Ucapan Vincent menambah beban di pikiran Zacklee. Otaknya sibuk memikirkan soal siapa pemilik asli dan perebut yayasan besar milik nya. Jika dia hanya merebut yayasan mungkin itu hanya masalah kecil bagi nya.
Tapi yang menjadi duri di pikirannya adalah, ucapan Vincent yang mengatakan bahwa perebut yayasan miliknya adalah pengawal kesayangannya sendiri. Sebetulnya, ini adalah hal yang sedikit sulit di tebak dan di terka.
Karena ada begitu banyak pengawal yang di rekrut Zacklee, orang terpandang sekaligus konglomerat kaya itu. Namun yang hingga saat ini menjadi pengawal terdekatnya adalah Louis.
Disisi lain yang ia ketahui soal Louis adalah faktanya dia hidup sebatang kara. Tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa dia memiliki saudara. Saudaranya sendiri hanya Mihaw, yang saat ini telah tiada.
Kebetulan masalah seperti ini juga tak seharusnya ia jadikan alat untuk mencurigai Louis. Karena bagi Zacklee, tak ada salahnya jika menceritakan setiap masalah yang terjadi padanya untuk pengawalnya itu bukan?
Jadi dia berfikir untuk menceritakan semuanya pada Louis. Menurutnya, hal ini tak bisa dibiarkan karena. Jika salah satu saudara dari pengawalnya mencuri yayasan berarti mereka telah bersekongkol dan mencoba untuk melawan keras Zacklee.
“ Louis, aku ingin berbicara penting denganmu” kata Zacklee yang keluar dari dalam setelah masuk menemui Vincent.
Louis membulat, dia berdiri dan bertanya pada Zacklee. “ apa yang ingin kau bicarakan?”
Zacklee menatap ke beberapa pengawal lain yang juga mengawalnya kesini. Dia menjauhkan diri dari mereka. “ ikuti saja aku” ucapnya.
Louis hanya mengangguk dan segera mengikuti kemana Zacklee pergi. Akhirnya mereka berhenti di area parkir, tempat yang sedikit sepi dari kerumunan orang.
“ aku ingin bertanya padamu soal yayasanku” ujar Zacklee.
Louis lagi-lagi tercengang, “ Soal yayasan apa?”
“ Rumah sakit Oxford itu. Dia bilang, ada salah satu kakak pengawal yang merebut yayasanku dan dia juga membenciku” jawabnya.
Louis terdiam, kemudian dia melontarkan sebuah pertanyaan. “ memangnya siapa yang kau curigai?”
“ ahhh aku tak tau, apa ada pengawal lain yang menurutmu main-main denganku?” tanya Zacklee.
Louis diam mematung, dia tak tau nama siapa lagi yang harus dia jadikan korban. Zacklee menatap ke arah wajahnya. Beberapa detik berlalu namun tak ada satu jawaban pun yang keluar dari mulut Louis.
Seseorang menepuk pundak Zacklee, mereka berdua tersentak kaget. Orang itu adalah Ny.Zoe, istrinya sendiri. “ Zoe, apa yang kau lakukan disini?” tanya Zacklee.
“ aku memang sudah berniat menyusulmu, Zacklee...apa kau di tahan?” ucap Ny.Zoe
“ tenanglah, aku juga tak salah. Kau bisa tenang saja” kata Zacklee.
“ kita harus segera pulang, hari semakin larut” ajak Ny.Zoe sambil merangkul tangan suaminya.
Ny.Zoe menyeret Zacklee menuju mobilnya. Louis membuang nafasnya pelan-pelan kemudian dia pergi untuk pulang sambil membuntut di belakang Zacklee dan istrinya.
***
Bukti masih menjurus kepada Vincent bahwa dia pelakunya. Mulai dari pisau hingg cerita Zacklee hal itu tentu saja masih bisa di percaya. Pengacara masih saja sukar di hubungi, hal ini membuat Vincent harus di tahan di kepolisian dalam semalam sampai dia polisi bisa memecahkan kasus ini dan dia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
“ apa? aku harus di tahan disini semalaman? apa kalian sudah gila hah?” sentak Vincent yang tak terima mendengar kabar ini.
“ anda harus menaati seluruh perintah dari polisi. Semua bukti masih mengatakan bahwa andalah pelakunya” Ujar si polisi sembari menyeret tangan Vincent dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam sel.
Vincent menggerutu kesal sambil menghempaskan tangan polisi yang mendorong punggungnya, “ Tidak!! Ini semua hanya jebakan. Kalian tidak bisa asal menjebloskanku” teriaknya.
Polisi acuh terhadap teriakan Vincent, dia tak menjawab sepatah kata pun atas kekesalannya. Polisi itu terus mendorong tubuh Vincent ke dalam sel lalu mengunci pintunya.
Darah Vincent semakin naik dengan perlakuan sang polisi dan semua permainan yang dimainkan untuknya. Beberapa kali kakinya menendang ke kaki-kaki ranjang yang tersedia di dalam sel. “ Arghhhhhhhh”
***
Singgah di atas ranjang menjadi tempat ternyaman bagi seorang Louis. Apalagi kita singgah setelah menikmati hasil dari rencana jahat yang sukses dan lancar tanpa ada kendala satu pun.
Tapi sedikit hal mengganjal di hatinya, yaitu soal yayasan yang di bicarakan oleh Zacklee. Dia kemudian berdiri dan keluar dari paviliun untuk menelepon Irene dan memberi kabar soal ini.
Suara panggilan berlangsung, lalu irene menjawab. “ iya halo apa?” bisik Irene dari seberang.
“ aku ingin memberitahumu sesuatu” ucap Louis.
“ apa itu?” tanya Irene, dia terdengar tengah menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
“ Zacklee, dia membicarakan soal yayasan itu padaku. Vincent telah memberitahunya bahwa ada orang yang membencinya dan seorang kakak dari pengawalnya yang menjadi perebut rumah sakit Oxford” bisik Louis, memelankan suaranya sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
“ oh begitukah, Vincent sudah memberitahunya?” jawab Irene di seberang yang santai mengangkat selimutnya ke d**a.
“ mengapa kau tak terkejut? kau tahu soal ini?” tanya Louis.
“ tidak, aku baru mengetahuinya darimu. Tapi tenang saja, dia tidak akan mencurigaimu. Bahkan nantinya dia yang akan semakin membenci Vincent” kata Irene.
“ bagaimana kau bisa tahu?”
“ lihat saja, aku yang akan membuatnya membenci pada Vincent” ujar Irene.
Louis tak menyadari bahwa sepasang mata menatapnya dari kejauhan. Dia memantau Louis yang asik berdiri sambil menelepon di tepi kolam. Siapa lagi jika bukan Steve yang menjadi oknum paling menaruh rasa curiga pada Louis.
Dia mengendap-endap maju mendekati Louis dan berusaha menguping pembicaraan nya. “ kau ada dimana Irene?” tanya Louis pada Irene dan itu sedikit terdengar oleh telinga Steve.
“ aku masih di hotel” jawab kakaknya itu.
“ baiklah, jaga dirimu. Dan selamat untuk kerja kerasnya” Ucap Louis.
“ ya” kata Irene datar lalu menutup telepon.
Steve berfikir sejenak, dia mendengar bahwa Louis memberikan ucapan selamat pada Irene. Spontan mulutnya bertanya kepada Louis, hal itu membuat Louis terkejut hingga membalikkan badannya menghadap ke arah Steve.
“ Kerja keras apa? apa yang Irene lakukan?” celetuk Steve mengejutkan Louis.
Louis tersentak kaget, “ ahhh sialan” umpatnya sambil membuang nafas beratnya.
“ ayo cepat katakan Irene melakukan apa?” Tanya Steve memaksa.
“ mengapa kau tak menanyakan padanya saja jika kau penasaran? mengapa kau harus terus bertanya padaku? kau tak punya nyali? ahhhh yang benar saja” ucap Louis sembari memegangi dadanya yang terus berdebar karena terkejut.
“ apa kau tidak cemburu jika aku menelepon Irene?” Ujar Steve.
“ hei, untuk apa aku mencumburui orang sepertimu. Lagian Irene bukan siapa-siapaku, dia hanya ka...ahh sudahlah” ketus Louis lalu pergi meninggalkan Steve.
“ baguslah jika kau tak mengakui dia” sahut Steve bergelak.
“ Steve, aku tidak suka caramu mengejar Irene. Kau mengekangnya seolah kau adalah pacarnya. Kau melarangnya agar tidak menemuiku. Itu cara rendahan” kata Louis yang hendak melangkah pergi.
Namun dia berhenti lagi untuk memberi peringatan pada Steve, “ Dan satu lagi. Jangan terus-terusan berada di sisiku. Aku benar-benar risih”
Steve memasang muka muak, “ aku juga risih cuih. Issss benar-benar menyebalkan”
***
Keesokan harinya, Steve telah mantap di depan cermin sambil merapikan bajunya. Dia hendak pergi ke rumah Irene. Meminta maaf, dan ingin mengulang kembali semuanya.
Mungkin Louis benar, Dia terlalu mengekang. Tanpa sadari diri bahwa dia juga bukan siapa-siapa.
Suasana pagi ini sangat dingin, Steve telah sampai di jalan menuju rumah Irene. Nampak sebuah mobil antik terparkir disana, dia keluar dari mobil dan mulai mengetuk pintu.
tok tok tok
Seseorang membuka pintu dengan cepat, “ ya siapa disana?”
***
Suhu di kota semakin rendah saja. Hawa dingin menyengat membuat seukujur badanku merinding. Aku bangun tidur, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
Yang pasti aku juga akan pergi menemui Vincent morgant dengan santainya. Tak sabar melihat reaksinya, saat dia melihatku tepat di hadapannya. Lalu dia mengetahui bahwa aku lah penjebaknya hingga ia masuk ke dalam sel.
Ponselku berdering saat aku mencoba untuk masuk ke kamar mandi. Aku kembali ke ranjang dan mengangkat panggilan. Rupanya itu adalah panggilan yang berasal dari rumah.
“ ya halo?” ucapku.
“ Irene, ada Steve yang mencarimu” katanya.
Mataku terbelalak lebar saat mendengar nama Steve. “ a-apa Steve?”
“ iya dia”
“ Tiffany, jangan sampai paman Lay bertemu dengannya” Ucapku
Tiffany mengangguk, “ baiklah”
Sedikit ku merasa takut, jika paman Lay mengetahui soal hubunganku dan Steve. Apa yang akan dia pikirkan tentangku. Walaupun sebenarnya sendiri, aku tak memiliki sepuing perasaan pun kepadanya.
***
Tiffany duduk di ruang tamu menemani Steve, dia menatap anak itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Steve merasa gugup dan malu, melihat bibi Irene menatapnya.
“ ma-maaf apa ada yang salah denganku?” ucap Steve gugup
“ ahhh tidak, kau kelihatan sangat rapi hari ini” jawab Tiffany sambil mengibas-ibaskan tanganmya.
Steve terkekeh geli, “ iya..aku memang berniat menemui Irene. Apa bibi sudah tinggal disini?”
Tiffany mengangguk, “ iya, sudah beberapa hari. Hemmm sebentar aku akan membuat teh terlebih dahulu. Cuaca disini dingin”
Steve mengangguk-angguk sambil melayangkan senyuman kepada Tiffany. Kemudian dia pergi ke dapur untuk menyeduh air dan membuat teh hangat. Steve tetap diam sambil memainkan kakinya di ruang tamu.
Paman Lay tiba-tiba turun dari tangga sambil menguap dan mengusap-usap matanya. Steve menatap kedatangan orang yang sangat asing baginya itu. Lalu mata paman Lay juga tersihir pada sosok tampan yang duduk di sofa.
“ siapaaa?” tanya paman Lay menunjuk Ke arah Steve.
Tiffany yang berjalan hendak menuju ke Steve membuka matanya lebar-lebar, dia tak menyangka bahwa Steve akan bertemu dengan paman Lay secepat ini. Teh yang dibawa nya seketika jatuh, suara pecahan gelas itu memenuhi isi ruangan.
“ aakuu...” kata Steve namun dia menghentikan bicaranya karena Tiffany menjatuhkan cangkirnya.