Pagi itu menjadi pertemuan pertama bagi paman Lay dan Steve. Suasana menjadi senyap seketika ketika kedua pasang mata itu saling bertatapan. Mungkin Steve belum mengetahui siapa itu paman Lay.
Dan ya...paman Lay hanya ingin memastikan bahwa itu adalah Steve, Putra dari Zacklee yang berusaha di tembaknya dulu. Tiffany membulatkan matanya saat ia mengetahui bahwa paman Lay turun dari tangga dan bertemu Steve.
Otaknya mulai teringat ucapan Irene di telepon, Bahwa dia harus membuat Steve tak bisa bertemu dengan pamannya. Tiffany tak mengerti maksud dan Tujuan mengapa Steve tak boleh bertemu dengan Lay?tapi bagaimana lagi, jika itu adalah perintah dari Irene ia harus tetap melaksanakan.
Nampan yang di bawa oleh Tiffany seketika jatuh. Suara pecahan gelas mengganggu suasana yang senyap menjadi tak sunyi lagi. “ mmm ma-maaf aku tak sengaja menjatuhkannya” kata Tiffany gugup
Kedua mata mereka yang menatap Tiffany mulai saling menatap lagi. Paman Lay duduk di hadapan Steve. Steve tersenyum pelan sambil menatap lelaki yang kini duduk di depannya itu.
“ siapa namamu?” tanya paman Lay dengan tatapan serius.
“ aku Steve” jawab Steve
Paman Lay mengangguk-angguk, dia kebingungan mengapa anak Zacklee berada di sini. “ siapa yang kau cari?” kata paman.
“ emmm itu, aku mencari Irene” ujar Steve
“ Irene?” Ucap paman Lay memastikan.
Steve mengangguk mengiyakan, “ apa hubunganmu dengan Irene?”
“ kita berteman dekat, apa anda kerabat dari Irene?” Kata Steve melempar pertanyaan balik.
“ aku pamannya” kata paman Lay lugas.
Steve menjulurkan tangannya ke hadapan paman Lay, “ salam kenal paman” ujarnya sambil tersenyum.
Paman Lay menyoroti telapak tangan Steve yang menjulur di hadapannya, Dia tampak ragu untuk membalas jabatan tangan itu. Walau ragu-ragu, dia tetap membalasnya. “ iya salam kenal” jawabnya sambil menggenggam telapak tangan Steve.
Jadi seperti itukah, Dia sama sekali tak menyadari bahwa pelaku penembakan pada saat ulang tahunnya adalah Paman Lay. Orang yang duduk tepat di hadapannya.
“ jadi dia tak mengetahui aku siapa ya?” kata paman Lay dalam hati sambil mengusap-usap bagian belakang lehernya.
Steve berdehem, “ paman, dimanakah Irene?” tanyanya lagi.
***
Di lain sisi, aku tampak tenang membersihkan tubuhku di kamar mandi sambil bernyanyi tanpa khawatir bahwa Steve akan bertemu dengan pamanku.
Yang ku takutkan hanya hal sepele, aku tidak mau paman mengetahui bahwa aku berhubungan dekat dengan Steve, anak dari orang yang menjadi incaranku. Bagaimana reaksinya, dan apakah dia akan memarahiku atau melarangku?
Sebenarnya, sebelumnya aku tak mengetahui bahwa dia masuk penjara karena menjadi pelaku penembakan di rumah Zacklee. Aku hanya tau paman di penjara, tapi dia sama sekali tak memberitahu bahwa dia di penjara karena itu.
Dan setelah paman bercerita setelah kepulangannya dari penjara, bahwa dia tau aku dan Louis memiliki rencana besar untuk membalas dendam kepada Zacklee, aku jadi takut dia bisa melarangku untuk bertemu dengan Steve.
Dari relung hatiku yang terdalam, bukan aku tak ikhlas jika aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Aku pun tak mengerti apa yang terjadi pada diriku sendiri, mengapa aku merasa lebih berat jika Steve meninggalkanku. Ya...mungkin aku mau membagi hatiku sendiri antara cinta dan balas dendam.
Lalu rencanaku setelah ini adalah, aku ingin pergi menemui Vincent dan memancing emosinya. Aku tak sabar melihat wajahnya yang muram karena di penjara, ini adalah pembalasan paling ringan bukan? dengan menjobloskannya ke penjara walau dia tak bersalah?
Tak sadar aku terkekeh, tertawa sendirian karena membayangkan raut wajahnya yang lusuh. Aku tak sabar menertawakan penderitaannya. Lalu ku percepat mandiku, dan mulai bergegas untuk pergi ke kantor polisi.
***
Pagi sudah menjelang, semua orang berkativitas sesuai dengan kesehariannya masing-masing. Burung-burung menyeringai, menyambut sinar matahari yang memancar di balik awan.
Semua orang tampak bahagia menjalankan aktivitasnya pagi ini. Tak terkecuali Vincent, dia menggenggam jeruji besi sambil menatap ke arah luar.
Kantong mata membentang di bawah matanya, kedua pasang matanya sebam seperti orang yang tak tidur semalaman. Dia menggendor pintu berkali-kali, polisi keluar masuk ruangannya. Dia terus menggerutu semalaman.
Polisi terus menyelidiki kasus pembunuhan ini. Kasus ini mengatakan bahwa Marcuz mengalami luka tusuk sebanyak tiga kali. Sidik jari masih belum di temukan di tubuh Marcuz, hanya sidik jari Vincent yang di temukan di pisau itu.
Kemungkinan besar, polisi mengatakan bahwa pembunuhan ini adalah pembunuhan yang tak di sengaja. Seharusnya Vincent menyerang Zacklee, tapi dia menarik Marcuz yang menurutnya itu adalah musuhnya.
Semua orang yang datang ke pesta juga di introgasi, mereka terus berspekulasi bahwa Vincent memang tengah kehilangan arah dan telah salah dalam membunuh orang. Sidang akan di laksanakan besok, untuk mengetahui seberapa lama ia akan di tahan.
“ Tapi aku tidak membunuh siapapun polisi bodoh” teriak Vincent, dari balik jeruji besi.
Pintu tempat tahanan terbuka, Polisi memanggil Vincent karena ada seseorang yang hendak menemuinya. Vincent berdiri dari ranjangnya, dia pergi keluar.
Irene terlihat duduk sambil memainkan kakinya. Vincent terbelalak lebar saat dirinya mengetahui bahwa tamu yang datang membezuk nya adalah Irene. Irene tersenyum, tapi senyuman itu seperti orang yang tengah bahagia di atas penderitaaan orang lain. Ya..namanya juga Irene.
“ halo Vincent, apa kabar?” kata Irene membuka obrolan.
“ jangan terlalu banyak basa-basi” Ketus Vincent dengan wajah datar.
Irene lagi-lagi tersenyum, “ apa tidurmu nyenyak semalaman?”
Vincent menghela napasnya sambil menahan emosi, “ apa adikmu yang memberitahumu bahwa aku disini?” tanyanya di sela-sela emosi.
Irene mengangkat alis kanannya sambil smirk, “ Tidak aku mengetahui sendiri”
Vincent menatap mata Irene saat mendengar jawaban darinya, “ bagaimana kau bisa tau aku disini jika adikmu tak memberitahumu?”
Irene bergelak, dia kemudian memajukan bangkunya ke depan. “ menurutmu bagaimana aku bisa mengetahuinya?” kata Irene sembari mengibas-ibaskan rambutnya.
Vincent memasang wajah penasaran dan mengernyitkan keningnya, “ kau memata-mataiku?”
“ tidak, coba tebak lagi?” Ujar Irene santai.
Vincent berpikir keras, kemudian matanya terbuka lebar. “ apa kau yang merencanakan semuanya ini?”
irene tersenyum mendengar jawaban Vincent yang tepat sasaran dia semakin mendekatkan diri. “ Jika iya, bagaimana pendapatmu?” bisiknya pelan.
Vincent emosi mendengar jawaban dari Irene, dia memukul meja dengan keras. “ Jadi kau yang menjebakku hah?” teriaknya dengan suara keras.
“ Aku tidak main-main soal pembalasan dendamku padamu Vincent Morgant. Sekali kau berkutik dan mengkhianatiku, aku akan membalas perbuatanmu berkali-kali.” ucap Irene tegas.
“ Bagaimana, aku pandai menjebak orang bukan? Bukti akan terus menjurus padamu Vincent” imbuhnya lagi.
Irene pergi meninggalkan Vincent setelah memberi peringatan padanya. Vincent memandangi pergi nya Irene. “ Kau yang akan ku masukkan ke penjara Irene..” Teriaknya sambil memukul meja berkali-kali.
Polisi datang menenangkan Vincent. Dia terus berakrobat setelah mendengar bahwa orang yang menjebaknya adalah wanita itu. “ arghhhh” teriaknya meluapkan amarah.
Polisi menarik Vincent dan mendorongnya lagi ke penjara, “ Lihat wanita itu, dia pelaku sebenarnya” teriaknya lagi tapi polisi menghiraukan nya.
***
Aku keluar dari kantor polisi, Sorot matanya yang terkejut dan raut wajah marahnya membuatku puas. Tapi, ngomong-ngomong bagaimana suasana di rumah ku saat ini? apa Steve dan paman akan bertemu?
Mataku menatap ke arah arloji yang ku kenakan, masih cukup pagi rupanya. Tapi hari ini aku akan pergi ke rumah. Menemui Steve, dan jika dia bertemu dengan paman, aku akan menjelaskan semua hal.
Akhirnya aku tiba di rumahku, setelah ku berhentikan sebuah taksi untuk mengantarku pulang. Mobil Steve masih terparkir di area rumah. Terlihat bibi, paman, dan Steve tengah meneguk secangkir teh di ruang tamu. Suasana canggung macam apa ini?
Bibi menatapku, dia memasang wajah kaku nya karena dia tak bisa membuat paman Lay untuk tidak menemui Steve. Tidak ada yang saling melontarkan satu kata sedikitpun, “ selamat pagi semuanya” kataku gugup.
Steve mengalihkan pandangannya ke arahku, dia tersenyum. “ Irene” katanya senang.
Aku memposisikan diri di samping paman dan mulai berbicara, “ Bisa tinggal kan kami berdua?” suruhku.
Bibi dan paman pergi dengan tampangnya yang datar, aku mengerti mengapa mereka seperti itu.
Kali ini yang tersisa hanya aku dan Steve. Aku tertegun, menunggunya untuk melontarkan sebuah kalimat. “ Irene aku ingin berbicara penting padamu” katanya.
“ bicaralah” jawabku datar.
“ sebenarnya soal ucapanku saat aku di rumah sakit..”
“ apa?” kataku.