POLISI DATANG

1435 Kata
Kejadian tak terduga ini membuat seluruh penghuni pesta menganga. Rencana yang telah di rancang berhasil di jalankan. Misi kali ini berhasil! Semua keringat yang mengucur tak berakhir sia-sia. Tubuh Vincent yang mulai kaku melihat sebuah kejanggalan yang menimpanya. Iya Vincent, ini adalah sebuah jebakan. Jebakan yang sengaja Irene ciptakan untuk membalasmu. Pisau yang menempel di tangannya itu menjadi bukti nyata bahwa dialah pelakunya. Tidak ada lagi yang harus kau pertaruhkan Vincent, Terlambat! Semua orang tidak akan memercayaimu. Irene mengibarkan bendera kemenangan untuk kali ini. “ Vincent, aku tidak percaya kau akan melakukan ini” Teriak Jumnyeon, Sobat dekatnya itu. Vincent menjadi semakin tak bisa berkata apa-apa, Louis melayangkan smirk di susul dengan Zacklee yang turut bersuka cita dengan kejadian ini. “ Ti-tidak, aku sama sekali tidak membunuh orang” Teriak Vincent berusaha membuat yang lain percaya. Zacklee menghampiri Vincent yang kini menjadi pusat perhatian, Dia bergelak. “ Bagaimana kau ingin menjelaskan bahwa ini adalah kebohongan Vincent? Bukankah pisau itu yang telah mengatakannya sendiri bahwa kau pelakunya. Kau menarik baju ku dengan kasar, lalu kau berusaha bertikai denganku. Tapi pengawalku menarikku ke tepian. Dan kau menarik Marcuz, lalu mengira bahwa marcuz itu aku.” “ iya itu benar, Dia mengira bahwa marcuz itu Zacklee” Teriak yang lain, membuat Zacklee semakin tersenyum. “ k-kau, jangan memperkeruh suasana. Apa ini semua rencanamu hah?” Sentak Vincent membantah. “ Semuanya, Aku sama sekali tidak membunuh Marcuz. Seseorang telah meletakkan pisau ini tepat di genggaman tanganku” imbuhnya memberi penjelasan. Semua orang saling berpikir, Mereka berbisik satu sama lain. Kemudian teriak salah seorang temannya lagi. “ Lalu siapa orang yang akan menaruh pisau itu ke tanganmu, Suasana gelap. Bahkan kami saja tak berani berpijak kemanapun.” ucapnya Vincent semakin membisu, dia kehabisan kata-kata yang hendak di lontarkannya untuk memberi sebuah penjelasan kepada teman-temannya. “ Irene, Paman rencana berhasil” bisik Louis di alat komunikasinya. Irene yang saat ini tengah membasuk bercak darah Marcus yang menciprar di wajahnya mulai senang, “ ya itu yang ku mau” katanya sambil tertawa jahat. Sedang paman nya terus memantau kondisi sekitar, setelah mendengar kabar itu dia berteriak girang. “ yaaaaaa akhirnya kita menang” Teriaknya. “ Lay, apa kita berhasil?” tanya Tiffany kebingungan saat melihat mantan suaminya itu bergembira. Paman Lay mengangguk, kemudian Tiffany mengangkat kedua tangannya ke atas karena sangat bahagia. “ Ahhhh aku lega” katanya sambil memeluk paman Lay. Suasana di mobil menjadi kaku setelah Tiffany melakukan reaksi yang tak di duga, “ emmm maafkan aku. Aku terlalu bersemangat” Kata Tiffany gugup. Paman Lay menatap wajah sang mantan dengan tersenyum, kemudian dia mendongakkan wajah Tiffany yang menunduk dan mencium bibir seksi Tiffany. Keduanya berciuman secara sengaja dan menikmatinya. “ paman kita harus merayakan ini” Ucap Irene sumringah. Ucapan Irene itu membuat kedua insan yang tengah b******u rayu terhentak kaget. Mereka menghentikan ciuman, “ i-iya kita harus melakukannya” Sahut pamannya sambil melirik ke arah Tiffany. *** Kedua Bodyguard melerai adanya pertentangan yang terjadi di dalam pesta setelah sibuk memanggil petugas keamanan untuk mengamankan kejadian tersebut. Keduanya melerai Vincent dan teman-temannya yang sedang berdebat hebat. “ Jangan ada kegaduhan di dalam pesta” teriak bodyguard itu dengan suara menggelagrnya yang memenuhi isi ruangan. “ omong kosong, Kemana kau daritadi mengapa kau tidak menghentikan kegaduhan saat padam?” teriak yang lain. “ kami minta maaf, Kami juga sedang menghentikan kericuhan yang terjadi di sini.” Jawabnya. “ petugas kepolisian akan segera datang, Jasadnya harus segera di evakuasi. Mari nyonya, Anda harus menenangkan diri” Ucap bodyguard yang lain sambil mengangkat istri Marcus yang lemas di samping jasad suaminya. Suara isak tangisnya tak bisa berhenti, Isak tangis itu terus-menerus terdengar tanpa jeda. Kejadian tak terduga itu membuat batinnya terpukul. Bak sebuah ombak menerjang bertubi-tubi, rasa sakit itu bisa di ibaratkan dengan itu. “ A-aku tidak ingin meninggalkannya...aku akan selalu berada di samping nya” katanya sambil menangis. “ Nyonya, ayo tenanglah dirimu terlebih dahulu. Polisi akan segera menyelidiki kasus ini” Ucap si bodyguard memaksa. Rekan si Bodyguard itu memberi bungkukan badan di barengi dengan pemberitahuan kepada yang lain. “ Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, Polisi akan segera menyelidiki kasus ini. Semuanya di mohon jangan pulang terlebih dahulu, sampai polisi memberi perintah kepada kalian untuk pulang. Sekian terimakasih” Ucapnya. Vincent terus tegang tak bisa berhenti, Zacklee menghampirinya sembari mengusap pundak nya. “ apa yang kau lakukan Vincent, mengapa kau menghancurkan hidupmu sendiri hahaha” Bisik Zacklee mengejek kemudian melewatinya. Darah Vincent mulai naik, dia tak terima soal jebakan ini. Salah satu dugaan yang kuat melekat di pikiran nya adalah Zacklee yang sengaja menjebaknya untuk mempermain dirinya. Dia berbalik badan ke arah Zacklee, “ jika kau yang memang melakukan ini, Aku bersumpah akan menyeretmu ke penjara” kata Vincent pada Zacklee. Zacklee terhenti dan mengalihkan pandangannya ke belakang dimana Vincent berdiri di belakangnya dengan tangan kiri mengepal dan tangan kanan yang mengenggam pisau. “ silahkan saja” sahutnya santai. Semua orang tetap berdiri di posisinya masing-masing, mereka menunggu polisi datang ke lokasi kejadian. Vincent menatap mayat Marcus, dia sama sekali diam tak berkutik. “ Paman, polisi akan datang sebentar lagi” Bisik Louis memberi informasi. Paman Lay mengangguk, “ Biarkan mereka mengintrogasi” *** Sirine polisi telah terdengar ke telinga paman Lay, Mobil itu dengan cepat terparkir di depan area hotel. Paman Lay melirik semua polisi yang keluar dan mulai menuju ke dalam. Suara depakan sepatu mereka masuk ke telinga Irene. Semua kawanan polisi itu berlari menuju ke lokasi dengan melewati kamar milik Irene. Dia mengintip di pintunya, “ Vincent habislah kau” gumam Irene sambil memiringkan bibirnya. Polisi masuk membuka pintu ruang pesta, mereka seketika terfokus pada mayat yang masih tergeletak dengan darahnya yang mengucur. Semua petugas sigap dan segera mengintrogasi mayatnya. Salah kepala polisi melirik ke arah Vincent yang berdiri dengan menggenggam pisau. Dia menghampiri Vincent yang di duga menjadi tersangka dalam pembunuhan kali ini. “ selamat malam, apa anda mengetahui semua tentang kejadian ini?” Tanya polisi itu. “ Aku.... benar-benar tidak mengetahuinya” ucapnya pelan dengan tatapan kosong. “ itu berbohong, Kau membunuh Marcus karena kau mengira ini adalah Zacklee. Polisi dia melakukan semuanya” Teriak yang lain. Polisi mengalihkan wajahnya ke arah para tamu yang berkumpul, “ Siapa orang yang bernama Zacklee?” Zacklee terhentak, dia dengan gagah dan mantapnya mengangkat tangan. “ Aku Zacklee” katanya dengan suara menggelegar. Zacklee menghampiri petugas kepolisian di dampingi dengan Louis. Louis terdiam namun dia sangat bahagia mengenai perkara ini. Louis berdiri di samping Vincent Morgant di saat Zacklee di mintai keterangan. “ bagaimana Vincent, bagaimana kabarmu setelah menerima kejadian ini?” bisik Louis membuat Vincent semakin emosi. Vincent perlahan-lahan menghadap ke arah Louis, “ Jangan menertawakan ku b******k” katanya. Louis bergelak menatap reaksi Vincent yang tak terduga, “ memang seharusnya kau tak melawan kakakku Vincent” bisik lagi Louis. Mata Vincent terbelalak lebar mendengar ucapan Louis, “ apa maksudmu? jadi Irene yang membunuh Marcuz?” “ mnurutmu?” Jawab Louis terus memancing emosi Vincent. Polisi datang menghampiri Vincent sambil mengangkat borgolnya. Vincent berusaha untuk mengelak dan menjelaskan semua yang terjadi pada polisi. “ Ti-tidak aku tidak melakukan ini. Biarkan aku menjelaskan semuanya pada kalian” “ tidak bisa tuan, segera jelaskan ini di kepolisian” ujar sang polisi memaksa Vincent sambil membawanya ke mobil polisi. “ polisi, orang itu memprovokasi ku. Dia menjadi dalang dalam pembunuhan ini” Teriak Vincent menatap ke arah Louis. Louis hanya memberikan senyuman tipis pada Vincent. Dia mengedipkan mata kanannya, untuk lebih memancing emosi lawannya itu. Rencan kali ini Berhasil, Irene menang tanpa ada satupun yang terlewatkan. “ misi selesai, semua lancar” bisik Louis di alat komunikasinya. Keadaan pesta menjadi muram, Darah membasahi lantai pesta. Semua orang pergi keluar satu persatu. Hanya tersisa beberapa teman Marcuz yang tak menyangka soal kepergiannya yang tak di duga-duga ini. Mereka menyoroti lantai tempat mayat Marcuz tergeletak, Kedua polisi memasukkannya ke karung jenazah. “ aku masih tak menyangka dia akan pergi secepat ini” ujar Junmyeon dengan air matanya yang hampir jatuh. Semua itu Kemudian keluar setelah mayat Marcuz di evakuasi. Tidak ada lagi yang namanya suka cita. Pesta ini menjadi pesta dengan kabar duka paling memukul di hati para teman-teman Marcuz khususnya Jumnyeon kawan dekatnya. Polisi menyeret Vincent keluar dari hotel dan memasukkannya ke dalam mobil polisi. Paman Lay mengintip melalui jendela. Nampak seorang Vincent yang sangat bingung dengan semua yang terjadi. Pengawalnya yang hanya berjaga di luar, datang menghampiri tuannya itu. Bertanya-tanya soal kejadian yang menimpa hari ini. Mengapa polisi membawa majikannya? apa yang di lakukan olehnya? Di seberang, paman Lay tertawa pelan melihat reaksi lawannya yang begitu ketakutan. “ apa yang akan kau katakan pada polisi Vincent?” ucapnya di sela-sela tawa nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN