Di jembatan kota itu aku berdiri. Menikmati pemandangan laut dan angin sepoi-sepoi untuk pertama kalinya bersama Tiffany. Aku meluapkan seluruh keluh kesahku kepadanya, duri yang membuat dadaku sesak itu perlahan-lahan mulai hilang walaupun rasanya masih membekas.
Panggilan masuk dari seseorang, aku menjawabnya tanpa melirik siapa orang yang meneleponku itu. Dan rupanya dia adalah Steve, “ halo ya ada apa?” tanyaku pelan dengan nada lelah.
“ bagaimana soal kunjunganmu ke rumah? apa kau sudah siap?” tanyanya dari seberang seperti halnya orang yang teramat sangat antusias.
Aku melirik ke arah Tiffany, “ kunjungan itu ya? aku akan mengabarimu nanti. Sampai jumpa” jawabku singkat lalu menutup telepon darinya.
Aku menghela napasku berat sembari ku taruh ponselku ke dalam hoodie yang ku pakai hari ini. “ aigu...bagaimana ini? apakah aku harus mendatangi rumahnya?” gerutuku meluapkan segala hal yang membuat perasaanku gundah.
Tiffany lagi-lagi mengusap pundakku berkali-kali, “ aku juga pernah muda. Aku mengerti perasaanmu” jawabnya.
Aku menatap ke arah wajahnya, “ sialnya paman juga pernah muda. Tapi dia juga tak mengerti perasaanku. Apa dia menikah bersamamu tanpa perasaan. Aahhh yang benar saja”
“ Orang tuamu sangat berjasa Irene. Mereka semua orang yang sangat mulia. Kakak..tidak pernah membedakan antara aku dan Lay. Dia tetap menganggap Lay adik meskipun dia hanyalah orang luar. Ada hal yang membuat pamanmu pasti menentang hubungan kalian berdua” kata Tiffany.
“ Dia terobsesi dengan dendam ini” ujar ku spontan.
Tiffany merentangkan kedua tangannya, matanya dipejamkan. Dia benar-benar menikmati suasana di jembatan kota. “ adakalanya seseorang harus merasa terobsesi agar dia bisa menuntaskan impiannya” tukasnya.
Kata-kata itu membuatku merasa tertampar. Apa jangan-jangan, aku tidak terlalu terobsesi pada dendam ini. Sehingga membuatku goyah di saat aku bertemu dengan Steve.
Tiffany membuka pintu mobilnya, dia memberi kode kepadaku untuk masuk. Kode itu membuat lamunanku buyar. Aku masuk ke dalam sambil meresapi ucapannya lagi.
***
Lima belas tahun silam
Lay terus mengotak-atik komputernya di ruang kerja. Semua rekan kerjanya mengetahui bahwa dia adalah orang yang benar-benar perfeksionis. Perusahaan memang menerima nya karena gelar, tetapi jika di tanya soal kemampuan. Mungkin bisa di katakan bahwa dia adalah dewa dari skill itu.
Salah seorang rekan kerja tak sengaja melihat Lay yang asik membuat penemuan baru lewat komputernya. “ Lay waktunya makan siang” ujarnya mengajak Lay untuk pergi ke kantin kantor.
Jika kau bertanya, dimakanah Lay bekerja? dia bekerja di perusahaan Listrik yang saat ini di kembangkan oleh Zacklee. Kala itu, bukan Zacklee yang berkuasa. Melainkan ayahnya, Tuan Zack Frederico Patria. Seorang kepala Direktur sekaligus pemilik perusahaan yang begitu inginnya menyaingi dan memasuki pasar asing.
Lay memiliki seorang teman bernama, Zyco. Dia bekerja bersama Lay di tempat yang sama. “ bagaimana dengan nikah muda? apa kau tak ingin menyusulku?” tanya Zyco sambil membersihkan sendoknya.
Lay bergelak ringan, “ ahhh aku harus mengumpulkan uang terlebih dulu. Untuk persiapanku nantinya”
Zyco tertawa, “ Lay...Lay...aku tidak terkejut jika kau akan berkata seperti itu” jawabnya.
Lay teesenyum sambil mengaduk-aduk nasi dan lauknya, “ bagaimana keadaan istrimu? apa dia baik-baik saja?”
Zyco menelan nasi yang berasa di mulutnya, “ begitulah, dia baik-baik saja. Aku sangat menanti kelahiran calon anakku itu. Kandungannya sudah membesar, itu membuatku lega ketika dia mengatakan bahwa bayinya begitu sehat”
“ hei-hei, kau beruntung. Sebentar lagi kau akan menjadi ayah” kata Lay.
“ begitulah, aku menabung untuk menyambut kelahirannya” jawab Zyco.
“ baguslah. Kau tipikal ayah yang bekerja keras. Anakmu akan menjadikanmu sebagai panutan” puji Lay.
“ aku berharap kau menyusulku hahahaha” kata Zyco sambil tertawa.
“ hei, jangan tertawa. Kau akan tersedak” Ucap Lay tersipu malu.
Keesokan harinya, Semua orang tampak seperti biasanya, tidak ada satu pun kendala yang terlihat di depan mata paman Lay. Namun, kendala yang sebenarnya terjadi di ruang direktur.
Zyco tak terlihat di ruangannya saat ini. Lay mencari-cari keberadaan sohibnya itu, namun dia tak menemukannya. “ kemana anak itu?” gumamnya sendirian sembari menatap ke arah ruangan kerja Zyco.
Beberapa menit kemudian, Lay merelaksakikan otot-otot jarinya, dia telah selesai menyelesaikan tugasnya. Dan ya seperti biasa, dia juga harus menyerahkan berkas laporan kepada sang direktur.
Di ruang kerja direktur, Tuan Frederic tampaknya tengah marah besar, dia melayangkan tangannya untuk memukul meja. Semua manager tampak tersentak, Lay mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka.
“ Pesaing telah menyaingi kita, saham kita turun. Siapa yang ingin bertanggung jawab atas kesalahan ini?” teriak tuan Frederic yang sedikit antagonis itu.
Semua orang menunduk, salah seorang pegawai kemudian mengangkat tangannya. “ aku pikir, semua orang berpindah dan memercayakan penggunaaan listrik mereka ke pesaing kita. Karena di sana lebih efisien dan penggunaannya tak menyusut banyak biaya. Mereka lebih mengedepankan keefisienan mereka”
Tuan Frederic lagi-lagi memukul mejanya. “ apa kau pikir kita juga tidak mengedapankan efesiensi kita?”
“ maafkan aku” ucap salah seorang pegawai yang tadinya mengajukan sanggahan.
“ Kita harus mencari cara baru agar kita bisa tetap mempertahankan perusahaan kita” Jelas tuan Frederic dengan suaranya yang begitu lantang.
Semua orang semakin menunduk ketakutan, “ Zyco, mengapa kau sama sekali tak menyuarakan pendapat mu?” teriak nya membuat Zyco tersentak kaget.
“ ma ma maafkan saya” jawabnya gugup.
“ aku tidak suka ketika pegawainya tak memberikan pendapatnya” Ujar tuan Frederic.
“ a-anu, a-aku melihat salah seorang pegawai mengembangkan penemuan baru. Apa kita harus mencoba menggunakan penemuannya. Dia orang yang pintar dan juga handal. “ kata Zyco.
Mata Lay terbebelalak lebar saat dia tau bahwa Zyco membocorkan soal penemuannya. “ apa yang di maksud Zyco itu adalah penemuanku?” gumamnya dalam hati kemudian dia lebih mendekatkan telinganya ke pintu.
“ siapa yang membuat penemuan itu?” tanya tuan Frederic membulatkan matanya.
Zyco mengangkap tangan kanannya ke atas sambil memejamkan mata, “ bolehkah aku berbicara secara empat mata bersama tuan Frederic? aku akan membahas ini. “ kata Zyco melontarkan sebuah pendapat.
