VISCO

1566 Kata
Louis tercengang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zacklee. Dia bertanya-tanya mengapa Irene tak membicarakan ini padanya sebelumnya? Namun dia harus tetap tenang di hadapan Zacklee. “ Apa?” katanya sedikit terkejut. Zacklee menyoroti sikap Louis setelah dia mendengar kabar tentang ini. “ Putraku akan segera menikah dengan wanita itu” jawabnya. “ kau dengar soal kemarin malam? dia bilang memang benar dia yang merampas aset besarku. Bagaimana aku bisa menerima dia setelah dia bersekutu dengan Vincent dan bermain-main denganku” imbuh Zacklee keluar dari kursi kerjanya. Louis khawatir, Zacklee akan melakukan sesuatu yang kejam kepada kakaknya. Tapi dia lebih yakin, bahwa Irene juga pasti bisa mengatasi itu. “ lalu apa yang akan kau lakukan?” Zacklee menatap mata Louis lebih dalam, pertanyaan yang di lontarkan Louis membuatnya semakin curiga. Dia mencoba untuk tidak memberitahu Louis soal apa yang akan di perbuatnya pada Irene kali ini. “ entahlah aku pun tak tau, apakah aku akan membunuhnya atau mencabik-cabik sekujur tubuhnya hehehe” katanya memancing kemarahan Louis. Tangan Louis yang berada di belakang punggungnya mengepal, dia menatap sinis mata tuan yang juga sebagai musuhnya itu. “ sialan, mengapa tatapannya begitu tajam padaku” gumam hati kecil Louis. *** Seharian telah berlalu, Louis pulang dari kantor Zacklee. Dia berjalan ke paviliun dengan tubuh lemas. Ia menghempaskan tubuhnya ke ruangannya, “ Irene..mengapa kau tak memberitahuku soal ini” kata Louis mengeluh kesal. Dia mencium aroma badannya, “ ahh bau apa ini” ucapnya jijik. Louis membuka lemari untuk mengambil baju, Matanya tersorot pada isi lemarinya. Dia mengecek isi lemarinya berkali-kali. “ mengapa posisi baju ini tampak berubah?” tanya Louis terheran-heran. Matanya melirik ke arah kamera tersembunyi yang memang sengaja di pasang olehnya untuk berjaga-jaga. Dia membuka tempat rahasia yang biasa di jadikannya tempat untuk menyimpan senjata dan alat-alat yang menurutnya berguna. Tempat itu adalah tempat rahasia. Sejak awal masuk ke rumah Zacklee dan tinggal di paviliun dia sudah menyiapkan strategi untuk berjaga-jaga. Dia mencungkil dua keramik lantai yang berada di ruangannya. menggali tanah hingga membentuk lubang rahasia dan tempat itu di jadikan tempat untuk menyimpan beberapa senapan kecil dan pisau yang di bawanya dari rumah Irene. Dia menaruh laptop di dalam sana, agar ketika seseorang masuk dia bisa dengan nyaman memeriksa tanpa mencurigai satu sama lain. Kini, dia membuka keramik itu. Dia mengambil laptop dan membukanya kembali. Dia duduk di ujung ranjang, berkutat dalam waktu yang lama dengan benda itu. Dia terkejut, ternyata benar seseorang telah masuk ke dalam ruangannya. Tapi apa yang sebenarnya dia cari? “ apa yang sebenarnya dia cari?” kata Louis penasaran. Louis menekan tombol pause, dia menghentikan rekaman ulangnya. “ Visco...pria ini adalah Visco. Tangan kanan senior Zacklee, bisa-bisanya dia” tatih Louis. Louis menutup laptopnya dengan keras, dia meletakkan laptop itu ke dalam tempat rahasianya lagi. Dan tak lupa, dia juga menutup tempat itu dengan keramik. Pantas saja Visco tak sama sekali menemukan apapun di dalam ruangan Louis, karena ruangan itu nampak biasa saja tanpa ada satupun benda yang dapat di jadikannya sebagai alasan untuk curiga. Bahkan keramik itu, Pasti orang awam mengira itu hanya lantai saja. Tapi sebenarnya di balik lantai terdapat satu tempat khusus. “ inilah yang tak inginkan