Louis sudah tau hal apa yang harus ia lakukan untuk melawan Visco. Dia pura-pura meninggalkan paviliunnya. sedangkan Visco, pengawal yang terus terusan mencari bukti latar belakang Louis itu berdiri di depan rumah Zacklee.
Louis keluar meninggalkan pagar, agar orang itu berpikir bahwa Louis memang benar-benar meninggalkan rumah. Louis menghentikan langkahnya, saat ia mendengar suara depakan sepatu berlari. Ia menolehkan badannya ke belakang, benar! Visco mulai menyelinap masuk ke belakang.
Kemudian Louis kembali ke rumah Zacklee. Dia melangkah ke arah paviliunnya dan berjaga di depan pintu. Dia tak berniat untuk masuk, karena menurutnya tak perlu melakukan hal sejauh itu untuk menghentikan Visco.
Visco masuk ke ruangan Louis seperti biasanya. Walau berhari-hari masuk ke dalam dan tak menemukan bukti, raganya tetap tekad untuk mencari celah kecil di kamar itu. Saat ia masuk, dia dikejutkan dengan sebuah Laptop yang sengaja di letakkan di atas ranjang oleh Louis.
“ laptop? aku bisa mencari siapa itu Louis lewat ini” gumam Visco pelan-pelan.
Suara itu terdengar oleh Louis yang masih berdiri tegap di depan pintunya. Dia mengepalkan tangannya kala dia mengetahui alasan Visco selama ini masuk dan menyelinap hanyalah untuk mencari latar belakang dirinya.
Tangan Visco bergetar, dia membuka laptop itu dengan hati-hati. Sebuah Video otomatis terputar saat dia membukanya. Itu adalah Louis, yang memang sengaja menyetel Video secara otomatis begitu laptop terbuka.
“ Jangan bodoh, berapa lama lagi kau akan menyelinap ke kamarku? sekarang, kau pun bahkan menyelinap. Apa kau pikir aku bodoh? jika kau ingin menyelinap dan mencari sesuatu di kamarku jangan pernah meninggalkan jejak. Cih....Aku hanya punya ini. Glock, senapan yang di produksi oleh tentara Austria. Bukankah kau mengenal senjata ini? ini adalah senjata paling mematikan. Bahkan jika kau kabur ke laut, aku bisa menembakmu dengan ini di dalam air.”
Itu adalah rangkaian kata-kata yang di ucapkan oleh Louis saat membuat Video. Dia bahkan dengan rela menunjukkan senapan kesayangannya di dalam Video itu. Visco nampak tertekan saat Louis rupanya diam-diam sudah mengetahui ini.
Tubuhnya tiba-tiba mundur dengan nafas terengah-engah, dia mulai gemetar dan menutup laptop dengan cepat. Dia merangkak keluar dan membuka pintu, Louis berdiri di depan pintu sedari tadi.
Matanya menatap tajam ke arah Visco, tangannya yang mengepal juga bergetar. “ L-louis?” ujar Visco terbata-bata.
Louis mendorong tubuh Visco masuk ke dalam ruangannya, Dia menutup pintu dengan pelan. “ rupanya itu kau Visco? berapa lama kau melakukan ini? apa yang kau cari hemm?” tanya Louis yang bersikap tenang sambil mengangkat alis kanannya.
“ aku tidak ingin apapun darimu” kata Visco yang tiba-tiba berubah menjadi tenang.
Louis melangkah mendekati Visco, “ Jangan mendekatiku. Atau aku akan menembakmu” Ketus Visco sambil menodongkan pistolnya ke hadapan Louis.
Louis bergelak, “ kau ingin menembakku dengan shot gun? aku bahkan telah di tembaki oleh itu sering kali. Namun aku tetap hidup, jika kau punya senapan, aku pun punya” Tegas Louis, dia juga menodongkan pistolnya.
“ seseorang pernah berkata, tak peduli secanggih apapun pistol yang kau genggam. Jika kau tak pandai menembak itu juga sia-sia. Tapi jika kau dan aku saling menodongkan pistol seperti ini, lihatlah! kau hanya menggengam shot gun kualitas biasa, sedangkan aku menggenggam Glock dengan kualitas mematikan. Bagaimana menurutmu? apakah aku akan mati dengan kau yang akan menembakku menggunakan senapan biasa itu ataukah kau yang langsung mati di tempat setelah ku tembaki dengan Glock yang ku pegang? Terkadang kualitas sebuah senjata juga memerangaruhi Visco.” imbuh Louis yang sangat berani.
Visco terdiam, dia menurunkan senapannya. “ tembak saja aku” ucap Visco percaya diri.
Louis menurunkan senjatanya, “ tidak. Aku tidak akan membunuh orang sebelum aku tau alasan mengapa dia menguntitku selama ini”
“ kau ingin tau mengapa aku menguntit?” tanya Visco menajamkan matanya.
Louis mengangguk pelan, namun secara mendadak Visco meninju d**a Louis dengan sikutnya. Louis meringis kesakitan, senapannya juga terpental. Dia mencoba mengejar Visco yang berhasil kabur.
“ mau lari kemana kau b******k?” teriak Louis mengejar orang yang telah menguntitnya itu.
Visco terus berlari tanpa mengenal arah, Louis mengambil batu dan melemparnya ke arah Visco. Batu itu melambung tepat mengenai leher bagian belakangnya, Dia tak gesit lagi.
Louis pun mulai mendekat, dia menarik jas Visco. “ mau lari kemana kau berengsek?”
Visco menggeliat dia berakrobat dan hendak kabur dari cengkraman Louis. Namun Louis dengan hebat memberinya pukulan tajam di bagian punggungnya. Visco terpental ke depan.
Louis mengangkat kerah bajunya lagi, “ mengapa kau kabur dariku Visco” ujar Louis di ambang kemarahannya.
Semua pengawal berkumpul mencoba melerai Louis dan Visco, tetapi nyonya Zoe datang karena suara kegaduhan. “ berhenti, apa yang terjadi di sini?” kata nyonya Zoe berteriak.
Visco dan Louis dengan tiba-tiba berdiri, mereka membungkuk kepada nyonya Zoe. “ apa yang terjadi di sini?” tanya nyonya Zoe.
“ Visco menyelinap masuk ke kamarku selama berhari-hari, aku hanya ingin dia mengakui kesalahannya tapi dia lari” kata Louis menunduk.
Nyonya Zoe menatap Visco, sebelumnya dia memang mengetahui bahwa Visco memang menyelinap masuk ke kamar Louis selama berhari-hari.
“ tapi tetap saja, kalian berdua melakukan kegaduhan. Aku akan melaporkan ini kepada Zacklee. Lagipula, bukankah kau seharusnya pergi ke kantor suamiku? mengapa kau hanya diam disini?” ketus nyonya Zoe menatap sinis Louis.
Louis kembali emosi melihat reaksi nyonya Zoe, dia berpikir nyonya Zoe membela Visco. Itu berarti dia mengetahui soal ini semua, “ ya aku akan kesana setelah ini” jawab Louis.
Nyonya Zoe membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan kegaduhan yang terjadi di dalam rumahnya. Louis kembali menyoroti Visco, “ jika kau bermain-main denganku, aku akan menghabisimu” bisik Louis mendekat ke arah Visco.
***
Nyonya Zoe menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dia membuka Ipad nya lagi. GPS terhenti di sebuah tempat. Mata Nyonya Zoe melebar setelah dia tau, tak ada pergerakan lagi di mobil Steve. “ anak itu, masih diam di pelabuhan.” desisnya sambil menggigit cari.
***
Karena di sisi lain, Steve sibuk menanyakan soal pernikahan kepadaku. Aku meletakkan garpu dan pisau di samping piring pelan-pelan. Lalu ku dongakkan kepalaku menatap kedua mata Steve yang berbinar.
“ paman Lay dan bibiku sudah merestui itu.” ucapku, dan tiba-tiba dia tersenyum.
“ sekarang aku menunggumu Steve, apa orang tuamu merestui pernikahan kita?” tanyaku pelan meminta kepastian.
Steve terdiam, wajahnya mendadak berubah menjadi suram. “ mereka, menentang hubungan kita.” jawabnya.
“ ta-tapi jangan pernah mempermasalahkan itu, aku akan terus membujuk mereka. Kita akan segera menikah” imbuhnya lagi sambil memegang tanganku.
Itulah Steve, aku menyukai sikapmu. Jika kau terus mencintaiku, kau akan terjebak ke dalam permainanku. Aku akan menjadikanmu alat agar bisa mengontrol orang tuamu Steve. Aku akan membuat mereka tunduk, dan saat waktunya tiba, aku akan membuat ayahmu terkejut karena kelakuanku.
Beberapa jam aku berdiam diri di pelabuhan, Steve mengajakku ke ujung kapal. Dia menyuruhku untuk menikmati suasananya. “ Jika kau memiliki banyak beban, kau harus berteriak di lautan. Seketika bebanmu akan hilang” kata Steve.
“ bagaimana kau tau itu? kau sering merasa terbebani?” kataku.
“ dari dulu, ketika ayah dan ibuku bertengkar. Aku sering meminta sopirku untuk menghantarkanku kesini. Aku dan dia menumpangi kapal ini, ini kapal kesukaanku. Setiap aku dan keluargaku berlibur dan menumpangi kapal, mereka selalu ricuh di hadapan putranya. Aku selalu mengingat setiap kapal, dan hanya kapal ini yang memberiku kebahagiaan, karena orang tuaku tak pernah bertengkar di kapal ini.”
“ ayah ingin memberiku beberapa kapal lain, tapi aku menolaknya. Menumpangi kapal lain, membuatku mengingat masa-masa dimana orang tuaku bertengkar di atas kapal. Bukankah hidupku begitu suram?” kata Steve bercerita.
“ orang tua memang seperti itu, mereka melakukan sesuatu yang terkadang membuat beban bagi putranya. Seharusnya mereka tak bertengkar di hadapanmu” ucapku.
“ benar, itulah sebabnya jika kita menikah jangan pernah bertengkar di depan anak kita. Aku tidak ingin membuat mentalnya lemah dan menambah beban pikirannya” Titah Steve.
Aku melirik ke arahnya, “ mengapa kau berbicara soal anak?” kataku datar.
Steve terkekeh geli, “ tidak tidak maafkan aku”
Matahari perlahan-lahan menuju ke tengah langit, sinarnya menyengat kulit. Aku dan Steve pergi meninggalkan pelabuhan. “ ayo kita pergi” ajaknya dan aku mengangguk.
Mobil melaju menjauh dari pelabuhan, entah kemana lagi tujuan kita selanjutnya. “kau tak mau menggunakan tabir surya?” tanya Steve.
Aku menggelengkan kepalaku, “ untuk apa?”
“ ahhh kebanyakan perempuan cantik tidak ingin warna kulitnya menggelap” ujarnya.
“ apa peduliku” tegasku singkat.
Aku menyenderkan kepalaku ke belakang, mataku menatap ke arah spion. Mobil putih berada di belakang mobil Steve, akan tetapi aku tak menaruh curiga pada mobil itu sebelumnya.
Jarak dari pelabuhan ke kotaku begitu jauh, perlu waktu yang panjang untuk bisa sampai kesini. Sekarang aku telah memasuki daerah kotaku lagi, tapi mobil putih itu terus membuntut di belakangku. Sekarang aku curiga, apa jangan-jangan memang benar mobil itu mengintaiku?
“ setelah kau sampai di pertigaan, belok ke kanan” suruhku pada Steve.
“ tapi arah rumahmu ke kiri kan?” Tanyanya.
“ ikuti saja perintahku” tegasku.
Dia masih mengikuti mobilku, “ sialan! masuk ke belokan selanjutnya” ketusku lagi padanya.
Steve mengikuti perintahku, mobil itu terus melaju di belakang mobil Steve. “ berhenti di depan” perintahku.
Dia membulatkan matanya dan menepi ke kiri. “ ada apa Irene?” tanya Steve yang mulai cemas.
“ aku akan mengambil kemudi, kau tidak terlalu pandai menyetir” Sentakku.
Sekarang, aku yang akan mengemudi. Aku akan menukar kemudi dengan Steve, agar aku tahu apa benar dia membututiku? Saat mobil berhenti, mobilnya pun turut berhenti. Lihat saja, aku akan membuatnya celaka.