Tuan Frederic menatap semua mata para pegawai yang meliriknya, dia memberikan kode semua pegawainya untuk keluar kecuali Zyco.
Semua pegawai akhirnya membungkukkan badan, mereka satu persatu keluar dari ruangan. Dan Lay dengan sigapnya dia bersembunyi agar para atasan yang keluar tak mengetahui jika dia tengah menguping.
Setelah semua orang meninggalkan ruangan tuan Frederic dan kembali ke ruangannya masing-masing, Lay masih saja menguping. Dia penasaran terhadap percakapan antara temannya dan kepala direktur itu.
“ apa tuan ingat bahwa aku pernah mengejak temanku bekerja disini? aku melihat komputernya. Dia sedang membuat sebuah penemuan, aku percaya dengan itu perusahaan kita akan kembali maju. Karena dia orang yang sangat perfeksionis” ucap Zyco sambil menunduk di hadapan tuan Frederic.
“ siapa itu?” tanya nya.
“ tapi aku ingin mengajukan sebuah permintaan, aku akan menyebut namanya jika tuan memberikan sebuah kompensasi kepadaku. “ Ujar Zyco memberanikan diri.
Tuan Frederic memukul meja nya, “ apa kau mencoba memerasku hah?” katanya dengan wajah yang mulai memerah.
“ a-aku melakukan ini karena aku memiliki sebuah alasan dan masalah. Jika anda tidak berkenan, saya ingin pergi ke ruangan saya terlebih dulu” kata Zyco sambil melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan sang direktur.
“ berhenti, baiklah aku akan memberikanmu kompensasi. Tapi, siapa nama orang itu? bisakah kau mencuri penemuannya?” kata tuan Frederic.
Langkah Zyco terhenti, dia membalikkan badannya ke arah tuannya. “ tidak, aku tidak bisa mencurinya. Jika kau mau suruh para pengawalmu untuk mencurinya”
Lay mulai emosi di balik pintu, dia mengepalkan tangannya setelah mengetahui betapa berkhianat nya teman dekatnya itu. “ baiklah, siapa namanya?” ucap Tuan Frederic.
“ serahkan kompensasinya terlebih dulu” kata Zyco memeras.
Tuan Frederic menghela napas, dia menyuruh pengawalnya untuk mengambil sekoper uang dari ruangan tempat dia menyimpan uang. Sekoper uang berada di hadapan Zyco, matanya mulai menghijau. “ dia adalah Lay, pegawai baru yang masuk ke perusahaan ini.” kata Zyco sambil mengambil sekoper uang yang berada di hadapannya.
Lay segera lari ke ruangannya, dia mengambil alih data-data penemuan baru yang di buatnya ke flashdisk pribadinya. Semua data itu di hapus, Zyco terlihat keluar dari ruangan tuan Frederic. Dia melihat Lay yang lari terbirit-b***t setelah melihatnya.
Ya, itu hanya sepotong kisah kelam yang di hadapi oleh paman Lay beberapa tahun silam. Kisah itu adalah awal mengapa dia sangat terobsesi dengan pembalasan dendam.
Dia telah melewati banyak kisah, termasuk pengkhianatan. Dan itulah mengapa, dia hanya terlihat baik-baik saja meskipun Tiffany telah mengkhianatinya.
Di bawah Gazebo yang di bangun di rumah Irene, dia mengingat semua kejadian itu. Apa hubungan kejadian itu dengan pembalasan dendam Irene?
Yang pasti semuanya saling berhubungan, karena apa? karena itulah awal bagaimana paman Lay bisa mengenal ayah dari Irene dan juga mengapa dia sangat amat menyayangi tuan Hans.
“ Lay, apa kau baik-baik saja” kata Tiffany menepuk pundak paman Lay.
Paman Lay tersentak kaget, “ apa kau melamun?” tanya Tiffany.