HUBUNGAN CINTA

1357 Kata
Seluruh badanku tercebur ke dalam kolam. Paman terus menekan pelatuk pada senapannya. Kami semua basah kuyub, lalu Steve mengeluarkan kepalanya dari dalam air dan akhirnya dia menutup telinganya dengan erat. “ Steve, kau tak apaa? Steve...” teriakku sambil berenang menghampiri Steve yang kini kaku dan gemetar. Paman menatap ke arahku, aku menatap matanya. Dia berhenti, tapi tak ada sedikitpun rasa bersalah. Tak ada permintaan maaf, dan tak ada rasa khawatir. Dia hanya bisa memberiku tatapan sinis kemudian meninggalkanku. “ Steve, kau tak apa? Steve?” ucapku pada Steve. Mengapa dia menjadi sekaku ini? mengapa dia tak bisa berhenti menutup telinganya? apa yang membuatnya ketakutan?. Memang, suara tembakan itu sangat lazim sebagai alat untuk menakut-nakuti orang. Tapi, bukankah dia memang sangat ketakutan terhadap pistol dan bunyinya. Steve, apa yang terjadi padamu? Steve menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, “ Tidak, aku tidak apa-apa” katanya pelan. Aku tau Steve, aku tau. Kau sangat ketakutan, kau tak bisa membiarkan tubuhmu melawan rasa takutmu. Bibirmu terus bergetar, dan seperti biasanya kau selalu pucat pasi. Mataku terenyuh menatapmu yang berusaha tampil baik-baik saja di hadapanku. “ maafkan aku,” kataku menunduk. “ tidak Irene, kau tidak salah. Apa kakimu terkilir? mengapa kita bisa jatuh ke kolam?” tanyanya sambil menahan hawa dingin. Jadi sekarang aku tau, Dia belum bisa menyadari suatu hal. Bahwa paman Lay hendak menembaknya dari belakang. Aku terdiam, dia menatapku sambil menaikkan alisnya menunggu jawaban. “ e-emm i-iya kakiku tadi terkilir saat aku ingin melepas pelukanmu” jawabku terbata-bata. “ tapi kau tidak apa-apa kan?” tanya nya lagi. Berhenti Steve, mengapa kau terus memedulikan kondisiku? padahal kau sendiri tak sedang baik-baik saja. Entah mengapa aku terus menatap kagum wajahnya. Dia meraba kakiku, “ apa benar kau tak apa?” tanyanya lagi khawatir. “ tidak, aku tidak apa-apa” kataku Steve mengangkat tubuhku, dia naik ke tangga yang berada di kolam. Kemudian dia naik, dan membawaku masuk ke dalam. Steve, apa kau sama sekali tak memikirkan kondisimu? “ aku bisa sendiri” ucapku padanya dan berusaha untuk turun. Steve semakin mengangkatku, “ tapi kau kesakitan, mana mungkin aku membiarkanmu berjalan dengan kakimu yang sakit” katanya menggendongku. “ aku bahkan bisa berlari Steve” Jawabku, “ tapi aku tak akan membiarkanmu berlari, kau paham?” Ujarnya sambil berjalan masuk ke dalam. Mengapa aku lemah? mengapa aku menjadi seperti ini sekarang? Benar, aku tak butuh pria manapun yang kuat untuk melindungiku, karena aku wanita kuat. Jadi ini yang di maksud semua orang? Bahwa cinta itu harus saling melengkapi? Jika Steve bahkan tak bisa membunuh beberapa orang jahat, Aku yang akan melawannya. Yang ku butuhkan adalah kasih sayangnya, dia memberiku kasih sayang dengan hal sesederhana ini. Dia memberi kasih sayang itu, yang dari dulu aku sukar untuk mendapatkan nya. *** Di sisi lain, seorang pria dengan wajah emosionalnya berdiri di hadapan Louis. Setelah mengetahui kenyataan dari Vincent bahwa ternyata Louis yang menjadi pengkhianat di sisinya, dia berdiri sambil mendengus. Tangannya mengepal, dia menarik kerah Louis lalu menghajarnya dengan keras. “ b******k, jadi kau yang mengkhianatiku hah?” Teriak Zacklee sambil menghajar Louis dengan kepalan tangannya. Louis sok pura-pura tak mengerti ucapan dari Zacklee, dia mengalihkan kepalanya berkali-kali untuk menghindar dari pukulan Zacklee. “ apa maksudmu Zacklee?” teriak Louis yang tak kalah nyaringnya. Zacklee naik dan duduk di atas perut Louis, dia menarik kerah baju pengawalnya itu sambil berteriak. “ kakakmu yang bernama Irene itu kan yang mencuri yayasanku? Pantas saja kau tak bisa ku hubungi saat aku meminta pertolonganmu untuk menghadapi masalah itu” teriaknya. Pukulan Zacklee terus menghantam arah Louis. Dia merasakan sakit di area kepalanya karena Zacklee tak bisa menghentikan pukulannya. “ Dengarkan aku...” teriak Louis berusaha menghentikan nya. “ dengarkan apa hah?” Kata Zacklee sambil melayangkan pukulan lagi. “ Bukankah kau yang membuat kakakku di bunuh hah? mengapa kau mengatakan nama Irene kepadaku?” Ketus Louis. Tangan Zacklee kemudian terhenti, kepalan tangan itu berhenti tepat di atas kepala Louis. Urat-urat tangannya terlihat jelas, dia menatap sinis wajah pengawalnya itu. “ mengapa kau menuduhku sembarangan? siapa yang mengatakan semua ini padamu? apa kau sudah memeriksa ke rumah sakit itu? apa benar perempuan bernama Irene yang kau bilang sebagai kakakku yang mencurinya?” Kata Louis menjelaskan namun mengelak. Zacklee mulai berpikir lagi, iya! dia bahkan belum memeriksa semua ini. Dia berdiri dan bangun dari atas perut Louis lalu menurunkan tangannya. “ kau tak memeriksanya bukan?” Imbuh Louis berdiri sambil memegangi kepalanya yang kesakitan Zacklee hanya melirik Louis, dia merasa bersalah karena telah salah untuk menduganya. Dia pergi dengan gayanya yang necis seraya merapikan jasnya yang mulai berantakan. Louis sendiri menatap tuannya itu hingga bayang-bayangnya sudah tak nampak lagi. “ ahhh sial, b*****h itu” gerutunya pelan lalu duduk lagi ke ranjangnya. *** Steve merebahkan tubuhku ke sofa, dia memerhatikan kaki ku yang sejatinya memang tak kenapa-napa. “ Steve, kaki ku tak apa-apa” ujarku. Aku berdiri memberi tahu kepada Steve bahwa kaki ku baik-baik saja. Dia terheran menatapku. Kemudian aku pergi dan mengambilkannya handuk mandi. “ pergilah mandi, gunakan air hangat untuk menghangatkan tubuhmu” kataku pelan sambil mnjulurkan sebuah handuk kepadanya. Steve mengangguk pelan, dia mengambil handuk yang ku genggam di tanganku. “ bagaimana dengan baju nya?” tanya nya. “ jangan khawatir, aku punya banyak baju pria” kataku pelan. Steve kemudian pergi ke kamar mandi. Yang menjadi tujuanku sekarang adalah paman Lay. Aku menatap ke atas, dan mulai menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya. Aku menendang pintu kamarnya. Dia nampak tengah duduk manis, sambil membaca koran tanpa memikirkan sesuatu yang terjadi sedikipun. Dan suara pintu yang kutendang itu membuatnya mengalihkan pandangan matanya ke pintu. Aku berdiri tegap dengan tatapan sinis dan wajah yang sangat marah. Kemudian aku menghampirinya. “ paman, apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan nada tinggi. Paman membuang korannya ke meja, kemudian dia berdiri. “ tak seharusnya kau melakukan itu” imbuhku lagi. “ seharusnya aku yang bertanya padamu nak, mengapa kau melakukan itu” ketusnya. “ apa? apa yang ku lakukan?” tanyaku Paman bergelak, dia memasukkan tangannya ke saku sambil tertawa. “ mencintai anak dari orang yang menghabisi orang tuamu sendiri? ahhh yang benar saja” “ apa kau tak merasa mengkhianati adikmu Louis hmm? kau melakukan tindakan bodoh itu dengan menjalin hubungan indah bersama Steve” Imbuh Paman Lay. “ aku ...tidak mencintainya” Desisku sambil membuang muka. Paman Lay selangkah menghampiriku, “ membuatnya jatuh ke kolam agar dia tak bisa ku tembaki adalah suatu bukti yang menunjukkan kau mencintainya” katanya tegas lalu dia pergi meninggalkanku. Aku juga bingung terhadap perasaanku sendiri. Tapi ketika Steve berada di sampingku, aku terasa nyaman. Aku membuatnya tercebur karena, pada saat itu aku belum siap kehilangannya. Hanya itu, dan itu saja! “ Irene...” panggil Steve dari lantai satu Aku mendongakkan kepalaku dan mulai turun ke lantai bawah. “ aku sudah mandi” Ucapnya. “ sebentar, aku akan mengambil baju ku dulu” kataku. Akhirnya beberapa setelan baju berukuran besar telah ku ambil dari kamar. Aku memberikan itu kepadanya. “ ini T-shirt dengan ukuran besar dan celana pendek ku. Mungkin itu akan cocok untukmu. Pakailah” suruhku padanya. “ kau juga, bergegaslah mandi. Udaranya akan semakin dingin, jangan buat tubuhmu sakit” jawabnya dan aku mengangguk. ***. Tiffany menarik tangan paman Lay jauh dari dalam rumah karena dia ingin membual untuknya. Insiden penembakan itu, juga membuat Tiffany takut. Dia mamarahi paman Lay untuk itu. “ Tak seharusnya kau ingin menembak pria itu Lay” Kata Tiffany yang berdiri di depan paman Lay. Paman Lay duduk di kursi sambil memainkan kakinya, tanpa memerhatikan Tiffany yang mengoceh. “ jadi, kau tau soal Irene dan Steve?” tanya nya singkat. Tiffany terdiam, Dia lalu angkat bicara. “ sejujurnya, aku menyadari itu dari lama. Tapi apa salahnya? bukankah itu hak mereka?” jawab Tiffany. “ tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi” sahut paman Lay. “ berhentilah Lay, kau tidak memiliki hak untuk itu. Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan seseorang. Rasa Cinta juga tak akan ada yang bisa di kendalikan.” tegas Tiffany. Paman Lay mengambil ponselnya dari dalam saku. Dia menghiraukan tanggapan dari Tiffany. “ halo Louis, paman ingin berbicara dengan mu” ucapnya yang menelepon Louis untuk membicarakan masalah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN