa kau sudah lama berdiri di situ?” tanya Zacklee sedikit gugup. “ aku baru saja masuk, apa yang kau lakukan di dalam situ?” kata Louis polos. *** Saat ini aku berdiri di dalam bus kota, entah mengapa tekadku saat ini kuat untuk mengunjungi rumah Steve. Aku ingin menyusun rencanaku lagi, aku ingin mengenal Steve lebih jauh dan keluarganya. Bukan untuk kasih sayang, tapi aku akan merusak semuanya. Aku ingin semuanya berjalan seperti semula. Tidak ada perasaan yang campur aduk dengan keinginan balas dendam, dan aku ingin aku kembali menjadi Irene yang dulu. Setelah selang beberapa lama, akhirnya aku pun tiba di jalanan menuju ke rumah Steve. Aku berlari kencang, hingga aku pun tiba tepat di depan gerbangnya. “ selamat siang, siapa yang anda cari nona” kata seorang pengawal yang tiba-tiba muncul di gerbang. “ aku Irene, aku teman Steve” jawabku singkat. “ aku ingin berbicara terlebih dulu dengan tuan muda, sebaiknya anda menunggu” ucapnya pelan dan aku mengangguk. Ini adalah pertama kalinya aku datang ke rumah Steve. Rumah yang begitu mewah terlihat dari arah luar, dengan halaman yang begitu luas. Patung-patung dan air mancur menjadi hiasan di area depannya. Pria itu benar-benar sukses hingga dia bisa membangun rumah semegah dan semewah ini. Aku menatap rumah itu dari arah luar dengan wajah datar, tiba-tiba Steve datang dan membuka tombol yang terletak di samping gerbangnya. Bahkan gerbangnya pun terbuka secara otomatis dengan menggunakan tombol. Dia benar-benar hidup di keluarga yang sangat kaya raya. “ ahh Irene, apa lama sekali kau menunggu? maafkan aku” katanya sambil menghampiriku. “ tidak, itu tidak lama” jawabku singkat. Steve mengangguk, dia tersenyum dengan manis di hadapanku. Lalu dia mengajakku untuk masuk ke dalam. Suara gunggungan anjing juga terdengar, di samping itu para burung juga menyeringai. Ini benar-benar suasana yang paling baik saat di rumah! Aku pun masuk ke dalam rumahnya. Semua mataku terkesima dengan interior dan bend-benda yang di pajang di dalam rumah Steve. Lampu gantung yang terpajang memiliki kesan mewah tersendiri, beginikah rumah dari seorang pengusaha kaya? Steve menyuruhku untuk duduk di sofa lembut nan lebarnya, dari ruang tamu aku juga bisa melihat taman dengan langsung. Dua patung kuda yang menkadi tempat untuk memancurkan air menuju kolam, benar-benar surgawi. Seorang perempuan datang, dia berpenampilan cukup mewah. Steve membuntuti di belakangnya, dia menatapku dan aku lebih menatapnya dengan tajam. Lalu dia duduk di sofanya, Steve memposisikan dirinya untuk duduk di sampingku. “ ibu, perkenalkan ini adalah Irene wanita yang ku ceritakan itu” Dia menatap penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki, sambil melayangkan senyuman. “ bukankah kau wanita yang dulu sempat menolong Steve saat pingsan dan mual?” tanya nya. Aku berdehem, “ aa aku bukan tipikal perempuan yang mengingat sesuatu yang terjadi dahulu. Tapi mungkin itu memang aku” jawabku pelan. Dia mengangguk-angguk mendengarkanku, “ aku bu.Zoe, Ibunda Steve. Dia selalu menceritakanmu kepadaku dan juga membangga-banggakanmu” katanya. Steve tersipu malu, dia menunduk sambil tersenyum. “ baiklah, aku akan mengambil teh dan beberapa makanan lainnya” kata Steve senang. Aku menyoroti kepergian Steve, kemudian aku menatap ke arah ibunya. Entah mengapa, tatapan itu membuatku sedikit tak enak. Apa dia benar-benar menyukaiku? “ Irene!” ucapnya dengan nada sedikit menyentak sambil memberi tatapan sinis ke arahku. “ ya?” jawabku singkat. Bu.Zoe melirik-lirik seperti seseorang yang sedang melihat situasi, “ apa kau yakin putraku menyukai mu?” tanya nya. Mataku membulat, “ bukankah anda sendiri yang mengatakan bahwa putra anda sering membangga-banggakan diriku?” kataku pelan. Bu. Zoe memasang wajah datarnya, apa-apaan ini. Ini berbeda dari dia yang sebelumnya, “ itulah masalahnya, mengapa dia harus membangga-banggakan wanita seperti mu?” Aku terkejut mendengar jawaban rendahan itu, “ apa maksudmu?” kataku tak sopan. “ Mendengar dia membangga-banggakanmu membuatku turut senang mendengar nya. Aku berekspektasi penuh saat mendengar namamu, tapi melihatmu datang kesini membuatku ingin menentang hubungan kalian berdua” Ketusnya. Aku mengambil pisau yang ku taruh di dalam kantong, kemudian aku menaruh benda kecil itu ke meja. Bu. Zoe menatap kaget, dia sepertinya syok saat aku membawa benda tajam itu. “ Yang mencintaiku dengan sepenuhnya itu Steve bu, aku tidak pernah keberatan jika kau ingin menentang hubungan kami. Tapi, jika Steve itu mau” Bu. Zoe terbelalak lebar, dia menggenggam tangannya sedikit lebih erat dari sebelumnya. Aku tau api amarahnya mulai memuncak, “ Kau hanya wanita yang baru di kenalinya saja. Sebaiknya jangan terlalu berharap penuh dengan putraku” ucapnya sambil menghela nafas dan memberi senyuman sok manisnya. Aku mengambil pisau lipatku, kemudian aku memainkan pisau itu hadapan bu.Zoe. Dia menyorotiku yang sedang memutar-mutarkan benda tajam itu, “ kau salah bu.Zoe, bukan aku yang berharap penuh. Melainkan putramu” kataku sambil memasang wajah smirk. Suara langkah kaki seseorang, dia adalah Steve yang keluar dari dapur sambil membawa teh dengan menggunakan nampan. “ aku datangg” teriaknya. Aku menaruh pisauku ke dalam jaket rodeoku dengan pelan. Aku tersenyum ganas ke arah bu.Zoe. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Steve, kemudian dia tersenyum. Lihat kepribadiannya, dia berubah drastis saat Steve datang. “ ahhh kau tidak perlu repot-repot nak” katanya sok manis. Aku hanya menatap tajam permainannya, jadi dia mulai menentangku ya? bagus, aku sangat menyukai ini. “ bagaimana? apa kalian berbincang dengan sangat baik?” tanya Steve sembari merebahkan tubuhnya untuk duduk di sofa. “ aaaa ibu ...” “ sepertinya obrolan kita berlangsung dengan sangat baik, ibumu begitu menyenangkan Steve” kataku memotong pembicaraan bu Zoe. “ apa yang kalian bicarakan?” tanya Steve.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN