Tak ada hal yang lebih mengecewakan daripada kecewa yang sekarang terus membubung di hati paman Lay. Satu hal yang terus menjadi pertanyaannya. Bagaimana bisa seorang Irene yang berhati dingin jatuh cinta kepada anak dari incarannya sendiri.
Tiffany terus menggemakan amarahnya berkali-kali. Dia bersikeras agar paman Lay tak ikut campur terhadap permasalahan Irene. Tapi, Itulah paman Lay. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Wajah tuan Hans, ayah dari Irene dan Louis membuatnya terbayang-bayang. Ketika memori kelam itu terbesit di benaknya dia hanya bisa marah. Merasa bahwa dirinya tidak berguna, sebagai adik iparnya sendiri.
lima tahun silam....
Lay keluar dari mobilnya, dia tiba di depan perusahaan yang menjadi tempat bekerjanya itu. Profesinya adalah sebagai manager dari perusahaan domestik. Perusahaan yang selalu menyediakan busana-busana nyentrik nan menarik.
Teleponnya berdering, nama yang tertera adalah nama kakak iparnya yaitu Hans. “ halo kak? bagaimana kabarmu?” tanya Lay sambil menatap arlojinya dan berjalan masuk ke kantor.
“ Halo Lay, aku ingin berbicara denganmu. Aku ingin mendirikan perusahaan baru” Kata Hans dari seberang.
Lay tersenyum bangga mendengar ucapan dari ayah Irene itu, “ hahahah kak, Aku selalu bangga padamu. Setelah banyak sekali suatu hal yang menimpamu, kau masih saja bangkit.” puji Lay.
“ Apa kau bisa membantuku? mencarikan para investor untuk membangun gedung” Ucap Hans.
Paman Lay menjauhkan diri dari beberapa pegawai yang terlihat ramai, dia masuk ke lift. “ tentu saja, aku akan membantumu kak. Akan ku kabari bagaimana nantinya ya” Seru Lay antusias.
Dan selang beberapa hari kemudian...
Dia menelepon lagi kakak iparnya itu, saat dia duduk di restoran untuk makan siang. “ Halo kak, aku sudah mengumpulkan banyak investornya. Silahkan adakan rapat dengan mereka” ujar Lay memberi info kepada Tuan Hans.
Tuan Hans duduk di ruang tamu sambil meneguk secangkir kopi dan bergelak, “ ahhh Lay. Terimakasih banyak atas bantuannya” kata Tuan Hans mengucapkan banyak kata terimakasih atas bantuan adik iparnya itu.
Lay mengukir senyuman di wajahnya nya, “ iya kak, semoga berhasil. Dan maaf aku tidak bisa menemanimu” Kata Lay pelan.
“ tidak, tidak apa-apa. Bantuanmu sangat berarti bagiku” jawab Tuan Hans di seberang.
Lay berpikir bahwa kali ini dia akan berhasil mewujudkan impiannya itu. Menjadi pengusaha sukses yang bisa di kenal banyak orang. Dan ternyata itulah akhirnya, Akhir dari semua ini.
Dan setelah tuan Hans mengadakan rapat oleh beberapa investor, Keesokan harinya dia menelepon Lay untuk memberikan kabar. “ Halo Lay?” sapanya pelan.
“ ya kak? bagaimana soal Investor itu?” tanya Lay sambil berkutat dengan komputernya.
“ kemarin para Investor menyetujui bahwa mereka akan menanam modal di perusahaanku. Tapi, sekarang mereka banyak melakukan penolakan” desis Tuan Hans sambil menghela napasnya. Suaranya terdengar lesu di telepon.
“ apa? bagaimana bisa? bukankah mereka tertarik?” Kata Lay terkejut,
“ tidak, mungkin ini belum takdirnya aku membangun perusahaanku” jawabnya pasrah.
“ hei hei, tidak-tidak. Aku akan tanyakan ulang kepada mereka dan aku akan membujuknya” Ujar Lay merasa bersalah.
Lay menutup teleponnya dan dia beranjak pergi keluar untuk menemui beberapa investor yang di perkenalkan olehnya itu. Seluruh mata mengawasi Lay yang tiba-tiba pergi tanpa pamit sekalipun. “ hei Lay kau mau kemana?” teriak salah seorang rekan kerjanya saat ia pergi sembari memasang jaketnya.
Lay tiba di hadapan sang Investor. Dia duduk sambil menatap tajam matanya. Investor itu adalah salah seorang rekannya yang bernama Cleo. “ Cleo, apa benar kau membatalkan rencanamu untuk menanam modal di perusahaan kakaku?” tanya Lay.
Cleo meneguk air mineral yang berada di atas mejanya, “ ahhh iya. Aku lupa mengabarimu soal itu. Iya, itu benar” jawabnya pelan.
“ ayolah, mengapa kau membatalkan itu semua. Kakakku sangat pintar bahkan dia yang merancang pembangkit listrik yang terkenal itu. Aku yakin perusahaannya akan sukses” oceh Lay memaksa Cleo.
“ Tidak bisa Lay, aku sudah mengajukan pembatalan dan dia menerima nya. Dan lagipula, perusahaan itu belum berdiri kan? aku belum bisa menerka-nerka apa itu akan berhasil. Aku hanya takut aku salah arah dan membuat kesal kakakku. Dia yang menyerahkan perusahaan ini padaku” Kata Cleo.
Lay menghela napas, “ ahhh baiklah Cleo, tidak apa-apa.” ucap Lay sambil menjulurkan tangannya untuk meminta jabatan tangan.
Keduanya berjabat tangan, “ ya ya tolong beri semangat pada kakakmu. Aku minta maaf soal ini” jawab Cleo.
Lay menganguk-angguk, dia kemudian keluar ruangan sambil menahan wajah lelahnya. Lalu ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk yang berasal dari tuan Hans.
“ Halo kak?” sapa Lay sambil berjalan menuju ke luar perusahaan Cleo.
“ aku ingin memberi tahumu bahwa aku telah menemukan satu Investor yang akan berinvestasi di perusahaanku. Dia adalah Zacklee atasanku di kantor hahaha” Katanya sambil bergelak.
Lay membuka pintu mobilnya sambil tersenyum, dia menutup pintu mobil itu dan mulai menyenderkan tubuhnya ke mobil. “ Wahhh benarkah? aku senang kau mendapat Imvestor baru. Ku harap semuanya berjalan lancar” katanya senang.
Tuan Hans menganguk-angguk, lalu duduk di kursi kantornya. “ ya, ya aku berharap seperti itu. Ngomong-ngomong aku akan mengajakmu makan malam setelah aku mengurus semua ini”
“ iya baiklah kak” Jawab Lay.
“ oke, tolong jaga Tiffany dengan baik ya” kata Tuan Hans,
“ selalu” kata Lay singkat.
Lay kemudian masuk ke mobilnya, dia merasa lega. Dan saat kejadian itu menimpa keluarga tuan Hans, Lay ada di rumahnya. Dia tak memiliki firasat apapun jika akan terjadi sesuatu pada kakaknya.
Tiba-tiba lampu mati, Lay menelepon tuan Hans. Tapi tak ada jawaban dari dia sekalipun. Rasa khawatirnya itu mulai membubung, lalu dia mengirim pesan.
“ BAGAIMANA APA SEMUA BERJALAN DENGAN LANCAR?” ketiknya di pesan.
“ AJHK AKHDUNL” jawabnya di pesan.
Lay terkejut mendengar jawaban aneh dari kakak iparnya. Karena tak biasanya dia seperti itu. Kemudian dia bersikeras untuk mengirim pesan lagi kepadanya. “ APA SEMUA BERJALAN DENGAN LANCAR?”
Lalu yang menjadi jawaban hanyalah sebuah emoji menangis dengan sebuah pisau. Lay lagi-lagi terkejut, “ apa maksudnya ini?” gumamnya dalam hati sambil mengetuk dagunya berkali-kali.
Dia mengetik lagi, tapi beberapa kali tuan Hans mengirim banyak emoji menangis dan sebuah pisau. Lay tak tau maksud dari semua ini. Dan juga dia tak berpikir bahwa tuan Hans lah yang memegang ponselnya.
Lay mondar-mandir di depan sofa. Tiffany menatap tajam matanya, “ mengapa kau tidak duduk saja. Lampu disini mati, duduklah di depan lilin ini” ucap Tiffany.
Lay duduk di sofa sambil memutar-mutar kan ponselnya. “ apa kak Hans akan baik-baik saja?” tanyanya pada Tiffany.
Tiffany membual kesal, “ ayolah dia sudah besar. Mengapa kau memikirkan orang itu. Ahh yang benar saja” gerutunya.
Lay hamya mendengarkan ocehan Tiffany. Dia terus khawatir dan tak bisa memikirkan satu orang itu. Lay membuka ponsel nya untuk melihat jam. Hampir pukul 02.00 tepat. Namun lampu kota masih saja padam.
Dia menelepon lagi tuan Hans karena risau. Namun tak ada jawaban lagi darinya. Dia mengirim pesan singkat, tapi juga tak ada jawaban. “ mengapa dia tiba-tiba tidak bisa di hubungi?” desisnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Lalu keesokan harinya, dia pergi ke rumah tuan Hans. Walaupun rumahnya cukup jauh, tapi siapa yang bisa menghentikan rasa khawatirnya itu?. Semua orang terlihat memenuhi halaman rumah tuan Hans.
Mereka semua saling berbisik, Lay terus curiga tentang apa yang terjadi di dalam rumahnya. Lalu dia menyerobot melewati kerumunan orang-orang dan hampir melintasi garis polisi.
Seorang polisi menarik tangannya, “ jangan melewati garis polisi tuan” ucap polisi itu.
Tiga mayat di keluarkan dari dalam rumah. Mata Lay semakin membulat, dan seluruh pelupuk matanya tergenang oleh air mata. “ a-apa yang terjadi?”tanyanya sambil menepuk tubuh si polisi.
“ terjadi pembunuhan di dalam rumah ini tuan. Tiga orang meninggal. “ jawab sang polisi.
Lay menyeka sebulir air matanya yang jatuh, “ sekitar jam berapa kejadiannya?” katanya menahan tangis.
“ saat pemadaman kota terjadi. Kurang lebih “ jawab si polisi.
Lay mengecek pesan dari ponselnya. Dia menatap tanggal saat melihat pesan aneh yang terkirim dari ponsel tuan Hans. Tangannya gemetar, dia lagi-lagi tak menyangka bahwa di saat itu telah terjadi pembunuhan berantai di rumahnya.
Lay masuk ke mobilnya tergesa-gesa. Dia meminum sebotol air karena tak menyangka, sekujur tubuhnya terasa dingin. Apalagi dia tak bisa menahan tangannya yang gemetar.
Dia berpikir, bahwa pesan aneh itu mengisyaratkan sedang terjadi sesuatu di sekita rumahnya. Dan itu memang bukan ketikan yang berasal dari jari tuan Hans. Entah itu Alana, Louis, atau Irene yang sedang meminta tolong saat itu.
Lay menyenderkan kepalanya ke setir mobil, Air matanya menetes beberapa kali. Dia merasa bersalah, karena tak menemui tuan Hans di saat pesan aneh itu dikirim. Dia menggenggam ponsel itu dengan erat, sambil meluapkan air matanya.
Kejadian lima tahun itu, menjadi sejarah kelam bagi paman Lay. Dan mengapa dia sangat berambisi untuk menghabisi Zacklee saat itu juga. Saat Irene dan Louis pindah dia tak sengaja mendengar percakapan bahwa Zacklee lah yang mamanipulasi publik dengam berkata bahwa tuan Hans pembunuhnya, padahal dia sendiri.
Dan saat itulah dia mulai latah, hendak menyerang Steve dengan segala upayanya. Kali ini paman Lay menatap ke arah kolam dengan tatapan kosong. Sejarah kelam itu, terlintas di benaknya begitu saja dengan menyisakan luka mendalam di hatinya.
Louis yang saat ini tiba di depan rumah kakaknya itu hanya bisa berdiri, menatap ke arah mobil yang terparkir di halaman rumah. Mobil yang terlihat familiar di matanya. “ ahhh mengapa ada Steve disini” katanya kesal.
Dia menelepon pamannya, suara deringan ponsel itu membuat pamannya yang sedang melamun terkejut seketika. “ halo paman, aku sudah di depan. Aku tidak bisa masuk ke dalam. Temui saja aku di luar, dan ayo kita bicara” kata Louis.