Jika aku telah bersumpah, Maka aku akan terus memenuhi sumpah itu. Begitu pula, di kala aku mengatakan sumpah untuk membalas perlakuan Vincent terhadap adikku. Di situ pula, jiwaku mulai meronta untuk terus maju menjalani sumpah itu.
Mendengar kata keberhasilan karena aku telah sukses menjalani rencana ini membuat hatiku seketika bergetar. Tak kuasa menahan rasa lega, setelah berlama-lama menyimpan rasa sesak yang berkepanjangan di d**a.
Memang ku akui, bahwa aku pernah tenggelam ke dalam rasa kepercayaan kepada Vincent. Tapi benar kata orang, bahwa kita tak boleh seenaknya untuk membuat diri kita menaruh rasa percaya terhadap siapapun itu.
Lihat hasil nya ketika kau telah di khianati, jujur itu lebih sakit dari pada mengalami luka karena kau jatuh berkali-kali. Dan ku selipkan juga janjiku pada diri sendiri, untuk tidak memercayai orang seperti dia.
Rasa percaya itu layaknya cawan. Jangan sesekali di jatuhkan, karena jika kau menjatuhkannya yang terjadi hanya satu hal yaitu pecah. Dan pecah itu tidak bisa kau satukan seperti semula. Seperti halnya kepercayaan, jika kau hancurkan. Orang itu tidak akan menaruh rasa percaya lagi padamu. Sama seperti rasa percayaku kepada Vincent.
Aku menguping lewat pintu kamarku. Suara kisruh yang terdengar dari luar karena penyeretan Vincent tak henti-hentinya membuat hatiku sedikit berdebar. Keberhasilan ini membuat diriku bangga. Vincent telah kalah menghadapiku.
Beberapa orang yang menjadi tamu undangan terus mencemooh Vincent dari belakang. Insiden yang menimpa Marcus membuat semua hati orang terluka. Jujur, aku sama sekali tak tau siapa itu Marcuz. Mengapa dia menjadi orang yang di gemari banyak orang seperti itu?
Sekarang, Nampak Vincent telah masuk ke dalam mobil polisi. Beberapa bodyguard nya melongok saat melihat tuanmya tiba-tiba berada di dalam kawanan kepolisian dengan tangannya yang di borgol ke belakang.
Mereka menghampiri polisi itu, “ apa yang terjadi pada tuan Vincent?” ucap mereka secara lantang.
Polisi mengangkat tanda pengenalnya, “ kami dari kepolisian ingin membawa tuan Vincent ke kantor polisi untuk di mintai keterangan. Mohon koordinasinya, sekian terimakasih” jawabnya dengan hormat lalu pergi masuk ke mobil
Kepala kepolisian meminta Zacklee untuk ikut ke kantor polisi. Dia meminta Zacklee untuk memberi laporan seputar kejadian ini karena dia merupakan satu-satunya oknum yang terkait dengan kasus ini.
Aku menelepon paman Lay, “ paman, apa kau melihat bahwa Vincent telah di bawa oleh pihak polisi?”
“ ya, aku melihatnya dari dalam mobil. Rencana yang bagus Irene” ucapnya memuji.
“ Jika dia hanya masuk ke polisi aku tidak bisa membiarkannya paman. Aku harus membuatnya menderita secara perlahan-lahan” kataku tegas.
“ lakukan apa yang membuatmu bahagia nak. Aku akan terus mendukungmu! dan satu lagi, menginaplah di hotel itu semalaman. Pulanglah besok, agar tidak ada yang mencurigai mu”
Aku mengangguk, “ baiklah”
***
Louis terus membuntut di belakang Zacklee. Polisi turut mengamankan Zacklee juga, dia membawa Zacklee ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.
Hari semakin larut, Masalah juga masih baru permulaan. Pengawal-pengawal Vincent berkumpul di depan kantor polisi. Louis menunggu di ruang tunggu sambil menikmati malam dengan menghisap sebatang rokok.
Di lain sisi Zacklee duduk di hadapan polisi untuk di introgasi. “ baiklah tuan Zacklee, saya akan mengintrogasi anda seputar kasus ini”
Zacklee mengangguk pelan mengikuti alur. “ Apakah anda tahu mengenai kasus ini? apa anda terlibat?”
“ aku tidak terlibat dalam pembunuhan nya, sebelum melakukan ini dia sempat berkelahi denganku” kata Zacklee santai.
“ bisa anda ceritakan soal ini lebih lanjut?” Ujar si polisi.
Zacklee menarik nafanya pelan, “ Lampu hotel tiba-tiba gelap. Teman-teman perempuan berlarian satu persatu. Semuanya kacau dan berisik. Kebetulan aku dan istriku terpisah. Istriku sedang mengobrol dengan teman lamanya, di kegelapan itu aku ingin mencari istriku dan aku juga bersama pengawalku disana. Tapi dia izin untuk pergi ke toilet”
“ lalu di situ pula aku di tarik oleh pengawalku, dia akhirnya menemukan keberadaanku. tiba-tiba Vincent morgant menarik bajuku. Dia berteriak, aku menjadi tertantang untuk memukulnya”
“ lalu apa kau tau apa penyebab tuan Vincent membunuh korban?” ucap si polisi dengan tatapan mata yang serius.
“ teman-temanku berspekulasi bahwa dia salah membunuh orang. Dia mengira Marcuz adalah aku. Karena saat itu pengawalku meleraiku dan membawaku kepada istriku” jawabnya.
“ baiklah, terimakasih atas laporan anda. Kami berharap kita akan bisa bekerja sama untuk kedepannya.”
Zacklee merapikan jasnya kemudian pergi keluar ruangan. Dia menemui Louis yang sedang duduk di luar. “ ahh Zacklee, apa polisi akan menahanmu?” tanya Louis yang berdiri.
Zacklee menyuruh Louis untuk tetap duduk, dia mulai memposisikan tubuhnya di samping pengawalnya itu. “ tidak ada bukti kuat mengarah kepadaku. Aku hanya terlibat insiden perkelahian dengan Vincent. Jadi mereka tidak menahanku”
“ hmm baiklah, itu bagus” ucap Louis.
“ sebenarnya, kejadian ini sedikit mengganjal. Apa Vincent benar-benar salah membunuh orang? Aku yakin dia mengenaliku sepenuhnya walau di tempat gelap sekalipun” ujar Zacklee yang mulai curiga.
Louis yang sedikit kaku bersikap untuk tetap tenang. Dia sedikit syok mendengar Zacklee yang tiba-tiba menyadari bahwa ini semua memang ganjal. “ bukankah salah orang di dalam kegelapan itu hal yang wajar?” ujar Louis berusaha membuat tuannya percaya.
“ tidak, tidak. Aku berfikir ini semua tidak wajar. Tapi aku senang dia ada dalam kehancuran haha” katanya terkekeh.
Louis melirik ke arah Zacklee dengan tatapan tajam, kemudian dia melayangkan tawaan yang sedikit terpaksa. “ haha itu sudah sepantasnya” ucapnya.
***
Vincent Morgant duduk di hadapan polisi, Polisi mulai memeriksa dirinya yang duga menjadi pelaku utama dalam pembunuhan Marcuz.
“ tuan Vincent Morgant, mengapa anda melakukan pembunuhan ini kepada tuan Marcuz?” Ucap si polisi membuka pertanyaan.
“ aku tidak membunuhnya” jawabnya singkat.
Polisi semakin mempertajam tatapannya mengarah pada Vincent, “ Apa benar anda mengira tuan Marcuz adalan tuan Zacklee?”
“ tidak! aku tidak membunuhnya” ketusnya.
“ mengapa anda memegang pisau di dalam pesta itu?” tanya lagi si polisi.
“ SUDAH KU BILANG! AKU TIDAK MEMBUNUHNYA” teriak Vincent yang sudah hilang kesabaran.
“ Tuan Vincent Morgant, semua bukti mengarah kepada Anda. Anda harus menjawab semua introgasi dari kami. Apa benar kau berkelahi dengan Zacklee?” kata polisi.
“ biarkan aku menelepon pengacaraku dulu” sentaknya.
Polisi Akhirnya jenuh karena Vincent tak melakukan kerja sama dengan baik selama di introgasi. Dia menghela napas akhirnya Vincent di perbolehkan untuk menelepon pengacaranya.
Beberapa kali dia berkutat dengan ponselnya. Tak ada jawaban dari semua panggilan yang bisa membuat Vincent lega. Memang nya siapa yang bisa mau menjawab telepon selarut itu?
Zacklee melirik Vincent lewat jendela yang menembus ke dalam. Dia terkekeh melihat lawannya kebingungan. Lalu dia masuk untuk memancing emosi kakak tirinya itu.
“ halo Vincent Morgant” sapa Zacklee sambil tersenyum.
Vincent menatap tajam ke arah Zacklee, “ ini pasti ulahmu kan?” ucapnya sedikit emosi.
Zacklee bergelak sambil memasukkan tangannya ke dalam saku, “ bagaimana bisa kau menuduhku padahal kau sendiri yang melakukan ini?”
“ apa kau yang menaruh pisau itu ke tangan ku agar semua orang menyangka bahwa pembunuhnya adalah aku? rendah sekali kau” sahut Vincent merendahkan Zacklee.
“ Vincent, daripada kau sibuk menuduhku. Sebaiknya kau lanjutkan menelpon pengacaramu” Sahut Zacklee kemudian pergi dari hadapan Vincent.
Vincent menepuk pundak Zacklee sehingga membuat nya melirik ke arah Vincent, “aku yakin sebentar lagi kau yang akan hancur” ucapnya.
Zacklee menepis tangan Vincent lalu menghadap ke arah Vincent lagi. “ apa kau pikir aku sebodoh dirimu?”
Vincent bergelak, “ kau menyimpan musuh di dalam selimut Zack”
Zacklee tak bisa mencerna apa maksud dari ucapan Vincent. Dia melangkahkan tubuhnya ke depan dan semakin dekat dengan Vincent. “ apa maksudmu?” ucap Zacklee dengan nada yang sedikit rendah.
Vincent memiringkan bibirnya ke kanan, “ apa kau pikir aku merebut yayasan besarmu sendirian?”
“ tidak. Ada seseorang yang membantuku” imbuhnya.
“ lalu siapa dia?” tanya Zacklee serius.
“ katakan, mengapa aku harus memberi tahumu soal itu?” ucap Vincent.
“ katakan saja siapa dia” ketus Zacklee.
“ kakak dari pengawal kesayanganmu” jawabnya.
“ Aku lengser dari posisi sebagai kepala yayasan. Jadi kau berpikirlah dengan otakmu, siapa orang yang merebut yayasan itu. Yang pasti dia akan menghancurkanmu karena dia sangat membencimu. Aku akan menunggumu di dalam sel tahanan, tapi jika aku terbukti sebagai tersangka. Jika aku tidak terbukti, aku yang akan membuatmu mendekap di dalam hahaha” jawab Vincent lalu pergi menjauh dari Zacklee.
Zacklee menatap ke arah luar, Apa benar yang merebut aset besarnya adalah kakak dari Louis?
“ Louis?bukankah dia sebatang kara. Apa yang dikatakan Vincent itu benar?” gumamnya dalam hati.
Zacklee beranjak keluar, dia berdiri di hadapan Louis dengan sorot matanya yang mulai tajam. Louis berdiri menghadap ke arah Zacklee. “ Louis, aku akan berbicara padamu”
“bicara apa?”
“ ikuti saja aku”