selama aku bekerja disini. Tapi Visco, kau tak akan menemukan apapun itu” gumam Louis. Dia memang sengaja, sebelum datang ke rumah Zacklee. Irene melarang Louis untuk membawa apapun. Sebenarnya Louis ingin sekali membawa foto keluarga dan foto masa kecilnya. “ jangan membawa itu, Zacklee akan mencurigaimu” Tegas Irene melarang Louis. Itulah kata-kata yang selalu di ucapkan oleh Irene. Louis mengangguk patuh mendengarkan perintah kakaknya. Alhasil, dia hanya membawa beberapa senapan dan pisau tajam ke dalam tas. Bahkan setelah dia masuk, dia dengan segera membuat lubang khusus untuk menyimpan alat-alat itu. Dan Irene selalu memberikan senjata kecil setiap dia bertemu dengan Louis. Senjata itu di dapatnya dari paman Lay, saat dia membeli di pasar gelap. *** Pagi hari menyambut lagi, begitulah bumi berputar. Pagi menjadi malam, dan malam kembali lagi menjadi pagi. Sampai manusia itu sadar, bahwa sejatinya hidup di bumi memang singkat. Lalu mereka berkata, “ ahhhh tak terasa ini sudah setahun” itulah manusia dan dunia. Sekarang Steve sudah siap untuk menjemput Irene. Semakin hari mereka semakin dekat, selangkah lagi mungkin mereka akan menjadi pasangan suami Istri. Namun, kejadian saat Irene mengunjungi rumahnya masih berbekas, rasanya dia masih marah kepada kedua orang tuanya. Steve meraba lagi bagian pipinya yang di tampar oleh sang ayah. Tamparan itu, sedikit membuat duri di lubuk hatinya. Relung hatinya terasa nyeri, mengingat bertahun-tahun lamanya ayahnya tak pernah melakukan tindakan itu. Sangat di sayangkan! Dia menyemprot parfume di sekujur tubuhnya, bayang-bayang Irene membuatnya kembali semangat. “ baiklah, aku akan menjalani hariku dengan baik” katanya seraya membuang nafas. Sebelum itu, Nyonya Zoe memerintah salah satu pengawal Zacklee untuk mengikuti kemana perginya Steve. Dia membuka pintu kamar Steve, putranya nampak tengah bersiap. “ cepat pasang pelacak di mobil Steve, ikuti kemana dia pergi. Jangan sampai terjadi apapun pada putraku. Jika dia pergi bersama wanita itu, sakiti saja dia. Kau bisa berbuat semaumu” suruh nyonya Zoe dan pengawalnya mengangguk, dia kemudian pergi menjalankan tugasnya. Setelah bertemu dengan Irene di restorant, Dia menjadi sangat khawatir pada putranya. Kebenciannya pada Irene mulai meronta-ronta. Mengingat, Irene tak memiliki keseriusan berlebih kepada putranya. Zoe masuk ke kamarnya, selang beberapa menit putranya keluar dari kamar. Nyonya Zoe mengintip lewat pintu kamarnya. “ halo, dia sudah keluar. Jangan sampai putraku lolos” perintahnya lagi lewat telepon rumah yang di letakkan di dalam kamarnya. Tanpa ada rasa yang mengganjal apapun, Steve pergi menancap gas. Pelacak itu atau yang biasa di sebut CPS di pasang di roda mobilnya. Sang pengawal mengambil setir, dia mengikuti mobil Steve perlahan-lahan agar tuan mudanya juga tak curiga. Beberapa menit kemudian, mobil Steve berhenti di depan rumah Irene. Mobil pengawal itu turut berhenti dengan jarak yang cukup jauh dari mobil mewah tuan mudanya. Dia menyoroti rumah megah milik Irene, dia mengangguk-angguk perlahan-lahan lalu menelepon nyonya besar. “ nyonya, tuan muda berhenti di sebuah rumah besar. Seorang wanita keluar dari pagar itu. Dia berpakaian seperti mafia” katanya memberi kabar. “ bagus, dia adalah Irene. Terus ikuti, jika perlu sakiti wanita itu” ketus nyonya Zoe. Pengawal itu mengangguk lagi, dia menundukkan kepalanya saat Steve menatap ke arah mobilnya. Namun, tak ada kecurigaan apapun dari diri Steve. Nyonya Zoe pun memantau Ipad yang telah terhubung dengan CPS itu dari rumahnya. *** Steve menelponku kemarin malam setelah dia mengajakku menikah. Dia ingin melakukan kencan, aku mengiyakan keinginannya itu. Di hari yang telah di tentukan, aku bersiap dan menunggunya tiba menjemputku ke rumah. Kini aku dan dia masuk ke mobil mewahnya. Dia begitu sumringah, senyum lebarnya tak pernah memudar, aku melihat keceriaan di wajahnya. Entah dia akan mengajakku kemana, dia tak pernah memberitahuku sebelumnya. Sampai beberapa puluh menit kemudian, setelah melampaui perjalanan yang cukup jauh. Aku tiba di sebuah pelabuhan, dengan kapal feri mewah berjejer di tepi lautan itu. Pelabuhan ini cukup elit, bahkan ini bukan pelabuhan yang biasa di jadikan tempat berlabuh bagi para nelayan kalangan wong cilik. Semuanya serba mewah, tempat ini cocok bagi mereka-mereka yang mengaku punya. Seseorang tiba-tiba menghampiri Steve, dia adalah seorang pengawal. “ tuan muda, kami sudah menyiapkan kapalnya” katanya yang tersenyum sambil membungkukkan badan pada Steve. Steve mengusap-usap pundak pengawal itu, “ terimakasih. Kau selalu menuruti perintahku” sahutnya lembut. Pengawal itu melirik ke arahku, dia juga membungkukkan badannya untukku. “ selamat datang nona, silahkan nikmati perjalanan ini” ucapnya. Aku sedikit terkejut, “ perjalanan?” kataku bertanya dengan mengernyitkan keningku. Steve bergelak, “ tidak. Kita tidak akan pergi jauh, aku hanya akan membawamu bermain-main di sekitar laut ini” “ ahhh ya ya” kataku merespon. Steve menjulurkan tangannya, dia ingin menatihku naik ke atas kapal. Mataku tak jemu-jemu takjub setelah melihat pemandangan laut di atas kapal besar ini. Apalagi Steve telah menyiapkan banyak sesuatu, baik itu sarapan pagi di atas kapal dengan meja dan kursi romantis yang telah di sulapnya. Dia mengajakku duduk, di tempat duduk romantis itu. Sebenarnya, ini bukan kesukaanku. Tapi usaha Streve untuk membuatku luluh tak pernah gagal. “ kau yang menyiapkan semua ini?” tanyaku. “ bukan aku, para bodyguard ku. Tapi aku yang memberi mereka perintah” jawabnya. Aku mengangguk-angguk, “ ayo makan makanannya.” imbuh Steve. *** Pengawal yang di perintah oleh nyonya Zoe menelepon, “ nyonya, Tuan Steve berada di pelabuhan bersama nona Irene” “ apa pelabuhan itu pelabuhan milik keluarga?” kata nyonya Zoe yang berdiri dari ranjangnya karena terkejut. “ iya nyonya” kata pengawalnya. “ terus pantau dia, jangan sampai Irene menyakiti putraku” perintah nyonya Zoe. Dia berdecak pinggang, rasa khawatirnya tak pernah berhenti. “ anak itu, mengapa kau tak penah mendengarkan ibu Steve” gumamnya sambil mondar-mandir di depan ranjang. *** Aku menyantap makanan yang di sajikan di atas meja, angin sepoi-sepoi berhembus dengan kencang membuat sekujur tubuhku merasakan kesejukan. Sebelumnya, aku tak pernah sama sekali menumpangi kapal air. Aku hanya menatap kapal berlabuh dari kejauhan, aku selalu menatapnya di jembatan kota. Ternyata rasanya begini, menikmati nuansa laut di atas kapal. Beberapa beban ku seketika hilang, hatiku menjadi lebih ringan. “ apa kapal ini milikmu?” tanyaku pada Steve. Steve tersenyum, “ ayah memberikan satu kapal untukku. Semua kapal yang kau lihat tadi itu semua miliki ayahku.” “ wahh, ayahmu sangat sukses” kataku memuji. Steve berdehem, dia mengalihkan pandangannya malu. “ Kapan kita akan menikah?” Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Rasanya aku bingung, “ hmm?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN