PERASAAN

1291 Kata
Louis menghempaskan tubuhku masuk ke dalam mobil. Aku menahan air mataku yang selama ini terus saja meluap. Sebetulnya aku tau, Louis juga tak ingin pergi dari makam ayah dan ibu. Tapi entah apa yang ada di pola pikirnya? mengapa dia menyuruhku pergi? Paman Lay masuk menggebrakkan pintu dengan keras. Dia mulai menancap gas dan memutar arah ke jalan pulang. Louis termenung menghadap ke depan dengan tatapan kosong. “ mengapa? mengapa paman menyembunyikan makam ayah dan ibu?” tanya ku pada paman pelan. “ Karena aku ingin kau melihat mereka setelah kau menuntaskan pembalasan dendam mu” katanya singkat. “ Tapi mengapa kau terobsesi dengan balas dendam ini?” tanya ku lagi kepadanya. Paman tak menjawab perkataanku, dia tetap fokus mengemudi. Aku menendang kursi mobil yang di singgahi oleh paman. “ mengapa kau tak menjawab paman?” Tegasku. Louis mengangkat pistolnya lagi, dia menempelkan benda itu ke kepalaku. “ jangan banyak bicara Irene.” tukasnya tanpa mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku hanya bisa melirik ke arah Louis. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun saat berada di depan makam ayah dan ibu. Louis juga terlalu banyak berubah, dia sama sekali tak membelaku hari ini. *** Di lain sisi, Hari ini adalah hari dimana kita akan mengetahui seberapa lama Vincent akan di vonis dan dihukum setelah tragedi itu. Mobil tahanan telah tiba di depan gedung pengadilan. Ada banyak reporter di sana, Perusahaannya sendiri yang menjadi perusahaan berita ternama tak hadir di tempat itu. Rumor saham perusahaan VM Entertainment anjlok telah tersebar dimana-mana. Semuanya hancur lebur begitu saja ketika Irene mulai bertindak. Vincent duduk di hadapan hakim. Dia siap tak siap mendengarkan putusan hakim tersebut. “ DENGAN KASUS INI, TUAN VINCENT MORGANT DI KENAI HUKUMAN MAKSIMAL 15 TAHUN PENJARA” tegas sang hakim di hadapan publik sambil memukul palu nya tiga kali di meja hijau. Mata Vincent tercengang, dia berhenti mengotak-atik tangannya. “ sial, bagaimana bisa?” berdiri Vincent. Beberapa polisi menarik nya dan hendak membawa nya ke dalam sel. Zacklee datang dengan pakaian necis nya. Tak ada satu pun kamera yang tidak menyoroti dirinya, Dia berdiri di hadapan Vincent. “ kau setuju soal rencana kita kan?” ucap Vincent berharap lebih. Zacklee yang saat berpikir bahwa Vincent telah memperdayainya mulai geram. Dia mengingat tentang kejadian di rumah sakit itu. baginya, Vincent telah berbohong. Mengatakan bahwa pemilik rumah sakit itu adalah Irene, nyatanya Irene telah membuat aksi baru dengan menjadikan Tiffany sebagai pemilik palsu rumah sakitnya. Zacklee hanya tersenyum mendengar ucapan Vincent. Dia tidak mau terkecoh, di lain sisi dia juga ingin membuat Vincent terkurung lama di balik jeruji besi. Zacklee pura-pura tak tau dengan berkata, “ baiklah, aku setuju” jawabnya. Vincent lega mendengar jawaban dari saudara tirinya, “ akan ku pastikan kita berhasil” lanjut Vincent meyakinkan Zacklee. Zacklee terdiam, dia hanya bersikap tenang dengan menyimpan banyak rahasia yang telah di ketahuinya dari Vincent. Dia menepuk pundak Vincent berkali-kali, mengkuti alur permainnya. *** Setelah melalui perjalanan panjang, aku akhirnya tiba di rumah. Ku tatap wajah pamanku, dia tampak tak tenang hari ini. Bahkan dia enggan untuk menatapku lagi. Dia masuk ke kamarnya, ia menggebrak pintu dengan keras. Suara itu membuatku semakin yakin, bahwa paman memang benar-benar marah kali ini. Louis tetap terdiam di sampingku. Dia tak bisa berkutik, hanya saja aku mengerti. Dia saat ini tengah menahan seluruh air matanya. Tiba-tiba dia pergi, meninggalkanku sendirian di ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Tiffany datang, menaruh jasnya di kursi. Dia memposisikan dirinya di sampingku, dan menenangkan ku. “ apa ini? mengapa kau menangis?” ucapnya padaku. “ tidak, aku tidak sedang menangis” jawabku mengelak. “ ya aku mengerti, kau bukan orang yang dengan mudah menunjukkan kesedihanmu. Tapi, kau juga tidak bisa menyalahkan orang lain. Jika dia berasumsi bahwa kau sedang tidak baik-baik saja” Kata Tiffany lalu dia pergi mengambil sesuatu di dalam kulkas. Aku tetap melamun, intuisi di kepalaku berkecamuk. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan sekarang. “ adakalanya kau harus meluapkan seluruh keluh kesahmu kepada seseorang” Imbuhnya sambil menaruh soju di meja. “ mengapa kau begitu memaksaku?” tanya ku pelan. Tiffany menyuguhkan segelas soju kepadaku, “ Karena orang yang bersikap tenang belum tentu dia memang baik-baik saja. Bisa jadi mereka hanya ingin terlihat baik, padahal sesuatu terus berkobar di dalam dirinya.” katanya sambil mengedikkan bahu. Aku menghembuskan nafas berat, lalu ku teguk sebotol soju sambil berkata. “ aku memang sedang gamang” Tiffany menganguk-anggukkan kepalanya, “ apa yang membuatmu gamang?” “ paman Lay, Dia membawaku ke makam ayah dan ibu. Dia ingin aku menjauh dari Steve. Mengapa dia begitu tak memercayai jika aku saja tak mencintai Steve?” gerutuku sebal. Tiffany tersenyum, dia mengusap pundakku berkali-kali. “ sebaiknya, kau pikirkan perasaanmu itu” tukasnya lalu meninggalkanku. “ ahh sial, ada apa dengan orang-orang ini” umpatku. *** Air mata seketika meluap dari pelupuk mata Louis. Dia sudah tak bisa menahannya lagi, bertahun-tahun dia menyimpan seluruh rasa rindunya kepada sang ibu. Dan sekarang, dia baru tau dimana letak sesungguhnya makam orang tuanya itu. Dia memojok di kamarnya, duduk sambil berpangku tangan. Tiba-tiba ponselnya berdering, panggilan itu berasal dari Zacklee. Louis segera menghapus air matanya, dia menjawab telepon itu. “ halo?” ucap Louis. Zacklee baru saja keluar dari pengadilan, dia masuk ke dalam mobilnya. “ Louis, apa kau masih di rumah?” tanya Zacklee seperti seseorang yang tak memiliki kesalahan sedikitpun. “ aku ada di rumah temanku, ada apa?” jawab Louis. “ mengenai masalah itu, ya kau benar. Vincent berbohong” kata Zacklee. Louis menganguk-angguk, “ baiklah jika kau sudah mulai percaya” ujarnya. Louis keluar dari kamarnya, dia menatap ke arah kakaknya yang tengah termenung. Louis hanya melewati kakaknya itu, Irene berdiri dan melontarkan sebuah pertanyaan kepada sang adik. “ Louis, kau mau kemana?” tanya Irene. Louis menghentikan langkahnya, “ pulang” Irene menghampiri adiknya, “ tak perlu kau menyembunyikan seluruh air matamu. Aku tau itu” kata Irene. Louis mengalihkan pandangan wajahnya dari wajah Irene, “ Zacklee sudah curiga kalau aku adikmu” ujar Louis pada Irene. Irene terbelalak, “ apa Vincent sudah memberitahunya?” kata Irene. Louis mengerdikkan bahu, “ mungkin saja, Aku sudah menyuruh bibi ke rumah sakit. Seperti semua rencanamu” “ huh, baiklah bagus” kata Irene sambil menghela napas beratnya. *** Berkat Irene, Steve menjadi semakin dekat dengan ibunya. Berhari-hari yang selalu menjadi topik pembicaraan antara keduanya adalah Irene. Setelah kepulangannya dari rumah Irene itu, Steve lagi-lagi duduk di ruang tamu sambil mencurahkan seluruh isi hatinya. “ Aku beruntung bu, aku tak sia-sia mengejarnya” kata Steve. Ibunya menyeruput secangkir teh berwarna emas tersebut, “ Usaha tidak akan mengkhianati hasil nak” jawabnya. “ aku mengejarnya sudah sangat lama, aku sangat menyukainya. Dia begitu dingin, tapi entah mengapa itu membuatku lebih menyukainya. Apa aku salah?” Ujar Steve yang tersipu malu menceritakan sosok dambaannya. Ibunya bergelak, “ ibu tak menyangka kau sudah sedewasa ini sekarang. Tapi, kau harus memastikan dirinya baik agar kau tak membuat ibu khawatir” “ ya bu, dia orang yang sangat baik. Jangan khawatir” jawab Steve. “ ahh ya benar, bukankah kau berjanji akan memperkenalkannya kepada ibu?” tanyanya. Steve tertawa ringan, “ Aku sudah mengajaknya, dia setuju. Aku akan segera mempertemukan kepada ibu” Ibunya terkejut, kemudian dia tertawa. “ wahhh apakah ibu akan kedatangan seorang menantu?” kata ibunya, dan itu membuat Steve tertawa juga. Di lain sisi, pembicaraan itu terdengar oleh Louis yang baru saja tiba di rumah. Dia berjalan ke arah taman yang merupakan jalan ke arah paviliun nya. Namun, suara tawaan itu membuatnya terhenti. Dia terus menguping pembicaraan Steve, Dan mulai semakin tak menyangka ketika mendengar bahwa kakaknya akan pergi menemui Bu. Zoe. Tangan Louis kian mengepal, mendengar kakaknya akan bertindak sejauh itu. “ apa perasaannya begitu dalam?hingga dia ingin menemui ibu Steve?” gumam hati Louis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN