Pernahkah kalian tertampar dengan kata-kata bahwa semua orang itu munafik, namun mereka berusaha menyembunyikan kemunafikannya? Dan menurutku, hal itu benar. Mereka hanya berpura-pura baik hanya demi menutupi kebusukannya.
Saat ini aku masih berada di rumah megah Steve. Aku duduk di sofa bersama ibunda seorang lekaki yang menyukaiku itu. Ku pikir, dia menyukaiku. Tapi mungkin, orang-orang kaya tidak akan berselera jika anaknya harus berhubungan dengan wanita b******n sepertiku ini.
Apalagi kedua orang tua Steve merupakan orang yang paling berpengaruh, kadang banyak kamera yang menyorotinya. Berita soal keluarga konglomerat Zacklee banyak tersebar. Apa dia rela menerima wanita sepertiku ini? apa kata orang?
Akan tetapi bukan itu poin yang ku maksud hari ini. Aku begitu terkejut saat melihat watak asli ny.Zoe kepadaku di kala Steve pergi ke dapur untuk membuat jamuan. Dia tak seperti ny.Zoe dengan senyum ramahnya saat masih berada di samping Steve, dia berubah menjadi wanita k*****t yang egois dan tak mendukung keinginan putranya sendiri.
Setelah Steve melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur, Perbincanganku mulai memanas. Dia begitu anarkis dan juga mengintimidasi, tapi apakah aku terpengaruh dengan hal itu? bukan Irene namanya jika aku tak mengintimidasinya kembali.
“ Steve selalu membangga-banggakanku dan selalu bercerita soal dirimu. Mungkin aku yang terlalu berekspektasi, atau dia yang tak pandai mencari wanita” katanya sebelum Steve kembali ke ruang tamu.
Aku mengangkat alis kananku, caranya mengintimidasi cukup menarik. Aku melipat kakiku, sambil memegang pisau yang ku ambil dari meja. Dia menatap tingkahku, dengan sorot mata tajamnya. “ seharusnya kau lebih bertanya, wanita seperti apa yang dicintai putramu” jawabku santai.
Dia menghela nafas beratnya, “ ya itulah masalahnya. Aku tak tau jika dia mencintai wanita yang jauh dari ekspektasiku”
“ ku dengar kau memiliki syndrome yang begitu parah. Apa sebaiknya kau urus penyakitmu dulu. ku beri saran, biarkan putramu sedikit bahagia” tukas ku.
Dia dengan spontan hendak berdiri dari tempat duduknya karena kesal, “ nona...” teriaknya.
Steve tiba-tiba berteriak, dia melangkahkan kakinya untuk pergi lagi ke ruang tamu. “ Aku datangggg” teriaknya kegirangan.
Dengan sigap aku menaruh pisauku lagi ke dalam jaket, bu.Zoe duduk di sofanya dengan anggun. Dia tersenyum ke arahku, seolah-olah tadi dia tidak mengintimidasiku. Cukup membuatku terkesima, dia benar-benar pintar memainkan drama.
Steve duduk di sofa, dia memposisikan diri di sampingku. Matanya menatap ke arahku dan juga ibunya. “ apa kalian berbuncang dengan baik?” tanya nya sambil menaruh nampan yang di bawanya dari dapur dan meletakkan teh dengan beberapa jamuan.
“ ahhh ibu...” ucap bu.Zoe
“ kami berbincang dengan cukup baik. Ibumu adalah orang yang menyenangkan” kataku memotong ucapan bu.Zoe dan dia memasang wajah datarnya.
Steve mengangguk bangga, “ lalu apa yang kalian bicarakan?”
“ kami membicarakan soal dirimu. Ibumu bercerita tentang dirimu, itu membuatku antusias mendengarnya” Jawabku dengan cepat sebelum ny.Zoe menjawab pertanyaan Steve.
Ny.Zoe terus menatapku yang sedari tadi menjawab pertanyaan Steve tanpa memberinya kesempatan untuk melontarkan kata-kata. “ apakah ibu menceritakan soal diriku?” tanya Steve pada ibunya.
Ibunya mengalihkan pandangan kepada putranya dengan sedikit gugup, “ ahhh ya ya. ibu bercerita soal itu” jawabnya mengikuti alur dramaku.
Aku tersenyum menatapnya yang terlihat gugup. Beberapa menit pun berlalu, saatnya aku undur diri untuk pulang. Aku berdiri dari sofa, “ Steve aku akan pulang” ucapku pada Steve.
Steve bangun dari sofanya, “ aku akan mengantarmu”
Ny.Zoe menarik tangan Steve, “ Steve, ibu merasa sedikit pusing. Bisakah kau menemani ibu sebentar?” katanya sambil memegangi kepalanya.
Aku hanya menyorotinya, dia ratu dalam hal memainkan sandiwara. Aku mengernyitkan kening, “ apa anda mau aku membantu? jika anda ingin kepala anda sedikit ringan dan tidak pusing, Aku akan membantu anda” Seru ku pelan walau ku tau dia hanya berpura-pura.
Aku melangkah maju ke hadapan Ny.Zoe, dia mundur ke belakang menjauhiku. “ tidak, aku akan ke kamar untuk menenangkan pikiranku. Terimakasih” singkatnya.
Steve segera bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Ny.Zoe tetap memegangi kepalanya. Dia melangkah pergi ke kamarnya tapi aku berkata, “ Ny.Zoe turunkan tanganmu itu. Sia-sia kau memegangi kepala yang bahkan tak terasa berat” ujarku menyindirnya.
Dia membalikkan badannya mengarah ke arahku, kemudian dia menurunkan tangannya dan melangkah ke kamarnya tanpa membalas ucapanku tadi.
***
Louis tetap berdiri di tempatnya, suasana masih hening saat dia tau bahwa di ruangan Zacklee terdapat sebuah ruangan rahasia. Zacklee mencoba mengalihkan pembicaraannya agar Louis tidak curiga.
Namun tetap saja, mata Louis tak bisa berhenti menatap ke arah dinding yang mana ruangan rahasia itu berada di baliknya. Aku duduk di sofa sembari melirik ke arah dinding, kemudian Zacklee mengejutkanku. “ apa yang kau lihat?” tanya nya.
“ tidak, aku tidak sedang melihat apapun” jawab Louis mengelak.
Zacklee mengangguk ragu, dia tetap yakin bahwa Louis kini curiga soal ruangan rahasia itu. “ ahh baiklah” ucap Zacklee.
***
Akhirmya aku pun tiba di depan rumahku, Steve keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu. Kemudian dia berdiri dengan tangannya yang di masukkan ke sakunya.
“ hmmm aku lega ibuku merestui hubungan kita” katanya padaku sambil tersenyum tipis.
Aku menatap ke arah wajahnya, dia benar-benar polos. Justru ibunya ingin menentang hubungannya denganku secara diam-diam. “ ya aku juga lega” ucapku singkat.
Setelah aku pulang dari rumah Steve dan menemui ibunya, aku mempunyai sedikit rencana. Rencana itu secara cepat datang ke otak kecilku begitu saja.
Steve hendak melangkahkan kakinya masuk ke mobil. Aku memanggil namanya, dan itu membuatnya terhenti. “ Steve” panggilku lalu dia membalikkan badan menghadap ke arahku.
“ ada apa Irene?” tanya nya pelan.
Aku mendekat ke arah Steve, lalu ku jinjitkan kaki dan ku dekatkan bibirku ke arah bibirnya. Aku dengan tenang mencium Steve di depan rumahku. Dia memegang rahangku dan mulai membalas ciumanku lagi.
Beberapa detik berlalu, aksi ciumanku padanya berakhir. Dia membuka matanya setelah menikmati ciuman itu dengan memejamkan mata. Kemudian dia menghembuskan nafasnya, nafas yang begitu hangat. “ mengapa kau menciumku?” tanya nya dengan wajah memerah.
“ kita harus melanjutkan hubungan kita” ucapku pelan lalu ku kecup lagi daerah dagu nya.
Steve memelukku dengan erat, dia mengusap-ngusap punggungku. “ iya, aku mencintaimu Irene” katanya.
Mungkin dia sangat serius terhadapku, dadanya berdegup begitu kencang. Aku bisa merasakannya. Tapi bibirku begitu berat untuk mengatakan kepada Steve bahwa aku mencintainya. Karena, sejujurnya rasa cintaku padanya sedikit demi sedikit pudar setelah aku pulang dari makam ibu.
Aku hanya mengelus punggungnya, “ cepat pulang! bukankah ibumu pusing?” kataku mengusir Steve dengan cara halus.
Pelukan itu berakhir, dia melepas pelukan itu. Kemudian dia tersenyum dan masuk ke mobilnya. “ aku akan pulang, masuklah ke dalam” Teriak Steve dari mobilnya sambil melambaikan tangan.
Aku mengangguk dan melambaikan tanganku juga untuk membuatnya percaya bahwa aku benar-benar tulus ingin lebih dekat dengannya. Aku menyoroti mobilnya yang mulai melaju meninggalkan rumahku.
Saat ku buka gerbang, dan ku masuk ke dalam. Aku sadar bahwa paman Lay menyaksikan tingkahku dari kamarnya. Dia menatap dari lantai dua, sambil merokok tenang.
Aku mendongakkan kepalaku ke atas, dia menatap mataku tajam. Beberapa hari aku tak melihat paman keluar dari kamarnya. Mungkin dia masih membenciku, karena aku berhubungan dengan Steve.
Aku melangkah masuk. Ku beranikan diriku untuk menemui paman. Karena bagaimanapun juga aku tidak bisa menyalahkannya yang selalu terobsesi dengan pembalasan dendamku.
Aku masuk ke kamar pamab tanpa mengetuk pintunya. Kemudian aku pergi ke balkon lantai dua tempat paman memantau ku bersama Steve. Dia membalikkan tubuhnya setelah sadar bahwa aku masuk ke kamar. “ paman” panggilku.
Paman mengangkat rokok yang di pegang nya, “ mau merokok?” tanyanya seolah dia sudah tak marah lagi.
“ hmmm?” kataku dengan mata melotot, karena aku begitu terkejut dia sama sekali tak mengusirku.