TIGA TUGU

1335 Kata
Ajakan itu perlahan membuatku gamang. Tak sama sekali terlintas di benakku, bahwa Steve akan mengajakku dengan serius guna mengunjungi rumahnya. Aku terus berpikir panjang, berharap paman Lay tak angkat tangan mendengar keputusanku. Dia menaikkan alisnya meminta kepastian dariku, aku berusaha berucap secara perlahan-lahan. “ baiklah. Aku akan ke rumahmu” kataku tegas. Steve mengukir senyuman di wajahnya, menandakan bahwa dia benar-benar bahagia. Makanan akhirnya datang, makanan mewah khas jepang yang menjadi menu favorit Steve. Dia memperkenalkan semua makanan itu kepadaku, seolah-olah bahwa kini hubungan kita sudah semakin dekat. Aku memang merasakannya, merasakan nikmatnya kenyamanan saat berhubungan cinta dengan seseorang. Tetapi apakah aku akan meneruskannya? mungkin saja tidak. Aku tidak ingin mengecewakan banyak orang yang berusaha menolongku dengan jerih payahnya. Melihat wajah paman Lay dan Louis, membayangkan berapa banyak peluh yang mengucur di dahinya membuat hatiku sedikit bergetar. Steve, apa aku hanya akan memperalatkanmu? Beberapa selang waktu kemudian, aku dan Steve usai menyantap makanan khas jepang yang bernama sushi itu. Dia mengantarkan ku pulang, aku keluar dari mobilnya. Kaca mobil terbuka secara perlahan-lahan, Steve mengucapkan sepatah ucapan selamat tinggal untukku. “ aku pulang dulu, hangatkan badanmu” Ujarnya sambil melambaikan tangan kanannya kepadaku. Aku melambaikan tangan kepada Steve, “ ya kau juga” kataku datar. Mobil Steve melaju, menuju ke arah jalan pulang. Aku masuk ke rumah, tampak Paman Lay dan Louis tengah duduk di ruang tamu sambil menatap ke arahku. Gerakan ku kaku, kala menatap tatapan paman yang begitu sinis dan sangat mengintimidasi. Dia menyeruput teh nya tanpa berkedip dan melihat ke arahku. Aku duduk di samping Louis namun tak melontarkan sepotong kata pun. “ apa kau sudah bersenang-senang dengan kekasihmu nak?” tanya Paman dengan logat menyindirnya. Aku melirik ke arah paman yang berada di depan mataku, ku hela napasku pelan-pelan. “ dia bukan pacarku paman” jawabku pelan dengan nada rendah. “ siapa yang membunuh ayahmu Irene?” tanyanya lagi, sambil melirik ke arah Louis. Aku pun turut merotasikan mataku ke arah Louis, dia hanya menatap tanpa membelaku. “ Zacklee, ayah...Steve” desisku. “ Jadi, apakah wajar jika kau berhubungan dengannya?” Kata paman Lay menyindir lagi. “ sudah ku bilang, aku tidak memiliki perasaan kepa...” sentakku. “ kau mencintainya Irene, kau mulai mencintainya” Tegas paman memotong pembicaraan. “ Tidak! aku sama sekali belum mencintainya. Kau salah” Teriakku pada nya. Paman bergelak ringan, “ kau belum mengaku jika kau tidak mencintainya?” “ Aku...sama sekali tidak mencintainya” Gumamku penuh penekanan. “ Kau itu mencintainya, sudah terlihat jelas oleh matamu. Bahwa kau mencintai...” ujarnya. Aku memotong ucapannya, “ TIDAK” teriakku lebih kencang sambil mengeluarkan pistol dengan pelan dan mengarahkan ke arah kepala paman Lay. Paman Lay juga turun mengambil pistol yang tersimpan di celananya, dia mengarahkan pistol itu ke arahku. Dan yang paling membuatku tak menyangka adalah, adikku Louis turut mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan pistolnya ke kepalaku. Dua senjata mengarah ke kepalaku, Aku kalah. “ Aku muak paman memaksaku mengungkapkan cinta. Aku sama sekali belum mencintainya” ujarku berteriak kepada paman. Paman Lay berdiri dari sofanya, aku mengikuti gerakannya begitu pula Louis yang tetap tekad untuk mengarahkan pistol itu kepadaku. Badanku mulai bergetar sambil melirik ke samping, “ Louis...kau sama sekali tidak membelaku ya” bisikku padanya. “ maafkan aku kak, kali ini aku berada di pihak paman Lay” jawabnya santai. Aku menghela nafas lagi. Aku mengaku kalah, mungkin jika mereka adalah orang lain aku masih bisa melawan mereka. Tapi, keduanya adalah orang terdekatku sendiri, tidak ada hal yang lebih indah dari kekeluargaan bukan? Aku menurun senjataku perlahan-lahan lalu mengangkat tangan, “ apa maumu paman? jika kau ingin menembakku. Tembak saja” kataku pasrah sambil menutup mata. “ berbalik badan, dan masuklah ke dalam mobil” Perintah paman Lay. Aku mengikuti perintahnya, dua pistol itu terus menjurus ke kepalaku. Aku berjalan ke arah mobil dan menjalankan apa yang diminta oleh paman. Louis duduk di sampingku, dia menjagaku. Sedang paman mengambil kemudi, dia mengemudikan mobil Tiffany ke suatu tempat yang bahkan aku saja tak mengetahuinya. Aku hanya bergerak, melepas rasa penat. Louis dengan sigap mengambil senjatanya dan mengarahkannya ke kepalaku lagi. Aku menatap ke arah Louis dan berkata, “ Tenanglah, aku hanya menggeliat tubuhku sakit.” kataku santai. Louis menaruh pistolnya lagi, “ aku hanya berjaga-jaga” jawabnya tenang. “ b******k” umpatku padanya karena membela paman Lay. Aku tiba di sebuah tempat, tempat yang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus di sana. Paman Lay turun, Louis juga turun dan tak lupa dia terus memantauku. “ Louis, ayo ikuti aku” Ujar paman Lay sambil memberi kode lewat tangannya. Louis mengangguk, Dia menjagaku dari belakang. Tapi aku juga tahu, bahwa Louis kebingungan. Dia juga tak mengetahui tempat ini sama sekali. Tempat ini mirip sebuah bukit, dengan jalanan yang sedikit menanjak. Ada tangga yang berjejer di antara celah bukit itu. Beberapa pohon juga berjejer, menghiasi jalanan dan mempersejuk suasana bukit. Aku tidak percaya, ada tempat yang nyaman di sini. Tapi, ini sangat jauh dari rumahku. Mungkin lebih pas mengatakannya jika tempat ini lebih dekat dengan rumah paman Lay yang dulu. Paman Lay menapakkan kakinya ke tangga, dia naik ke atas. Dan berdiri di sebuah tugu. Aku dan Louis menghampiri paman, dan menatap ke arah tugu itu. Tiga tugu saling berdampingan. Aku membulat, salah satu hal yang membuatku terkejut adalah nama Ayah, ibu dan Alana yang terukir di tugu itu. “ ayah....” desisku. Aku duduk bersimpuh di hadapan makam mereka. Jadi ini, ini makam ayah dan ibu yang selama ini ku cari-cari. Selama lima tahun, aku hanya mendoakan mereka sambil menatap bintang-bintang yang bertabur. “ ini makam ayah dan ibumu, juga saudaramu” kata Paman. Louis masih terdiam, dia tak mau berkutik. Aku tau dia masih syok, dia masih belum bisa memercayai semua ini. Tapi matanya tak bisa berbohong, dia bahkan tak bisa menahan air matanya, begitu juga aku. Tubuhku bergetar, Karena aku tak bisa menahan air mataku. Air mata itu mengalir begitu saja, walau aku bersikeras untuk menahannya. Rasanya seperti aku bertemu dengan mereka kembali namun dengan wujud yang berbeda. Tanganku bergerak dan hendak meraba ke tugu ayah, itu pun aku masih sedikit kaku dan tanganku terus bergetar tak karuan. “ Jangan sentuh tugu ayahmu, Jika kau masih mencoba mengkhianatinya” ketus paman Lay. Aku terhenti sejenak, tanganku mengepal. Aku meluapkan semuanya di depan makam mereka. Aku meluapkan kekesalanku karena tak bisa menuntaskan balas dendam ini setelah lima tahun. Semua air mataku mengucur. Aku malu dan aku merasa, Bahwa aku bukan anak yang baik. “ Aku tau Irene, kau mencintai lelaki itu. Kau sama sekali tak bisa berbohong di depan makam orang tuamu. Apa kau tak berpikir bagaimana sakitnya mereka ketika kau tau apa yang kau lakukan hah?” Kata paman Lay memarahiku. “ ayo kita pergi, Orang tuamu tak butuh orang sepertimu Irene” imbuhnya lagi dengan nada penuh amarah. Louis menunduk, menahan air matanya yang meluap. Louis menarik tanganku, dan menyeretku pulang. Aku menghempas tangannya dengan keras, “ apa yang lakukan b******k! aku juga ingin menemui mereka” teriakku pada Louis dengan air mata yang membasahi pipiku. “ pulanglah, jika kau masih mengkhianati janji dan sumpahmu. Lebih baik kau pulang, dari pada kau muncul di depan mereka sebagai b*****h” kata Louis sembari menyeka air matanya. Aku terdiam, apa benar aku telah mengkhianati seluruh janji dan sumpahku? Tapi bagaimana aku bisa menyalahkan diriku sendiri, padah cinta sejatinya berlalu begitu saja. “ Ayo Pulang Irene” Kata Louis yang terus menahan air matanya meluap. Aku menghempas tangan Louis yang menarikku, kemudian ku ambil pistolku lagi dengan gesit. “ JANGAN MEMAKSAKU, ATAU KAU KU TEMBAK” teriakku sembari mengarahkan pistol yang ku pegang ke arahnya. Dan lebih tak di duga, paman Lay melepas peluru ke udara. Dia menembakkan pistolnya ke atas, Aku dan Louis terkejut. “ Ada ibu dan ayah yang menyaksikan tingkah lakumu, jika kau ingin menembakku. Tembak saja!” Ujar Louis. Aku menatap ke arah tugu, Air mataku terus saja menetes. Ku turunkan senjataku ke bawah, “ Aku...ingin bersama mereka” kataku pelan dengan sebulir air mata yang menetes. Louis menatapku, “ Kita pulang sekarang” Jawabnya ketus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN