Tiffany menghampiri paman Lay yang termenung di depan kolam. Dia hanya menggoyang-goyangkan gelas yang berisi teh dengan tatapan yang kosong. Tiffany mendekat, Lay sama sekali tak menoleh walaupun suara sepatu hak tinggi Tiffany terdengar sedikit nyaring saat menapak di lantai.
Tiffany menggerakkan tangannya dan mulai membuat paman Lah terkejut, “ Lay?apa kau baik-baik saja?” tanyanya sambil menepuk pundak Lay.
Paman Lay tersentak kaget, dia membuat teh yang di pegangnya tumpah. Dia menolehkan kepalanya ke arah Tiffany dan memberikan senyuman walau dirinya sendiri masih terlihat gugup. “ tidak, aku tidak apa-apa” jawabnya.
Tiffany melotot ke arah paman, “ apa kau sedang termenung? apa yang kau pikirkan?” tanya nya penasaran.
Paman menggelengkan kepalanya, “ tidak. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa” jawabnya singkat lalu dia membawa secangkir teh yang masih berada di genggaman nya.
***
Irene menghempaskan diri ke ranjangnya, dia terus mengingat ucapan Tiffany saat berada di jembatan kota. “ obsesi itu memang perlu” ucapnya sendirian.
Dia menatap ke langit-langit kamarnya. Mengingat-ingat bentuk makam ayah dan ibunya, dan tak terasa sebulir air matanya mengalir dari pelupuk matanya hingga menetes ke ranjang. “ bagaimana menurut ibu? apa aku anak yang durhaka?” tanyanya.
Irene menghela nafas panjang, dia memejamkan matanya. “ aku bersumpah, aku akan membalaskan dendam ini bu. Aku tidak bisa menbiarkan orang menindasmu dan membiarkanmu mati dengan cara yang salah” katanya lagi.
***
Paman Lay menaruh teh di atas meja yang tersedia di kamarnya dengan keras. Dia kemudian duduk di sofa sambil mengggigit jarinya. Entah mengapa dia sangat tersiksa dengan hal-hal yang pernah di lewatinya beberapa tahun silam.
Lima belas tahun lalu, Setelah dia mendengar bahwa Zyco telah mengkhianatinya, dengan berkata dan mengumbar jika dia secara diam-diam mengerjakan sebuah penemuan baru, Dia dengan spontan bergegas ke arah ruangannya.
Menyalin berbagai data dan memindahkan file yang bersisi soal penemuannitu ke dal flashdisk pribadi. Zyco nampak keluar dari kantor tuan Frederic sembari membawa sekoper uang.
Paman lay menatapnya tajam matanya, dia terlihat seperti orang yang tak pernah berkhianat. Jujur saja, pengkhianatan memang lebih sakit jika dibanding dengan luka yang menggores tubuh kita. Pengkhianatan itu membuat tubuh kita lebih tercabik-cabik bukan?
Dan sekarang paman Lay yakin, bahwa pengawal-pengawal tuan Frederic akan segera menangkapnya. Zyco berlari menghampiri paman, dia menarik tangan paman yang berusaha berlari dari hadapannya. “ Lay, apa yang kau lakukan?” tanya Zyco yang tak mengerti soal gerak-gerik sahabatnya itu.
“ kau, kau telah mengkhiantiku bukan?” ketus paman Lay sambil menghempas tangan Zyco yang menarik jasnya.
Dia memasukkan Flashdisk ke dalam jasnya, Zyco melihat itu. “ apa yang baru saja kau letakkan di dalam kerahmu?” tanya nya.
Paman Lay hanya terdiam, tapi matanya menghadap ke arah komputer. perlahan-lahan bola mata Zyco melirik ke arah komputer milik paman Lay juga. Otaknya kemudian mulai mencerna soal Paman Lay yang telah mencoba memindahkan data penemuan baru itu ke flashdisk pribadinya.
“ aku sudan mengenalmu lebih lama Lay, tapi ku mohon sekali ini kau menolongku” ujar Zyco dengan tangannya yang mulai mengepal dan ingin menonjok wajah paman Lay.
Paman Lay memberikan serangan pertamanya sebelum Zyco menonjok wajahnya, dia melayangkan tonjokkan dengan penuh amarah. “ dasar b******k “ kata paman emosional.
Zyco menendang perut paman Lay dengan keras, paman Lay sedikit terhempas ke belakang. Kemudian Zyco mendekapnya dan tangannya meraba ke arah Flashdisk yang tersimpan di balik jasnya.
Paman Lay mengerang, dia menggeliat. Kemudian sikutnya di benturkan ke arah Zyco yang mendekap di punggungnya. Zyco meringis kesakitan, paman lay semakin meraba flashdisk itu untuk memastikan bahwa itu masih aman.
“ Lay, kau benar-benar tidak ingin menolongku ya. Aku tau kau memindahkan semua penemuan mu ke dalam flashdisk” kata Zyco sambil memegangi dadanya yang kesakitan.
Zyco berlari ke arah paman Lay, seperti seekor singa yang berlari karena menemukan mangsanya. Paman Lay belum mengetahui secara pasti, mengapa Zyco melakukan hal seperti ini kepadanya. Apa pengkhianatan itu sebanding dengan uang?
Paman masih berada di puncak emosinya. Dia memberikan tendangan tajam kepada Zyco yang saat ini hampir mendekat ke arahnya. Zyco terpental, dia berteriak kesakitan. Seluruh staff dan pegawai mulai berdatangan satu persatu.
Dan tak lupa pula, dua orang pegawai tuan Frederic yang berusaha merampas hasil penemuannya datang dan mencari keberadaan paman Lay. Zyco menunjuk ke arah paman yang masih berdiri tegak. “ dia Lay, dia memasukkan semua data itu ke dalam flashdisk nya” kata Zyco yang lemas sambil menunjuk ke arah paman.
Dua pengawal itu mengalihkan pandangannya ke paman Lay, paman dengan spontan berlari menjauhi dua pengawal itu. Tempat pertama yang terbesit di pikiran nya untuk melarikan diri adalah area pemarkiran kendaraan.
Dia ingin mengambil mobilnya dan menancap gas untuk menjauhi dua orang itu. Tapi, dua pengawal itu memiliki kemampuan berlari yang cukup cekatan. Paman celingak-celinguk mencari mobilnya, dia bahkan tidak bisa ingat dimana tempat kendaraannya itu di parkirkan.
Dia meraba saku-saku nya untuk mengambil kunci mobilnya, tapi hasilnya nihil. “ sial, kunci itu tertinggal” ujarnya kesal dengan nafas terengah-engah.
Dua pengawal itu mulai datang, paman Lay kehabisan waktu untuk keluar dari area pemarkiran mobil. Namun sebuah tangga yang menuju ke atap menyihir matanya. Tanpa pikir panjang dia naik ke atap itu.
pengawal-pengawal tuan Frederic tak bisa berhenti untuk mengejar paman Lay yang kini menjadi incarannya. Paman Lay naik ke atas, dia menahan sakit di area lututnya.
Akhirnya dia tiba di atap, matanya tak melihat siapapun disana. Dan tak ada properti Lagi untuk dijadikan alat membela diri. Paman pergi ke tengah atap, dia terus mencari-cari sebuah benda agar bisa menyakiti dua pengawal itu.
“ tuan Lay, aku akan mendekat. Cepat serahkan flashdisk itu kepada kami” ujarnya.
Paman secara perlahan-lahan mundur sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Dua pengawal itu terus maju, hingga tubuh paman Lay menabrak ke tepian atap.
“ tuan Frederic menyusun pagar ini agar tidak ada seorang pun yang jatuh dari atap. Tapi jika kau tidak menyerahkan flashdisk mu, aku yang akan membuatmu jatuh” ujar salah seorang pengawal dengan suara menggelegar.
“ mengapa kalian sangat terobsesi dengan flashdisk ku?” tanya paman Lay.
“ karena temanmu yang membuat tuan Frederic terobsesi” katanya.
Dua pengawal itu terus maju, tubuhnya mulai mendekat ke arah paman. Mereka berdua meraba-raba tubuh paman. Dia mencari keberadaan benda kecil itu.
“ sialan, jangan sentuh aku” teriak paman, sambil menendang dan meninjuk ke kedua pengawal tersebut.
Dua pengawal itu memegangi ke arah tubuhnya yang sakit, kemudian mereka melayangkan serangan kepada paman. Mereka meninju ke arah wajahnya, hingga wajah paman Lay di penuhi dengan lebam.
Paman terus menepi ke pagar, sang pengawal mengambil flashdisk itu. Mereka mendapatkan nya, tapi mereka tidak lari. Melainkan mereka ingin mencoba membunuhnya dengan mendorong paman dari atap.
Paman mulai lemas, dia terdorong dan tubuhnya jatuh. Tapi tangannya tetap tekat untuk mempertahan dan mempertaruhkan nyawanya agar tak jatuh. Dua pengawal bejad itu memberikan smirk ke arahnya.
“ b******k” umpat paman sambil memegang ke pagar agar dia tak jatuh ke bawah.
Bola mata paman menatap ke bawah, dia mulai ketakutan karena gedung perusahaan ini begitu tinggi. Tangannya sudah tak tahan lagi, dia mengerang. “ arghhhhhh” teriaknya.
brak brak
Suara pukulan keras terdengar memasuki telinga paman Lay. Dia menatap lagi ke atas, tak ada lagi kepala dua pengawal Tuan Frederic yang berusaha memancing amarahnya.
Sebuah tangan menjuntai dan kepala seseorang muncul di hadapan paman Lay. “ ayo pegang tanganku, kau harus tetap hidup” katanya sambil menjulurkan tangan untuk menolong paman Lay.
Paman hampir tak memercayai di detik-detik terakhirnya dia bertemu dengan seorang malaikat yang berhati mulia. Tangan kanan paman dengan pelan merangkul ke tangan orang itu.
Dua tangan yang berurat itu saling merangkul, Paman terus terengah-engah. “ ayo bertahanlah. Kau harus hidup” teriaknya sambil mengangkat paman Lay ke atas.