Langkah Louis terhenti, setelah dia mendengar gelak tawa yang terdengar dari ruang tamu di dalam rumah Zacklee. Dia mendekat ke arah ruang tamu dan membuka telinganya lebar-lebar.
Tangan Louis mulai mengepal, setelah dia mendengar bahwa kakaknya akan pergi berkunjung ke rumah Steve. Dia sangat amat tak menyangka, bahwa kakaknya akan bertindak sejauh ini.
Louis segera pergi, dan masuk ke dalam tempat tinggalnya. Lalu dia mengambil ponselnya dan menelepon kakaknya itu.
***
Ponsel berdering cukup nyaring, membuat Irene mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang di taruhnya ke meja. Dia mengambil ponsel dan menjawab panggilan telepon dari Louis.
“ ada apa?” katanya Pelan.
Louis mendengus kesal, “ aku ingin mendengar sesuatu yang seharusnya keluar dari mulutmu Irene” ujar Louis menahan amarah.
“ apa?” tanya Irene.
Louis menelonjorkan kakinya, dia menyender ke dinding. “ kau punya banyak hal yang selama ini kau pendam tanpa sepengetahuan ku, kau pasti ada hal yang seharusnya kau katakan. Contohnya meminta izin kepadaku, Karena aku adikmu” jelas Louis.
Irene merotasikan matanya ke kanan dan ke kiri, dia menghela napasnya. Dia mulai memahami apa yang di bicarakan oleh Louis. “ ahhhh tentu, aku mengerti apa yang kamu bicarakan. Ya! aku berniat untuk pergi ke rumah itu” ujar Irene pelan.
“ itulah mengapa paman menyebutmu sebagai anak yang tidak tahu diri” umpat Louis kesal.
“ berhentilah mengumpatiku, aku sedang tak ingin berkelahi denganmu Louis” ketus Irene.
Louis mengangguk-angguk, “ baiklah, begitulah orang yang memang telah di butakan oleh cinta. Kau mengkhianati kami semua Irene” ujar Louis lalu menutup teleponnya.
“ berhenti menyalahiku, hei....hei....” kata Irene berteriak memanggil Louis setelah dia mengetahui bahwa Louis menutup teleponnya secara sepihak.
Irene melempar teleponnya, dia merasa tak tenang. “ arghhh yang benar saja” gerutunya kesal.
***
Beberapa hari kemudian, Suasana berjalan seperti biasanya. Hanya saja ada hal-hal yang sedikit berubah. Dua saudara itu memutuskan komunikasi untuk sementara. Setelah Louis mengetahui bahwa kakaknya membuat rencana untuk menemui ibu Steve.
Dan beberapa hari Irene tak melihat paman Lay keluar dari kamarnya. Mungkin dia sedang kacau, karena mengetahui bahwa ponakannya itu menjalin hubungan dengan putra dari orang yang telah menghabisi nyawa kakak iparnya.
Begitu pula dengan Vincent Morgant, berhari-hari tinggal di dalam sel tahanan masih belum bisa membuatnya terbiasa. Dia terus saja menggerutu dan menatap ke arah Luar berharap dia bisa menghirup udara bebas.
Orang yang menjadi harapannya kali ini adalah Zacklee. Dia adalah orang yang akan di hasut dan di ajaknya kerja sama. Namun ya, selama beberapa hari ini tidak ada sama sekalipun nampak batang hidung Zacklee membezuk saudara tirinya itu.
Polisi masuk ke dalam ruangan Vincent, membawa nampan dan memberi sepiring nasi dengan lauk yang biasa di makan oleh para tahanan. Vincent menatap ke arah piring yang berada di hadapannya, dia menyingkirkan itu dengan kakinya.
Polisi menatap ke arah Vincent, “ makanlah pak, sudah berhari-hari anda hanya minum air” ujar si sipir itu.
“ apa tidak ada seorangpun yang menjengukku?” tanya Vincent.
Si polisi perempuan menggelengkan kepalanya, “ sejauh ini tidak ada”
Vincent membuang muka, dia merasa muak dengan semua yang terjadi. “ aku tidak salah, tapi mengapa aku harus di hukum seperti ini.”
Kepalanya mulai bergetar, dia tak bisa menahan amarahnya. “ Irene....bedebah itu, apa dia pikir aku tidak akan membalas perbuatannya? akan ku pastikan dia membayar apa yang di perbuatnya kepadaku” katanya sambil meremas botol air minum yang berada di depan nya.
Selang beberapa menit kemudian, Seorang polisi membuka pintu ruang tahanan miliknya. “ tuan Vincent, seseorang telah menjenguk anda” ucap si polisi.
Vincent membulatkan matanya, Dia sumringah mendengar kabar bahwa seseorang telah menjenguk nya. Dia berfikir, orang itu adalah Zacklee. “ ayo, ayo kita keluar” jawabnya antusias.
Dia berjalan masuk ke ruang bezuk, wajah sumringahnya mulai pudar setelah perlahan-lahan dia melihat Irene yang duduk di ruangan itu. “ aku tidak akan menemuinya, bawa aku masuk” gerutu Vincent pada sang polisi yang mengikat tangannya dengan borgol.
Irene tersenyum mendengar Vincent yang kian menyerah, dia bergelak. “ KAU MEMBERITAHU SOAL YAYASAN ITU VINCENT?” teriak Irene.
Vincent mengalihkan pandangannya ke arah Irene, dia yang semula ingin pergi dan meninggalkannya akhirnya duduk di hadapan orang yang membuatnya mendekap di penjara itu.
“ bagaimana kabarmu Vincent? kau baik-baik saja?” tanya Irene basa-basi.
Vincent tak memberikan jawaban apapun pada Irene, “ ku dengar kau memberitahu Zacklee bahwa aku yang merebut rumah sakit itu? “ imbuhnya.
“ apa Zacklee telah membebaskanmu? apa dia datang kesini untuk menjengukmu?” ujar Irene melontarkan pertanyaan berkali-kali.
Vincent terus saja diam, dia tak sama sekali berpikir untuk membalas perkataan Irene. Irene mengangkat alis kanannya, dia sedikit kesal. “ Arghhh kau sama sekali tak menjawab ucapan ku ya? sial, aku baru saja bermonolog. Baiklah, aku punya sesuatu yang akan membuatmu mengucapkan kata-kata itu”
Irene menolehkan kepalanya ke arah pintu ruang bezuk, dia menjetikkan jarinya dengan keras. Seseorang masuk dengan tampangnya yang begitu bahagia. “ haloo” ucapnya sambil melambaikan tangan ke arah Vincent dengan berlenggak seperti model.
Orang itu duduk di samping Irene, dia tersenyum ke arah Vincent. “ Tiffany, orang yang membuat Zacklee tak lagi ingin menemuimu” Kata Irene sambil menepuk pundak bibinya.
Vincent terkejut menatap ke arah Tiffany, “ si-siapa kau?” katanya gemetar.
“ oh ada apa? mengapa kau begitu terkejut melihatku? apa aku terlihat seperti hantu?” Ujar Tiffany sambil tertawa ringan.
“ Aku menyembunyikan kematiannya, orang yang kau kira mati itu bukan Tiffany Vincent. Dia tidak benar-benar mati. Apa kau mengerti mengapa Zacklee sampai sekarang tak membezukmu?” tanya Irene dengan wajah datar.
Vincent bergelak, “ apa maksudmu hah? dia pasti akan membezukku. Dan apa hubungannya dengan bibi jalangmu ini?”
Tiffany melempar ke berkas rumah sakit Oxford. Tercantum nama Tiffany sebagai pemilik rumah sakit itu. Bahkan Tak ada nama Irene sama sekali di berkasnya. “ Aku adalah pemilik nya. Aku sudah mengatakan kepada Zacklee kalau kau menyerahkan rumah sakit itu kepadaku. Pacarmu sendiri” tukas sang bibi dengan komuknya yang seolah ingin memancing emosi Vincent.
Vincent memukul meja, “ apa maksudmu jalang? beraninya kau bertingkah seperti itu? b******k” teriaknya dengan nada yang begitu tinggi.
“ bagaimana Vincent? apa kau paham dan merasakan bagaimana nikmatnya kau di permainkan?” celetukku pada Vincent.
Vincent menoleh ke arah Irene, Dia marah sambil menunjuk-nunjuk Irene menggunakan tangannya. “ Kau, aku akan menjelaskannya kepada Zacklee bahwa aku tak menipunya” teriaknya.
Irene memegang erat jari telunjuk Vincent, “ jelaskan saja semuanya, karena aku yakin dia tidak akan mau menolongmu. Dan, jadikan ini pelajaran agar kau tak mengusik ku dan adikku lagi. Paham?” kata Irene.
Dia terus mengenggam jari telunjuk Vincent dengan tatapan mata tajamnya. Suara retakan jari mulai terdengar, “ ahhhhhh sakit” teriak Vincent saat Irene hendak meremukkan jari telunjukknya.
Irene menghempaskan jari milik Vincent dengan keras, dia terus menatap wajahnya. “aku, tidak akan melupakan sebegitu buruknya wajahmu. Tiffany, ayo kita pulang” ujar Irene sambil menunjuk-nunjuk juga ke arah orang yang begitu di bencinya itu.
Tiffany mengangguk saat Irene mengajaknya pulang, dia melayangkan jari tengah ke hadapan Vincent dan membuat smirk di wajahnya. Vincent menendang meja, “ sialannnnnnnn aku benci anak itu” teriaknya meluapkan amarah.
***
Di area jembatan kota dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus, aku menikmati angin itu di samping Tiffany. Ini adalah saat pertama kalinya, aku begitu dekat dan menikmati angin kota ini.
Aku berdiri menghadap ke arah laut yang berada di bawah jembatan kota, “ saat aku berada di sini. Aku begitu mengingat, Dimana aku dan Louis lari dari tragedi itu saat masih kecil” ujarku.
Tiffany menatap dalam ke arah wajahku, “ kala itu aku sangat takut, aku selalu memikirkan ibu yang bertaruh nyawa melawan Zacklee.”
“ apa kau merindukan orang tuamu?” tanya Tiffany.
“ aku sangat merindukannya. Selama bertahun-tahun sebelum aku tidur, pikiranku selalu tak luput dari ayah, ibu dan Alana. Itulah mengapa aku sering menghabiskan waktu dengan minum alkohol. Hal itu membuatku sedikit tenang” jawabku.
Tiffany mulai membelai rambutku selayaknya seorang anak, “ bagaimana jika kau mengunjungi makam mereka? bukankah Lay sudah memberitahu dimana makamnya?”
Aku menghela napas, “ aku begitu malu ingin menampakkan wajahku ke tugu mereka. Itu karena aku tak bisa membalaskan dendamku yang ku pendam selama bertahun-tahun”
“ menurutmu, apa bagimu orang tua mu akan bahagia ketika kau telah balas dendam?” tanya Tiffany.
“ balas dendam adalah cara yang paling ampuh untuk membuatku bahagia. Orang tuaku mungkin akan selalu tenang, tapi bagaimana hatiku? hatiku tak tenang selama bertahun-tahun” tukasku.
“ lalu mengapa kau menjalin hubungan dengan pria itu nak?” kata Tiffany membuat topik soal Steve.
Aku lagi-lagi menghela nafas, “ itulah yang membuatku sadar bahwa itu kesalahan besarku. Mengapa, aku harus bertemu pria seperti dia. “
“ mencintai seseorang itu tidak salah. Tapi apa kata dunia jika kau menjalin hubungan dengan anak dari orang yang membunuh keluargamu?” kata Tiffany.
Aku mengangguk-anggukan kepalaku, “ ya kau benar. Sebisa mungkin aku harus menjauhinya”
Tiffany tersenyum mendengar keputusan akhirku. Tiba-tiba ponselku berdering, aku dengan spontan mengangkatnya tanpa memerhatikan siapa yang menelponku kali ini.
“ ya halo?” kataku dengan nada rendah sambil menggoyang-goyangkan kakiku.
“ apa? so-soal berkunjung ke rumahmu itu?” imbuhku terkejut.