INGATAN YANG MASIH MEMBEKAS

1612 Kata
Beberapa kali aku menatap ke arah Spion, mobil putih itu terus membuntut di belakang kami. Itu sebabnya aku terus menyuruh Steve berbelok di sebuah gang, jika dia memang tak ada niat mengintai, dia tak akan terus-terusan berada di belakang. Aku mengigit jari manisku sembari menyoroti mobil yang melaju di belakang, ku suruh Steve untuk menghentikan mobilnya. Ini bukan pertama kali nya aku di intai oleh seseorang, bahkan Louis dulu pernah celaka karena penguntit sialan itu. “ hentikan mobilnya” perintahku dengan sinis kepada Steve. Steve menoleh kepadaku, dia membulatkan matanya. “ kenapa?” katanya kebingungan. Mobil Steve akhirnya menepi ke kiri, aku memintanya untuk menukar tempat tanpa harus keluar dari mobil. “ ayo tukar tempat” ucapku. Steve mengangguk kaku, tangan kanannya menyentuh pintu mobil untuk keluar namun aku menahannya. “ jangan keluar, kita bertukar tempat saja di dalam mobil. Aku akan ke belakang dulu, kau bisa duduk di tempatku” ujarku. Steve merangkul tanganku, “ ada apa Irene, apa yang terjadi? mengapa kau harus mengambil kemudi?” Aku menatap kedua matanya yang terasa cemas, “ kau....hanya lambat dalam mengemudi” jawabku mengelak tanpa memberitahu apa yang terjadi sekarang. Dia tak percaya, tapi dia berusaha untuk mewujudkan keinginanku. Sekarang aku duduk di kursi kemudi, mataku tak henti-hentinya menatap ke arah spion. Mobil putih itu, juga berhenti dengan jarak yang tak jauh di belakang. Ku hembuskan nafas beratku, lalu ku tancap gas dengan kecepatan cukup tinggi. Steve melotot, dia berteriak karena takut. Aku membawa mobilnya keluar menuju jalan raya. Mobil itu juga menancap gasnya, mungkin dia takut kehilangan jejak. Namun, siapa orang yang berada di mobil itu? crittttt Aku berbelok ke arah kanan, mobil putih itu juga membututiku yang berbelok di tikungan tajam. “ hati-hati Irene” teriak Steve takut. Dia terus mengejar, rasanya pengintai itu tak pandai membuntutiku. Aku memutar arah, dia juga ikut memutar arah. Sekarang, aku juga harus memberikan taktik alami. Agar dia tau akibatnya karena menguntitku! Aku mencari celah, aku memikirkan jalan dimana aku bisa menghentikan mobil putih itu. Ide itu muncul dengan cepat di otak bulusku. “ aku tau aku harus kemana” kataku pelan. Aku akan melewati satu belokan lagi. jika dia menambah kecepataannya, aku bisa menghentikan dia untuk mengejarku. Aku pun menambah kecepatan, Steve semakin berteriak dengan kencang. Mobil itu semakin cepat melaju, aku terus mengemudi dengan fokus tanpa memikirkan apapun. Aku menurunkan gas, memang di sengaja agar mobil itu bisa lebih dekat dengan mobil Steve. Lalu ku tancap gas dengan kecepatan tinggi lagi, di sela-sela terakhir aku berbelok ke kanan. Di ujung jalan, terdapat tiang lampu penerang jalan. Aku tersenyum tipis, akhirnya mobil itu berhenti. Mengapa? karena saat dia menambah kecepatannya dia tak tau aku akan berbelok ke kanan. Dia tak bisa mengejarku lagi, mobil putih itu menabrak tiang lampu. Aku menginjak rem, mobil Steve spontan berbalik karena aku tak menurunkan kecepatannya. crittttt Suara ban mobil Steve yang tiba-tiba berhenti, Steve menatap kecelakaan yang berada tepat di depan matanya. Area depan mobil itu hancur lebur, aku menginjak gas lagi namun dengan kecepatan sedang dan berhenti mendekati lokasi kecelakaan. Steve keluar dari mobilnya, dia mengontrol nafasnya yang tak terkendali. Aku ingin mencari tau siapa yang mengejarku, namun saat aku mendekat ke mobil itu dan hendak ku buka pintu mobilnya, rupanya pintunya terkunci rapat. “ sialan, dia menguncinya” umpatku. Steve juga berlari ke arahku, “ apa yang akan kau lakukan?” tanya nya serius sambil memegangi tanganku. “ mundur ke belakang” ketusku. Steve lagi-lagi mengikuti perintahku, dia mundur beberapa langkah dari mobil putih yang mengejar kami. Aku menendang kaca mobil itu, lalu ku raba tombol untuk membuka pintunya yang terkunci. Akhirnya pintu itu terbuka, aku membuka pintu dan menarik rambut untuk melihat wajahnya. Steve datang mendekat, “ hah dia pengawal di rumahku” Ucap Steve syok. Aku menghempaskan kepalanya, kepalanya terbentur di setir mobil. Pengawal yang malang, pasti Zoe telah memerintahnya untuk memata-mataiku dan Steve. Darah juga membasahi kepalanya, sepertinya serpihan kaca yang ku tendang juga mengenai wajahnya. “ pria ini, membututi kita dari tadi” kataku pada Steve sambil berdecak pinggang. Steve terkejut, dia menolehkan kepalanya kepadaku. “ bagaimana kau tau?” “ aku terus menatap kaca spion, aku terus menyuruhmu berbelok ke setiap gang. Awalnya aku berpikir dia punya tujuan yang sama dengan kita. Tapi mengapa arah tujuannya selalu sama?” jawabku datar. “ Irene, ayo bawa dia ke rumah sakit” ajak Steve. *** Mata nyonya Zoe tak berkedip, saat mobil putranya berhenti di suatu titik. Dia menelpon pengawal yang di perintahnya untuk memata-matai Steve, namun tak ada jawaban darinya. Lalu beberapa menit kemudian, ada pergerakan dari mobil Steve. Namun dia menuju ke suatu titik di mana nyonya Zoe tak pernah menduga Steve akan mendatangi tempat ini. Dia menutup mulutnya yang menganga, “ mengapa dia berhenti di rumah sakit Oxford?” gumamnya bertanya-tanya. Tangan kanannya sibuk berkutat dengan ponselnya untuk memanggil pengawal itu. Tapi tak ada jawaban lagi dari dirinya. “ apa yang terjadi padanya? mengapa tak menjawab panggilanku” kata nyonya Zoe yang mulai marah dan menghempaskan ponselnya ke ranjang. *** Steve duduk di bangku depan ruangan rumah sakit, dia khawatir mengenai kondisi pengawal rumahnya. Raut wajahnya yang sedari tadi bahagia seketika muram, aku duduk di sampingnya yang tengal mengeggam tangannya untuk menopang dagu. Pengawal itu, aku membawa nya ke rumah sakitku. Karena jarak dari lokasi kejadian tak cukup jauh, jadi aku membawanya kemari. Aku yakin seyakin-yakinnya, dia adalah suruhan dari ibu Steve. Karena dia khawatir aku akan memperdayai dan menyakiti putranya, mengingat setelah aku bertemu dengannya di restorant, aku mengakui diriku sendiri bahwa aku hanya menjadikan Steve sebagai mainan. “ jangan khawatir, dia akan baik-baik saja” ucapku menenangkan Steve dengan wajah datar. “ aku....tidak khawatir, aku sedikit marah. Pasti ibuku yang menyuruhnya untuk membututiku” sahutnya murung. “ dia akan mendapatkan perawatan disini, jangan khawatir. Rumah sakit ini sudah menyediakan alat yang bagus, para perawat akan bekerja semaksimal mungkin” jawabku. “ mengapa ibu harus mengirim seseorang untukku? mengapa dia tak membiarkan putranya bahagia saja” desisnya, aku melihat api kemarahan di matanya. Steve mengambil ponselnya, dia menelepon sang ibu. Tak lama kemudian, ibunya mengangkat ponsel dari putranya. “ halo Steve, kau sedang dimana nak? ibu mengkhawatirkan mu” katanya sok merasa tak bersalah. Aku yang mendengar itu langsung membuang muka, dan meringis pelan. “ datang saja ke rumah sakit Oxford, ibu harus melihat hasil dari perbuatan mu” ketus Steve. *** Nyonya Zoe tercengang mendengar ucapan dari putra nya, dia tak menyangka bahwa Steve tau dia diam-diam mengirim pengawal untuk menguntit. Nyonya Zoe seketika terjatuh lemas ke ranjang, dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Setelah dia sedikit tenang, dia pergi melangkah keluar dan memerintah sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit yang pernah menjadi miliknya itu. Dia duduk dengan tampang dingin. Dia juga sedikit takut, putranya akan menjauhinya hanya karena hal kecil seperti ini. Selang beberapa menit kemudian, dia tiba di rumah sakit megah itu. Zoe masuk ke dalam, semua perawat menatap mantan kepala yayasannya. Mereka saling membicarakan soal kedatangan mantan bos besarnya itu. Langkah nyonya Zoe terhenti, saat melihat putranya duduk dengan murung di depan ruang rawat. Dia menghela nafas berat, lalu melanjutkan langkahnya. Sekarang wanita itu berdiri di depan Steve, putranya mendongakkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca. Steve menarik tangan ibunya masuk ke dalam ruang rawat, dia melihat pengawal yang disuruhnya terbaring koma dengan kepala yang di lilit perban. “ apa ini yang ibu harapkan?” tanya Steve pelan melirik ke arah ibunya. Irene hanya menatap kegaduhan yang terjadi antara putra dan ibu, dia berdiri menatap nyonya Zoe yang menunduk. “ Steve....ibu benar-benar tak mengharapkan ini” rintih ibunya memegangi tangan Steve. Steve menghempaskan tangan ibunya dengan pelan, “ kalau begitu, mengapa ibu menyuruhnya untuk membututiku? apa yang ibu cari?” kata Steve. Nyonya Zoe mengalihkan pandangannya ke arah Irene, dia menyeka air matanya yang terjatuh lalu berteriak, “ kejadian yang terjadi hari ini, itu bermula karena gadis itu” sentaknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Irene. Irene membulatkan matanya, dia bersikap tenang dan santai. “ ibu...tidak pernah mengharapkanmu dekat dengan Irene, Steve! ibu...sangat menentang hubungan kalian berdua. Kalau kau terus mendekat ke arahnya, bahaya akan mendatangimu Steve. Jika saja, dia tak datang ke kehidupanmu ibu tidak akan pernah berbuat sejauh ini” imbuhnya. Irene menyipitkan matanya serius, “ ibu...membenci Irene karena dia berhasil mendapatkan yayasan ini. Sejujurnya aku bersyukur, Irene bisa merebutnya dari ibu. Karena ibu selalu fokus pada aset ibu, di banding putra ibu sendiri” “ Steve.....” teriak ibunya marah. “ aku memang datang ke kehidupan putramu dan memberi duri di dalam hatimu, tapi mengapa kau semakin menancapkannya lebih dalam lagi. Kau menyakiti Steve dengan sikapmu sendiri, namun kau menyalahkanku. Kau....hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Nyonya Zoe!” celetuk Irene menatap sinis wajah calon mertuanya itu. “ diamlah kau! karena kau, seseorang terluka” teriak Zoe yang ingin mendekat ke arah Irene. Steve menarik tangan ibunya, “ setidaknya jika kau tidak ingin ada korban, jangan berbuat seperti ini lagi” kata Irene sembari mengangkat alis kanannya. Nyonya Zoe bergelak, “ kau... bersikap di depan Steve seolah-olah kau mencintai putraku, tapi...apa kau pikir aku tak tau, pamanmu pernah menyakiti putraku. Dia ingin menembak Steve beberapa tahun lalu, saat Steve merayakan ulang tahunnya. Lalu kau...datang ke kehidupan Steve dengan bangga dan tanpa malu-malu, dimana urat malumu?” Sentak Zoe. Amarah Zoe membumbung, membuatnya meluapkan apa saja rahasia soal Irene yang di ketahuinya. Irene terdiam saat dia tahu Zoe juga mengetahui latar belakang keluarganya lebih dalam, Steve menatap ke arah Irene. Dia berpikir keras, apakah ucapan yang di lontarkan ibunya benar? seketika memori masa lalu saat dia hampir di lukai oleh sebutir peluru itu datang, ingatan itu masih membekas hingga sekarang. “ Kau hanya ingin menyakiti putraku sama seperti paman mu bukan?” teriak lagi nyonya Zoe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN