Sekarang yang di jadikan permasalahan adalah bukan tentang siapa yang dekat dan jauh dengan kita. Zacklee berpikir keras, dia tak bisa berhenti menghilangkan jejak perkataan Vincent di benaknya.
Jika di pikirkan dengan kepala dingin sekali lagi, Jadi Vincent Morgant selama ini bersekutu dengan orang yang membencinya ya?begitulah isi otak Zacklee saat ini.
Dia duduk di kursi kerja nya sambil menggoyang-goyangkan kursinya itu. Tangannya menopang dagu, Matanya di tajamkan. Dia terus berpikir siapa dalang atau orang yang di maksud oleh Vincent?
Dan ketika di perhitungkan lagi, Semua masalah yang menimpa hidupnya selama ini ada semenjak dia merekrut pengawal baru yaitu Louis. “ apakah benar, Louis memiliki seorang kakak selain Mihaw dan dia membenciku?” pikirnya.
Tapi bukankah dia pro dengannya? mendukung, memata-matai Vincent bahkan mengatur rencana untuk Vincent. Bisa jadi, di balik taktik nya itu Louis juga menyimpan beribu-ribu jurus yang dia pendam untuk melawan Zacklee. Ya...Otaknya mulai mengarah kepada Louis kali ini.
“ Zacklee....jangan pernah memihak siapapun. Louis bisa jadi musuh dalam selimut mu” ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Tiba-tiba tubuhnya berdiri tegak, dia merapikan jasnya dan beranjak keluar. Kacamatanya mulai di pasang, dia masuk ke mobil untuk pergi ke satu tujuan. “ kita ke kantor polisi yang semalam ku kunjungi sekarang” perintahmya, sang sopir pun mengangguk dan menancap gas.
***
Kedua mataku dan mata Steve saling bertatapan. Tak ada satupun di antara kami yang berkedip. Aku mengotak-atik kuku ku, lalu Steve mulai melontarkan sebuah kalimat padaku.
“ Irene..aku ingin berbicara padamu” katanya pelan.
Suaranya itu mendongakkan kepalaku yang menunduk, “ bicara saja” jawabku datar.
“ soal ucapanku di rumah sakit itu...”
“ apa?” kataku,
“ ayo kita kembali membuka lembaran baru, Kita harus saling mencintai lagi. “ Lirihnya sambil memainkan tangannya juga.
Aku terdiam mendengar ucapannya itu, Seketika aku tegas menjawab. “ Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan memanggilmu kembali, atau bahkan memujamu lagi. Aku hanya menerima seseorang yang mengerti diriku. Dimanapun dan kapanpun”
“ Aku....juga mencintaimu, dimanapun dan kapanpun” jawabnya.
“ lalu mengapa kau membuat keputusan untuk meninggalkanku?mengapa?hah?” ketusku.
Steve menunduk, Dia merasa menyesal. “ aku...tidak pernah percaya diri” desisnya.
“ seharusnya aku membiarkanmu merawatnya, aku terlalu takut untuk kehilangan mu. Padahal aku tau itu semua tidak akan terjadi. Hmmmm mungkin,” imbuhnya pelan sembari mendongakkan kepalanya saat mengatakan kata (mungkin).
Irene tak bisa berkata-kata, “ saat kau mengatakan bahwa kau akan berhenti mencintaiku. Aku berpikir kau juga berhenti mendambakanku. Jika kau tidak ingin mengejarku lagi, aku juga tak akan pernah mengejarmu. Cinta itu rumit, dan itu membuatku...muak” ucapku.
Aku berdiri dari sofa dan melangkah ke arah taman, Steve membututiku dari belakang. Sekarang aku dan dia, berdiri berdua di taman rumahku. “ siapa yang tidak akan mengejar mu lagi?” tanya Steve.
Aku melipat tanganku sambil menghadap ke arahnya, “ kamu....mungkin” kataku singkat.
Steve melangkahkan kakinya ke depan, Dia semakin dekat denganku. Mengapa di saat seperti ini dia harus mendekatkan diri denganku. Ahh bukan itu, sekarang dia memelukku. Iya, dia memelukku sambil memejamkan matanya seolah meresapi suatu hal yang rasanya nikmat.
Mataku membulat, aku menurunkan tanganku yang tengah di lipat. “ Aku...masih mengejarmu” bisik Steve di telingaku.
“ aku, ingin memperkenalkanmu kepada ibuku. Tapi itu jika kau mau.... mungkin” imbuhnya lagi.
Aku menghela napas, jantungku terus berdetak kencang. “ bawa aku ke rumahmu”
Steve tersenyum mendengar jawabanku, “ lalu...” ucapku
“ apa?katakan saja” Sahut Steve penuh kelembutan.
“ ayo kita sudahi saja pertengkaran kita, lalu kita ulangi kisah kita” tambahku.
Steve memeluk tubuhku lebih erat lagi setelah mendengar jawaban itu, Aku menepuk punggungnya dengan pelan berkali-kali membalas tangannya yang tak henti-hentinya mengusap punggungku. “ terima kasih” ucapnya.
***
Mobil Zacklee terparkir di depan kantor kepolisian yang sekarang menjadi tempat di tahannya Vincent. Rasa penasarannya itu membawanya hingga kesini. Dia keluar dari mobil lalu menapakkan kaki nya ke dalam kantor polisi.
“ halo selamat pagi “ ucap Zacklee menyapa si polisi yang tengah duduk di tempat duduknya.
“ siapa yang kau cari tuan?” Tanyanya.
“ aku ingin membezuk Vincent Morgant” jawab Zacklee
Polisi itu mengangguk dan mengantarkan Zacklee ke ruang bezuk agar bisa menemui Vincent. Beberapa menit dia menunggu, Vincent datang dan mulai duduk di hadapannya.
Wajah kusut dan emosional nya tetap saja terlihat. Zacklee menyoroti wajahnya beberapa detik kemudian mulai mengucapkan sebuah kalimat, “ Aku ingin menanyakan sesuatu padamu” kata Zacklee mulai bicara.
“ ya?” sahut Vincent singkat.
“ Siapa orang yang di maksud oleh mu tadi malam?” ujarnya.
Vincent bergelak, “ hahah apa kau takut dia akan menghancurkanmu seperti aku? ahhh sial, yang benar saja”Sahut Vincent.
Zacklee terdiam, menatap kaku wajah Vincent. “ Aku berjaga-jaga” ucap Zack
Vincent mengedepankan tubuhnya, dia berbicara serius kepada Zacklee dan mengajukan sebuah perjanjian. “ aku akan memberitahumu, tapi sebelum itu keluarkan aku dari sini” bisiknya pelan.
“ lalu jika aku mengeluarkanmu dari penjara , kau akan bekerja sama lagi dengan orang yang membencimu hah?” sentak Zacklee tak sejutu.
“ keluarkan aku dati sini, sebagai gantinya ayo kita bekerja sama untuk melawan orang itu” jawabnya santai.
Zacklee merotasikan bola matanya ke atas dan ke bawah, dia berpikir panjang. Tawaran Vincent cukup bagus untuknya. Setidaknya dia mengantisipasi agar dirinya juga tak di hancurkan oleh oknum itu.
Dengan tiba-tiba tangannya di julirkan ke depan Vincent, “ baiklah. Setuju!” tegasnya.
Vincent tersenyum memerhatikan tangan Zacklee yang mencoba menjabat tangannya. Ia pun membalas jabatan itu, “ bagus”
“ ayo katakan siapa orang itu?” kata Zacklee sambil melepas tangannya yang menjabat tangan Vincent dengan cepat.
Vincent menghela napas, “ Dia adalah Gadis muda bernama Irene, Dia yang mencoba merebut yayasan oxford darimu. Gadis itu cukup Anarkis, pintar, tentu saja dia juga pintar membunuh orang. Dia orang yang sangat membencimu” jawab nya panjang lebar.
“ Irene...? bagaimana ciri-ciri nya?” tanya lagi Zacklee.
“ orangnya putih, rambutnya menggerai. Dia sangat-sangat cantik, Ciri khasnya adalah dia memiliki tatto di punggungnya berbentuk pedang” jawabnya.
Zacklee mempersipit matanya, dia benar-benar serius menangani ini. “ lalu, siapa pengawal yang kau maksud tadi malam?” ucap Zacklee terus menerus.
“ Louis, dia adalah adik Irene” Katanya.
Zacklee terkejut, “ Yang ku ketahui, Louis hanya memiliki satu kakak bernama Mihaw”
“ Mihaw....? apa dia mencoba mengarang untukmu?” Ujar Vincent tertawa pelan.
Zacklee tiba-tiba berdiri, dia mengambil jas yang di letakkannya di kursi dengan cepat Kemudian dia lari menuju ke luar. “ Ayo kita pulang” suruh Zacklee pada sopirnya lagi.
***
Steve terus memeluk erat tubuhku, Dia tetap mengusap punggungku dengan baik dan lembut. Ini adalah pelukan ke sekian kalinya selama kita dekat, tidak ada kata melamar yang keluar dari mulut nya. Tapi, kita sama-sama tau kalau kita sudah saling menyukai.
Aku tau, bibi dan paman menatapku dan mengawasi ku dari dalam. Tatapan sinis paman sudah mengatakan bahwa dia sama sekali tak merestui hubunganku. Dan tatapan Tiffany kepada paman, menggambarkan bahwa dia sangat khawatir paman akan berbuat apa-apa atau bahkan memarahiku.
Ku lihat paman pergi meninggalkan Tiffany ke kamarnya, Tiffany pun pergi meninggalkan kita berdua. Sekarang, tak ada seorang pun lagi yang mengawasi kami.
Tapi ada yang janggal, Paman tiba-tiba keluar lewat pintu lain yang menembus ke taman. Dia membawa senapan kayu kesayangannya itu, dan membidik ke kepala Steve. Aku terkejut, melihat aksi paman yang begitu gegabah. Apa sampai seperti ini dia membenci keluarga Zacklee?
Steve hampir melepas pelukanku, aku tetap membuatmya memeluk erat tubuhku. “ kenapa Irene?” tanyanya heran karena aku tak mau melepas pelukannya.
Sedang aku tak mau melihat kelakuan pamanku sendiri yang sekarang berdiri jauh di belakangnya dengan memegang senapan kayu, dan mengarahkan senapan itu ke kepalanya. “ aku, hanya tidak ingin kamu melepas pelukan ini” jawabku.
Perlahan-lahan, tangan kananku meraba pistol kecil yang ke bawa di kantong mantel penghangatku. Aku mengeluarkannya dan mengarahkan pistol itu ke arah paman Lay.
Paman Lay membuka mata kanannya yang di pejamkan, dia menatap datar ke arah wajahku dan aku juga menatap tajam ke arah wajahnya. Ku beri kode kepada paman untuk menurunkan senjatanya. Dia menurutiku dan dia pun menurunkan senjata itu perlahan-lahan.
Ku masukkan kembali pistolku ke mantel penghangatku, aku memeluk erat tubuh Steve lagi sambil menatap marah ke arah paman Lay. Tiba-tiba paman menaikkan senapannya lagi dengan cepat, aku membuka mata, Lalu menjatuhkan tubuhku dan tubuh Steve ke kolam untuk berlindung.
dor dor dor dor
Beberapa peluru keluar dari senapan paman, dia terus menembak dengan lepas walaupun dia tau sekarang aku dan Steve tercebur ke dalam kolam.
Steve menutup telinganya saat mendengar suara tembakan itu, aku mencoba menenagkannya. “ Steve, kau tak apa?”
***
Zacklee datang dengan Murkanya ke rumah. Istrinya menyapa Zack di ruang keluarga tapi tak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut Zacklee. Dia saat ini tengah murka, berjalan ke arah paviliun untuk menemui Louis.
Tibalah dia di depan ruangan Louis, Zacklee mengendor-gendor pintu ruangan Louis tanpa henti. Dia benar-benar marah setelah mendengar bahwa pengawal yang menjadi adik dari orang membencinya adalah Louis, pengawal kesayangannya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Louis menatap ke arah wajah Zacklee yang menatapnya dengan tajam. Tangan Zacklee mengepal dengan urat-uratnya yang timbul, “ ada apa Zack?”