Adegan ciumanku dan Steve berlangsung sedikit lama. Aku tak menyadari bahwa seseorang sedang memantauku dari kejauhan. Ya, dia adalah paman Lay. Dia berdiri di balkon lantai dua sambil menghisap rokoknya.
Selepas kepulangan Steve dari rumahku, aku memberanikan diri untuk menemui paman. Jujur saja, paman tak pernah terlihat selama berhari-hari. Entah dia bersembunyi di dalam kamarnya, atau kabur. Saat itu aku sama sekali tak memerdulikan hal itu.
Lalu kali ini, aku memantapkan diri sebagai orang yang lebih muda untuk meminta maaf. Aku menggebrak pintu, paman pasti mendengar suara ricuh itu. Kemudian aku melangkah mendekat ke arahnya.
Sebelum langkahku semakin dekat, dia sudah membalikkan badan. Seolah dia tau bahwa aku tak hanya diam mematung di dalam kamarnya, tapi aku pun juga menghampirinya.
Paman menatapku, lalu dia mengangkat rokoknya. “ mau merokok?” tanya nya dengan santai.
Apa itu? aku mengangkat alis kananku. Reaksi yang hak terduga datang dari paman. Ku pikir selama ini dia masih memendam emosinya sendirian, tapi mungkin menyendiri adalah cara terbaiknya untuk menghilangkan amarah.
Aku duduk di kursi indah yang terletak di balkon. Paman menarik kursi dan memposisikan diri duduk di hadapanku. Aku menyoroti nya, dia benar-benar seperti orang yang baik-baik saja.
“ paman, kau baik-baik saja?” ucapku pertama kali melontarkan sebuah pertanyaan dengan komuk datar seperti biasanya.
Paman Lay tersenyum, hingga timbul lesung pipinya. “ ya seperti yang terlihat”
Aku berdehem, “ kau tau, semenjak aku mengalami masa-masa trauma itu. Ku rasa setengah kepribadianku telah berubah. Aku....sudah mulai lupa caranya meminta maaf dengan benar. Bahkan di hari-hari ku, aku tak pernah melontarkan permintaan maaf kepada seseorang. Tapi, kedewasaanku mengatakan bahwa aku telah salah kepada paman. Aku ingin mengucapkan permintaan maaf” kataku panjang lebar sambil membungkuk.
Paman bergelak ringan, “ walaupun kau seperti itu, paman yakin kau tetap berhati baik. Watakmu itu tak jauh berbeda dari orang tuamu” katanya bangga.
Aku termenung sekejap, kemudian aku bereaksi lagi. “ apa paman yakin aku akan berhasil?” Tanyaku pelan.
“ Ketahuilah nak, paman akan selalu ada di sampingmu. Jika kau belum berhasil, cobalah lagi, lagi, lagi, dan lagi. Ayahmu selalu mengatakan itu kepada paman” jawabnya.
Aku mendongakkan kepalaku, “ sudah ku duga, dia pria yang selalu bersemangat”
Paman lagi-lagi tersenyum sambil menghisap rokoknya, “ ya itulah Hans”
Aku merampas kardus rokok yang di pegang oleh paman. Paman memerhatikan itu, “ jangan menikmati benda ini sendirian. “ ujarku, sebagai tanda bahwa masalah ini sudah selesai. Lalu tak ada lagi kerenggangan antara aku dan juga paman.
“ apa kau dan Louis sudah baik-baik saja? bukankah dia juga marah padamu? karena kau berhubungan dengan bocah itu?” tanya paman pelan.
“ ahh ya benar juga” kataku
***
Matahari perlahan-lahan turun dengan sinar jingganya. Kini siang telah berubah menjadi malam. Hawa dingin masuk menyengat kulit. Aku berdiri di depan jendela sambil menatap ke arah luar.
Mataku mengingat-ingat ke kejadian siang tadi. Apalagi kalau bukan soal ibu Steve. Bukankah bagus jika aku lebih memancing emosinya? dia orang yang mempunyai penyakit? aku bisa saja membuat mentalnya lemah dengan merebut anaknya bukan?
Aku tiba-tiba tersenyum memikirkan rencanaku ke depannya, lalu ku teguk soju yang memang sengaja ku pegang untuk merelaksasikan otakku. “ matilah kau Ny.Zoe” gumamku pelan.
***
Di lain sisi, Steve menghampiri ibunya di kamar. Dia mondar-mandir memeriksa keadaan ibunya sedari tadi. Tapi ibunya terus mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Hal itu menjadi beban di pikirannya, karena Dia khawatir penyakit ibunya akan kambuh seketika.
“ ibu masih baik-baik saja?” tanya Steve sambil duduk di ujung ranjang tempat ibunya saat ini duduk.
“ ibu baik-baik saja” katanya namun dengan nada sedikit ketus.
Steve memegang tangan ibunya, “ menurut ibu, bagaimana itu Irene?” tanya Steve sambil tersenyum.
Ibunya terdiam, dia tak melontarkan sepatah katapun dalam dua menit. “ menurutmu dia orang yang bagaimana?” kata ibu nya yang akhirnya menjawab.
“ dia orang yang sangat baik” ucap nya.
Tiba-tiba ny.Zoe melepas genggaman tangan putranya, Dia berdiri sambil melipat tangannya. Dan Steve merasa janggal dengan hal itu. “ sebaiknya, kamu harus mengenal lebih dalam soal Irene nak” kata ibunya pelan.
Steve berdiri di samping ibunya, dia kemudian bertanya dengan alis yang mengernyit. “ apakah ada yang salah soal Irene?” tanya Steve.
Ibunya menatap Steve, lalu dia mengukir senyuman di bibirnya dengan kaku. “ tidak, ibu hanya ingin kau menemukan pasangan yang benar-benar tepat.” ujarnya.
Steve lega ibunya begitu yakin dengan Irene, dia Lega ibunya juga tak menentang soal hubungannya. “ ya, aku akan selalu mengenal Irene lebih dalam” jawabnya sambil tersenyum.
Dia keluar dari kamar ibunya. Ibunya menatap ke arah luar sambil melipat tangannya. Tatapan matanya begitu tajam, dia tak bisa merestui hubungan anaknya yang terlihat tengah berhubungan dengan seorang berandal.
Kemudian dia mengambil ponsel di dalam tas nya. Bu. Zoe menelpon salah satu orang suruhannya. “ halo, tolong cari tahu latar belakang pacar putraku. Namanya Irene! jika kau bertanya seperti apa dia, ikuti saja putraku kemanapun dia pergi. Dia sering pergi dengan pacarnya akhir-akhir ini” ucap Bu.Zoe mengirim perintah dengan tegas.
***
Di malam ini, Louis terlihat mengendap-endap pergi keluar. Dia ingin pergi ke rumah kakaknya dan membahas sesuatu yang begitu penting. Tak ada seorangpun yang terlihat keluar, kali ini dia bisa pergi dengan aman.
Louis memberhentikan taksi yang masih lalu lalang di jalanan rumah Zacklee. Dia menaiki taksi itu, dan akhirnya taksi itu tiba di depan rumah kakaknya.
Suasana begitu hening, Louis membuka pintu rumah tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Terlihat paman, Irene dan bibinya sedang melakukan makan malam bersama di ruang makan.
Irene menatap ke arah adiknya yang nampak lari tergesa-gesa, “ Louis apa yang kau lihat? ayo duduk” ucap sang bibi mengajak Louis makan malam.
Louis menghela napas panjang, dia menuang segelas air lalu meneguknya dengan sekali teguk. “ mengapa kau begitu haus?” tanya Irene dengan wajah datar sambil menyuap sesendok nasi.
“ aku ingin membicarakan sesuatu yang janggal dengan kalian” ucap Louis sambil menarik bangku dan duduk di bangku itu.
Tiffany menepuk pundak Louis, “ makanlah terlebih dahulu. Kau terlihat lapar”
“ ya, bibi benar juga. Perutku selalu berbunyi setiap kali aku pergi ke rumah ini” kata Louis sambil bergelak.
Bibi Tiffany menyentong secentong nasi kepada Louis. Dia terlihat ceria, lalu Irene memberikan sindiran. “ apa tuanmu tak memberimu makan? mengapa kau seperti orang yang tak makan lima hari?” kata Irene bercanda.
“ hei, mengapa kau berkata seperti itu? ya...tapi benar hahaha” jawab Louis di iringi suara kekehannya.
Paman dan Tiffanh turut tertawa, kemudian mereka semua melangsungkan makan malam mereka. “ setelah makan malam, jangan pergi kemanapun. Aku akan melaporkan sesuatu” kata Louis.
“ sesuatu apa?” tanya Irene.